Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
celaka di tengah malam
Deon segera menyela sebelum sahabatnya itu keceplosan mengatakan sesuatu.
“Sudah, mobilnya sudah aku kembalikan. Sekarang aku mau mengambil motor di rumah orang tua Nara.”
Dimas mengangguk. “Kalau begitu, kamu mau pakai motor untuk pulang?”
“Iya. Motorku masih di sana.”
“Oke. Hati-hati di jalan.”
Setelah berpamitan dengan Dimas, Deon dan Nara masuk ke rumah untuk menemui Oma Shu Fen. Mereka tidak langsung pulang karena Oma menyambut kedatangan mereka dengan gembira dan meminta keduanya menginap.
Nara sebenarnya ingin menolak karena kelelahan setelah bekerja, tetapi ia tidak tega mengatakannya. Deon yang menyadari perubahan ekspresi istrinya segera merangkul bahu Oma.
“Lain kali saja, Oma. Besok kami harus bekerja, dan Nara perlu istirahat.”
Oma akhirnya mengerti dan mengizinkan mereka pulang.
"iya sudah tidak apa-apa Deon, lain kali menginap ya."
Deon mengangguk, Nara tersenyum meski hatinya merasa tak enak.
Setelah berpamitan, Deon dan Nara melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Nara untuk mengambil motor milik Deon. Dari sana, mereka akan pulang ke rumah mereka sendiri menggunakan motor tersebut.
Di rumah orang tua Nara, mereka hanya mampir sejenak, duduk sebentar lalu melanjutkan untuk pulang setelah setengah jam berada di sana.
....
Di perjalanan,
Malam semakin larut ketika Deon mengendarai motor Ninja 250R miliknya menyusuri jalanan menuju rumah mereka. Nara duduk di belakang, kedua tangannya memegang sisi jaket Deon agar tubuhnya tetap seimbang.
Angin malam menerpa wajahnya. Rasa lelah setelah bekerja seharian mulai terasa, tetapi entah mengapa, berada di dekat Deon membuat hatinya nyaman.
Sesekali Nara menyandarkan tubuhnya sedikit ke punggung suaminya. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menikmati perjalanan singkat itu.
Pikirannya sempat kembali pada pesan Arka yang diterimanya siang tadi.
Laki-laki itu masih berani menghubunginya, mengatakan bahwa ia belum menyerah dan ingin mendapatkannya kembali. Bahkan, Arka kembali menyinggung alasan kepergiannya pada hari pernikahan mereka.
Nara mengatupkan bibir.
Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi sebagian dirinya juga merasa muak. Arka telah meninggalkannya dalam kehancuran, lalu sekarang datang kembali seolah masih berhak menentukan kehidupan Nara.
Perempuan itu melirik punggung Deon.
Laki-laki ini memang bukan seseorang yang pernah ia bayangkan akan menjadi suaminya. Namun, selama beberapa hari terakhir, Deon telah memberikan perhatian yang tidak pernah ia duga.
Perhatian sederhana itu perlahan menutup luka di hatinya.
Nara menghela napas pelan. Ia belum tahu apakah perasaan itu akan tumbuh menjadi cinta, tetapi untuk saat ini, ia merasa nyaman berada di dekat Deon.
Sayangnya, ia masih memilih menyimpan masalah Arka sendirian.
Sementara itu, Deon mengendarai motor dengan pikiran yang tidak sepenuhnya tertuju pada jalan.
Bayangan wajah mamahnya kembali muncul di benaknya. Ia masih kesal mengingat ancaman yang dilontarkan perempuan itu hanya karena dirinya menolak perjodohan.
Apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku? Aku sudah menikah. Kenapa mereka masih berusaha mengatur hidupku?
Deon mengembuskan napas kasar.
Ia tahu orang tuanya tidak akan berhenti begitu saja. Terlebih, kehadiran Alexa tadi sore menunjukkan bahwa mereka masih berharap ia mengubah keputusan dan meninggalkan Nara. Namun, Deon tidak ingin memikirkan semua itu malam ini.
Ia hanya ingin pulang, beristirahat, dan menjalani kehidupan sederhana bersama istrinya.
Sayangnya, lamunannya membuat konsentrasinya sedikit berkurang.
Di belakang mereka, sebuah sepeda motor melaju cukup cepat. Pengendaranya tampak terburu-buru, beberapa kali berpindah jalur untuk mendahului kendaraan lain.
Ketika jalan mulai menyempit karena kendaraan dari arah berlawanan mulai padat, pengendara itu mencoba menyalip motor Deon dari sisi kanan dengan buru-buru.
Semuanya terjadi begitu cepat.
SRET!
Bagian samping motor pengendara tersebut menyerempet motor Deon.
“Argh!”
Nara menjerit ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Deon spontan berusaha mengendalikan setang, tetapi roda depan motornya bergeser. Dalam hitungan detik, motor itu oleng ke arah kiri dan keduanya terjatuh ke badan jalan.
Brak!
Motor Ninja itu tergelincir beberapa meter sebelum berhenti di dekat tepi jalan.
“Deon!”
Nara terjatuh di sisi jalan. Sikunya tergores aspal, menimbulkan rasa perih yang membuatnya meringis. Namun, ia segera melupakan lukanya ketika melihat Deon tergeletak tidak jauh darinya.
Laki-laki itu terbentur batu di tepi jalan. Darah mulai mengalir dari dahinya.
Nara terdiam selama sepersekian detik, seolah otaknya menolak memahami apa yang baru saja terjadi.
“Deon!”
Ia bergegas menghampiri suaminya dengan lutut gemetar.
Di sisi lain, pengendara yang menyerempet mereka segera mendekat setelah motor miliknya pun oleng. Bukannya segera menolong, laki-laki itu justru berdiri dengan wajah kesal.
“Kenapa kalian terlalu menengah sih?” bentaknya.
Deon yang masih sadar mendengar ucapan tersebut. Dengan menahan rasa sakit, ia berusaha bangkit sambil memegangi dahinya yang terluka.
“Apa maksudmu? Kamu yang menyerempet motor kami!”
“Jangan asal menuduh! Kamu sendiri yang terlalu menengah!”
Deon menatapnya tajam. Amarahnya memuncak, terlebih ketika melihat Nara terluka akibat ulah pengendara tersebut.
“Kamu sudah membuat kami jatuh, masih berani menyalahkan kami? Jelas-jelas anda yang terburu-buru!”
“buru-buru bagaimana? Makanya Kalau berkendara yang benar, dong!”
Deon berusaha berdiri lebih tegak meskipun pandangannya mulai berkunang-kunang.
“gak usah anda berdalih, jelas-jelas anda yang salah! Turun ke jalan bukan berarti anda boleh seenaknya, ngerti!”
“Deon, sudah!” Nara segera memegang lengan suaminya. “Jangan bertengkar. Kamu terluka!”
Tetapi, Deon masih menatap pengendara itu dengan rahang mengeras.
“Kalau Anda punya tanggung jawab, seharusnya anda meminta maaf dan menolong kami! Bukan seenaknya menyalahkan orang!”
“Deon, kumohon!” Suara Nara mulai bergetar. “Dahimu berdarah. Kita harus ke rumah sakit."
Nara berusaha menahan suaminya agar tidak terus terpancing emosi. Ia sendiri ketakutan melihat darah yang semakin banyak membasahi wajah Deon.
Pengendara itu akhirnya terdiam. Melihat darah di dahi Deon dan Nara yang ketakutan, ia mulai merasa bersalah.
“Maaf, Mas. Saya akui salah. Tadi saya terlalu terburu-buru,” ucapnya lirih.
Beberapa warga yang menyaksikan kejadian itu segera membantu mengangkat motor Deon ke tepi jalan. Nara akhirnya menuntun Deon berjalan duduk di bangku depan apotek yang kebetulan tidak jauh dari lokasi, sementara pengendara tadi justru buru-buru pergi tanpa tanggung jawab.
Seorang dokter di klinik dekat apotek segera memeriksa luka Deon dan membersihkan darah di dahinya. Nara pun mendapatkan pengobatan untuk siku yang lecet.
“Aku tidak perlu ke rumah sakit. Lukanya sudah ditangani,” kata Deon ketika Nara masih terlihat cemas.
Nara mengangguk. "ya sudah, tidak apa-apa."
"tapi kenapa orang itu pergi begitu saja, Ra?"
"sudahlah biarkan saja."
Deon menatap Nara, sementara hatinya kesal bercampur emosi, sebab penabrak itu pergi.