Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. APARTEMEN
Pintu mobil terbuka, membiarkan udara pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kabin yang terasa sesak oleh sisa-sisa ketegangan semalam.
"Ya sudah, Kak, aku masuk dulu," ujar Vellora memecah keheningan. Gadis itu menyampirkan tas di bahunya, melangkah turun dari mobil sport mewah yang baru saja merapat sempurna di depan gerbang SMA Atlantis 3.
Leo menatap gadis itu dari balik kemudi, berusaha keras menyembunyikan badai rasa bersalah dan ketakutan yang terus mengamuk di dadanya sejak percakapan mengerikan di teras semalam. "Semangat belajarnya, Vell," ucap Leo dengan seulas senyum tipis yang sengaja ia paksakan agar terlihat senatural mungkin.
Vellora membalas dengan anggukan, lalu berbalik melangkah anggun membelah kerumunan siswa. Leo tak segera pergi. Ia mematung di sana, matanya terus mengawasi punggung gadis itu hingga benar-benar tertelan di balik pintu kaca lobi sekolah.
Setelah memastikan Vellora aman, Leo menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dan menepi di sudut jalan yang agak sepi. Dengan gerakan cepat, ia merogoh ponsel dari saku jasnya dan langsung mendial nomor tangan kanannya.
"Iya, Bang Leo. Ada apa pagi-pagi begini?" sapa Bara dari seberang sana.
"Tolong kau carikan unit apartemen yang paling bagus dan sangat aman. Cari yang jaraknya tidak jauh dari sekolah Vellora. Aku ingin kita berempat segera pindah dan tinggal di sana bersama Kakek Liam," perintah Leo dengan nada pelan, namun sarat akan urgensi mutlak yang tak bisa dibantah. Jarak empat puluh lima menit dari kediaman utama membuat insting protektifnya terus berteriak waspada, terutama setelah mengetahui Vellora berniat membalas dendam pada sang pembunuh misterius—dirinya sendiri.
Terdengar hela napas terkejut di seberang panggilan. "Apa?! Mendadak sekali? B-baiklah, aku akan mencarikannya sekarang juga. Nanti kuhubungi lagi kalau sudah ada yang cocok," jawab Bara dengan panik. Klik. Panggilan itu langsung diputus secara sepihak oleh Bara yang buru-buru melaksanakan tugas mustahil di pagi buta itu.
Leo mendengus kasar, melempar ponselnya ke jok penumpang. Rahangnya mengeras kesal karena tidak sempat berbicara lebih lanjut atau memberikan instruksi keamanan tambahan pada Bara.
Sementara itu, di tempat lain, jemari Bara menari cepat di atas layar tabletnya. Matanya dengan jeli memilah-milah deretan properti mewah kelas atas yang dijual secara eksklusif di berbagai platform media sosial. Ia tahu persis selera tuannya; tempat itu haruslah sebuah benteng mewah yang tak tertembus.
Setelah menyortir dengan standar keamanan tingkat tinggi, Bara menemukan dua kandidat utama. Tanpa membuang waktu, ia mengirimkan detail spesifikasi, video tur penthouse, dan gambar-gambar beresolusi tinggi itu langsung ke WhatsApp Leo.
"Silakan cek sendiri, Bang. Kalau unit yang pertama, kisaran harganya 42 Miliar. Tapi kalau opsi yang kedua, harganya menyentuh angka 96 Miliar," ketik Bara dalam pesannya.
Di dalam mobilnya, mata elang Leo menyapu layar. Tatapannya langsung terkunci pada deretan foto apartemen kedua yang menampilkan kemewahan luar biasa, dilengkapi sistem keamanan biometrik berlapis dan pemandangan yang menghadap langsung ke arah SMA Atlantis 3. Nominal fantastis itu tak sedikit pun membuatnya berkedip. Uang bukanlah masalah bagi Keluarga Theodore.
Dengan tak sabar, Leo kembali menekan tombol panggilan.
"Aku pilih yang nomor dua! Cepat, atur pertemuan dan antarkan aku bertemu dengan pemilik atau agen propertinya sekarang juga," titah Leo dengan suara bariton yang dingin dan mengintimidasi.
"Pilihan yang sangat tepat. Baik, kita bertemu di titik ini, ya," balas Bara sigap. Sedetik kemudian, sebuah tautan lokasi Google Maps masuk ke ponsel Leo.
"Bagus. Bergeraklah dengan cepat," geram Leo.
Ia langsung mematikan ponselnya dan membanting tuas persneling. Pedal gas diinjak dalam-dalam. Mesin mobil mewahnya mengaum buas membelah aspal jalanan ibu kota, bergegas memburu lokasi pertemuan layaknya seorang predator yang berpacu dengan waktu demi melindungi satu-satunya permata yang tersisa di hidupnya.