Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kewajiban yang lain
Di dalam kamarnya, ummi dan abi sedang membicarakan anak dan menantunya.
"Tiyas sudah suci, bi."
"Lha terus kenapa ummi yang girang?"
"Abi nih kayak nggak ngerti saja. Abi saja kalau tahu ummi sudah suci kayak kucing garong."
"Haha.... ummi lucu."
Abi mencubit pipi ummi.
"Ish sakit, bi."
"Mana yang sakit... Emuach... "
Abi memberi kecupan di pipi ummi
"Lanjut-lanjut, jadi ummi senang karena berharap mereka begini.."
Abi menyatukan kedua tangannya membentuk kuncup.
Ummi terkekeh.
"Iya lah bi. Siapa tahu dengan begitu mereka nantinya akan jatuh cinta."
"Mudah-mudahan begitu. Terutama Tiyas. Kalau abang sih abi yakin dia sudah membuka hati."
"Ya sudah ayo tidur dulu, bi."
"Kok tidur mi? Jatah abi gimana?"
"Astaghfirullah... semalam kan sudah bi."
"Bercanda sayang."
Ummi menarik selimut dan menutup mata. Abi pun menyusulnya. Mereka tidur dengan tenang.
-Di kamar Zain.
Zain sedang membuat skala untuk bangunan proyek barunya. Selain pintar berbisnis, Zain juga bisa mendesain gambar rumah karena dulu kuliahnya jurusan arsitektur. Seperti biasa, segelas susu hangat sudah tersedia di atas meja. Sebelum kembali ke kamar tadi Tiyas masih membuatkan susu untuknya. Tiyas baru saja berganti pakaian tidur. Ia memakai setelan piama berbahan katun. Setelah itu, Tiyas duduk di depan meja ruas dan membuka kemasan masker yang dibelinya tadi. Ia juga membaca cara pakainya. Zain masih sempat melirik istrinya. Karena penasaran, Zain pun bertanya.
"Zaujati, apa itu?"
"Masker mas. Kata ummi biar mukanya segar dan nggak cepat keriput."
Zain mengulum senyum.
"Mas mau pakai juga?"
"Memang boleh?"
"Boleh kok, ini buat cewek dan cowok juga bisa."
"Boleh deh. Tapi sebentar aku habiskan dulu susu ini."
"Hem."
Zain meneguk habis susunya. Tiyas pun menghampiri Zain. Zain menutup buku dan tabletnya. Wajah Tiyas sudah lebih dengan masker.
"Ayo, mas." Tiyas berhati-hati menggerakkan mulutnya karena takut maskernya pecah.
Mereka duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, bahkan tanpa celah.
Dag dig dug
"Duh kok jadi deg-deg-an gini ya? Sumpah Demi apa pun mas Zain ternyata ganteng banget. Ya Allah kenapa aku baru menyadari hal ini." Batin Tiyas.
Zain pun berusaha bersikap biasa meski jantungnya juga tidak tenang saat ini.
Tiyas.meminta Zain untuk memajukan kepalanya. Tiyas mulai meloloskan masker ke wajah Zain. Awalnya Zain cukup terkejut karena merasa dingin. Tiyas pun melanjutkannya dengan merayakan ke seluruh wajahnya. Mata Zain tidak bisa berpaling ke lain arah. Ia dapat melihat dengan jelas bahwa saat ini istrinya sedang salah tingkah. Dan saat Zain ingin mengalihkan pandangan, justru ia tidak sengaja melihat belahan dada istrinya karena Tiyas lupa memasang kancing bagian atas. Tanpa sadar Zain menelan salivanya sendiri.
"Su-sudah, mas."
"Oh sudah ya... "
"Ssst... jangan kencang-kencang ngomongnya, mas. Nanti pecah maskernya."
Zain mengangguk patuh.
Tiyas hendak berdiri meninggalkan Zain. Namun tangan Zain berhasil menarik tangan Tiyas, sehingga Tiyas terduduk kembali.
"A-ada apa mas?"
"Kancingnya nggak dipasang."
Zain bahkan menunjuknya.
Sontak Tiyas menutup dadanya dan memalingkan dirinya dari Zain. Ia sangat malu saat ini. Ia langsung berdiri dan berlari kecil ke kamar mandi. Zain menahan tawa melihat kepolosan istrinya.
"Lucu sekali. " Ujar Zain seraya menggelengkan kepanya.
Di dalam kamar mandi, Tiyas merutuki dirinya sendiri. Ia pun langsung memasang kancing pialanya.
"Duh bodoh bodoh kamu Tiyas. Nanti dikiranya aku sengaja buka kancing ya kan? Ah... kok bisa ceroboh gini sih. Malu.... "
Ia mengentalkan kakinya sendiri seperti anak kecil yang kesal karena tidak dikasih permen.
Cukup lama Tiyas di dalam kamar mandi. Akhirnya ia membilas wajahnya karena dirasa waktunya sudah cukup dan masker sudah mengering.
Tiyas ingin keluar tapi masih malu. Namun ia juga tidak mungkin menunggu di kamar mandi sampai nanti.
Tok tok tok
"Sudah belum?"
"Eh iya, mas. Tunggu sebentar."
Terpaksa Tiyas membuka pintu.
"Aku mau cuci muka. Sudah boleh dibilas kan?"
"I-iya boleh."
Tiyas cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Zain pun segera masuk untuk membilas wajahnya. Setelah itu, Zain sikat gigi dan berwudhu'.
Saat Zain keluar dari kamar mandi, ia melihat Tiyas sudah naik ke tempat tidur. Ia sedang berbaring miring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Zain hanya bisa mengulum senyum.
Tiyas masih memikirkan kejadian sebelumnya. Entah kenapa ia ingin mengklarifikasi. Saat Zain naik ke atas tempat tidur, Tiyas membuka selimutnya lalu duduk.
"Mas, ada yang perlu aku jelaskan. "
"Apa itu?"
"Eh... itu, tadi soal kancing."
"Iya kenapa kancingnya."
"Itu tadi aku lupa, bukan disengaja. Jadi mas jangan pikirkan yang macam-macam." Jelas Tiyas dengan menggebu-gebu.
Zain mengerti maksudnya. Hanya saja Zain jadi ingin menggodanya.
"Maksudnya macam-macam itu gimana?"
Tiyas bingung untuk menjelaskannya.
"Hem? "
"Eh itu... ya pokoknya jangan mengira aku sedang menggodamu."
Zain menahan tawanya.
"Kalau pun menggoda kamu dapat pahala kok."
"Ah sudah, lupakan. Aku mau tidur."
Tiyas kembali menarik selimutnya untuk menahan rasa malunya.
"Jangan membelakangi suami, dosa!"
Tiyas langsung tidur terlentang.
Zain pun membaringkan dirinya. Ia tidur miring menghadap Tiyas. Zain masih menahan hasratnya saat ini karena tidak ingin membuat Tiyas tertekan.
Karena merasa lelah, keduanya sama-sama terlelap. Sampai sekitar jam 12 malam, Zain terbangun. Dengan kesadaran yang masih belum penuh ia bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Namun kakinya terbentur kaki tempat tidur.
Dug
"Au..... "
Tiyas pun terbangun mendengar suara tersebut. Melihat kasur di pinggirnya kosong, Tiyas pun langsung beranjak mencari keberadaan suaminya.
"Sshhh.... "
"Mas, kamu kenapa?"
Tiyas pun menyalakan lampu kamar.
Ia melihat Zain sedang berjongkok meminta jari kakinya.
"Kenapa kakinya, mas? "
"Kebentur."
"Kok bisa? "
"Tapi keburu mau pipis. "
Zain pun berusaha untuk berdiri. Tiyas membantunya.
"Bisa nggak?"
"Masih sakit."
"Ayo aku antar."
Tiyas memapah Zain pergi ke kamar mandi. Sampai di pintu kamar, Tiyas berhenti.
"Aku tunggu di sini, mas. Hati-hati."
"Kirain mau diantar ke dalam." Batinnya.
Zain pun masuk ke dalam.
Beberapa saat kemudian Zain keluar. Tiyas mencari salep di kotak P3K. Melihat Zain sudah keluar ia kembali memapahnya.
"Pake salep dulu, mas. Biar cepat sembuh."
Zain duduk selonjor di atas tempat tidur. Lalu Tiyas meloloskan salep ke kaki Zain.
"Maaf sudah membuatmu repot malam-malam."
"Nggak pa-pa, mas. Sudah kewajibanku, kan?"
"Ehem... kalau kewajiban yang lain bagaimana?"
Tiyas mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?"
"Sini."
Zain meminta Tiyas untuk duduk di sampingnya.
Tiyas mendekati Zain dengan perasaan campur aduk. Tiba-tiba Zain menyentuh tangan istrinya. Hati Tiyas semakin tak karuan. Jantungnya berdebar sangat kencang.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe
sabar, sabar.... 🤣🤣🤣