NovelToon NovelToon
Menikah Dulu Lalu Jatuh Cinta

Menikah Dulu Lalu Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.

​Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.

​Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Di Meja Makan

​Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar tidur, membiaskan cahaya hangat yang menyinari sudut ruangan. Riana terbangun saat jarum jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Di sampingnya, sisi tempat tidur Reza sudah kosong dan rapi, menandakan bahwa pria itu telah bangun lebih awal seperti biasanya untuk bersiap menuju kampus.

​Hari ini Riana tidak memiliki jadwal kuliah pagi. Sebagai mahasiswa semester dua, perkuliahan hari ini cukup lengang dan ia baru ada jadwal masuk pada siang nanti pukul satu. Memiliki waktu luang beberapa jam di rumah membuat Riana merasa sedikit lebih tenang.

​Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan kaus santai serta celana kulot yang nyaman, Riana melangkah keluar kamar. Ia menyusuri tangga menuju lantai bawah dengan langkah perlahan. Suasana rumah berlantai dua itu tampak begitu sepi dan lengang, khas atmosfer harian yang selalu menyambutnya.

​Riana berjalan menuju area dapur bernuansa modern yang didominasi warna putih dan abu-abu. Meskipun berasal dari keluarga kaya raya dan terbiasa dengan fasilitas mewah, Riana bukanlah sosok yang bergantung pada bantuan orang lain untuk urusan sepele. Ia sangat pandai memasak dan terbiasa menyiapkan kebutuhannya sendiri sejak dulu.

​Dengan lihai, Riana mulai membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa bahan makanan: roti tawar, telur, keju, dan mentega. Ia ingin membuat sandwich panggang sederhana untuk sarapan paginya. Di saat yang sama, ia juga menyalakan coffee maker untuk menyeduh secangkir kopi hitam kesukaannya. Suara desir mentega yang meleleh di atas wajan dan aroma wangi kopi yang merebak mulai menghidupkan suasana dapur yang semula kaku.

​Saat Riana sedang membalikkan roti di atas wajan, suara langkah kaki teratur terdengar mendekati area dapur. Reza turun dengan pakaian rapi khas mahasiswa semester empat—kemeja kasual yang tergulung hingga siku, celana chino, dan tas ransel yang dicangklong di salah satu bahunya. Pria itu tampak sudah siap untuk berangkat ke kampus mengikuti jadwal kuliah paginya.

​Reza sempat menghentikan langkahnya sebentar di ambang dapur. Pandangannya tertuju pada Riana yang sibuk mengaduk kopi dengan apron tipis terikat di pinggangnya. Pemandangan itu terasa sangat kontras dengan pembicaraan dingin mereka kemarin. Aroma sandwich gurih yang menyeruak di udara mendadak memancing selera makannya yang belum sempat terisi sarapan.

​Riana mematikan kompor, merapikan roti yang sudah matang ke atas piring saji, lalu berbalik. Matanya beradu dengan pandangan Reza yang berdiri di dekat kitchen island.

​Untuk beberapa saat, tidak ada suara di antara mereka berdua selain dentang detik jam di dinding. Riana tidak berniat menawarkan atau menyapa duluan, mengingat peringatan keras Reza kemarin untuk tidak bertingkah sok akrab. Ia mengambil piring dan cangkir kopinya, lalu bermaksud melangkah menuju meja makan kecil di sudut ruangan.

​Namun, saat Riana melangkah melewati Reza, pria itu berdeham pelan.

​"Kamu bikin sarapan cuma buat kamu sendiri?" tanya Reza dengan nada suara yang sengaja dibuat biasa, meski tersirat sedikit kebingungan di dalamnya.

​Riana menghentikan langkahnya, menoleh sedikit tanpa ekspresi berlebihan. "Kamu gak pernah minta dibuatkan sarapan, dan kamu bilang di rumah ini kita punya kehidupan masing-masing."

​Jawaban datar itu telak mengenai sasaran. Reza menatap Riana selama beberapa detik, tidak bisa membantah patah kata pun karena kalimat itu memang berasal dari lisannya sendiri. Dengan gengsi yang tetap menjulang tinggi, Reza hanya mendengus tipis, meraih kunci mobilnya di meja depan, lalu berjalan pergi meninggalkan dapur tanpa mengutarakan sepatah kata pun lagi.

1
Waaaaaa_
hehe gpp,selamat membacaa😍
bsjelfjbrndsabdvr
tapi suka ceritanya😍😍😍
bsjelfjbrndsabdvr
wahhh saking serius baca sampai lupa like dari awal Bab. Maafken ya Thor😂😂😍😍❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!