Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Berguru
Cahaya di Rawa Yuanling dan Ketetapan Hati Murid Tunggal
Di tengah keheningan lanskap Rawa Yuanling di dalam cermin ilusi, Song Qian berdiri terpaku. Angin dingin meniup ujung jubah putihnya saat ia mengamati raut-raut wajah suku siluman yang muram.
"Perasaan yang paling tulus itu wujudnya seperti apa? Suku siluman di sini bahkan tidak bisa melihat wujudku... bagaimana mungkin aku bisa membuat mereka tertawa dan bahagia?" gumam Song Qian seraya memutar otak, mencari cara terbaik untuk menuntaskan tantangan dari gurunya.
Tiba-tiba, ia teringat perkataan Raja Naga Gu Long saat ia berkunjung ke alam bawah: Suku siluman memiliki ikatan kesetiaan kawan yang sangat erat.
Jika salah satu di antara mereka merasakan kebahagiaan dan kehangatan, bukankah senyuman itu akan menular kepada seluruh suku di rawa ini? batin Song Qian, sebuah gagasan melintas cerah di benaknya.
Namun, ada harga mahal yang harus dibayar. Song Qian menyadari betul aturan hukum cermin ilusi purba. Semakin besar energi dewa yang ia semburkan di dalam alam ilusi, semakin dahsyat pula serangan balik energi yang akan menghantam dan melukai tubuh aslinya.
Akan tetapi, menatap daun-daun layu dan tanah rawa yang gersang di hadapannya, Song Qian mekeyakinan hatinya. Tidak ada cara lain. Ia bersedia menanggung risikonya.
"Mumpung mereka semua sedang tekun berlatih sihir, aku akan menggunakan sedikit kekuatanku untuk memperindah wilayah Rawa Yuanling ini. Dengan begitu, mereka pasti bisa tersenyum dan tertawa bersama!" bisik Song Qian mantap.
Song Qian memejamkan mata rapat-rapat. Dari telapak tangan kanannya, ia merentangkan aliran Elemen Air murni yang hangat. Bulir-bulir air surgawi melayang bagai jutaan mutiara cahaya, menyiram tanah gersang Rawa Yuanling yang membeku.
Seketika, keajaiban terjadi.
Akar-akar pohon yang tadinya mengering mulai menyerap kehangatan. Bunga-bunga rawa yang telah ribuan tahun kuncup mendadak mekar memancarkan aroma harum menenangkan. Kelopak berwarna-warni bermekaran di sepanjang hutan rawa.
"Kau lihat itu?! Tanamannya... tanamannya tumbuh dan mekar kembali!" seru seorang siluman berwujud kerbau seraya menepuk heboh pundak siluman rubah di sampingnya.
"Luar biasa! Sungguh luar biasa!" pekik siluman rubah dengan mata berbinar haru. "Siapa sosok dewa berhati mulia yang telah memberkati Rawa Yuanling? Dewa Agung... meskipun kami tidak bisa melihat wujudmu, kami sangat berterima kasih karena kau masih memedulikan tempat terbuang ini!"
"Lihat ke atas! Ada kupu-kupu cahaya! Cantik sekali!" seru siluman harimau putih kecil seraya berlari mengejar serangga-serangga bercahaya yang berkerumun di atas Bunga Teratai Rawa.
Melihat tawa, sorak-sorai, dan kebahagiaan tulus merekah di wajah suku siluman, Song Qian mengulas senyuman puas yang amat hangat. Tugasnya telah selesai.
BUMMMM!
Serangan balik energi ilusi menghantam dadanya seketika! Song Qian meringis kesakitan. Tubuhnya melemah hebat. Dengan sisa tenaga di tangan kirinya, ia meretakkan segel formasi ilusi, sementara tangan kanannya cengkeram erat dadanya yang terasa sesak dan terbakar.
"Akhirnya... aku sudah bisa kembali ke Istana Chao Sheng untuk berguru kepada Kak Qian Gu..." bisik Song Qian lirih sebelum jiwanya terlempar keluar dari alam ilusi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BZZZZT!
Tubuh Song Qian terhempas keluar dari cermin ilusi meja giok dan berlutut di lantai kamar Istana Chang Yuan.
Bai Yuan yang menyambut keluarnya Song Qian segera sigap memegang kedua bahu pemuda itu. Matanya membelalak kaget saat melihat kulit lengan kanan Song Qian melepuh kehitaman akibat hantaman serangan balik ilusi.
"Song Qian! Apakah kau baik-baik saja?!" seru Bai Yuan panik seraya meneliti lengan pemuda itu. "Kekuatan apa yang kau nekad keluarkan di dalam ilusi sampai melukai dirimu sendiri seperti ini?!"
Song Qian menarik tangannya dari genggaman Bai Yuan seraya menyunggingkan senyum tipis, mencoba terlihat tegar. "Aku hanya menyalurkan sedikit kekuatan air untuk menyiram tanaman... Lukaku sama sekali tidak parah, Kak Bai Yuan."
"Jangan keras kepala!" tegur Bai Yuan tegas. "Tunggu di sini, biar kuobati lukamu terlebih dahulu."
Bai Yuan menuntun Song Qian untuk duduk di tepi peraduannya. Ia bergegas melangkah ke arah lemari, mengambil sebuah kotak kayu berukir dan mengeluarkan sebotol Obat Es Surgawi penawar luka bakar.
Saat Bai Yuan hendak membalurkan salep dingin itu ke lengan Song Qian, jemari halus Song Qian dengan cepat mengambil alih botol obat tersebut dari tangan Sang Dewa Perang.
"Kak Bai Yuan, kau tidak perlu repot-repot mengobatiku," tutur Song Qian lembut seraya mulai mengoleskan salep itu sendiri ke lengannya yang melepuh. "Aku sudah dewasa sekarang, aku bisa merawat dan mengobati lukaku sendiri."
Bai Yuan tertegun sejenak, lalu terkekeh geli melihat tingkah mandiri anak asuhnya itu. "Song Qian... bagi tatanan dewa di Istana Langit, seorang dewa yang baru berusia lima ratus tahun itu masih sangat muda dan bau kencur. Bagaimana bisa kau menyimpulkan dirimu sendiri sudah dewasa?"
Song Qian mendongak, menatap mata Bai Yuan dengan raut serius yang menggemaskan. "Kedewasaan seseorang tidak pernah diukur dari deretan angka umurnya, bukan? Tetapi dari tingkat kedewasaan berpikir dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah!"
Bai Yuan tersenyum hangat, mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut rambut Song Qian. "Pendapatmu memang tidak salah. Namun, apa pun alasannya, kau tetaplah adik kecil di mataku."
Song Qian mengerucutkan bibirnya seraya bangkit berdiri dari kasur. "Terserah Kakak mau menganggapku anak kecil atau apa! Yang jelas, aku sudah tumbuh dewasa sekarang!"
Bai Yuan menatap perbekalan Song Qian, lalu bertanya lembut, "Apakah kau tidak mau menginap satu malam lagi di istana ini?"
Song Qian menggeleng pelan, matanya berbinar menatap ke arah luar jendela. "Kak Bai Yuan... sudah saatnya aku pergi berguru secara resmi kepada Mahadewa Semesta. Ke depannya, aku tidak bisa lagi bersantai-santai di istanamu ini. Tapi, jika Mahadewa Semesta memberikan hari libur, aku berjanji pasti akan mampir ke Istana Chang Yuan untuk menemuimu!"
Bai Yuan menepuk pundak Song Qian dengan bangga. "Tenang saja. Setelah lima ratus tahun kau berguru di bawah bimbingan Qian Gu, nanti aku sendiri yang akan meminta Zhi Jie untuk membangunkan sebuah Istana megah khusus atas namamu."
"Janji, ya? Kakak harus mengingat ucapan itu!" seru Song Qian gembira.
Tanpa ragu, Song Qian bertindak cepat menghambur memeluk tubuh Bai Yuan erat-erat. Sebelum Bai Yuan sempat membalas pelukan hangat itu, Song Qian sudah lebih dulu melepaskan diri, berbalik, dan berlari cepat meninggalkan Istana Chang Yuan menuju Istana Chao Sheng.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Taman Istana Chao Sheng
Malam telah larut di Alam Dewa. Pendar cahaya rembulan perak menembus celah-celah daun Pohon Plum, menyinari taman Istana Chao Sheng yang tenang dan megah. Berbagai jenis Bunga Surgawi mekar menaburkan aroma harum.
Di sudut taman dekat telaga giok, tampak sosok anggun bergaun putih murni sedang berdiri menyendiri, menatap ke arah bulan purnama di langit malam. Dialah Qian Gu.
Langkah kaki halus terdengar mendekat. Song Qian berjalan perlahan melewati hamparan rumput hijau, menghampiri sang Mahadewa Semesta.
"Yang Mulia..." sapa Song Qian seraya membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Qian Gu tidak menoleh, namun suara halusnya bergaung dingin. "Bagaimana bisa kau masuk ke area dalam taman ini tanpa tersaring benteng sihir?"
"Aku biasanya masuk ke setiap istana melalui pintu belakang... Maaf jika keberadaanku mengganggu ketenangan Yang Mulia," jawab Song Qian jujur tanpa rasa canggung.
Qian Gu memutarkan badannya, menatap pemuda berhiaskan pendar cahaya tiga elemen di hadapannya. "Bagaimana? Apakah kau sudah menyelesaikan tantangan yang kuberikan di Rawa Yuanling?"
"Tentu saja sudah aku selesaikan dengan sempurna!" sahut Song Qian dengan senyuman lebar nan percaya diri. "Jadi... apakah sekarang aku sudah bisa diangkat menjadi murid resmi Yang Mulia?"
Mata indah Qian Gu tak sengaja menangkap bekas luka bakar yang memerah di pergelangan tangan kanan Song Qian. "Tanganmu kenapa?"
Song Qian melirik tangannya, menyembunyikannya sedikit ke balik jubah. "Tidak apa-apa... Ini hanya luka kecil saat aku menyalurkan kekuatanku di dalam tempat ilusi tadi."
Qian Gu menggelengkan kepala, nada suaranya mengkritik tajam namun tersirat kepedulian. "Apakah kau beranggapan bisa seenaknya menyemburkan kekuatan sihir di dalam alam ilusi tanpa memikirkan keselamatan jiwamu sendiri?"
"Yang Mulia tidak perlu cemas," potong Song Qian tersenyum tenang. "Lukaku ini sudah diobati dengan salep surgawi oleh Kak Bai Yuan."
"Baguslah kalau begitu," sahut Qian Gu singkat, kembali membelakangi Song Qian untuk menatap rembulan.
Namun, Song Qian melangkah satu tapak lebih dekat. "Yang Mulia... kapan tepatnya kau akan meresmikan aku sebagai muridmu?"
Qian Gu menghentikan pandangannya pada bulan, lalu menoleh menatap dalam kedua mata jernih Song Qian. "Song Qian... kenapa kau begitu terobsesi ingin menjadi murid dari seorang Mahadewa sepertiku?"
"Memangnya ada yang salah dengan posisi seorang Mahadewa?" balas Song Qian mantap. "Di mataku, kau adalah sosok dewi yang sangat luar biasa karena kau rela memikul beban berat menjadi seorang Mahadewa yang melindungi Tiga Alam dengan seluruh kekuatanmu. Oleh karena itu, aku ingin berguru dan berjuang di sisimu!"
Sentuhan kalimat tulus itu mengetuk kesadaran Qian Gu. Raut wajahnya mendadak diwarnai duka kelam yang mendalam.
"Namun... posisi Mahadewa Semesta ini adalah takdir yang dipaksakan sejak aku lahir," bisik Qian Gu halus, suaranya sarat akan kerapuhan batin. "Jika aku masih diberikan kesempatan untuk memilih jalan hidupku sendiri... aku tidak akan pernah ingin menjadi seorang Mahadewa Semesta."
Song Qian tertegun. Mengingat rekaman masa lalu di dalam ilusi—tentang pencabutan Bibit Perasaan Qian Gu demi menyegel Raja Iblis—dada Song Qian terasa sesak oleh rasa iba dan takjub yang membara.
"Yang Mulia... aku sama sekali tidak peduli apakah posisimu saat ini adalah sebuah takdir tak terelakkan atau keinginan pribadi!" tegas Song Qian, nada suaranya begitu berwibawa dan penuh ketetapan hati. "Di mataku, kau tetaplah Mahadewa Semesta yang paling hebat dan paling mulia di seluruh alam semesta ini!"
Qian Gu terperanjat pelan, menatap pemuda di hadapannya dengan pendar mata tak percaya. "Benarkah? Kau baru lahir lima ratus tahun yang lalu, Song Qian. Bagaimana bisa kau menilai dan memujiku setinggi itu padahal kau bahkan belum pernah menyaksikan puncak kekuatanku yang sebenarnya?"
Song Qian mengangkat dadanya, menatap lurus ke dalam manik mata Qian Gu tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku telah menyaksikan sebagian dari jejak masa lalumu di dalam cermin ilusi Istana Chang Yuan," aku Song Qian tulus. "Aku memang masih muda... namun aku sangat memahami bahwa pengorbanan yang telah kau berikan demi keselamatan Tiga Alam ini sungguh tiada tandingannya."
Song Qian mengepalkan jemarinya, mengalirkan pancaran kehangatan dari dadanya.
"Aku tahu bahwa kau adalah satu-satunya Mahadewa Semesta yang sanggup mengajariku, dan hanya kau Dewa Agung yang sanggup membimbingku untuk mengendalikan tiga elemen kekuatan semesta ini. Kita berdua sama-sama memiliki takdir kekuatan semesta yang tidak dimiliki oleh dewa lain... Karena itulah, aku harus belajar banyak hal darimu!"
Akankah pengakuan jujur dan ketulusan hati Song Qian sanggup melunakkan kebekuan jiwa Mahadewa Qian Gu yang telah hilang bibit perasaannya? Dan ritual sakral seperti apakah yang harus dijalani Song Qian saat peresmian murid pertamanya di Istana Chao Sheng besok pagi?
Bersambung........
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.