Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Salam yang Tidak Sampai
Ada dua hal yang Zaki pelajari pagi itu.
Pertama, membalas puisi jauh lebih sulit daripada menjawab pertanyaan nahwu. Kedua, menitipkan salam lewat orang lain ternyata bukan urusan sederhana.
Semalaman ia sudah menyusun kalimat balasan. Awalnya panjang, indah, dan penuh perumpamaan tentang hujan. Lalu ia coret, karena terdengar seperti orang yang berusaha terlalu keras. Versi kedua terlalu pendek: "Puisinya bagus." Itu seperti membalas surat dengan anggukan. Versi ketiga ia buang setelah sadar ia menulis kata "rindu", padahal mereka bahkan belum pernah bicara langsung.
Menjelang subuh, ia menyerah. Ia memutuskan mengirim satu kalimat saja, lewat salam lisan, bukan tulisan.
"Cuma salam," katanya pada Darto di sumur. "Terima kasih atas koreksinya dan atas puisinya. Itu saja."
"Itu saja," ulang Darto, wajahnya penuh kesungguhan yang mencurigakan. "Baik. Serahkan pada saya."
"Bukan pada kamu. Kamu bocor."
"Saya bocor?"
"Kemarin kamu ceritakan soal kitab tertukar ke Kang Ridwan."
"Itu bukan bocor. Itu berbagi kegembiraan." Darto menepuk dada. "Tapi baiklah. Kalau tidak percaya saya, minta tolong siapa?"
"Kang Fadil. Dia pendiam."
"Kang Fadil memang pendiam. Tapi dia juga tidak pernah ke dapur umum."
"Kalau begitu..."
"Sudah, sudah." Darto mengangkat tangan. "Saya bawa ke Rukmini lewat jalur resmi. Tenang. Saya ini profesional."
Zaki menatapnya lama. Ia tidak yakin kata "profesional" pernah cocok dengan Darto. Tapi ia tak punya pilihan lain.
Yang tidak Zaki ketahui adalah bahwa pesan lisan, ketika melewati lebih dari satu mulut, punya kebiasaan berubah bentuk.
Siang itu, Darto menyampaikan salam Zaki kepada Kang Ridwan, yang kebetulan sedang berjaga di pintu depan dapur. Alasannya, Kang Ridwan lebih dekat dengan lubang pemberian, sedangkan Darto sendiri harus mengangkat karung bekatul.
"Kang Ridwan, titip salam untuk Mbak Rukmini. Dari Zaki, untuk Mbak Nafisah. Katanya terima kasih atas koreksi dan puisinya."
Kang Ridwan, yang matanya setengah terpejam karena masih mengantuk, mengangguk. "Iya, iya. Terima kasih atas koreksi dan..." Ia berhenti. "Apa tadi yang kedua?"
"Puisi."
"Oh. Puisi. Iya."
Kang Ridwan berjalan ke lubang pemberian. Di sana ada seorang santriwati bernama Mbak Yayuk yang sedang mengangkat nampan. Kang Ridwan, yang tidak tahu bahwa Rukmini sedang istirahat, menyampaikan pesan itu kepadanya dengan gaya orang yang menghafal daftar belanja.
"Assalamualaikum. Titipan dari Zaki untuk Nafisah. Katanya terima kasih atas korek... koreksi dan, eh, pusi."
"Pusi?" kata Mbak Yayuk.
"Puisi."
"Oh, puisi." Mbak Yayuk menerima pesan itu dengan wajah bingung. "Baik, saya sampaikan."
Mbak Yayuk kemudian berjalan ke belakang dapur dan bertemu Mbak Lastri, yang sedang menyiangi sayur. "Lastri, ada titipan dari santri baru. Katanya terima kasih atas korek dan pusi."
"Korek?" Mbak Lastri mengerutkan dahi. "Korek api?"
"Mungkin. Dan pusi."
"Pusi itu... kucing?"
"Bisa jadi."
Mbak Lastri, yang dikenal setia pada tugas tapi kurang jeli soal makna, meneruskan pesan itu kepada Rukmini yang baru kembali dari sumur, dengan tambahan ekspresi bingung di wajahnya: "Rukmini, ada yang bilang terima kasih atas korek api dan kucing."
Rukmini mematung.
"Apa?"
"Dari santri baru. Yang tadi pagi."
"Zaki?"
"Mungkin. Katanya untuk Nafisah."
Rukmini menatap Mbak Lastri, lalu menatap langit-langit dapur, lalu menghela napas panjang seperti orang yang sedang menahan tawa sekaligus ngeri. "Baiklah. Saya sampaikan."
Sorenya, di kamar yang sama di mana Nafisah biasa menulis, Rukmini duduk bersila di depannya dengan wajah serius, sangat serius, seperti seorang ustazah yang hendak mengumumkan hasil ujian.
"Nis. Ada titipan salam dari Zaki."
Nafisah, yang sedang membaca kitab, mengangkat kepala. Dadanya bergetar sedikit, meski ia berusaha tidak menunjukkannya. "Oh. Salam apa?"
"Katanya..." Rukmini menarik napas. "Terima kasih atas korek api dan kucing."
Hening.
Nafisah mengerjap. "Apa?"
"Saya juga tidak paham. Tapi itu yang sampai ke saya."
"Korek api dan... kucing?"
"Iya."
"Saya tidak pernah memberi dia korek api."
"Tidak."
"Dan saya tidak punya kucing."
"Tidak juga."
Mereka saling pandang. Lalu Rukmini menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya bergetar, dan dalam hitungan detik, tawanya pecah tak tertahankan. Nafisah ikut tertawa, tawa lepas yang selama beberapa hari terakhir belum sempat keluar dari dadanya, hingga air matanya hampir menetes.
"Pasti kabarnya sudah lewat tujuh mulut," kata Rukmini, terengah. "Kata aslinya pasti koreksi dan puisi."
"Koreksi dan puisi," ulang Nafisah, mengusap mata. "Iya. Pasti begitu."
"Kasihan Kang Zaki. Sudah susah payah menitip salam."
"Kasihan juga saya." Nafisah menghela napas dan tersenyum, senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Saya sudah gugup menunggu, ternyata isinya korek api."
"Jadi tadi kamu gugup?"
"Rukmini."
"Saya cuma memastikan."
Nafisah melempar bantal untuk kedua kalinya minggu itu. Rukmini menangkapnya dengan senyum lebar.
Setelah tawa mereda, Nafisah menatap jendela kecil di kamarnya. Cahaya sore jatuh pelan di atas tikar. Ada sesuatu yang hangat di dadanya, dan ia sadar bahwa itu bukan karena salam yang kacau, melainkan karena ada orang yang repot-repot mencoba menyampaikannya.
"Rukmini."
"Hm?"
"Kalau ada titipan lagi, bilang padanya supaya menulis saja. Jangan lisan."
"Nah. Itu baru pesan yang jelas."
Sementara itu, di halaman depan pondok, sebuah dokar berhenti menjelang magrib.
Seorang pemuda turun dengan ransel kain di punggung. Tubuhnya tegap dan kulitnya sedikit terbakar matahari. Ia mengenakan sarung hijau tua, kemeja lengan panjang yang lusuh di siku, dan peci hitam yang sedikit miring. Di pinggangnya terlihat ikat kain merah putih, tanda kecil yang menandai bahwa ia bukan sekadar santri biasa.
Para santri yang sedang menyapu halaman berhenti sejenak. Ada yang berbisik, ada yang memberi hormat.
"Gus Hanif pulang."
"Assalamualaikum, Gus."
"Waalaikumsalam." Suaranya hangat dan ramah, tanpa kesan angkuh. Ia menyalami satu per satu santri yang menyambutnya, menepuk bahu, bertanya kabar, dan sesekali tertawa pendek. Hanya sekilas, sorot matanya menyimpan kelelahan yang tidak sepenuhnya bisa ditutup dengan senyum.
Zaki memperhatikan dari kejauhan, sambil menggenggam sapu yang sudah tak bergerak sejak tadi.
"Itu dia," bisik Darto di sampingnya. "Gus Hanif."
"Kelihatannya baik."
"Memang baik. Baik sekali." Darto berhenti sejenak. "Justru itu masalahnya."
"Masalah apa?"
Darto menggeleng. "Nanti saja."
Zaki hendak bertanya lagi, tapi langkah Gus Hanif sudah mendekat. Pemuda itu berhenti di depan mereka, menatap Zaki dengan senyum ramah.
"Kamu yang baru dari kota?"
"Inggih, Gus. Zaki."
"Zaki." Ia mengulang nama itu pelan, seperti mencatatnya dalam ingatan. "Saya dengar dari Abah, kamu yang menjawab pertanyaan Ustaz Malik kemarin. Katanya rapi sekali."
"Hanya kebetulan, Gus."
"Tidak ada yang kebetulan kalau Ustaz Malik sampai bilang 'hm'." Gus Hanif tersenyum lebih lebar. "Selamat datang di Al-Hikmah. Semoga betah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang."
"Terima kasih, Gus."
"Sampai ketemu di masjid." Gus Hanif menepuk bahunya dan berlalu. Langkahnya mantap, tapi di ujung pandangannya, saat melewati tembok tinggi di sisi timur halaman, ia melambat sepersekian detik. Hanya sepersekian, dan Zaki tidak tahu kenapa ia menyadarinya.
Darto menatap punggung Gus Hanif yang menjauh, lalu menghela napas pendek.
"Kenapa?" tanya Zaki.
"Tidak apa-apa." Darto menyunggingkan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Ayo, adzan sebentar lagi."
Zaki mengangguk, meski dadanya mengeluarkan rasa aneh, seperti firasat yang belum menemukan namanya. Ia mengambil sapunya, membereskan halaman, dan tidak menyadari bahwa di jendela kamar putri, tirai bambu bergerak sedikit, lalu kembali diam.