NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENCARIAN AYAM CEMANI

# PELET LAKNAT 2

## Bab 21: Pencarian Ayam Cemani

Brak!

Pintu rumah Kiki tertutup rapat dari dalam, menyisakan Jaka yang masih berdiri terpaku di teras seraya menggenggam kaku lembaran uang lima ratus ribu rupiah. Cahaya terik siang bolong kian menyengat, membuat keringat dingin makin deras membasahi keningnya.

"Gila si Kiki... orang belum selesai bicara main nyelonong masuk saja!" gerutu Jaka seraya menatap tajam ke arah pintu yang terkunci rapat. "Ini lagi, lima ratus ribu mana cukup?! Tapi... kata Kiki tidak apa-apa kalau Simbah diberi segini. Berarti sekarang tinggal cari ayam cemaninya. Tapi ke mana? Sudahlah, aku tanya saja sama orang-orang!" lanjut Jaka seraya melangkah mendekati sepeda motornya, uang di tangannya ia lipat kasar lalu jejalkan ke saku celana.

Jaka pun kembali memacu motornya dengan perasaan cemas, meskipun uang untuk Simbah telah ia kantongi. Di sepanjang perjalanan, bayangan ancaman Mbah Usman dan penampakan gaib yang dialami Kiki terus terngiang di kepalanya, membuat bulu kuduknya berdiri tegang.

Dengan sisa waktu yang makin menipis, Jaka mempercepat laju motornya menuju Pasar Hewan di ujung kecamatan—satu-satunya tempat yang memungkinkan baginya untuk menemukan unggas langka tersebut. Ia tahu betul, pada jam-jam seperti ini ibunya pasti sudah pulang dari pasar, memberi celah aman baginya agar tidak dicurigai.

Sesampainya di pasar, Jaka segera memarkirkan sepeda motornya. Terik matahari membuat aspal parkiran terasa membakar telapak sepatunya. Dengan langkah tergesa-gesa, ia menelusuri deretan kandang kayu yang menyebarkan aroma bau menyengat. Berulang kali ia bertanya kepada para pedagang unggas, namun jawaban mereka selalu sama: ayam cemani berdarah hitam teramat langka dan sangat jarang ada yang menjualnya. Setiap kali mendapat jawaban "tidak ada", rahang Jaka mengeras sedikit dan langkahnya makin cepat menuju kios berikutnya.

Hal itu membuat Jaka makin kalut tak tentu arah. Merasa buntu, ia akhirnya mampir ke sebuah kedai bakso untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi karena belum tersentuh sarapan sedikit pun.

"Bang, baksonya satu, komplet ya!" seru Jaka seraya mendudukkan diri di kursi kayu panjang yang tersedia.

"Siap, Kang!" sahut penjual bakso ramah seraya bergegas meracik pesanan Jaka.

Kebetulan pengunjung kedai saat itu hanya Jaka seorang. Karena sudah bingung harus mencari ke mana lagi ayam cemani tersebut, Jaka pun mencoba memutar otak dan mulai bertanya kepada si penjual bakso.

"Bang! Abang tahu orang yang suka jual ayam cemani tidak?" ujar Jaka dengan nada sedikit berbisik.

Mendengar pertanyaan itu, si pedagang bakso membalikkan badan dan menyodorkan mangkuk pesanan Jaka. "Ini, Kang, baksonya! Oh iya, tadi Akang tanya apa ya?"

"Itu, Bang... Abang tahu orang yang jual ayam cemani tidak?" ulang Jaka seraya mengaduk-aduk kuah baksonya yang masih berasap, matanya tak lepas dari wajah si penjual menunggu jawaban.

"Oh, ayam cemani? Buat apa, Kang? Memangnya siapa yang sakit?"

"Saudaraku, Bang. Dia menyuruh aku carikan ayam cemani, katanya sih buat obat," alibi Jaka cepat. "Iya nih, orang zaman sekarang pada gila, apa-apa larinya ke hal gaib."

"Jadi, Abang tahu tidak?" desak Jaka penasaran.

"Eh, iya, maaf kok jadi ngelantur ke mana-mana. Kalau ayam cemani jarang ada, Kang. Kalau ada pun harus pesan dulu baru ada, dan waktunya cukup lama, sekitar semingguan!"

"Hah?! Satu minggu?!" seru Jaka, sendoknya berhenti di udara sebelum sempat masuk mulut.

"Kalau Akang mau, bisa saya carikan."

Mendengar pernyatan itu hati Jaka merasa lega

"Aku mau sih, tapi tunggu... berapa dulu harganya? Dan bisa cepat tidak?" Tanya Jaka dengan mata berbinar

"Kalau harga sih tergantung ayamnya, betina atau jantan. Kalau betina harganya paling 700 ribu. Tapi kalau ayam jantan makin mahal lagi, Kang, di atas 2 juta. Akang nyarinya ayam jantan atau betina?"

Mendengar deretan harga yang diucapkan si penjual bakso, Jaka seketika tersedak dan batuk-batuk hebat. Ia lantas segera menyambar gelas air minum di hadapannya dan meneguknya hingga kandas.

"Buset, Bang! Mahal sekali?!" seru Jaka seraya mengusap bibirnya dengan tisu, tangannya sedikit gemetar meletakkan gelas kembali ke meja.

"Ya memang segitu, Kang, pasarannya. Soalnya ayam cemani itu bukan unggas sembarangan dan keberadaannya juga jarang ada orang yang punya," jelas si pedagang dengan nada datar.

"Gila! Ternyata harganya bukan main... Tujuh ratus ribu itu sudah termasuk paling murah, sedangkan aku cuma bawa uang lima ratus ribu, itu pun dapat pinjam," gumam Jaka meratapi nasib di dalam hati, jarinya meremas ujung serbet kertas di sisi mangkuknya sampai kusut.

"Nanti sajalah, Bang! Aku bicarakan dulu sama saudaraku. Kalau mereka setuju, nanti aku ke sini lagi," sahut Jaka dengan raut wajah yang kian pucat pasi.

"Memang harus begitu, Kang. Bicarakan dulu sama keluarga biar tidak disangka dimanfaatkan. Salam buat saudara Akang, semoga lekas sembuh tanpa perantara ayam itu," ujar si pedagang menasihati.

"Iya, Bang. Aamiin, terima kasih," sahut Jaka datar.

Jaka pun segera menghabiskan baksonya tanpa benar-benar menikmati rasanya, lantas membayar lalu bergegas pergi meninggalkan kedai tersebut dengan pikiran yang makin berat memikirkan dari mana lagi ia harus mencari sisa uang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!