Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Brak.
Sebuah vas porselen antik hancur berkeping-keping menghantam dinding ruang tamu keluarga Zhao.
Zhao Zhiming berdiri dengan dada naik turun menahan amarah yang meledak-ledak.
Di atas sofa mewah di depannya, Zhao Tianyu sedang duduk meringis kesakitan sambil mengompres pipinya yang bengkak.
Dua gigi depan pemuda itu sudah tanggal, membuatnya berbicara dengan suara sengau yang sangat menyedihkan.
"Ayah, kau harus membunuh gembel itu malam ini juga!" rengek Zhao Tianyu sambil menangis seperti anak kecil.
"Dia tidak hanya memukulku di depan umum, tapi dia juga merampok uang empat puluh ribu Yuanku!"
Fakta sebenarnya tentu saja sudah diputarbalikkan seratus delapan puluh derajat oleh pemuda licik tersebut.
Dia tidak berani mengakui bahwa dia dipukul karena melecehkan seorang gadis menggunakan uang.
Zhao Zhiming mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Berani sekali seekor anjing jalanan menggigit pewaris utama keluarga Zhao di wilayah kekuasaanku sendiri," desis Zhao Zhiming dengan suara berat.
"Dia bahkan mengancam akan menghancurkan keluarga kita kalau aku berani melapor padamu, Ayah!" tambah Zhao Tianyu semakin memanas-manasi.
"Gembel itu bilang keluarga Zhao hanyalah kumpulan sampah yang bisa dia injak kapan saja."
Mendengar kebohongan yang sengaja dibuat-buat itu, amarah Zhao Zhiming benar-benar sudah mencapai puncaknya.
Sebagai seorang pengusaha kaya yang memiliki banyak koneksi di dunia bawah tanah, harga dirinya adalah segalanya.
Dia merogoh ponsel pintarnya dari saku jas dan langsung menelepon sebuah nomor rahasia.
Tut tut.
"Halo Bos Naga, kirimkan belasan anak buahmu yang paling buas ke Apartemen Mutiara Jinghai sekarang juga," perintah Zhao Zhiming tanpa basa-basi.
"Ada seekor tikus got bernama Jiang Chen yang harus kalian patahkan kedua kakinya dan hancurkan semua giginya."
"Bawa dia ke gudang kosong di pelabuhan, aku sendiri yang akan mengulitinya hidup-hidup malam ini."
Zhao Zhiming mematikan panggilan itu dan menatap putranya dengan senyum mengerikan.
"Tenanglah anakku, ayah jamin besok pagi pemuda itu akan mengemis memohon kematian di bawah kakimu," janji pria paruh baya tersebut.
"Terima kasih Ayah, aku ingin melihat wajah sombongnya itu hancur berantakan," balas Zhao Tianyu dengan tawa yang tertahan karena sakit.
Sementara itu, di kamar apartemen delapan nol empat yang sunyi.
Krucuk krucuk.
Suara perut Jiang Chen kembali berbunyi memecah keheningan malam untuk kesekian kalinya.
Pemuda itu membuka matanya dari meditasi dengan raut wajah yang sangat frustrasi.
'Mengalirkan Qi murni untuk menyembuhkan kram perut gadis barbar itu ternyata benar-benar menguras tenagaku,' batin Jiang Chen mengeluh.
Tenaga dalamnya yang baru saja pulih kini kembali merosot drastis.
Tubuhnya terasa sangat lapar dan menuntut asupan kalori dalam jumlah besar sesegera mungkin.
Jiang Chen melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
Dia mendesah pelan dan memutuskan untuk keluar mencari camilan malam atau roti daging di minimarket seberang jalan.
"Lebih baik aku makan sekarang daripada mati kelaparan sebelum gajiku cair besok," gumam Jiang Chen pelan.
Jiang Chen menyambar dompetnya dan berjalan keluar dari apartemen dengan langkah gontai.
Udara malam di luar gedung apartemen terasa sangat dingin dan menusuk tulang.
Jalanan raya Jinghai yang biasanya ramai kini sudah benar-benar sepi tanpa ada satu pun kendaraan yang lewat.
Jiang Chen berjalan santai menyusuri trotoar yang remang-remang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat telinganya yang sangat tajam menangkap suara aneh.
Tap tap tap.
Bukan hanya satu atau dua orang, melainkan ada lebih dari sepuluh pasang langkah kaki yang sedang mendekatinya dari berbagai arah.
Jiang Chen mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah ujung jalan raya.
Tiga buah mobil van berwarna hitam tanpa plat nomor tiba-tiba muncul dan berhenti menghadang jalurnya.
Srek srek.
Pintu-pintu mobil itu bergeser terbuka secara bersamaan dengan suara yang cukup kasar.
Belasan pria bertubuh kekar dengan wajah garang melompat keluar dari dalam mobil van tersebut.
Mereka tidak mengenakan seragam rapi seperti pengawal keluarga Lin.
Pakaian mereka berantakan, beberapa di antaranya memamerkan tato mengerikan di lengan dan leher mereka.
Di tangan mereka terdapat berbagai macam senjata tumpul seperti tongkat bisbol kayu dan pipa besi berkarat.
Mereka berjalan menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran untuk mengepung Jiang Chen agar tidak bisa melarikan diri.
Seorang pria botak dengan bekas luka sayatan memanjang di wajahnya melangkah maju ke depan barisan.
Bugh bugh.
Pria botak itu memukul-mukulkan pipa besinya ke telapak tangan kirinya dengan nada mengancam.
"Hei bocah, apa benar namamu Jiang Chen?" tanya pria botak itu dengan suara serak yang sangat berat.