NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Telepon yang Sibuk

"Masalah apa?"

Laras masih berdiri di halaman terminal. Asap bus belum benar-benar hilang, tetapi suara Galih di telepon membuat jarinya mencengkeram ponsel lebih erat.

"Gue dipukul orang."

"Apa?"

"Nggak parah. Jangan teriak dulu."

Galih terdengar seperti sedang menahan sakit. Di belakang suaranya ada dengung kipas tua dan bunyi kendaraan dari jalan besar.

Laras langsung berjalan ke motornya. "Lo di mana?"

"Kontrakan dekat kampus."

Tangannya sudah menyentuh kunci kontak ketika kalimat Rayhan terulang di kepala.

Tungguin aku.

Ia menatap jalan keluar terminal. Kontrakan Galih ada di kota dan perjalanan ke sana tidak sebentar. Kalau ia berangkat sekarang, ia baru akan pulang larut malam.

"Kirim foto luka lo," katanya akhirnya.

Galih terdiam. "Lo nggak ke sini?"

Pertanyaan itu membuat Laras merasa bersalah, tetapi ia tidak menyalakan motor.

"Gue perlu tahu seberapa parah dulu. Kalau kepala lo kena atau lo muntah, gue panggil ambulans."

Beberapa detik kemudian, foto masuk. Bibir Galih pecah, pipinya lebam, dan ada goresan panjang di dekat alis. Tidak ada darah segar, tetapi wajahnya jelas baru dihantam lebih dari sekali.

"Siapa yang mukul?"

"Cowok yang suka Tiara."

Laras mengernyit. "Kenapa urusannya jadi ke lo?"

"Tiara bilang ke dia kalau gue nolak karena ada cewek lain. Dia nungguin gue pulang kelas, terus ngajak dua temannya."

"Dan lo lawan tiga orang sendirian? Pintar banget."

Galih tertawa kecil, lalu mendesis kesakitan. "Gue lari setelah satu pukulan. Harga diri gue masih ada, tapi nggak sebanyak itu."

Laras bersandar pada jok motornya. Marahnya datang terlambat, naik pelan dari dada ke tenggorokan.

"Udah kompres pakai es?"

"Belum."

"Ambil kain bersih, bungkus es, tempel sepuluh menit. Jangan langsung kena kulit. Terus foto lagi dari samping."

"Iya, Bu Dokter."

"Kalau pandangan lo kabur, pusing berat, atau mual, langsung ke IGD. Jangan sok kuat."

Galih menurut. Laras mendengar pintu kulkas dibuka, plastik berdesis, lalu suara barang jatuh.

"Lo tinggal sendiri, ya?" tanyanya.

"Teman sekontrakan pulang kampung."

"Telepon dia. Atau tetangga kamar. Jangan sendirian malam ini."

"Gue telepon lo karena gue nggak tahu harus telepon siapa."

Kalimat itu kehilangan nada bercandanya. Laras menunduk, menatap noda oli di ujung sepatunya.

"Dengerin gue, Lih. Lo nggak perlu nanggung semuanya sendirian cuma karena takut kelihatan lemah. Kirim lokasi. Gue pesenin makanan, terus gue tetap di telepon sampai ada orang yang datang nemenin."

"Rayhan bakal marah."

"Rayhan bukan pemilik hidup gue."

Namun setelah mengucapkannya, Laras justru melihat bayangan telapak tangan Rayhan di kaca bus. Ia juga teringat betapa susah payah anak itu belajar meminta, bukan memerintah.

"Tapi gue juga sudah janji nunggu dia pulang," lanjutnya. "Jadi gue nggak akan ke sana malam ini. Jangan bikin gue berubah pikiran dengan sok pingsan."

Galih diam cukup lama.

"Oke," katanya pelan. "Telepon aja cukup."

Laras pulang ke Gang Mawar sambil memasang ponsel di dudukan motor. Sesampainya di rumah, ia menyuruh Galih memesan ojek ke klinik terdekat untuk pemeriksaan. Galih mengeluh soal biaya, lalu menurut setelah Laras mengancam akan menelepon Bu Yayuk.

Menjelang magrib, Galih sudah kembali dari klinik. Tidak ada retak tulang atau gegar serius. Ia diberi obat pereda nyeri dan diminta istirahat.

Laras juga menyuruhnya menyimpan foto luka dan bukti pemeriksaan. Galih sempat menolak karena tidak mau memperpanjang urusan dengan anak-anak kampus itu.

"Simpan bukan berarti harus balas sekarang," kata Laras. "Kalau mereka datang lagi, lo punya catatan. Jangan karena malu terus semua dibuang."

"Sejak kapan anak bengkel cerewet soal bukti?"

"Sejak calon pengacara malah perlu diajarin hal begini."

Galih menurut. Ia memotret resep dan menyimpannya bersama foto wajah yang tadi dikirim.

"Jadi jangan masuk kelas besok," kata Laras sambil membersihkan meja makan.

"Ada presentasi."

"Muka lo kayak habis ditabrak lemari. Presentasi apaan?"

"Hukum pidana. Cocok, kan?"

Laras hampir tertawa. "Bego."

Malam makin larut. Pak Darto sudah tidur setelah menonton berita, sedangkan Mbah Surti berkali-kali keluar kamar untuk menanyakan siapa yang menelepon begitu lama.

"Galih lagi sakit," jawab Laras untuk ketiga kalinya.

"Sakit apa sampai suaranya perlu ditemani berjam-jam?"

"Bibirnya pecah, Mbah. Bukan hatinya."

Mbah Surti mendengus dan kembali masuk kamar. Laras baru hendak mengambil air ketika panggilan lain masuk.

Nama Rayhan menyala di layar.

"Lih, tunggu. Ada telepon."

Ia menutup panggilan Galih sementara, lalu mengangkat telepon Rayhan.

"Halo? Gimana lombanya?"

Tidak ada jawaban selama dua detik. Di belakang Rayhan terdengar suara anak-anak dan pintu kamar hotel ditutup.

"Tadi aku telepon tiga kali," katanya.

Laras memeriksa layar. Memang ada tiga panggilan tak terjawab.

"Maaf. Gue lagi telepon."

"Sama siapa lama-lama? Galih lagi?"

Nada itu dingin, tetapi bukan ledakan seperti dulu. Laras menarik kursi dan duduk.

"Dia habis dipukuli orang. Sendirian di kontrakan. Gue nemenin dari telepon."

"Kenapa harus kamu?"

"Karena dia minta bantuan. Dan gue nggak pergi ke sana. Gue tetap di rumah seperti yang gue bilang."

Rayhan mengembuskan napas. "Jadi kalau aku nggak minta kamu nunggu, kamu bakal datang?"

"Jangan cari pertengkaran dari kalimat yang nggak gue ucapkan."

"Aku cuma nanya."

"Cara lo nanya sudah kayak menuduh."

Di ujung sana, suara teman sekamar Rayhan memanggil namanya. Rayhan menyuruh orang itu masuk dulu, lalu kembali bicara dengan suara lebih pelan.

"Aku seharian lomba. Pas selesai, yang kepikiran pertama kamu. Tapi teleponmu sibuk terus buat dia."

Ada luka yang tidak dibuat-buat di sana. Laras memijat pangkal hidung.

"Gue bangga lo sudah selesai lomba. Gue juga memang nunggu lo pulang. Dua hal itu nggak hilang cuma karena gue nolong teman."

"Dia bukan cuma teman buat kamu."

"Menurut siapa?"

"Menurut cara dia selalu cari kamu kalau ada masalah."

Laras menahan jawaban tajam. "Rayhan, lo pernah bilang belajar bedain cemburu sama hak ngatur. Ini latihan berikutnya."

Hening kembali turun. Ketika Rayhan menjawab, suaranya masih kaku.

"Aku nggak nyuruh kamu tutup teleponnya."

"Bagus."

"Tapi aku inget ini, Ras."

Panggilan terputus sebelum Laras sempat bertanya apa maksudnya.

Ia menatap layar gelap, kesal sekaligus cemas. Beberapa detik kemudian, Galih menelepon lagi. Laras mengangkat, memastikan obatnya sudah diminum, lalu baru menutup telepon setelah teman sekontrakan Galih akhirnya datang.

Saat ia keluar untuk menghirup udara, Gang Mawar sudah sunyi. Laras membuka laci kecil di sudut bengkel dan menyentuh jepit mutiara pemberian Nadia. Butiran murah itu terasa dingin di telapak tangannya.

Suara sandal menyeret dari seberang gang.

Bu Yayuk berdiri di depan pagar dengan daster dan wajah tegang. Di belakangnya, dua tetangga berbisik tanpa berusaha mengecilkan suara.

"Laras," panggilnya. "Katanya Galih dipukuli gara-gara perempuan. Kamu tahu sesuatu?"

Laras menutup laci perlahan.

Sebelum Rayhan pulang membawa hasil lomba, kabar tentang Galih sudah lebih dulu berlari mengelilingi Gang Mawar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!