Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Malam kian larut saat Mahardika dan Amel selesai menikmati makan malam mereka di kedai ayam goreng.
Dengan perut kenyang dan hati yang gembira, Amel tak henti-hentinya tertawa sepanjang jalan pulang hingga akhirnya tertidur lelap dalam gendongan sang ayah.
Setibanya di rumah tua mereka, Mahardika merebahkan Amel di atas tempat tidur dengan sangat perlahan.
Mahardika menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut kain yang bersih, lalu diusapnya kening Amel penuh kasih sayang.
"Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Selama Papa masih bernapas, tak akan ada seorang pun yang bisa menyakiti Amel lagi," bisik Mahardika lembut.
Setelah memastikan putri kecilnya terlelap, Mahardika melangkah keluar menuju pekarangan samping rumah.
Mahardika duduk bersila di atas tanah tempat ia menanam benih obat herbal tadi sore.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan mata keemasannya, dan membiarkan energi murni di dalam tubuhnya mengalir perlahan mengelilingi meridian utama.
Wusss...
Secara tak kasat mata, gelombang energi hangat berwarna keemasan terpancar dari tubuh Mahardika, meresap ke dalam tanah dan menyiram setiap benih herbal langka yang tertanam di sana.
Di bawah pengaruh energi kehidupan, mempercepat proses pertumbuhannya secara ajaib.
"Besok pagi, benih-benih ini akan bertunas sempurna," gumam Mahardika sambil perlahan membuka matanya.
Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu nama hitam elegan bertuliskan nama Baskoro Utama - Chairman Perkasa Group.
Mahardika memandangi kartu tersebut dengan senyuman dingin yang sarat makna.
"Siska... Haryo... kalian bilang besok kalian akan membawa puluhan preman dan alat berat atas nama Perusahaan Perkasa untuk meratakan rumah ini, bukan? Aku sungguh tak sabar melihat raut wajah kalian saat mengetahui siapa sosok yang berdiri di belakangku," batin Mahardika terkekeh pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari fajar perlahan terlihat dari ufuk timur, memancarkan sinar hangat yang menembus embun pagi.
Pagi-pagi sekali, Amel sudah terbangun. Ia mengucek matanya yang masih agak mengantuk, lalu berjalan keluar mencari ayahnya.
"Papa..." panggil Amel dengan suara serak karena bangun tidur.
Mahardika yang sedang merapikan dapur langsung menoleh dan tersenyum hangat.
"Selamat pagi, Putri Cantik Papa. Sudah bangun?" tanya Mahardika lembut.
"Pagi, Papa! Papa! Ayo kita lihat tanaman herbalnya! Sudah tumbuh belum ya?" ajak Amel langsung melompat kecil dan berlari menepi ke pekarangan samping.
"Ayo, kita lihat sama-sama," ajak Mahardika mengandeng tangan mungil Amel.
Begitu sampai di pekarangan samping, mata Amel seketika membelalak
Di atas bedengan tanah yang kemarin sore masih kosong, kini telah tumbuh puluhan tunas tanaman obat herbal berwarna hijau yang sangat segar!
Daun-daunnya tercium aroma harum.
"Wahhh! Papa hebat banget! Tanamannya benar-benar tumbuh! Wangi banget lagi, Pa!" seru Amel melompat-lompat gembira seraya bertepuk tangan.
Mahardika tersenyum. "Nah, sesuai janji kita kemarin, sekarang Amel bantu Papa menyiramnya ya."
"Siap, Kapt-en!" sahut Amel penuh semangat.
Dengan penuh keceriaan, Amel mengambil gayung kecil dan menyiramkan air segar ke atas daun-daun herbal tersebut.
Ngoeanggg! Ckrrrsh!
Terdengar suara mesin kendaraan berat dan puluhan sepeda motor, dan suara mobil sedan.
Pak RT yang baru keluar dari rumahnya langsung berlari tergesa-gesa menuju rumah Mahardika dengan raut wajah pucat pasi dan ketakutan luar biasa.
"Dik Dika! Dik Dika! Gawat, Dik!" jerit Pak RT dari balik pagar dengan suara gemetar.
Mahardika berdiri tegak, mengusap kepala Amel dan menatap Pak RT dengan tenang. "Ada apa, Pak RT?"
"Mereka datang, Dik! Siska dan Haryo bawa dua unit ekskavator dan puluhan preman bertato! Mereka bilang hari ini rumahmu harus rata dengan tanah!" teriak Pak RT panik sambil menunjuk ke arah jalan.