NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Malam di Puncak Awan Putih selalu menyisakan keheningan yang dingin. Di dalam kamar pribadinya yang harum aromaterapi kayu cendana, Lu Chen berdiri di depan cermin perunggu raksasa. Dia memandangi bayangan dirinya, seorang pria dengan paras rupawan, kulit seputih pualam, dan aura kebangsawanan yang tak ternoda.

Bagi seluruh orang di Murim, Lu Chen adalah lambang kesempurnaan. Lahir dari garis keturunan klan bangsawan tertinggi di wilayah tengah, dia dibesarkan dalam kemewahan, kehormatan, dan limpahan kasih sayang. Tidak ada tragedi yang pernah menimpa keluarganya. Tidak ada pembantaian yang merenggut masa kecilnya. Dia tidak pernah merasakan dinginnya kelaparan atau pahitnya pengkhianatan.

Dunia sering kali percaya bahwa seorang iblis diciptakan oleh penderitaan, bahwa kepahitan dan dendamlah yang mengubah hati manusia menjadi hitam.

Namun, Lu Chen adalah pengecualian yang mengerikan.

Sejak kecil, Lu Chen telah memiliki segalanya. Guru-guru terbaik mengajarinya ilmu pedang, dan para tetua sekte memujinya sebagai jenius tiada tanding. Namun, di balik mata jernih anak laki-laki yang dipuja itu, ada ruang kosong yang teramat hampa. Dia tidak merasakan empati. Dia tidak mengerti arti belas kasih.

Bagi Lu Chen kecil, rasa sakit orang lain adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dan menghibur.

Dia ingat saat usianya baru tujuh tahun. Ketika anak-anak bangsawan lainnya sibuk bermain atau berlatih pedang kayu, Lu Chen secara sembunyi-sembunyi menangkap seekor burung murai di taman belakang kediamannya. Dengan jemari kecilnya yang halus, dia mematahkan sayap burung itu satu per satu, memperhatikan jeritan dan kepakan panik hewan tersebut dengan rasa ingin tahu yang dingin. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada amarah. Hanya ada kepuasan murni saat melihat makhluk lain hancur di bawah kendalinya.

Kejahatannya tidak lahir dari dendam atas masa lalu yang kelam. Kejahatannya adalah hakikat, sebuah dahaga murni akan dominasi dan kehancuran yang terlahir bersamaan dengan napas pertamanya.

Seiring bertambahnya usia, Lu Chen menyadari satu hal penting tentang dunia Murim: orang-orang menyukai pahlawan. Mereka lapar akan sosok suci yang bisa dipuja. Maka, Lu Chen mengenakan topeng pahlawan itu dengan sangat sempurna. Dia tersenyum pada yang lemah, mendermakan emas pada klan-klan kecil, dan bertindak sebagai penengah yang adil.

Di balik topeng indah itulah dia menenun pembantaian. Dia membumihanguskan Lembah Nian bukan karena dendam pribadi pada para tukang kayu, melainkan karena dia menikmati keputusasaan orang-orang yang tidak berdaya. Dia meratakan Sekte Burung Hong bukan karena ancaman, tapi karena dia ingin melihat bagaimana kebenaran yang dipegang Lu Xian hancur berderai di tanah.

Lu Chen mengusap permukaan cermin perunggu dengan ujung jarinya yang bersih.

“Dunia ini terlalu membosankan jika hanya diisi oleh kebaikan. Kejahatan yang paling indah bukanlah kejahatan yang terpaksa, melainkan kejahatan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kehendak murni.”

Dia terkekeh pelan, suara tawa yang begitu merdu namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Lu Chen berbalik, menyapu gaun sutra putihnya yang megah, lalu melangkah menuju jendela yang menghadap ke arah selatan dan utara. Dia tahu bahwa di luar sana, orang-orang seperti Mu Jin, Lin Yu, dan Lu Xian sedang merayap dalam penderitaan yang dia ciptakan. Dan fakta bahwa mereka menderita karena kehendaknya adalah mahakarya terbesar yang sangat dia nikmati.

***

Dua bulan telah berlalu sejak Mu Jin pertama kali melangkah memasuki Desa Lemah Salju.

Luka-luka di tubuhnya kini telah sepenuhnya mengering, menyisakan deretan bekas luka kelabu yang mengeras seperti batu cadas. Lengan kirinya yang pernah patah telah menyatu kembali dengan sempurna, makin kokoh akibat rutinitas membelah kayu dan mengayunkan pedang bersegi empat setiap pagi. Keliaran insting liar yang dia bawa dari dasar jurang kini menyatu dengan ketenangan dingin seorang pekerja keras.

Di dalam kamar belakang kedai, Lao Jiang melangkah mendekati Mu Jin yang sedang mengikat tali mantel bulu hitamnya. Pria tua itu membawa sebuah bungkusan kain linen tebal.

“Ini untukmu, Anak Muda,” kata Lao Jiang pelan, meletakkan bungkusan itu di atas meja batu.

Saat kain itu dibuka, terhampar sarung pedang yang terbuat dari kulit serigala es tebal yang dilapisi pelat besi hitam di bagian ujungnya, disertai tali sandang kulit yang kokoh.

“Xia-er yang menjahit kulitnya selama tiga minggu terakhir,” lanjut Lao Jiang sambil tersenyum tipis. “Gadis itu melihat pedang anehmu selalu telanjang tanpa pelindung. Dia khawatir es utara akan mengikis besi barumu.”

Mu Jin menatap sarung pedang itu dalam hening. Dia tidak mengucap kata-kata manis, namun tangannya mengambil sarung tersebut dan memasukkan pedang aneh bersegi empatnya ke dalam. Pas. Dengung berat besi kaku itu teredam sempurna di balik kulit tebal.

Meski Mu Jin tetap membisu dan bermuka dingin seperti es, kehadirannya tanpa disadari telah menghangatkan sudut desa yang terasing itu. Warga Desa Lemah Salju, yang awalnya menatapnya dengan ketakutan, perlahan mulai terbiasa.

Mu Jin tidak pernah berpura-pura menjadi pahlawan, tidak pula menebar senyum. Namun ketika kereta gandum milik warga tua tersangkut di lumpur beku, Mu Jin akan mendorongnya hingga terbebas tanpa meminta imbalan. Ketika atap rumah seorang janda lapuk hampir roboh tertimpa salju tebal, Mu Jin memanjat dan memperbaikinya dalam hening sebelum pergi begitu saja. Pria kusam berdarah dingin itu membantu bukan karena kebaikan hati, melainkan karena baginya, bekerja adalah satu-satunya cara menjaga pikirannya tetap berpijak di bumi.

Pagi itu, angin utara bertiup lebih kencang dari biasanya. Mu Jin berjalan melintasi bukit batu di pinggir desa sambil memikul dua ikat kayu pinus raksasa di pundaknya.

Namun, saat dia melintasi puncak bukit dan menatap ke arah lembah desa, langkah kakinya mendadak terhenti.

Asap hitam pekat yang tebal menggulung tinggi membelah langit pagi yang kelabu.

CRACK!

Ikatan kayu bakar di pundaknya terlepas, jatuh berhamburan di atas salju.

Di bawah sana, Desa Lemah Salju telah berubah menjadi lautan api. Jeritan histeris para wanita dan anak-anak memantul di antara dinding tebing cadas, bercampur dengan tawa parau dan suara derap kaki kuda dari para prajurit bergaun perak.

Puncak Awan Putih telah menemukan tempat persembunyiannya.

Mu Jin berdiri kaku di atas bukit. Matanya yang mati mendadak menyala oleh pendar merah pekat. Tangan kanannya perlahan merayap ke belakang punggung, mencengkeram gagang pedang aneh bersegi empat yang baru saja dibungkus oleh kehangatan terakhir dari orang-orang desa.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!