NovelToon NovelToon
Ola, Tuan Mafia!

Ola, Tuan Mafia!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Pengantin Pengganti Untuk Mafia.

Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.

Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OTM — BAB 06

RACUN DI MALAM PERTAMA

Suara air yang mengalir dari balik pintu kamar mandi terdengar samar, menyatu dengan keheningan yang berat. Laura berdiri di tengah ruangan, napasnya terasa sesak, amarah yang selama ini dipendam perlahan meluap menelan rasa takut. Semua orang memperlakukannya seolah ia hanyalah benda yang dapat dipindahkan, dipertukarkan, dan diancam sesuka hati — Kieran, Eleanor, keluarga Marcano, semuanya. Ia tak lagi peduli. Jika tak ada jalan keluar, maka ia akan menciptakannya sendiri.

“Aku bukan umpan.”

Pandangannya jatuh pada meja kecil di sudut ruangan, di mana beberapa botol bir tersusun rapi. Ia yakin Killian kerap meneguknya untuk melupakan hari-hari yang berat, atau mungkin sekadar untuk menjaga dirinya tetap dingin.

Tanpa pikir panjang, Laura melangkah mendekat, meraih salah satu botol yang masih tertutup rapat. Tangannya gemetar, namun ia mengepalkannya erat-erat.

Ia mulai membuka laci-laci satu per satu, mencari sesuatu yang dapat digunakan. Di laci paling bawah, tersembunyi di balik tumpukan pakaian, terdapat beberapa obat tanpa label yang jelas. Ia tak tahu apa isinya, tak tahu kegunaannya — namun saat ini, itu tak lagi penting. Ia membuka setiap kemasan, menuangkan isinya satu per satu ke dalam botol bir itu, lalu menutupnya kembali, berusaha menyamarkan jejak seakan tak ada yang berubah.

Jantungnya berdegup kencang hingga nyeri di dada. Tubuhnya gemetar hebat. Ia ingin mundur, ingin meletakkan botol itu dan berpura-pura tak pernah melakukan apa-apa — namun bayangan wajah adiknya yang terancam, bayangan ancaman Kieran, dan tatapan dingin semua orang di sini mengunci langkahnya. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, berdiri tegak di tempat yang terlihat alami saat suara di balik pintu berhenti.

-‘Tenang, jangan mencurigakan.’ batinnya.

Pintu terbuka.

Killian melangkah keluar, rambutnya masih basah, meneteskan air ke bathrobe hitam yang dikenakan. Pakaian itu pas di tubuhnya, memperlihatkan garis leher, dada dan lengan yang kokoh — penampilan yang begitu menggoda, namun bagi Laura terasa seberbahaya pedang yang terhunus.

-‘Tahan, jangan tergoda.’ Ia berusaha menunduk, menahan diri agar tak terpaku memandanginya, berusaha keras menutupi rasa takut sekaligus rasa kagum yang tanpa sadar muncul di benaknya.

Pria itu berjalan menuju lemari kecil tempat obat-obatan disimpan. Ia membuka laci, mengerutkan kening sejenak, seakan menyadari sesuatu yang berubah — namun tak berkata apa-apa.

Melihat itu, Laura memberanikan diri. Ia mendekat sedikit, suaranya bergetar namun berusaha tegas.

"Apakah... kau ingin minum sesuatu?" tanyanya, menunjuk ke arah botol yang telah disiapkannya. "Beer? Mungkin bisa menenangkan pikiran di malam pertama."

Killian berbalik perlahan, menatapnya tanpa curiga sedikit pun. Ia melangkah mendekat, meraih botol itu, menuangkan isinya ke dalam gelas bening di meja meski tak sesekali matanya menyorot ke Laura.

Sementara Laura menahan napas, berdiri di tepi ranjang, menatapnya diam-diam, berdoa dalam hati agar semuanya berjalan sesuai rencana.

Killian mengangkat gelas itu, lalu berjalan mendekat ke arahnya.

"Kau menawarkannya," ucapnya datar, dingin, tanpa ekspresi. "Maka ikutlah bersamaku."

Laura tertegun. "Aku... aku tidak suka beer."

“Kau tidak suka?”

Laura mengangguk kaku.

Pria itu berhenti sejenak, lalu berbalik menuju pintu, menekan bel panggil pelayan. Tak lama, seseorang datang, menunduk hormat di ambang pintu.

"Minumlah," perintah Killian, menyodorkan gelas itu kepada pelayan tersebut.

Wajah Laura pucat seketika. Ia melangkah maju tanpa berpikir. "Tidak!" suaranya meninggi. "Kau tidak boleh memaksanya meminum itu. Tidak semua orang suka alkohol!"

"Siapa yang memberi perintah di sini?" kata Killian menatap tegas.

"Tetapi... itu, itu tidak adil!" Laura tak mau mundur. "Sama saja kau memaksa seseorang melakukan hal yang tidak dia inginkan!"

"Minum."

Pelayan itu menelan ludah, tangan gemetar meraih gelas itu. Ia meminumnya sekaligus disaksikan langsung oleh Killian dan Laura.

Detik berikutnya, wajahnya berubah pucat. Mulutnya berbusa, tubuhnya mengejang hebat, lalu jatuh terjerembap ke lantai — tak bergerak lagi.

Laura terpaku, mata terbelalak, napasnya tertahan. Bukan ini yang ia inginkan. Ia tak bermaksud membunuh orang tak berdosa. Ia hanya ingin... ingin pria itu tewas dan semuanya berakhir.

Air mata mulai menggenang di matanya. "Bukan... bukan seperti ini..." suaranya bergetar pelan.

Killian menatap tubuh yang tergeletak itu sejenak, lalu menekan bel sekali lagi, menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia berbalik, melangkah mendekat, lalu mendorong Laura kasar hingga punggungnya membentur dinding.

"Kau mencoba membunuhku," ucapnya rendah, matanya menyala penuh amarah. "Dengan cara yang begitu murahan."

Laura menatapnya balik, matanya berkaca-kaca, namun tak lagi menunduk. Rasa takut bercampur dengan keputusasaan yang meluap.

"Ya. Harusnya kau, kalian yang tewas bukan pelayan itu. Siapa yang peduli?" suaranya meninggi, pecah namun berani. "Aku muak! Aku muak dengan semua ini, dengan semua orang yang memerintah, mengancam, memperlakukan orang lain seperti barang! Kalau begitu... biarlah aku yang mati! Aku lebih baik mati daripada melihat orang lain binasa karena kesalahanku!"

Killian terdiam sejenak, menatap gadis itu — melihat ketakutan yang kini berubah menjadi keputusasaan yang nyata. Perlahan, kemarahan di matanya berganti menjadi sesuatu yang lain — dingin, tajam, dan mengerikan. Ia menyeringai, senyum yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

"Kau ingin melihatku binasa?" ucapnya pelan, mendekatkan wajahnya. "Baiklah. Aku tidak suka menunjukkan kebaikan kepada musuh. Tapi menikmati wajah ketakutan musuhku... itu hal yang sangat kuinginkan."

Laura merinding mendengarnya, jantungnya berdegup kencang bukan karena cinta, melainkan karena ngeri.

“Lepaskan aku.”

Ia mencoba berlari menjauh, namun Killian lebih cepat. Ia meraih ujung gaun putih yang dikenakannya, menariknya kasar hingga kain itu robek. Laura berteriak, berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman pria itu begitu kuat. Kain terkoyak sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ia hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih, tubuhnya terbuka, terlihat gemetar bukan hanya karena dingin.

“Dasar bajingan!”

Laura meraih selimut di atas ranjang, menariknya menutupi tubuhnya, namun Killian menariknya kasar pula.

Menarik pergelangan tangan gadis itu, mendorongnya hingga terjatuh di atas kasur yang empuk namun terasa dingin. Laura mencoba berbalik, mencoba menjauh, namun tangan kiri Killian menahan kedua pergelangan tangannya di atas kepalanya — hanya dengan satu tangan, begitu mudah seakan Laura tak memiliki kekuatan apa pun.

Dengan tangan lainnya, ia sudah membawa botol anggur entah sejak kapan. Lalu membukanya dengan jempol, menuangkan sedikit cairan berwarna merah tua itu ke dada Laura yang terbuka.

1
Tiara Bella
pasti ada si vattel disitu.....
vnablu
semangat thorrr up nyaa yaa
vnablu
masih belummm tobat juga nihh orang 😓😓
Mia Camelia
Jolie siapa sih😂 jadi curiga klo dia ada hubungan nya sama Laura 🤭
Four.: gak kok, tapi hubungannya sama.... tu tuhh
total 1 replies
Tiara Bella
mungkin ada sebabnya killian gk makan dirmh itu.....
Four.: masakannya pelayan gak enak 😌
total 1 replies
vnablu
Cemunguut thorrr up nyaa😘
Four.: celalu uyyy/Scream/
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyyy/Determined//Determined/
total 1 replies
vnablu
Okeeee thorr akuu ngikut ajaaa🤭🤭🤭... Semangat terus buatt up nyaa yaa 😄
Four.: wokayyyy/Scream//Determined/
total 1 replies
Tiara Bella
jangan² yg marganya vettel mantannya Laura 🤭
Tiara Bella: waduh....
total 2 replies
Kinara Widya
siap kak...🥰🥰🥰
Four.: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pasti ini ulah nya Muchus nyerang meraka😂
Four.: yakinnn
total 1 replies
Tiara Bella
cepat pergi dr sana Nico drpd nanti kena serangan....
Four.: ho, oh
total 1 replies
Eci Rahmayati
nahhh udah ada yg ngincer sebaiknyaa pindahh
Four.: cuman tukang tani kok
total 1 replies
Kinara Widya
Nico bawa pergi semuanya...tempat Lily sudah tidak aman.
Four.: harusnya yee
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyy
total 1 replies
vnablu
kapann nih romantis nyaa kalian 😌
Four.: bentar lagi 😌
total 1 replies
vnablu
SEMANGAT terus thorrr up nyaaa😄😄
Four.: wokayyyyy
total 1 replies
Mia Camelia
kiliian dingin banget sih ke laura😔, kapan bisa romantis nya nih😂
Four.: kapan kapan 😁
total 1 replies
Tiara Bella
Laura km bertanya tanya.....aku pun sama😄🤭
Four.: aku pun juga
total 1 replies
Eci Rahmayati
apa mereka pernah bertemu seblm nya dalam keadannnn mabuk atau apalah ya.. 🤔
Four.: mungkin aja sihhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!