Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Beberapa hari setelah malam prom night yang mendebarkan, Barra dan Farra mengundang Gabriella, Amelia, Ben, dan Farraz untuk berkumpul di sebuah kafe privat.
Niat awal Barra dan Farra sebenarnya hanya ingin menikmati waktu santai setelah penatnya masa sekolah berakhir, tanpa berniat langsung membongkar rahasia besar pernikahan mereka.
Namun, atmosfer santai itu tidak bertahan lama. Amelia melipat tangannya di dada, melemparkan tatapan selidik yang sangat tajam ke arah Farra dan Barra yang duduk berdampingan.
"Oke, stop main rahasia-rahasiaan," potong Amelia tiba-tiba, memecah perbincangan santai mereka. "Dari kemarin-kemarin aku udah tahan-tahan buat nggak nanya, tapi ini udah kelewatan aneh."
Gabriella langsung mengangguk setuju, memajukan posisinya. "Iya! Pertama, Farra yang mendadak mual parah cuma gara-gara cium bau parfum pas ujian, terus Barra yang paniknya sampai kayak mau kehilangan separuh nyawa pas nggendong Farra ke rumah sakit. Kedua, pas malam prom night, kalian berdua hilang gitu aja dari ballroom tanpa pamit, dan pas ditelepon Farra ngaku udah di rumah. Sejak kapan kalian sedekat itu sampai pulang bareng malam-malam?"
Ben dan Farraz ikut terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala. "Jujur ya Bar, gaya kamu protektif ke Farra itu udah bukan gaya pacar lagi, tapi udah kayak suami siaga," goda Ben.
Melihat desakan bertubi-tubi dari sahabat-sahabat mereka yang tak lagi bisa dihindari dengan alasan "masuk angin" atau "asam lambung", Farra melirik Barra di sampingnya. Barra menghela napas panjang, menatap istrinya dengan pancaran mata hangat, lalu mengangguk pelan memberikan sinyal persetujuan.
Barra mengulurkan tangannya di atas meja, meraih jemari Farra dan menggenggamnya erat. Saat itulah, kedua cincin pernikahan berbahan platina yang melingkar di jari manis mereka terpantul pendar lampu kafe.
"Kalian benar. Nggak ada alasan lagi buat sembunyi-sembunyi dari kalian," ujar Barra dengan suara berat dan tenang. "Aku dan Farra... sebenarnya sudah resmi menikah dua bulan yang lalu."
Keheningan mendadak menyergap ruangan itu. Gabriella dan Amelia membeku dengan mulut terbuka lebar, sementara Ben hampir tersedak minumannya.
"M-Menikah?!" pekik Gabriella tak percaya.
"Dan soal Farra yang mual-mual waktu ujian..." Barra melirik Farra dengan senyum tipis penuh kebanggaan, "...itu bukan asam lambung. Farra lagi hamil anak kembar kami."
"WHAT?! HAMIL ANAK KEMBAR?!" teriakan histeris Amelia dan Gabriella bergema di seluruh ruangan privat itu.
Gabriella langsung melompat dari kursinya dan memeluk Farra erat-erat sambil meneteskan air mata haru, sementara Amelia mengusap dada tak percaya. Ben dan Farraz langsung menepuk-nepuk bahu Barra kasar, memberi selamat atas kejutan luar biasa yang sama sekali tak terduga tersebut. Rasa penasaran mereka berganti menjadi kebahagiaan hangat untuk pasangan muda itu.
Namun, kebahagiaan di dalam kafe itu berbanding terbalik dengan kegelapan yang menyelimuti sudut kota lainnya. Barra sama sekali tidak membiarkan aksi nekat Vanessa di malam kelulusan berlalu begitu saja. Menggunakan bukti rekaman CCTV hotel Saputra Corp yang merekam jelas saat Vanessa menyogok pelayan, Barra menjebloskan Vanessa ke dalam sel tahanan atas tuduhan peracunan dan percobaan pelecehan.
Nahasnya, kekuasaan uang bicara. Orang tua Vanessa yang merupakan pengusaha kaya raya segera mengerahkan pengacara termahal dan membayar uang jaminan fantastis untuk mengeluarkan putri mereka dari penjara dalam waktu singkat.
Saat pintu gerbang kantor polisi terbuka dan Vanessa melangkah keluar, wajahnya penuh guratan dendam yang makin pekat. Ia meremas jemarinya hingga berkeringat, menatap tajam ke arah jalanan. Rasa malu akibat ditahan serta kebencian karena Barra sepenuhnya milik Farra membuat akal sehatnya makin terkikis. Bagi Vanessa, kebebasannya ini adalah awal dari rencana pembalasan dendam yang jauh lebih nekat untuk menghancurkan kebahagiaan Farra.