Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buah
Usai makan siang, Hanis memberanikan diri berbicara kepada Sean, “maaf, Sean… Kalau boleh, buah-buahan yang tidak termakan saya kirimkan ke anak-anak di rumah. Daripada dibuang karena Jinny biasanya beli banyak sekali dan makan hanya kita bertiga.”
Sean mendongak dari iPad di tangannya. “Oh? Ya, boleh, boleh. Daripada mubazir. Jinny memang selalu beli berlebihan, bawa aja. Nggak masalah kok, ini mangganya juga manis.”
Selanjutnya, Sean memerintahkan asisten rumah tangga untuk membantu Hanis mengemasi buah-buahan selain yang terakhir dibeli oleh Jinny sebelum terbang ke Singapura. Diletakkan dalam sebuah kotak bekas hampers yang sudah kosong.
“Ini ada snack, biskuit, cokelat. Sekalian aja,” ucap Sean sembari mengeluarkan bungkusan kecil kecil snack dari dalam laci meja island. “Tolong dicek dulu tanggal kadaluarsanya.”
Kotak tersebut segera penuh, bahkan tidak cukup dan sebagian diletakkan dalam tas kanvas bekas belanjaan buah minggu lalu. Sang asisten rumah tangga menyiapkannya untuk segera diambil kurir ojek online.
“Makasih ya, Sean… Aku cuma… keingat anak-anak kalau ada makanan dibuang,” cicit Hanis, sungkan namun lega.
“Nggak apa-apa, Nis. Malah aku senang kalau ada yang makan, soalnya aku enggak bisa ngelarang Jinny buat belanja.”
“Apalagi, Nis? Apapun yang kamu butuh buat anak-anakmu, bilang aja,” ujar Sean, merasa lebih bebas karena tidak ada istrinya di rumah.
“Sudah, Sean. Itu aja.”
Tak berselang lama, kurir ojek online yang dipesan , mengambil pesanan yang sudah disiapkan oleh sang asisten rumah tangga dan segera membawanya ke rumah dimana Rino dan anak-anak tinggal.
Sementara di rumah itu, Sean dan Hanis duduk berdua di ruang tengah. Awalnya mereka sama-sama diam, hingga membuka pembicaraan terlebih dahulu.
“Makasih ya Sean, sekarang Seno sudah bisa sekolah. Hari ini hari pertama sekolah. Dan kata ayahnya, tiap hari diminta bawa bekal ada buah. Tadi malah dibelikannya pisang karamel.”
Sean tertawa mendengarnya. “Pisang karamel? Hahaa… Ya memang sih pisang… Tapi sounds wrong…”
“Makanya… aku jadi ingat buah-buahan disini.”
“Betul, Nis. Bawa aja buat mereka enggak apa-apa, disini kita juga tiap hari ada buah lagi.” Sean meletakkan iPad-nya di meja. “Kalau kamu kangen anak-anak, enggak apa-apa dibawa kesini, biar mereka main disini.”
Mata Hanis , tawaran itu seperti sebuah oase di padang pasir. “Benarkah boleh? Tidak apa-apa mereka kesini? Jinny bagaimana?”
“Jinny sedang tidak ada di sini, misal dia sudah pulang, seharusnya tidak apa-apa. Kalian bisa bertemu di teras atau ruang tamu,” jawab Sean santai.
Di dalam kepalanya, Hani sudah langsung membayangkan bagaimana senangnya jika ia dapat bertemu dengan anak-anak.
“Kamu bisa ajak mereka ke sini hari ini atau besok,” lanjut Sean. “Aku nggak tahu Jinny akan pulang kapan. Dia masih marah, enggak ngabarin aku sama sekali.”
Hanis terdiam, sedikit sungkan karena ternyata hubungan Sean dan Jinny belum juga membaik. Merasa bersalah karena sempat lebih dahulu menyebut wanita itu.
“Jangan dipikirkan soal, itu masalah kami berdua. Jangan sampai itu ganggu kamu,” ujar Sean, seolah langsung mengerti apa yang Hanis pikirkan.
“Iya, Sean…”
“Hari ini saya ada urusan pekerjaan sampai siang nanti, kita ketemu lagi waktu makan malam atau sore hari nanti ya.”
“Ini hari Minggu…,” cicit Hanis yang entah mengapa jadi seperti tidak rela ditinggalkan oleh Sean.
“Justru hari Minggu, beberapa klien justru punya waktu hanya di hari minggu untuk bertemu.”
“Oh begitu…”
“Ya sudah, aku akan ganti baju dan pergi. Sampai bertemu nanti.”
...****************...