NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:82.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Fandi Prasetyo

"Ganggu?" Sheila tertawa mengejek. "Siapa yang ganggu kamu, Sil? Kita kan cuma nanya. Oh ya, gelang emas dan jam tangan yang kamu pamerin bulan lalu itu ... jangan-jangan dibeli pakai uang hasil korupsi abangmu juga ya? Wah, pantesan aja kemaren pas di restoran Italia kamu panik banget pas kartunya diblokir!"

"Bukan!" jerit Sisil, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. "Bukan uang korupsi! Abangku itu ... Abangku cuma dijebak!"

"Dijebak?" Karin terkekeh geli. "Sisil, Sisil ... Seluruh Indonesia juga udah tahu cerita aslinya dari siaran langsung Vantara Tower! Abangmu itu pria matre yang gak tahu diri! Udah dapet istri cantik, kaya, anak tunggal pemilik Vantara Group, malah disia-siakan demi cewek gatal di kantornya! Dan kamu–"

Karin menunjuk muka Sisil dengan telunjuknya yang dipoles kuteks merah. "...kamu sama ibumu tuh cuma keluarga parasit yang gak tahu malu! Sok gaya sosialita, padahal cuma numpang makan dari uang Mbak Annisa!"

"Cukup, Karin! Cukup!" jerit Sisil histeris seraya menutup kedua telinganya dengan tangan.

Beberapa mahasiswa di koridor lantai tiga berhenti melangkah, menonton pertengkaran itu seraya berbisik-bisik dan merekam momen tersebut menggunakan ponsel mereka.

"Kenapa? Malu?" cibir Sheila tanpa ampun. "Makanya jadi orang tuh jangan sombong! Kemarin gaya kamu udah kayak yang punya kampus ini. Sekarang abangmu di penjara, rumahmu disita, kamu mau bayar uang semesteran besok pakai apa, Sil? Pakai air mata?!"

Sorak tawa renyah kembali membahana di sepanjang koridor.

Sisil tak sanggup lagi menahan rasa hinaan yang begitu pekat. Ia mendorong bahu Karin dengan sekuat tenaganya, lalu berlari kencang menunju tangga darurat sambil menangis meraung-raung.

Ia berlari melewati halaman kampus, mengabaikan tatapan mata puluhan mahasiswa yang menunjuk-nunjuk dirinya. Setiap bisikan, setiap tawa, dan setiap kerlingan mata orang-orang di sekitarnya terasa bagaikan cambuk yang menguliti seluruh harga diri yang selama ini ia banggakan.

Sisil tiba di luar gerbang kampus dengan napas memburu dan dada yang terasa mau meledak. Ia terduduk lemas di atas trotoar jalanan yang berdebu di bawah terik matahari siang.

Di tengah bisingnya deru mesin kendaraan ibu kota, Sisil merogoh ponselnya dari tas kain, menatap layar kaca ponselnya yang retak.

Ia teringat betapa baiknya Annisa dulu. Tiga tahun Annisa menjadi kakak iparnya, Annisa tak pernah sekalipun marah saat Sisil meminta uang jajan tambahan. Annisa selalu membelikannya pakaian baru, memasakkan makanan kesukaannya, dan menyambutnya dengan senyuman lembut tiap kali Sisil pulang kampus.

Namun, semua kebaikan tulus itu terbayar dengan hinaan, bentakan, dan pengkhianatan. Sisil dan ibunya selalu menganggap Annisa wanita bodoh yang bisa diinjak-injak, tanpa pernah menyadari bahwa Annisa-lah yang selama ini menjadi payung pelindung bagi hidup mereka.

Kini, payung itu telah hilang. Yang tersisa hanyalah badai kehancuran, rasa malu yang tak bertepi, dan kenyataan pahit bahwa Sisil harus menjalani sisa hidupnya sebagai keluarga dari seorang narapidana korupsi yang dibuang oleh masyarakat.

Sisil memeluk kedua lututnya di atas trotoar, menangis sesenggukan meratapi takdirnya yang hancur berkeping-keping akibat kesombongannya sendiri.

***

Ujung pena berujung emas meluncur mulus di atas kertas putih tebal berkualitas tinggi. Annisa Septiani menggoreskan tanda tangannya di lembar terakhir berkas persetujuan anggaran taktis Vantara Land Sub-Holding. Gerakan tangannya mantap, tanpa ragu sedikit pun.

Di balik meja kerja mahoninya yang megah, Annisa menyandarkan punggungnya pada kursi kulit hitam bergaya ergonomis. Ruangan Komisaris Utama yang berada di lantai lima puluh Vantara Tower itu sangat hening. Dinding kaca tebal mengisolasi kebisingan lalu lintas Sudirman di bawah sana, menyisakan pemandangan hamparan pencakar langit Jakarta yang megah di bawah naungan awan siang.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu yang teratur memecah keheningan.

"Masuk," panggil Annisa dengan suara lembut namun berwibawa.

Pintu kayu jati berukir itu terbuka. Fandi Prasetyo melangkah masuk dengan gaya berjalan yang sangat tenang dan percaya diri. Pimpinan Prasetyo Group itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang buatan penjahit Italia. Kemeja putihnya yang kaku dan dasi bernuansa perak makin mempertegas auranya sebagai pimpinan puncak konglomerasi nasional.

Di tangannya, Fandi membawa sebuah dokumen tebal bersampul kulit hitam.

"Selamat siang, Annisa," sapa Fandi dengan suaranya yang berat nan mantap.

"Selamat siang, Mas Fandi. Silakan duduk," jawab Annisa seraya tersenyum tipis. Ia mengisyaratkan area sofa kulit berwarna krem di sudut ruangan yang menghadap langsung ke jendela besar.

Fandi melangkah mendekat dan duduk dengan anggun di salah satu sofa tunggal. Seorang sekretaris masuk membawakan nampan berisi dua cangkir kopi black espresso yang aromanya memenuhi ruangan.

"Bagaimana perkembangan di lapangan untuk megaproyek kawasan terpadu Jakarta Selatan, Mas Fandi?" tanya Annisa langsung pada inti permasalahan bisnis mereka, merapikan dokumen di mejanya sebelum bergabung di sofa seberang Fandi.

Fandi menyerahkan dokumen bersampul kulit itu ke atas meja kaca di antara mereka.

"Tim penilai independen dari Prasetyo Group sudah menyelesaikan evaluasi ulang pasca-pembersihan manajemen di divisi pemasaran," terang Fandi dengan nada tenang namun sarat ketegasan. "Suntikan dana investasi dua ratus miliar yang saya salurkan secara bertahap sudah mulai dialokasikan untuk pembebasan lahan tahap dua. Respon pasar sangat positif begitu media menyiarkan bahwa kamu sendiri yang memegang kendali penuh sebagai Komisaris Utama."

Annisa membuka dokumen tersebut, menyusuri deretan grafik dan angka portofolio keuangan dengan mata tajamnya. Sebagai lulusan S1 Manajemen Universitas Indonesia, naluri bisnis Annisa sangat teruji. Ia bisa membaca dengan cepat bahwa skema pembiayaan yang disusun oleh Fandi dan timnya sangat solid dan efisien.

"Skema ini sangat rapi, Mas Fandi," puji Annisa tulus. Ia mendongak, menatap Fandi lurus-lurus. "Pengawasan dari Prasetyo Group bener-bener membantu menutup celah-celah manipulasi yang dulu ditinggalkan oleh manajemen lama."

Fandi menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman khas pria matang yang sarat rasa hormat. "Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai investor utama, Annisa. Tapi yang paling krusial di sini adalah keberanianmu mengambil keputusan. Tidak banyak orang yang sanggup memotong bagian yang membusuk di dalam perusahaan mereka sendiri tanpa ragu."

Annisa tersenyum tipis, menggeleng pelan. Bagi Annisa, pujian Fandi adalah sebuah pengakuan profesional yang sangat berharga.

Di dalam hatinya, Annisa harus mengakui betapa ia mengagumi sosok Fandi Prasetyo. Pria di hadapannya ini adalah cerminan sejati seorang pemimpin bisnis berkelas tinggi. Fandi sangat berwawasan luas, bicara selalu tepat pada sasaran, tenang di bawah tekanan, dan memiliki cara pandang strategis yang luas. Cara Fandi memimpin dan memperlakukannya sebagai mitra yang setara sangat bertolak belakang dengan Rian—pria picik yang dulu selalu merasa terancam jika Annisa menunjukkan kepintarannya.

Namun, kekaguman Annisa pada Fandi murni sebatas rasa hormat profesional antara dua pimpinan bisnis.

Sama sekali tidak ada riak perasaan asmara atau getaran romantisme di dalam dada Annisa. Pengalaman pahit selama tiga tahun dalam pernikahan palsu bersama Rian telah memadamkan seluruh keinginan Annisa tentang apa yang dinamakan "cinta". Bagi Annisa saat ini, cinta adalah ilusi mahal yang membodohkan dan rentan dimanfaatkan oleh pria bersikap manis namun berhati rakus.

Hati Annisa kini hanya terisi oleh satu tekad yang bulat: berbakti sepenuhnya kepada sang ayah.

bersambung...

1
Arieee
bagus👍👍👍👍🙏👍👍👍
Kar Genjreng
kenapa di bunuh mommy anak Anissa,,, kasian kan ga punya salah dan dosa harusnya hidup justru penghianat yang tidak mau move ON lah yang mati terkapar
vania larasati
lanjut
Esther
tegang bacanya
semoga kandunganmu baik2 saja Anisa
Nar Sih
semoga anisa selamat dgn calon bayi nya ,dan sgra tertangkap pelaku nya
Nisa Via
skakmat 😂😂😂
Nisa Via
weeeehhh dah miskin duit miskin kesadaran diri pulak tuh laki"🙃🙃
Kar Genjreng
harusnya si waspada ya kalau sudah perasaan nya enak terus terang sama si pengawal ke naapa harus sungkan ya namanya juga mau celaka kan ga ada permisi,,
Halimah
Anisa ini pdhl udah punya feeling ga enak...Harusnya ditunda dl
vania larasati
lanjut
Mutaharotin Rotin
aduuuh Anisa sembrono 🫣🫣
Mutaharotin Rotin
kok cuma 1 bab Mak ghin 🥰🙏
Nar Sih
cerita mommy slalu bagus👍🥰
Nar Sih
semoga fandi bisa sgra menyelamat ksn mu anisa
Oma Gavin
feeling mu sudah bener kenapa tetap nekat jalan tanpa prasangka buruk
iqha_24
deg2an, mommy lanjuut
I Pehh
lanjut mom, sllu d tunggu upnya💪
Halimah
Udah ga waras nih Rissa
Cicih Sophiana
Rissa dari pada uangdi buang sia sia kan lebih baik untuk bersenang senang... misal nya belanja, ke salon atau jalan jalan ke luar negri kan asik... ini kok malah di buang sia sia ngasih makan orang jahat...
Teh Euis Tea
si rissa bodoh bgt punya uang bukannya hidup tenang pergi jauh dan memperbaiki diri ini malah di pake buat bayar orang untuk nyelakain anissa, mudah2an anissa dan calon bayinya selamat ya dan si rissa membusuk di penjara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!