Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Operasi Penyelidikan
Pukul 07.02, Rendra Adijaya membuat keputusan penting.
Hari ini, dia tidak akan membawa susu stroberi.
Tidak akan.
Dia sudah cukup dipermalukan kemarin. Satu sekolah sekarang tahu bahwa dirinya memiliki kebiasaan memberi Naya susu stroberi, dan akun Garudatama Confessions bahkan menjadikannya bahan lelucon.
Harga dirinya sebagai manusia sudah berada di titik kritis.
Maka, pagi itu, Rendra datang ke sekolah dengan tangan kosong.
Tidak ada kantong kecil.
Tidak ada susu.
Tidak ada alasan untuk menjadi bahan gosip.
Sempurna.
Dia berjalan melewati gerbang dengan wajah datar, mengangguk singkat kepada satpam, lalu memasuki kelas seolah sedang menghadiri rapat penting perusahaan multinasional.
“PAGI, PANGERAN SUSU!”
Rendra berhenti.
Aldi berdiri di depan pintu kelas sambil mengangkat kedua tangan seperti pembawa acara konser.
Di belakangnya, Keysha langsung menutup wajah.
“Gue belum sarapan,” kata Aldi. “Jadi gue butuh asupan hiburan.”
Rendra menatapnya tanpa ekspresi.
“Gue bisa memberimu pengalaman yang tidak akan terlupakan.”
Aldi menurunkan tangan.
“Pengalaman apa?”
“Dikejar guru piket karena berlari keliling lapangan.”
“...Lo nggak punya selera humor.”
“Gue punya. Lo bukan targetnya.”
Keysha mendengus tertawa.
Aldi menunjuk Rendra dengan ekspresi tersinggung.
“Lihat, Sha! Dia menghina gue dengan struktur kalimat yang rapi!”
“Setidaknya tata bahasanya benar,” jawab Keysha.
“PENGKHIANATAN!”
Rendra melewati mereka dan duduk di bangkunya.
Dia berhasil mempertahankan ekspresi dingin selama kurang lebih empat detik.
Lalu Naya masuk.
“Pagi.”
Rendra menoleh.
“Pagi.”
Naya meletakkan tas, duduk, lalu mengeluarkan buku.
Matanya bergerak ke meja Rendra.
Kemudian ke tangannya.
Lalu kembali ke meja.
“Susunya mana?”
Rendra membeku.
Aldi, yang tadinya hendak kembali ke tempat duduk, berbalik secepat karakter game yang mendengar suara peti harta karun.
“APA?”
Rendra memandang Naya.
“Susunya sudah habis.”
“Gue nggak nanya susu kemarin. Gue nanya susu hari ini.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
“Gue nggak bawa.”
Naya mengangguk santai. “Oh. Oke.”
Dia kembali membaca buku.
Selesai.
Tidak ada protes. Tidak ada kekecewaan. Tidak ada ekspresi kecewa yang bisa dianalisis selama tiga puluh menit.
Rendra justru merasa sedikit terganggu.
Kenapa dia cuma bilang oke?
Karena dia memang cuma bertanya.
Iya, tapi biasanya—
Biasanya apa? Lo mengharapkan dia menuntut susu setiap pagi?
Rendra mengusap wajahnya.
Dia harus berhenti menjadikan hal sekecil susu sebagai peristiwa nasional.
“Ren?” Naya memanggil.
“Iya?”
“Lo lagi mikirin apa?”
“Fisika.”
Naya melirik buku di depannya.
Buku Bahasa Indonesia.
“Fisika?”
“Fisika kehidupan.”
Aldi langsung menyela, “Dia sedang menghitung berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa memberikan susu stroberi kepada orang yang disukainya.”
Rendra berdiri.
Aldi langsung kabur.
“ALDI!”
“GUE CUMA MEMBANTU PENDIDIKAN NASIONAL!”
Jam istirahat, Naya mengumpulkan Rendra, Aldi, dan Keysha di meja paling pojok kantin.
“Gue mau bahas pesan anonim kemarin.”
Aldi langsung duduk tegak.
“Oke. Akhirnya gue dilibatkan dalam perkara kriminal.”
“Ini bukan perkara kriminal,” kata Keysha.
“Belum,” jawab Aldi serius. “Kita harus berpikir jauh ke depan.”
Rendra duduk di sebelah Naya, menjaga jarak sewajarnya. Dia sudah belajar bahwa berada di dekat Naya bukan berarti dia berhak mengatur semua keputusan perempuan itu.
Naya membuka ponselnya dan menunjukkan tangkapan layar pesan dari akun asing.
“Pertanyaannya mirip sama pesan sebelumnya. Mereka mau memastikan gue kenal Rendra secara pribadi, terus bilang gue harus tahu siapa dia sebenarnya.”
Aldi mengerutkan kening.
“Kalimatnya kayak dialog antagonis sinetron.”
“Memang,” kata Naya. “Kurang musik piano aja.”
Keysha memperbesar gambar.
“Nama akunnya baru dibuat?”
“Profilnya kosong. Nggak ada foto, nggak ada bio, dan nggak ada server yang kelihatan.”
Rendra memperhatikan layar itu.
“Jangan balas lagi dulu.”
Naya menoleh kepadanya.
“Gue juga nggak berencana balas.”
“Bagus.”
“Lo nggak perlu ngomong kayak petugas keamanan.”
“Gue cuma—”
“Gue tahu. Lo khawatir.”
Rendra terdiam.
Naya kembali menghadap yang lain.
“Tapi gue nggak mau kita asal nuduh orang. Kalau ada bukti baru, baru kita cari tahu.”
Keysha mengangguk setuju. “Kita simpan semua pesan, catat waktu masuknya, dan jangan menyebarkan screenshot ke orang lain.”
Aldi mengangkat tangan.
“Pertanyaan penting.”
“Apa?” tanya Naya.
“Kalau kita membentuk tim investigasi, nama timnya apa?”
“Tidak ada nama tim,” jawab Keysha.
“Tim Susu Stroberi.”
“Gue keluar,” kata Rendra.
“Lo belum resmi masuk!”
“Bagus.”
Naya tertawa kecil.
Aldi menepuk meja.
“Gimana kalau Tim Empat Sekawan—”
“Judul film,” potong Keysha.
“Tim Anti-Pesan-Misterius!”
“Panjang,” kata Naya.
“Tim Jangan Ganggu Rendra!”
Rendra menatapnya tajam.
Aldi menunjuk dirinya sendiri.
“Nama ini punya potensi komersial.”
Naya akhirnya menggeleng sambil tersenyum.
“Nama timnya nggak penting. Yang penting, jangan ada yang sok jadi detektif terus bertindak sendiri.”
Kalimat terakhir itu diarahkan kepada Rendra.
Rendra menangkap maksudnya.
“Iya. Gue nggak akan bergerak sendiri.”
Naya mengamatinya sebentar, lalu mengangguk.
“Oke. Gue percaya.”
Dua kata itu seharusnya biasa saja.
Namun, bagi Rendra, kalimat tersebut terasa lebih berat daripada semua pujian yang pernah dia dapatkan setelah memenangkan pertandingan.
Karena kali ini, kepercayaan Naya bukan sesuatu yang bisa dia menangkan dengan menjadi hebat.
Dia harus menjaganya dengan tidak melakukan hal bodoh.
Sayangnya, menjaga diri agar tidak melakukan hal bodoh merupakan tantangan terbesar dalam hidup Rendra Adijaya.
Setelah istirahat, guru wali kelas masuk membawa beberapa lembar pengumuman.
“Minggu depan, sekolah akan mengadakan Pekan Kreativitas Siswa. Setiap kelas harus mengirimkan perwakilan untuk beberapa kegiatan.”
Aldi langsung berbisik, “Semoga ada lomba makan.”
Keysha menatapnya. “Kenapa semua kompetisi di otak lo berhubungan dengan makanan?”
“Karena gue punya visi.”
Guru melanjutkan, “Selain pameran karya dan pertandingan olahraga, akan ada lomba presentasi antarkelas. Temanya adalah literasi digital dan keamanan di internet.”
Naya dan Rendra saling pandang sekilas.
Mereka baru saja membicarakan pesan anonim.
Aldi perlahan mengangkat tangan.
“Bu, kalau kami membahas orang yang mengirim pesan misterius, boleh?”
“Kalau berdasarkan kasus yang sudah dianonimkan dan dibahas secara bertanggung jawab, boleh. Tetapi kalian tidak boleh menuduh seseorang tanpa bukti atau menyebarkan data pribadi.”
Aldi menurunkan tangan.
“Baik, Bu.”
Begitu guru kembali menjelaskan jadwal, Aldi membungkuk ke arah Naya.
“Ini takdir.”
“Ini tugas sekolah,” kata Naya.
“Takdir dalam bentuk tugas sekolah.”
Keysha mulai mencatat tanggal kegiatan.
Rendra sendiri menatap lembar pengumuman yang dibagikan kepadanya.
Literasi digital.
Keamanan internet.
Anonimitas.
Dunia yang selama ini menjadi tempatnya bersembunyi kini perlahan bersinggungan dengan kehidupan sekolahnya.
Dan ada satu hal yang membuatnya tidak nyaman: seseorang tampaknya tahu tentang identitas lamanya, sementara Naya mulai menerima pesan yang menyangkut dirinya.
Dia tidak tahu apakah keduanya terhubung.
Dia juga tidak akan berpura-pura sudah mengetahui jawabannya.
Namun, jika masa lalunya benar-benar mulai muncul ke permukaan, dia tidak ingin Naya mengetahui semuanya dari orang asing.
Bukan karena dia ingin menyembunyikan Naya dari kenyataan.
Melainkan karena dia perlu memastikan dirinya siap menceritakan apa yang memang menjadi hak Naya untuk ketahui—tanpa mengarang, tanpa menghindar, dan tanpa membuat keputusan untuknya.
Pikiran itu belum selesai ketika secarik kertas mendarat di mejanya.
Tulisan Aldi memenuhi hampir seluruh permukaan kertas.
SARAN JUDUL PRESENTASI:
“CARA MENGENALI ORANG MISTERIUS SEBELUM DIA MENGENALI KITA.”
Di bawahnya ada gambar wajah dengan kacamata hitam.
Rendra menulis balasan.
“CARA MENGENALI TEMAN YANG TIDAK PUNYA KERJAAN.”
Dia menggeser kertas itu kembali.
Aldi membacanya, lalu mengangguk penuh penghargaan.
“Bagus. Kita punya konsep.”
Rendra menatapnya.
“Gue nggak sedang menyetujui konsep.”
“Kolaborasi memang penuh tantangan.”
Sore harinya, Rendra baru saja sampai di rumah ketika sebuah pesan masuk dari OldFox.
OldFox: Ren, gue nemu sesuatu dari arsip lama.
Rendra duduk di tepi tempat tidur dan membuka percakapan itu.
Rendra: Apa?
Sebuah gambar dikirimkan.
Foto buram dari halaman forum lama. Ada beberapa nama pengguna, sebuah logo tim, dan tanggal yang sudah bertahun-tahun berlalu.
Rendra memperbesar gambar itu.
Lalu berhenti bernapas sejenak.
Di antara nama-nama yang hampir tidak terbaca, ada satu nama yang dikenalnya.
NIGHTFALL JUNIOR.
Dia tidak langsung mengetik.
Nama itu seperti pintu yang selama ini dia kira sudah tertutup rapat.
Bukan karena dia tidak mengingatnya.
Justru karena dia mengingat terlalu banyak.
OldFox mengirim pesan lagi.
OldFox: Lo kenal tim ini, kan?
Rendra menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
Rendra: Iya.
OldFox: Ada orang yang lagi nyari arsip pertandingan mereka. Bukan cuma nama lo. Dia nyari daftar anggota lama juga.
Rendra merasakan perutnya menegang.
Rendra: Siapa?
OldFox: Belum tahu. Tapi ada satu hal lagi.
Gambar kedua muncul.
Kali ini, foto sekelompok anak muda di sebuah acara komunitas game. Wajah mereka kabur karena kualitas gambar yang buruk.
Rendra mengenali dirinya sendiri di sana.
Lebih muda. Lebih kurus. Memakai kaus tim yang sudah lama tidak pernah dia lihat lagi.
Dan di sebelahnya berdiri seseorang yang wajahnya tertutup sebagian oleh pantulan cahaya.
Rendra memperbesar gambar itu.
Tidak cukup jelas.
Dia memperbesar lagi.
Tetap tidak cukup jelas.
“Kenapa foto zaman batu resolusinya selalu menyebalkan?” gumamnya.
Dia hampir mengirim gambar itu kepada Naya, tetapi berhenti.
Bukan karena dia tidak percaya kepadanya.
Dia hanya belum tahu apa yang bisa diceritakannya dengan pasti.
Ponselnya berbunyi lagi.
OldFox: Ren, lo masih ingat apa yang terjadi setelah pertandingan terakhir mereka?
Jari Rendra berhenti di atas papan ketik.
Pertandingan terakhir.
Nama tim.
Seseorang yang kini mencari arsip lama.
Potongan-potongan itu belum membentuk jawaban.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rendra tidak bisa memastikan apakah dia benar-benar ingin menemukan jawabannya.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari Naya.
Naya: Besok jangan lupa bawa catatan Bahasa Indonesia. Aldi bilang dia mau bikin presentasi pakai animasi ledakan.
Rendra memejamkan mata.
Dia sedang berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai, dan di saat yang sama harus mencegah Aldi mengubah presentasi sekolah menjadi trailer film aksi.
Rendra: Gue bawa. Gue juga akan mencegah Aldi menghancurkan nilai kita.
Naya: Bagus. Prioritas lo mulai benar.
Rendra menatap pesan itu, lalu kembali melihat foto lama di layar.
Mungkin dia belum siap menceritakan semuanya hari ini.
Namun, dia mulai mengerti satu hal: masa lalu tidak akan menjadi lebih mudah dihadapi hanya karena dia terus menghindarinya.
Dan besok, dia akan kembali ke sekolah.
Membawa catatan.
Menghadapi Aldi.
Mungkin membeli susu stroberi.
Tidak. Jangan mulai lagi.
Dia meletakkan ponsel, kemudian membuka aplikasi catatan.
Di bagian paling atas, dia menulis:
HAL YANG HARUS DILAKUKAN BESOK
Bawa catatan presentasi. Jangan membunuh Aldi. Jangan bertingkah aneh di depan Naya. Cari tahu lebih banyak soal NIGHTFALL JUNIOR. Jangan membeli susu stroberi tanpa alasan.
Rendra membaca daftar itu.
Lalu menambahkan poin keenam.
Kalau Naya minta susu, pertimbangkan.
Dia memandang layar selama tiga detik.
Kemudian menghapus poin keenam.
Dua detik kemudian, dia mengetiknya kembali.
Harga dirinya memang sedang berjuang.
Tetapi rupanya, harga dirinya belum pernah menang melawan Kanaya Putri dan susu stroberi.