Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: RUTINITAS BARU DAN GARIS PENGHALANG
Proses kepindahan barang-barang Clara ke kamar utama Arsen berlangsung cepat di bawah tatapan heran sekaligus cemas dari para pelayan rumah. Bi Inah hanya bisa mengelus dada, mendoakan keselamatan gadis penderita anemia itu yang kini harus berbagi ruang dengan Tuan Muda mereka yang penuh misteri.
Sebuah lemari kayu kecil disisihkan khusus untuk pakaian Clara di sudut ruangan. Meski harus tidur di atas ranjang king-size yang sama, awalnya Arsen menaruh guling tebal di tengah-tengah ranjang sebagai pemisah.
Hari-hari berikutnya menjelma menjadi rutinitas baru yang intens bagi Clara sebagai asisten pribadi.
Pukul 05.30 pagi, Clara menjadi orang pertama yang bangun. Dengan teliti, ia menyiapkan kemeja dan jas sekolah Arsen, memastikan tidak ada satu lipatan pun yang terlewat. Ia lalu menyeduh teh chamomile hangat dengan suhu yang tepat dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
"Arsen, bangun... Sudah jam enam," bisik Clara pelan seraya menepuk lengan Arsen dari jarak aman.
Arsen mengerjap, membuka mata pekatnya. Kehadiran Clara yang menyambut pagi hari membuat siksaan insomnia dan mimpi buruknya menguap total. Selama seminggu terakhir, tidur Arsen terasa sangat nyenyak tanpa perlu mengonsumsi satu pil penenang pun.
Malam harinya, setelah makan malam, tugas Clara berlanjut. Saat Arsen fokus mempelajari dokumen bisnis keluarga atau materi sekolah di meja belajarnya yang luas, Clara bertugas duduk di sampingnya—menyiapkan catatan, menyusun pulpen, atau menyeduhkan kopi hitam tanpa gula saat Arsen harus terjaga hingga larut.
Kedekatan fisik yang intens setiap hari ini perlahan menumbuhkan sesuatu yang amat asing di dada Arsen.
Suatu malam, sekitar pukul sebelas, Clara tertidur lelap di kursi belajar karena kelelahan, kepalanya terkulai ke samping. Buku catatan masih tergenggam melonggar di jarinya.
Arsen menghentikan ketukan jarinya pada keyboard laptop. Ia menatap wajah lelap Clara di bawah lampu belajar yang temaram. Tanpa polesan, wajah Clara tampak begitu pasrah, bibirnya yang agak tipis sedikit terbuka, dan helaian rambut halusnya jatuh menutupi pipi.
Arsen meletakkan penanya. Secara perlahan, jemarinya terangkat ke udara. Ada dorongan emosional yang teramat kuat di dadanya—rasa memiliki yang makin dalam, rasa ingin merengkuh, membendung rasa sepi, dan mencium bibir gadis itu secara romantis untuk mengklaimnya sepenuhnya.
Jemari Arsen bergerak mendekat, tinggal satu sentimeter dari pipi mulus Clara.
DEG!
Seketika, gejolak dahsyat kembali menghantam dada dan pikiran Arsen. Rasa penolakan batin yang sangat tebal—seperti garisan batas ghaib yang tak tertembus—merebak hebat di seluruh nadinya. Hati Arsen terenyak, diiringi gejolak ketidaknyamanan berlebih seolah otaknya meneriakkan peringatan bahaya yang teramat haram jika ia melampaui batas itu.
Niat romantik Arsen mendadak runtuh dan pupus seketika. Napasnya tertahan, jarinya ditarik kembali secara refleks hingga mengepal keras di samping tubuhnya.
Kenapa lagi-lagi begini?! batin Arsen frustrasi berat. Otaknya dipenuhi gejolak marah pada dirinya sendiri. Aku menguasai tubuhnya, aku menyukai keberadaannya... tapi kenapa hatiku sendiri menolak untuk melangkah lebih jauh?!
Dengan amarah dan frustrasi yang membakar dada, Arsen membungkuk dan mengangkat tubuh ringan Clara dari kursi, membawanya ke atas ranjang.
Mata Arsen tertuju pada guling tebal yang membatasi tempat tidur mereka selama ini. Benda bisu itu seolah mengejek ketidakmampuannya menembus benteng batinnya sendiri.
Brak!
Tanpa ragu, Arsen menyambar guling pemisah itu dan melemparnya kasar hingga terhempas jauh ke lantai.
"Mulai malam ini, tidak ada lagi pembatas konyol ini," geram Arsen lirih, napasnya memburu.
Arsen merangkak naik ke atas ranjang. Ia menarik tubuh lemas Clara yang tertidur lelap ke dalam dekapannya, melingkarkan lengan tegapnya mengunci pinggang ramping gadis itu dari belakang (spooning). Wajah Arsen terbenam di ceruk leher Clara, menghirup aroma wangi alami tubuh gadis itu.
Anehnya, meski garis penghalang romantik itu tetap membatasi niat lamarannya, dekapan fisik tanpa pembatas ini memberikan kedamaian dahsyat yang membuat dada Arsen bergetar tenang.
Clara sedikit menggeliat dalam tidurnya, merasa agak sesak oleh cengkeraman lengan Arsen yang posesif, namun tubuh hangat Arsen secara tidak sadar membuat Clara yang penderita anemia dan tak tahan dingin justru merasa nyaman.
Dalam dekapan erat itu, Arsen memejamkan mata, membiarkan obsesi dan rasa protektifnya mengunci Clara rapat-rapat dalam sangkar emasnya.