Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai
Aris membelakangi pria cepak yang terikat. Dia menatap Bramantyo yang sedang menyeka keringat di dahinya.
"Bram, tidak ada waktu lagi. Jika kita menunggu fajar atau mencoba keluar dari dermaga ini, kita akan dihabisi di jalanan.
Kita harus menembakkan peluru ini sekarang juga," kata Aris sambil mengeluarkan buku catatan kas bersampul tahun 1959 dari balik jaket kulit cokelatnya.
Bramantyo menyadari maksud Aris.
"Jaringan radio komunitas ilegal pelabuhan. Ada pemancar gelap di gudang garam sebelah klinik ini, Aris. Salurannya bisa menembus frekuensi radio swasta di seluruh kota!"
"Bawa tas kamaramu dan dokumen ini ke sana," perintah Aris tegas, menyerahkan buku kas berdarah itu ke tangan Bramantyo.
"Aku dan Dokter Lukas akan bertahan di sini menjaga Januar. Siarkan setiap lembar nama pejabat balai kota yang menerima suap tanah adat Desa Talas.
Biar seluruh warga Marunda mendengar makar ini sebelum polisi korup mengepung tempat ini."
Bramantyo mengambil buku itu. Dokter Lukas membuka pintu belakang klinik yang tersembunyi, memberikan jalan bagi sang wartawan senior untuk menyelinap menembus gerimis malam menuju gudang sebelah.
Pintu ditutup kembali. Di dalam klinik, Aris memeriksa saku mantel hitam sang pembunuh cepak. Dia menemukan sebuah walkie-talkie militer yang mulai berderit statis.
Suara dari seberang jaringan terdengar "Elang Satu, bagaimana situasi? Pasukan dari Sektor Selatan sudah bergerak memasuki gerbang dermaga."
Dia melempar walkie-talkie itu ke lantai dan menginjaknya hingga hancur berantakan dengan sepatunya. Tepat lima menit kemudian, speaker radio gantung tua di sudut langit-langit klinik yang tadinya hanya menyiarkan lagu lawas tiba-tiba mendesis keras.
Suara berganti dengan vokal bariton Bramantyo yang lantang dan jernih,
"Selamat malam warga Kota Marunda. Saya Bramantyo dari pers independen.
Malam ini, dari tempat tersembunyi, saya akan membacakan Dokumen Belacu 1959. Buku catatan kas rahasia yang menjadi alasan mengapa ibu rumah tangga Ratna dan anaknya tewas diracun secara keji.
Nama pertama yang tercatat menerima aliran dana suap pembebasan lahan berdarah di Gunung Kelam adalah... Wali Kota Marunda saat ini, beserta tiga anggota dewan kota..."Mendengar suara radio itu, wajah pria cepak yang terikat di tiang besi seketika memucat.
Siasat pembungkaman mereka runtuh total. Di luar klinik, suara sirine mobil polisi sektor selatan mulai terdengar meraung-raung di kejauhan, bersahut-sahutan dengan deru ombak pelabuhan yang kian meninggi.
Aris berdiri di dekat pintu depan, memegang erat saku jaketnya tempat kunci tua Kamar 204 berada, bersiap menghadapi badai terakhir yang datang menjemputnya.
Sorot lampu putih dari beberapa mobil dinas jenis jip utility menembus celah-celah pintu depan klinik, lewat pengeras suara megafon.
"Detektif Aris! Anda dikepung! Keluar dengan tangan di atas dan serahkan tahanan bersama dokumen negara sekarang juga!"
Aris tidak menuruti perintah itu. Dia melangkah cepat ke arah tiang penyangga tempat pria cepak berambut militer itu terikat.
Menggunakan pisau saku, Aris memotong tali pengekang kaki pria itu dengan satu gerakan cepat, namun membiarkan kedua tangannya tetap terikat kencang ke belakang bodi tubuhnya.
"Berdiri!" bentak Aris, merenggut kerah jaket mantel hujan hitam pria itu hingga dia terpaksa berdiri dengan kaki yang pincang akibat retaknya tulang selangka.
Aris memposisikan tubuh pria cepak itu tepat di depannya, menjadikannya perisai yang menutupi seluruh vitalitas dadanya. Tangan kanan Aris mendekap leher sang pembunuh dari belakang, sementara tangan kirinya memegang erat senter National yang siap dia hantamkan ke pelipis pria itu jika ada gerakan mencurigakan.
"Buka pintunya, Dok!" perintah Aris kepada Dokter Lukas yang berjaga di dekat sakelar. Dokter Lukas menarik tuas pengunci. Pintu depan klinik terbuka, langsung menyambut embusan angin pelabuhan, di luar, sekitar delapan personel polisi bersenjata senapan sebar (shotgun) dan pistol sudah mengambil posisi tiarap di balik kap mobil dinas mereka.
"Jangan tembak! Ini Elang Satu!" teriak pria cepak itu dengan suara panik begitu melihat moncong senjata rekan-rekan korupnya mengarah ke depan pintu.
Aris melangkah keluar satu meter ke pelataran teras, menyembunyikan seluruh badannya di balik tubuh sandera.
"Dengar kalian semua jajaran Sektor Selatan!" suara Aris, dan suara siaran radio Bramantyo yang masih menggema dari pengeras suara gudang sebelah.
"Pria di depanku ini adalah eksekutor pembunuhan Ratna dan Dani atas perintah Wali Kota! Jika ada satu saja peluru yang keluar dari laras senjata kalian, komandan operasi kalian ini yang akan tewas lebih dulu!"
Mendengar gertakan Aris dan ringkasan nama pejabat yang terus dibacakan Bramantyo lewat frekuensi radio kota di latar belakang, para polisi di luar tampak saling berpandangan.
Mereka menyadari makar di Balai Kota Marunda sudah bocor secara nasional, dan membunuh Aris sekarang hanya akan membuat mereka tergulung dalam pusaran konspirasi yang lebih besar.