NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Warisan Ruang dan Fondasi Tunggal

​Asap tipis dari teh spiritual yang tersisa di atas meja kayu perlahan terurai, memudar di antara sela-sela anyaman bambu dan membawa keheningan yang serba tenang di dalam ruangan.

​Han Wuyan meletakkan teko tanah liatnya kembali ke sudut meja dengan gerakan pelan. Sorot mata tuanya yang berkilat bijaksana kini tertuju lurus ke arah pergelangan tangan kanan Mo Xie yang terbalut kain hitam. Sinar matanya memancarkan binar ketertarikan mendalam pada sifat energi asing yang baru saja dilahirkan dari Bencana Langit.

​"Ulurkan lenganmu, Mo Xie," ucap sang Ketua Agung. Suaranya terdengar lembut, namun menyimpan wibawa mutlak seorang Ascendant yang tak bisa dibantah.

​Mo Xie sempat tertegun sejenak. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh penguasa tertinggi sekte tersebut, namun tanpa ada keraguan atau pertanyaan yang keluar dari bibirnya, ia mematuhi instruksi itu. Ia mengangkat lengan kanannya ke depan, meletakkannya di atas permukaan meja kayu yang memisahkan mereka.

​Han Wuyan mengulurkan tangan tuanya yang penuh guratan usia. Jemarinya yang panjang merambat perlahan, menempelkan dua ujung jarinya tepat di atas jalur urat nadi pergelangan tangan Mo Xie—tempat di mana simbol Pedang Chaos membisu di bawah balutan kain hitam.

​WUUUSH...

​Sebaris benang Qi spiritual yang sangat tipis, murni, dan sarat akan keanggunan seorang praktisi di puncak Ascendant perlahan dialirkan masuk menembus pori-pori kulit Mo Xie. Energi itu merayap halus bagai aliran air di malam hari, mencoba memeriksa sirkulasi Dantian baru serta kerapatan Hukum Chaos yang baru saja lahir.

​Namun, hanya dalam kurun waktu satu tarikan napas setelah benang Qi itu melintasi jalur darah Mo Xie—

​Mata tua Han Wuyan mendadak membelalak pelan!

​Aliran Qi pemeriksaan milik sang Ketua Agung seketika bergetar hebat di dalam raga pemuda itu. Di dalam persepsi spiritualnya yang luas, Han Wuyan tidak hanya menemukan energi korosif yang liar atau sekadar Hukum Es murni biasa. Apa yang ia saksikan adalah sebuah peleburan ekstrem yang teramat sangat mengerikan dan tak masuk akal.

​Di satu sisi, energi tersebut memancarkan sifat korosif kehancuran yang sanggup melumatkan apa pun yang dilaluinya. Namun di sisi lain, energi itu juga membawa hawa beku yang teramat dingin—bukan sekadar dinginnya es alami dari pegunungan utara, melainkan keheningan beku nirwana yang sanggup membekukan pergerakan energi itu sendiri secara mutlak. Dua sifat ekstrem yang seharusnya saling bertolak belakang dan menghancurkan inangnya itu justru menyatu sempurna, membentuk fondasi energi Chaos yang belum pernah ada tandingannya di era sekarang.

​"Ini..." gumam Han Wuyan lirih, suara tuanya sedikit bergetar.

​Sang Ketua Agung secara perlahan melepaskan cengkeraman jarinya dari pergelangan tangan Mo Xie. Ia menarik kembali tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang sembari membelai janggut peraknya yang panjang. Matanya menyipit tajam, menatap Mo Xie dengan pandangan yang penuh dengan kalkulasi serta kekaguman yang teramat mendalam.

​"Luar biasa..." bisik Han Wuyan lagi, gema suaranya bergaung pelan di antara dinding-dinding bambu. "Ini bukan sekadar perpaduan dua energi biasa, melainkan sebuah entitas kekuatan baru yang berdiri tegak di atas tatanan Hukum Alam biasa."

​Mo Xie menarik kembali tangannya perlahan, merapikan lengan jubah hitamnya sembari menatap sang Ketua Agung dengan ketenangan yang terjaga. Ia bisa merasakan kejutan singkat dari penguasa Ascendant itu, namun ia memilih untuk tetap membisu, menanti kalimat berikutnya dari sang legenda hidup.

​Han Wuyan menghentikan usapan jemarinya pada janggut peraknya. Sinar matanya kembali memancar terang, mengunci pandangan Mo Xie dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius.

​"Aku punya sesuatu untukmu, Mo Xie," ujar Han Wuyan pelan, suaranya merendah. "Terserah padamu apakah kau akan menggunakannya atau justru membuangnya."

​Srak...

​Sang Ketua Agung menggerakkan tangan kirinya secara halus. Pendar cahaya perak redup berkilat tipis dari cincin ruang yang melingkar di jarinya. Sesaat kemudian, sebuah benda melayang keluar dengan anggun dan hinggap perlahan di atas meja kayu, tepat di hadapan Mo Xie.

​Benda itu adalah sebuah giok hitam berbentuk persegi. Permukaannya tampak begitu legam, tidak memantulkan cahaya lampu minyak sedikit pun, dan dipenuhi oleh ukiran garis-garis segel kuno yang tampak bagai retakan-retakan tak beraturan di udara. Dari dalam giok tersebut, memancar aura hening yang teramat sangat aneh—seolah-olah udara dan ruang di sekeliling giok itu terdistorsi tipis.

​Mo Xie menundukkan pandangannya. Mata kirinya yang bersinar biru gletser redup dan mata kanannya dengan lingkaran merah menatap lekat pada giok tersebut.

​"Ini adalah slip teknik Hukum Ruang," jelas Han Wuyan, suaranya terdengar berat dan sarat akan bobot sejarah. "Sebuah warisan kuno dari era sebelum kiamat yang aku temukan ribuan tahun yang lalu."

​"Hukum Ruang...?" desis Mo Xie pelan.

​Dahinya berkerut rapat. Di dalam catatan tua dunia kultivasi, Dao Ruang adalah salah satu dari dua Dao Tertinggi yang paling misterius dan teramat sulit untuk dipahami oleh akal fana, berdiri sejajar dengan Dao Waktu. Praktisi yang sanggup menguasai sedikit saja dari elemen Hukum Ruang akan mampu melompati jarak dalam sekejap, memotong dimensi, dan memiliki daya tempur yang berada jauh di luar nalar praktisi biasa.

​"Aku telah mencoba mempelajarinya selama ribuan tahun," sambung Han Wuyan dengan helaan napas panjang yang membawa sedikit rasa keputusasaan dari masa lalu. "Segala upaya, pemahaman Dao Es, dan metode terbaik telah aku paksakan. Namun... hasil yang kudapatkan sangatlah minim. Teknik di dalam giok ini terlalu liar, terlalu kacau, dan sangat sulit untuk dicerna oleh pemahaman Dao biasa."

​Mendengar pengakuan jujur dari sesosok eksistensi yang menduduki ranah Ascendant tersebut, Mo Xie justru menggelengkan kepalanya pelan. Rasa enggan dan realistis bertunas di dalam dadanya.

​"Ketua Agung..." ucap Mo Xie dengan nada datar. "Anda yang berada di puncak ranah Ascendant dan telah memahami tatanan Hukum Alam saja tidak sanggup menguasai teknik ini, apalagi diriku yang baru saja melintasi batas ke ranah Awakened awal. Bukankah hal ini terlalu mustahil dan konyol bagiku?"

​Han Wuyan tidak sedikit pun tersinggung atau marah mendengar keraguan realistis itu. Sang Ketua Agung justru menyunggingkan senyum tipis, mengangguk-angguk paham atas alasan logis yang dilontarkan oleh pemuda di hadapannya.

​"Secara teori kultivasi biasa, perkataanmu memang benar," ujar Han Wuyan tenang. "Tapi dari kegagalan dan pengalamanku selama berabad-abad mencoba menembus rahasia giok ini, aku berhasil memahami satu syarat utama yang tersembunyi rapat di balik strukturnya, Mo Xie."

​Han Wuyan menunjuk giok hitam di atas meja dengan ujung jarinya.

​"Untuk dapat mencerna dan mengalirkan Hukum Ruang tanpa membuat raga serta Dantianmu meledak hancur, dibutuhkan pemahaman yang teramat sangat mendalam tentang kekacauan murni. Tanpa adanya fondasi Chaos yang kokoh di dalam ragamu, jiwamu hanya akan tersesat dan hancur tergilas oleh turbulensi dimensi Void saat kau mencoba menyentuhnya."

​Sang Ketua Agung kemudian menatap lurus ke dalam sepasang mata unik milik Mo Xie—sepasang mata yang memancarkan pendar ganda yang berbahaya.

​"Aku tidak bisa melakukannya karena Dao yang aku anut adalah Es Murni," sambung Han Wuyan, suaranya mengencang penuh dengan keyakinan absolut. "Tapi kau... kau membawa Hukum Chaos di dalam Dantian barumu. Dan mungkin saja... kau adalah satu-satunya eksistensi yang ditakdirkan sanggup menundukkan teknik agung ini."

​Mo Xie terdiam di tempatnya. Pandangannya kembali terkunci pada giok hitam yang tergeletak membisu di atas meja kayu. Kata-kata sang Ketua Agung bergema keras di dalam batinnya, memicu percikan rasa penasaran serta ambisi baru yang perlahan-lahan mulai membakar dadanya.

​"Tapi ingat, Mo Xie..." sela Han Wuyan, nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan menekan.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!