Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 13
Bab 13
Orang yang Selama Ini Melindungi Clara
Malam semakin larut.
Jalanan kota mulai sepi ketika mobil yang dikendarai Fedro melaju meninggalkan rumah lama Clara.
Di dalam mobil, suasana terasa begitu sunyi.
Clara duduk di kursi penumpang sambil menggenggam erat flashdisk dan surat peninggalan ayahnya.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Siapa orang yang selama ini mengawasinya?
Mengapa pernikahannya dengan Fedro sudah direncanakan jauh sebelum mereka benar-benar saling mencintai?
Dan yang paling membuat Clara gelisah, siapa orang yang sebenarnya selama ini melindunginya?
Clara menoleh kepada Fedro.
Pria itu fokus mengemudi. Tatapannya tajam menatap jalan di depan.
“Fedro.”
“Hm?”
“Kamu percaya kepadaku?”
Fedro meliriknya sekilas.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Jawab saja.”
Fedro kembali menatap jalan.
“Aku percaya.”
“Walaupun nanti kamu mengetahui sesuatu tentang masa laluku?”
“Aku sudah tahu kamu bukan perempuan biasa.”
Clara tersenyum tipis.
“Maksudku lebih dari itu.”
Fedro terdiam beberapa detik.
Kemudian tangannya terulur dan menggenggam tangan Clara.
“Aku menikahimu bukan karena masa lalumu.”
Clara menatap tangan mereka.
“Aku menikahimu karena dirimu yang sekarang.”
“Kalau ternyata keluargamu pernah merencanakan pernikahan ini?”
“Aku tetap memilihmu.”
“Kalau ternyata ayahku dan keluargamu menyimpan rahasia besar?”
“Kita bongkar bersama.”
Clara menatap wajah suaminya.
“Kalau ternyata orang yang selama ini kita percaya adalah pengkhianat?”
Fedro tersenyum tipis.
“Kalau begitu kita hadapi pengkhianat itu bersama.”
Clara menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya malam itu, hatinya terasa sedikit lebih tenang.
Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.
Ponsel Fedro tiba-tiba berdering.
Satu pesan masuk.
Jangan lanjutkan perjalanan. Kalian sedang menuju perangkap.
Fedro langsung mengerutkan kening.
Clara melihat layar ponselnya.
“Siapa?”
“Nomor tidak dikenal.”
“Pesannya?”
Fedro memperlihatkannya.
Clara membaca dengan wajah tegang.
“Menurutmu kita harus berhenti?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau seseorang sengaja memperingatkan kita, berarti dia ingin kita berbalik.”
Clara mengangguk.
“Jadi kita tetap pergi?”
“Ya.”
Fedro menekan beberapa tombol di layar ponselnya.
“Aku akan mengubah rute.”
Clara menatapnya.
“Kita tidak menuju tempat yang diberikan dalam pesan?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Fedro tersenyum dingin.
“Kita menuju tempat itu dari arah yang berbeda.”
---
Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah kawasan tua di pinggir kota.
Bangunan-bangunan lama berdiri sunyi.
Lampu jalan hanya menyala di beberapa tempat.
Fedro menghentikan mobil di balik sebuah bangunan kosong.
“Ini tempatnya?”
Clara melihat sekeliling.
“Seharusnya.”
Ia mengenali tempat tersebut.
Dadanya mendadak terasa sesak.
“Dulu aku pernah berada di sini.”
Fedro menoleh.
“Kamu ingat?”
Clara mengangguk.
“Ini tempat Raka membawaku setelah aku dikejar dua motor.”
“Berarti ini tempat terakhir dia menyelamatkanmu.”
“Iya.”
Fedro mematikan mesin.
“Kita turun.”
Mereka keluar dari mobil.
Clara menggenggam tangan Fedro.
Mereka berjalan perlahan menuju bangunan tua di depan.
Pintu kayunya sudah lapuk.
Fedro mendorongnya.
Kreeek.
Suara pintu bergema.
Di dalam gelap.
Fedro menyalakan senter ponselnya.
Clara berjalan di sampingnya.
Tiba-tiba terdengar suara.
“Clara.”
Clara membeku.
Suara itu sangat dikenalnya.
“Raka?”
Dari balik tiang bangunan muncul seorang pria.
Raka.
Ia mengenakan jaket hitam dan menatap mereka dengan wajah serius.
Fedro langsung berdiri di depan Clara.
“Jangan mendekat.”
Raka mengangkat kedua tangannya.
“Aku tidak datang untuk melawan.”
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin berbicara dengan Clara.”
“Bicara di depanku.”
Raka tersenyum tipis.
“Masih sama seperti dulu. Sangat protektif.”
Fedro tidak menjawab.
Clara melangkah sedikit ke depan.
“Raka, katakan semuanya.”
Raka menatap Clara cukup lama.
“Kamu menemukan kotaknya?”
Clara mengangguk.
“Ya.”
“Dan membaca surat ayahmu?”
“Ya.”
Raka menarik napas.
“Berarti waktunya sudah tiba.”
“Waktu untuk apa?”
“Untuk mengetahui siapa yang sebenarnya mengatur hidupmu.”
Clara merasakan tubuhnya menegang.
“Siapa?”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap Fedro.
“Fedro, ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”
“Aku mendengarkan.”
“Pernikahanmu dengan Clara memang direncanakan.”
Clara menundukkan wajah.
Ia sudah mengetahui hal itu.
Namun mendengarnya dari Raka membuat luka itu terasa kembali.
Fedro mengepalkan tangan.
“Siapa yang merencanakannya?”
Raka menghela napas.
“Bukan ayahmu.”
Fedro terdiam.
“Bukan juga ayah Clara.”
“Lalu siapa?”
Raka menatap mereka.
“Orang yang paling dekat dengan keluarga kalian.”
Clara mengerutkan kening.
“Siapa?”
Raka belum sempat menjawab ketika suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
Plak. Plak. Plak.
Clara dan Fedro langsung menoleh.
Beberapa pria keluar dari kegelapan.
Di belakang mereka muncul seorang wanita yang membuat Clara membeku.
“Tidak mungkin…”
Wanita itu tersenyum.
“Lama tidak bertemu, Clara.”
Clara menatapnya dengan wajah pucat.
“Bibi Elena?”
Elena adalah adik dari ibu Clara.
Sejak kecil, Elena selalu menjadi sosok yang dekat dengan Clara.
Ia bahkan sering mengunjungi rumah Clara setelah kedua orang tuanya meninggal.
Clara tidak pernah memiliki alasan untuk mencurigainya.
Namun malam itu, Elena berdiri di depan mereka dengan tatapan yang sama sekali berbeda.
Fedro langsung menarik Clara ke belakang tubuhnya.
“Jadi kamu?”
Elena tersenyum.
“Ya.”
Clara menggeleng tidak percaya.
“Bibi yang selama ini mengawasi aku?”
Elena tertawa kecil.
“Aku bukan satu-satunya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu menyimpan sesuatu yang sangat berharga.”
“Aku tidak tahu apa-apa!”
Elena berjalan mendekat.
“Justru itu masalahnya.”
Clara menatapnya.
“Apa maksud Bibi?”
“Elena berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Ketika kamu masih kecil, ayahmu menemukan sebuah data yang bisa menghancurkan banyak orang.”
Fedro mengerutkan kening.
“Data tentang jaringan ilegal?”
Elena mengangguk.
“Benar.”
“Dan ayah Clara menyimpannya?”
“Ya.”
“Kenapa mengejar Clara?”
Elena menatap Clara.
“Karena ayahnya menyembunyikan akses terakhir di dalam ingatan Clara.”
Clara terdiam.
“Apa?”
“Ketika kamu kecil, kamu melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat.”
Clara mulai mengingat.
Sebuah ruangan.
Kotak hitam.
Ayahnya.
Seorang pria lain.
Dan sebuah suara.
Elena tersenyum.
“Sekarang kamu mulai ingat.”
Clara memegang kepalanya.
“Tidak…”
Fedro langsung memegang bahunya.
“Clara, tenang.”
Namun Elena terus berbicara.
“Ayahmu tahu kalau dirinya akan dibunuh. Karena itu dia menyembunyikan informasi penting dalam sebuah tempat yang tidak mungkin ditemukan siapa pun.”
“Di mana?”
Elena menunjuk Clara.
“Di kepalanya.”
Clara membeku.
“Tidak mungkin.”
“Dia membuatmu melihat semuanya ketika kamu masih kecil.”
Clara menutup mata.
Potongan ingatan kembali muncul.
Ayahnya berdiri di depan meja.
Di atas meja terdapat kotak hitam.
Seorang pria duduk di seberangnya.
Pria itu mengatakan sesuatu.
“Berikan datanya.”
Ayah Clara menjawab,
“Tidak akan pernah.”
Kemudian suara keras terdengar.
Clara kecil bersembunyi di balik pintu.
Ia melihat semuanya.
Air mata mengalir dari mata Clara.
“Aku ingat…”
Fedro menatapnya.
“Apa yang kamu ingat?”
“Ada seseorang.”
“Siapa?”
Clara membuka mata.
Namun sebelum sempat menjawab, Elena berkata,
“Tidak perlu terburu-buru.”
Fedro menatap Elena tajam.
“Jangan menyentuh istriku.”
Elena tertawa.
“Kamu masih tidak mengerti, Fedro.”
“Apa?”
“Pernikahan kalian bukan sekadar perlindungan.”
Clara menatap Elena.
“Lalu apa?”
Elena tersenyum.
“Keluarga Alexsander memiliki akses untuk melindungimu. Tetapi seseorang membutuhkanmu tetap berada di dalam keluarga itu agar bisa menemukan data tersebut.”
Fedro mengerutkan kening.
“Siapa?”
Elena terdiam.
Kemudian sebuah suara terdengar dari belakang.
“Dia.”
Semua orang menoleh.
Seorang pria tua berjalan keluar dari kegelapan.
Clara membeku.
Fedro juga terlihat terkejut.
“Tidak mungkin.”
Pria itu tersenyum.
“Akhirnya kita bertemu lagi.”
Fedro mengepalkan tangan.
“Paman Victor?”
Victor adalah adik dari ayah Fedro.
Selama bertahun-tahun, pria itu tinggal jauh dari kota dan jarang muncul dalam urusan keluarga.
Namun sekarang ia berdiri di hadapan mereka.
Elena berjalan mendekatinya.
“Semua ini dilakukan untuk menemukan data yang disembunyikan ayah Clara.”
Fedro menatap Victor.
“Jadi selama ini Paman yang merencanakan pernikahan kami?”
Victor tersenyum.
“Bukan aku sendiri.”
Fedro semakin marah.
“Siapa lagi?”
Victor tidak menjawab.
Ia justru menatap Clara.
“Kamu sudah membawa kuncinya?”
Clara memegang kalungnya.
“Kunci ini?”
Victor mengangguk.
“Serahkan.”
Clara menggeleng.
“Tidak.”
Victor tersenyum.
“Kalau kamu tidak memberikannya, banyak orang akan terluka.”
Fedro berdiri di depan Clara.
“Coba sentuh dia.”
Victor tertawa.
“Kamu benar-benar mencintainya.”
“Ya.”
“Sayang sekali.”
Victor memberi isyarat.
Para pria di belakangnya mulai maju.
Fedro menarik Clara.
“Lari!”
Mereka berbalik.
Raka langsung membantu menghadang beberapa pria.
“Bawa Clara keluar!”
Fedro mengangguk.
Clara berlari bersamanya menuju pintu belakang.
Namun suara Elena terdengar.
“Clara!”
Clara berhenti.
“Kalau kamu pergi sekarang, kamu tidak akan pernah tahu siapa yang membunuh ayahmu.”
Clara membeku.
Fedro memegang tangannya.
“Jangan dengarkan.”
Namun Clara menatap Elena.
“Bibi tahu siapa pembunuh ayahku?”
Elena tersenyum.
“Ya.”
Clara melepaskan tangan Fedro.
“Clara!”
“Aku harus tahu.”
Fedro menatapnya.
“Aku akan tetap di sini.”
Ia berdiri di samping Clara.
“Kalau kamu ingin mendengar kebenarannya, kita dengarkan bersama.”
Clara menatap suaminya.
Air matanya jatuh.
“Terima kasih.”
---
Elena menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Pembunuh ayahmu bukan Victor.”
Clara terdiam.
“Bukan?”
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
Elena menatap Victor.
Pria itu menggeleng pelan.
“Elena…”
Namun Elena tetap melanjutkan.
“Orang yang membunuh ayahmu adalah seseorang yang sangat dekat dengannya.”
Clara merasa jantungnya berdebar.
“Siapa?”
Elena menunjuk seseorang.
Bukan Victor.
Bukan dirinya.
Melainkan seorang pria yang baru saja keluar dari belakang pintu.
Clara membelalakkan mata.
Pria itu adalah salah satu orang yang selama ini bekerja untuk keluarga Alexsander.
Dan Clara mengenalnya.
“Pak Daniel?”
Daniel menundukkan wajah.
Clara tidak percaya.
Daniel adalah orang yang selalu menjaga rumah keluarga Alexsander.
Ia bahkan pernah mengantar Clara ketika sedang sakit.
Fedro menatap Daniel dengan marah.
“Jelaskan.”
Daniel tidak menjawab.
Elena berkata,
“Dia yang memberikan informasi kepada musuh.”
Clara menggeleng.
“Tidak…”
Daniel akhirnya mengangkat wajah.
“Maafkan saya, Nyonya.”
Clara merasa lututnya lemas.
“Kenapa?”
“Saya tidak punya pilihan.”
“Semua orang selalu mengatakan itu!”
Air mata Clara jatuh.
“Kenapa tidak ada satu pun orang yang jujur kepadaku?”
Daniel menundukkan wajah.
“Ayahmu meminta saya menjaga keluargamu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena saya dipaksa.”
Fedro melangkah maju.
“Siapa yang memaksamu?”
Daniel menatap Victor.
Victor langsung membentak.
“Diam!”
Fedro menyadari sesuatu.
“Jadi Paman?”
Victor terdiam.
Daniel akhirnya mengangguk.
“Ya.”
Fedro mengepalkan tangan.
“Paman memaksa Daniel?”
Victor tidak menjawab.
Raka tiba-tiba muncul di samping Clara.
“Bukan hanya itu.”
Semua orang menoleh.
Raka memandang Victor.
“Victor adalah orang yang memulai semuanya.”
Clara menatapnya.
“Termasuk mengejar aku?”
“Ya.”
“Termasuk merencanakan pernikahanku?”
“Ya.”
Clara merasa seluruh tubuhnya dingin.
“Kenapa?”
Victor akhirnya tertawa.
“Karena aku membutuhkanmu berada di dekat keluarga Alexsander.”
“Untuk mencari data?”
“Benar.”
“Kalau begitu kenapa tidak menculikku?”
Victor tersenyum.
“Karena ayahmu menyembunyikan akses terakhir di dalam ingatanmu. Aku membutuhkanmu tetap hidup.”
Fedro menarik napas.
“Kau monster.”
Victor tertawa.
“Dan kau baru menyadarinya sekarang?”
Clara menatap Victor dengan air mata mengalir.
“Jadi selama ini…”
“Ya.”
Victor tersenyum.
“Semua yang terjadi bukan kebetulan.”
Clara menatap Fedro.
Namun pria itu justru menggenggam tangannya.
“Aku tidak peduli.”
Clara terkejut.
“Apa?”
Fedro menatapnya.
“Mereka mungkin merencanakan pertemuan kita.”
Ia menggenggam tangan Clara lebih erat.
“Tapi mereka tidak pernah merencanakan perasaan kita.”
Clara menangis.
Fedro mendekapnya.
“Aku tetap memilihmu.”
Clara membalas pelukannya.
“Aku juga.”
Di belakang mereka, Raka tersenyum tipis.
Namun tiba-tiba suara sirene terdengar dari kejauhan.
Victor langsung panik.
“Apa?”
Raka melihat ponselnya.
“Aku yang menghubungi polisi.”
Victor menatapnya penuh amarah.
“Kau!”
Raka tersenyum.
“Permainanmu selesai.”
Para pria Victor mulai mundur.
Namun polisi sudah mengepung bangunan.
Victor mencoba melarikan diri.
Fedro menghadangnya.
“Tidak kali ini.”
Victor menatap Fedro.
“Kamu pikir setelah menangkapku semuanya selesai?”
Fedro tidak menjawab.
Victor tersenyum.
“Masih ada orang lain.”
“Siapa?”
Victor hanya tertawa sebelum dibawa pergi oleh polisi.
Clara menatap Fedro.
“Orang lain?”
Fedro mengangguk.
“Sepertinya ini belum selesai.”
Raka mendekati Clara.
“Ada satu hal lagi.”
Clara menatapnya.
“Apa?”
“Flashdisk itu bukan berisi data.”
Clara terkejut.
“Lalu?”
“Petunjuk.”
“Petunjuk menuju apa?”
Raka menatap kalung Clara.
“Menuju orang yang sebenarnya.”
Clara mengerutkan kening.
“Bukankah Victor dalangnya?”
Raka menggeleng.
“Victor hanya salah satu pemain.”
Fedro langsung menatapnya.
“Lalu siapa dalangnya?”
Raka menghela napas.
“Orang yang berada paling dekat dengan kalian.”
Clara merasa dadanya kembali sesak.
“Siapa?”
Raka menatap Fedro.
Kemudian berkata pelan,
“Orang yang kalian panggil keluarga.”
Clara dan Fedro saling berpandangan.
Rahasia itu ternyata jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Dan untuk pertama kalinya, Clara menyadari bahwa ancaman terbesar mungkin bukan datang dari masa lalunya.
Melainkan dari seseorang yang selama ini berada tepat di dalam kehidupan mereka.
Seseorang yang setiap hari mereka percaya.
Seseorang yang selama ini mereka anggap keluarga.
Bersambung…