Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengakuan dibalik pintu
Sinar matahari pagi kian menghangatkan suasana di tepi kolam renang. Gerakan tangan tegap Bayu masih konstan memberikan tekanan-tekanan yang pas pada otot punggung Mita yang kaku. Di sela-sela kenikmatan pijatan Bayu yang membuat seluruh tubuhnya rileks, entah kenapa Mita merasakan ada tetesan air yang jatuh pada bagian belakang tubuhnya. Tetesan itu terasa hangat, berbeda dengan suhu lotion atau sisa air kolam yang dingin.
"Ada apa, Bay...?" tanya Mita dengan suara serak, matanya masih terpejam menikmati pijatan.
Bayu tidak menjawab sepatah kata pun. Dia terus melanjutkan pekerjaannya, menggerakkan jemarinya dengan kepala yang tertunduk dalam.
Merasa pertanyaannya tidak direspons oleh pelayan pribadinya, rasa penasaran Mita terusik. Dia langsung berbalik telentang, menahan bagian depan dadanya dengan sebelah tangan karena tali branya sudah terlepas. Namun... begitu matanya terbuka, Mita langsung terdiam seribu bahasa.
Kedua mata Mita membelalak lebar karena dia melihat sesuatu yang selama ini belum pernah ia duga sama sekali dari sosok pria sekekeh Bayu. Yah... air mata Bayu. Rupanya yang menetes di punggungnya sedari tadi bukanlah air kolam, melainkan butiran air mata pelayan barunya yang jatuh tanpa suara.
"Bay... ada apa, Bay?" tanya Mita dengan nada suara yang seketika berubah cemas dan dipenuhi rasa bersalah.
Bayu menyeka matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. "Bos... Anda terlalu menguji saya," kata Bayu dengan suara yang bergetar menahan gejolak harga diri yang terluka.
Bayu pun langsung berdiri dan berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan area kolam renang, dan bergegas menuju kamarnya sendiri untuk menenangkan diri dari ujian mental yang terasa kian menyiksa harga dirinya sebagai seorang pria.
Mita terpaku sejenak di kursi berjemur. Rasa bersalah menghantam dadanya dengan telak. Menyadari tindakannya sudah keterlaluan, Mita pun berjalan mendatangi kamar Bayu dengan terburu-buru. Sesampainya di depan pintu kamar bernomor dua itu, Mita memegang gagang pintu kayu tersebut dengan ragu.
Tak dikunci...' kata Mita dalam hati setelah menyadari gagang pintu berputar dengan mudah.
Mita pun masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Namun... hal yang tak diduga kembali terjadi di dalam ruangan tersebut, dan membuat mata Mita kembali melotot sempurna. Di depan lemari pakaian, dia melihat Bayu tanpa busana sehelai kain pun, sedang bersiap memakai setelan pakaian baru berukuran L yang baru saja diantarkan oleh kurir tadi pagi.
"Bos... maaf, Bos!" kata Bayu terkejut, langsung membalikkan badannya untuk menutupi tubuhnya dengan pakaian baru yang dipegangnya.
Bukannya menutup pintu dan berbalik pergi untuk memberikan privasi, Mita malah mendatangi Bayu dengan langkah pasti. Ketakutan dan rasa bersalahnya kini berganti menjadi sebuah keberanian yang nekat.
Mita langsung menahan tangan Bayu yang hendak memakai celananya, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Bos... apalagi...?" tanya Bayu dengan nada frustrasi yang mendalam, tatapannya menyiratkan kepasrahan atas segala kegilaan bos wanitanya ini.
"Enggak usah dipakai," kata Mita dengan suara yang berbisik rendah namun sarat akan perintah yang tak menerima bantahan.
Bayu memejamkan matanya rapat-rapat dan menghirup napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang kian menipis.
"Sudahlah..." kata Bayu melunakkan suaranya. "Terserah Anda."
Mita pun melihat dengan seksama apa yang ada di seluruh tubuh atletis Bayu dari atas hingga ke bawah. Tatapannya perlahan turun, terpaku pada satu titik dominan yang sejak semalam telah mengusik pikirannya. Tanpa ragu, jemari Mita bergerak maju dan mulai memegang sesuatu yang sudah lama naik dan menegang hebat di balik kepasrahan pria itu.
Sebuah tiang tanpa bendera itu berdiri tegak dengan kokoh, memperlihatkan kejantanan Bayu yang murni sebagai seorang pria normal berdarah muda.
"Sangat besar..." gumam Mita dengan napas yang sedikit memburu, merasakan sensasi panas yang menjalar dari telapak tangannya.
Mita mendongak, menatap lekat ke dalam manik mata pelayan pribadinya. "Bay, apa kamu tahu...? Aku sudah lama mengamatimu saat kamu bekerja di restoran itu. Dan hanya empat hari terakhir saja aku baru mulai berani bicara langsung denganmu," kata Mita membuka rahasia besarnya yang selama ini terpendam.
Bayu pun membuka matanya, menatap Mita dengan kerutan dalam di dahinya. "Buat apa?" tanya Bayu bingung, tidak mengerti mengapa wanita sekaya Mita sudi menghabiskan waktu mengamati seorang pelayan miskin.
"Aku menyukaimu, Bay," kata Mita dengan tulus dan blak-blakan, mengakui perasaan wanitanya yang telah lama terpikat oleh karisma tersembunyi di balik ketenangan Bayu selama ini.
Bayu tersenyum getir, melirik ke arah tangan Mita yang masih menggenggam erat kejantannya.
"Apakah begini caramu menyukaiku...?" tanya Bayu balik dengan nada menyindir yang tajam, mempertanyakan batas kewajaran antara rasa suka dan sebuah penindasan otoritas