Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Arya! Kamu dengar aku nggak?!" jerit Gea seraya menggebrak permukaan meja kerja kayu jati milik Arya. "Wanita kampung itu... Si Gendis! Dia itu Bu Nissa yang selama ini batalin proyek talkshow aku!"
Arya tidak terlonjak. Ia hanya menghentikan ketukan jarinya di atas berkas, lalu perlahan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi eksekutif. Tatapannya lurus, dingin, dan sangat tenang menatap calon istrinya yang tampak seperti orang kesetanan.
"Aku tahu," sahut Arya datar.
Gea membeku. Tangannya yang masih bertumpu di meja mendadak gemetar.
"K-kamu... kamu tahu?"
"Ya. Aku tahu," ulang Arya pelan, tanpa nada bersalah sedikit pun. "Gendis memang Produser Eksekutif BRTV. Nissa itu nama profesionalnya di industri ini."
Dunia Gea rasanya makin runtuh. Ia melangkah mundur satu pijakan, menatap Arya dengan tatapan tak percaya yang bercampur rasa takut yang amat sangat.
"Kamu tahu dari awal dan kamu diam aja?!" suara Gea melengking, histeris. "Arya, kamu gila ya?! Kamu biarin istri siri kamu sendiri duduk di kursi pimpinan dan nindas calon istri sah kamu?! Dia sengaja batalin kontrak aku! Dia sengaja mau hancurin karier aku di industri hiburan!"
"Cukup, Gea!" potong Arya dengan suara berat namun menekan. "Gendis tidak pernah membual soal posisinya. Kamu sendiri yang selama ini merendahkan dia tanpa tahu siapa dia sebenarnya."
"Tapi dia matiin rezeki aku, Arya!" Gea memegang kepalanya yang mulai terasa pening. Kepanikan hebat mulai menggerogoti dadanya. "Kalau media tahu... kalau orang-orang tahu produser yang mecat aku itu istri siri Arya Bratadikara, mau ditaruh di mana mukaku?! Karir aku yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam semalam!"
Gea melangkah maju lagi, memegang lengan jas Arya dengan raut memelas yang dibuat-buat. Matanya menatap Arya penuh desakan.
"Arya, tolong aku... Kamu kan CEO-nya! Kamu pemilik saham terbesar di sini!" desak Gea dengan napas memburu. "Pecat dia! Batalkan wewenang Gendis sekarang juga! Paksa dia buat balikkin program talkshow aku dan bersihin nama aku di depan staf!"
Arya menepis tangan Gea secara halus namun tegas dari lengannya. Ia berdiri dari kursinya, membelakangi Gea seraya menatap ke luar jendela kaca besar.
"Aku tidak bisa melakukan itu," jawab Arya dingin.
"Kenapa?! Kamu suami sahnya! Kamu bos di gedung ini!"
Arya berbalik, menatap Gea dengan mata yang menajam. "Karena di BRTV, sistem kerja berjalan profesional. Gendis diangkat oleh dewan komisaris berdasarkan rekam jejak dan prestasinya memegang program-program rating teratas. Secara struktur perusahaan, aku memang CEO... tapi untuk urusan kelayakan konten dan kontrak artis, wewenang mutlak ada di tangan divisi produksi."
"Nggak mungkin! Kamu cuma cari-cari alasan buat bela dia, kan?!"
"Lihat fakta, Gea!" gertak Arya, suaranya menekan rendah. "Rating acara kamu merosot tajam sebelum Gendis bahkan kembali dari cutinya. Skandal kamu kemarin bikin sponsor mundur satu per satu! Kalau aku melawan keputusan Produser Eksekutif cuma demi menyelamatkan kamu, reputasi BRTV di mata investor yang bakal hancur! Yang ada disana bukan cuma kamu, Banyak karyawan yang sedang bergantung hidup nya disana."
"Masa bodoh! Aku gak peduli orang lain, aku yang penting sekarang ini, Arya! Kamu tuh sayang aku gak sih. Masa ngelakuin itu aja kamu nggak bisa!"
Arya menatap lurus kearah wanita yang 3 tahun ini mengisi hati nya. Seperti inikah wanita yang dia cintai? Egois, dan hanya memikirkan diri nya saja.
"Sayang atau enggak nya aku, gak ada hubungannya sama pekerjaan, Gea. Gendis sudah menjabat sebagai produser jauh sebelum aku di Lantik jadi CEO disini. Jadi kamu jangan aneh-aneh."
Kepanikan Gea berubah menjadi ketakutan yang nyata. Selama ini, ia mengandalkan nama besar Arya dan posisinya sebagai calon istri CEO untuk menekan orang-orang di industri televisi. Tapi sekarang, ia baru sadar bahwa tameng terbesarnya sama sekali tidak berguna di hadapan benteng kekuasaan yang dipegang oleh Gendis.
Posisi Gea benar-benar terancam. Jika Gendis mau, wanita itu bisa dengan mudah memasukkan nama Gea ke dalam daftar hitam seluruh program BRTV. Dan tanpa panggung televisi, statusnya sebagai aktris papan atas akan sirna dalam hitungan bulan.
"Lalu aku harus gimana, Arya...?" suara Gea memelan, gemetar menahan tangis ketakutan yang asli. "Aku bisa hancur kalau Gendis terus ada di posisi itu..."
Arya menatap Gea dingin, lalu kembali duduk di kursi keanggotaannya.
"Kalau mau karirmu selamat, jaga sikapmu. Minta maaf secara profesional pada Bu Nissa, atau cari stasiun TV lain yang mau menerima acaramu," ujar Arya tanpa beban, membalikkan lembaran dokumen di mejanya.
"Sekarang keluar. Aku ada rapat sepuluh menit lagi."
***
Setelah penolakan Arya, kini Mobil sedan hitam milik Gea terparkir kaku di sudut area parkir sebuah kafe remang-remang, cukup jauh dari jangkauan awak media. Di dalam mobil, Gea duduk dengan napas berburu, mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Pintu penumpang depan terdorong buka. Maya, manajer pribadi yang telah mendampingi karir Gea selama lima tahun terakhir, masuk tergesa-gesa dengan raut wajah cemas.
"Gea! Kamu gila, ya? Kontak aku berkali-kali cuma suruh ketemu di tempat sembunyi begini?" cerca Maya seraya menutup pintu.
"Gimana urusan kamu di BRTV? Program talkshow kamu udah beres diproses?"
"Beres apanya?!" jerit Gea histeris, langsung memukul kemudi dengan telapak tangannya.
"Aku dipermalukan, Maya! Dipermalukan di depan seluruh manajer divisi!"
Maya terbelalak. "Maksud kamu apa? Bukannya Arya udah di pihak kamu? Dia kan CEO-nya!"
"Arya nggak bisa berkutik!" Gea menoleh tajam, matanya memerah dan bengkak menahan murka. "Kamu tahu siapa Produser Eksekutif yang namanya Bu Nissa itu? Dia itu Gendis! Cewek kampung yang dinikahi Arya secara diam-diam!"
Maya tersentak hebat, mulutnya ternganga beberapa detik. "T-tunggu... Gendis? Perempuan yang tinggal di rumah Arya itu?"
"Iya! Si perempuan sok suci itu!" pekik Gea dengan nada tinggi yang bergetar. "Dia pakai nama profesional Bu Nissa di BRTV. Dia yang mecat aku secara sepihak kemarin! Dan Arya... Arya cuma diam! Dia bilang wewenang penuh ada di tangan Gendis. Kampret banget, kan?!"
Maya menyandarkan punggungnya ke jok, memegang pelipisnya yang mendadak pening. "Aduh, Gea... ini bahaya banget. Kalau Bu Nissa itu beneran Gendis, posisi kamu di industri hiburan benar-benar di ujung tanduk. Dia punya pengaruh besar di BRTV. Sekali dia kasih sinyal blacklist ke stasiun TV sebelah, karir kamu tamat!"
"Makanya aku panggil kamu ke sini, Maya!" bentak Gea seraya mencengkeram bahu Maya keras-keras. "Aku nggak sudi karirku hancur gara-gara cewek busuk itu! Aku harus bikin dia lenyap dari BRTV! Aku mau dia hancur sampai nggak punya muka lagi buat tampil di depan Arya!"
Maya menepis tangan Gea perlahan, mencoba berpikir jernih. "Tapi kamu nggak bisa nyerang dia secara langsung di kantor, Gea. Arya pasti bakal tahu dan kamu yang bakal makin dipojokkan. Kita harus main cantik."
"Main cantik gimana maksud kamu?!"
Maya mengulas senyum tipis yang sarat akan kelicikan, lalu mendekatkan posisinya ke arah Gea.
"Gendis itu punya posisi kuat karena citranya sebagai Produser Eksekutif yang bersih, profesional, dan berdedikasi tinggi, kan?" bisik Maya pelan. "Gimana kalau kita hancurkan justru di titik terkuatnya itu?"
Mata Gea memicing. "Maksud kamu... sabotase?"
"Bukan cuma sabotase biasa," sahut Maya dingin. "Minggu depan, BRTV mau mengadakan siaran langsung program penghargaan tahunan terbesar mereka, kan? Itu acara pegangan divisi produksi tempat Gendis bertugas. Kalau sampai ada skandal besar atau kekacauan fatal di tengah siaran langsung itu... siapa yang bakal disalahkan?"
Gea perlahan mencerna arah bicara manajernya. Senyum culas mulai terukir di bibirnya yang terpoles gincu merah.
"Gendis..." gumam Gea pelan.
"Tepat," angguk Maya penuh keyakinan. "Kita tinggal bayar salah satu staf dalam divisi produksi yang bisa diatur. Kita bikin kekacauan di panggung utama saat siaran langsung, bisa soal manipulasi data pemenang, atau kecelakaan teknis yang bikin sponsor marah besar. Begitu investor dan dewan komisaris murka, Arya mau nggak mau harus copot jabatan Gendis demi menyelamatkan saham perusahaan!"
Gea tertawa pelan, sebuah tawa puas yang terdengar mengerikan di dalam kabin mobil yang sempit itu.
"Bagus... Bagus banget, Maya!" sahut Gea dengan mata berkilat jahat. "Satu burung kena dua batu. Gendis dicopot secara tidak hormat, dan nama baiknya hancur permanen di mata investor. Kita urus ini secepatnya. Jangan sampai ada celah sedikit pun!"
"Tenang aja," jawab Maya mantap. "Aku tahu staf BRTV mana yang lagi butuh uang cepat. Kali ini, si 'Bu Nissa' itu nggak bakal bisa lolos lagi."
Bersambung...