Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Nadira merasa curiga
Pria yang duduk di sampingnya ikut berbicara.
"Kami mendapat kabar pagi tadi bahwa ada seorang pria dengan ciri-ciri seperti Deren dibawa ke rumah sakit ini."
Nadira mengangguk pelan. "Maaf Anda siapa?"
Pria itu menjawab tenang. "Saya pamannya."
Nadira memperhatikan keduanya, tidak ada yang tampak aneh. Wanita itu bahkan terlihat sangat terpukul.
Namun Nadira tidak langsung percaya. "Apakah Anda memiliki foto Deren?"
Wanita itu segera mengambil ponsel. "Tentu."
Ia membuka galeri dan menunjukkan sebuah foto. Nadira melihat layar itu, seorang pria muda tersenyum di depan kamera. Rambutnya hitam, wajahnya memang sangat mirip dengan pasien yang tadi ditemuinya.
Nadira terdiam. "Ini Deren?"
"Iya." Wanita itu mengangguk. "Dia anak saya."
Nadira kembali melihat foto itu, kemudian ia memperhatikan pria yang mengaku sebagai paman Deren.
"Kalau begitu, saya perlu menanyakan beberapa hal sebelum Anda bertemu dengannya."
Wanita itu langsung mengangguk. "Apa saja. Saya akan menjawab."
Nadira membuka catatannya. "Apakah Deren memiliki riwayat penyakit tertentu?"
Wanita itu menggeleng. "Tidak."
"Riwayat gangguan psikologis?"
Wanita itu kembali menggeleng. "Tidak pernah."
Nadira mencatat. "Apakah sebelum kabur dari rumah dia mengalami masalah?"
Pertanyaan itu membuat wanita tersebut terdiam.
Pria di sampingnya tiba-tiba menjawab. "Tidak ada."
Nadira mengangkat wajah. "Anda yakin?"
"Yakin." Jawabannya terlalu cepat.
Nadira memperhatikan pria itu beberapa detik. Kemudian ia kembali menatap wanita tersebut.
"Ibu Deren?"
Wanita itu menunduk. "Sebenarnya..."
Pria di sampingnya langsung menyela. "Kakak."
Wanita itu terdiam.
Nadira mengerutkan kening. "Kakak?"
"Iya," jawab pria itu. "Dia kakak saya, dan dia sedang emosional."
Nadira semakin curiga, ada sesuatu yang tidak sesuai. Wanita itu tadi mengatakan Deren adalah anaknya. Namun pria itu justru langsung memotong pembicaraan ketika Nadira menanyakan kondisi Deren sebelum menghilang.
Nadira menutup catatannya. "Untuk sementara, saya belum bisa mempertemukan kalian dengannya."
Wanita itu langsung panik. "Kenapa?"
"Kondisinya belum stabil."
"Tapi saya ibunya."
"Saya mengerti." Nadira berbicara dengan lembut.
"Justru karena Anda ibunya, saya ingin memastikan pertemuan pertama tidak membuat kondisinya semakin buruk."
Wanita itu menunduk sambil menangis.
Nadira kemudian berdiri. "Saya akan memeriksa kembali data pasiennya. Setelah itu saya akan memberi tahu Anda apa yang bisa dilakukan."
Wanita itu mengangguk.
Namun ketika Nadira berbalik...
Pria yang mengaku sebagai paman Deren tiba-tiba memanggil. "Suster."
Nadira menoleh. "Ya?"
Tatapan pria itu berubah serius. "Kalau pasien itu benar Deren..." Ia berhenti sejenak. "Jangan biarkan dia berbicara dengan siapa pun."
Nadira membeku. "Kenapa?"
Pria itu tersenyum tipis. "Karena dia sedang tidak sehat."
Nadira tidak menjawab, ia hanya menatap pria itu beberapa detik sebelum akhirnya berjalan pergi.
Namun di dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan.
Mengapa seorang paman justru takut keponakannya berbicara? Dan tanpa diketahui Nadira...
Di dalam Bangsal Melati, Deren perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapannya tertuju kepada pintu, kemudian ia berbisik sangat pelan. "Dia sudah datang..."
Seorang pasien yang duduk tidak jauh darinya menoleh. "Siapa?"
Deren tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata. Tangannya kembali gemetar, karena orang yang baru saja datang ke rumah sakit itu... bukan orang yang seharusnya menemukannya.
Begitu Nadira menghilang dari lobi, pria yang mengaku sebagai paman Deren langsung berdiri. Ia menghampiri wanita di sampingnya, kemudian menarik lengannya perlahan.
"Sudahlah. Sebaiknya kita pulang dulu."
Wanita itu masih terisak. "Tapi..."
"Kita tidak bisa memaksa mereka mempertemukan kita dengan Deren sekarang."
Wanita itu menatap ke arah lorong menuju Bangsal Melati. "Aku hanya ingin melihat anakku."
"Kita akan kembali." Pria itu menariknya menjauh dari ruang tunggu.
Wanita itu akhirnya mengikuti, meskipun air matanya masih terus mengalir. Begitu mereka sampai di dekat pintu keluar, Pria itu tiba-tiba berkata, "Sudah aku katakan sejak awal... Deren memang mengalami gangguan jiwa."
Wanita itu langsung menjawab, "iya, dia begitu sejak bekerja di perusahaan itu, dia terus mendapatkan tekanan. Wanita itu mengusap air matanya. "Dan semua karena kamu."
Pria tersebut mendengus. "Jangan mulai lagi."
"Kalau saja Deren tidak kamu jebloskan ke dunia bisnis, dia tidak akan menjadi seperti sekarang."
Pria itu menatapnya tajam. "Dia sendiri yang memilih."
"Tidak!" Wanita itu menahan tangis. "Deren tidak pernah menginginkan semua itu. Dia hanya mencoba membantu." Ia mengepalkan tangannya "Dia yang menanggung semua beban. Semua kesalahan orang lain dilemparkan kepadanya."
Pria itu tidak menjawab.
Wanita itu melanjutkan dengan suara bergetar. "Kalau perusahaan itu benar-benar mengusut semuanya, nama Deren pasti akan terseret." Ia menatap adiknya itu. "Dan kalau mereka lapor polisi..." Suaranya melemah. "Deren bisa ditangkap."
Pria itu menghela napas. "Aku tahu itu, Ka?"
"Kalau begitu, bagaimana bisa kamu tetap tenang? Apa yang bisa kita lakukan sekarang?"
Pria itu terdengar mulai kesal. "Perusahaan itu sudah tidak jelas. Tidak mungkin mereka masih peduli dengan kasus itu."
Wanita itu menggeleng. "Kamu salah, masih banyak pekerja lama yang bekerja di sana."
Pria itu terdiam.
"Kalau mereka mulai diperiksa satu per satu..." Wanita itu menatapnya penuh kekhawatiran. "Mereka bisa mengatakan semuanya."
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Sudahlah." Ia kembali berjalan. "Jangan terlalu dipikirkan."
Wanita itu mengikuti dengan langkah berat. Namun sebelum keluar dari gedung, ia berhenti. "Kamu yakin perusahaan itu sudah tidak akan mencari Deren?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia menoleh. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena aku merasa..." Wanita itu menatapnya cemas. "Ada sesuatu yang belum kamu ceritakan kepadaku."
Pria itu terdiam, tatapannya berubah sesaat. Namun ia segera mengalihkan pandangan. "Sebaiknya kita pulang."
Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit. Tidak ada yang menyadari bahwa percakapan mereka terdengar oleh seseorang.
Di balik pintu koridor, Nadira berdiri diam. Ia sebenarnya belum pergi. Sejak meninggalkan lobi, Nadira kembali ke meja administrasi untuk mengambil berkas pasien.
Namun suara percakapan tadi membuat langkahnya terhenti. Perusahaan, nama Deren akan terseret, polisi. Nadira mengerutkan kening, ia kembali mengingat perkataan pria tersebut.
"Jangan biarkan dia berbicara dengan siapa pun."
Sekarang semuanya terasa semakin janggal. Nadira segera kembali ke meja administrasi. Ia membuka data pasien baru tersebut.
Nama: Deren.
Namun beberapa informasi lainnya masih kosong. Tidak ada alamat yang jelas, tidak ada riwayat pekerjaan, tidak ada kontak keluarga yang bisa diverifikasi.
Nadira menatap layar dengan serius. "Kenapa data pasien ini kosong sekali?"
Ia kemudian membuka bagian riwayat kesehatan, tidak ada data. Nadira semakin curiga, jika wanita tadi benar-benar ibu Deren, seharusnya ada informasi keluarga yang bisa diberikan.
Nadira mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi dokter penanggung jawab ketika tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.
"Suster Nadira."
Nadira menoleh.
Seorang petugas administrasi berdiri di sana.
"Ada apa?"
"Dokumen pasien baru itu, baru saja diperbarui."
Nadira mengerutkan kening. "Diperbarui?"
"Ya."
"Siapa yang mengubahnya?"
Petugas itu terlihat bingung. "Saya tidak tahu, tapi perubahan dilakukan beberapa menit yang lalu."
Nadira langsung berdiri. "Tunjukkan."
Mereka berjalan menuju komputer administrasi. Nadira memperhatikan layar. Beberapa data baru muncul.
Nama lengkap: Deren Aditya
Usia: 25 tahun.
Status: Karyawan perusahaan swasta.
Nadira membaca nama perusahaan tersebut. Matanya langsung melebar. Itu adalah perusahaan yang sama dengan perusahaan milik Om nya.
Nadira terdiam. "Perusahaan itu..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Deren bukan sekadar pasien yang ditemukan di jalan.
Ia kemungkinan besar berkaitan dengan perusahaan tempat Adrian baru saja mulai bekerja. Dan kalau benar... kedatangan Deren ke rumah sakit ini mungkin bukan kebetulan.
Nadira segera mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan kepada Adrian.
"Adrian, aku menemukan sesuatu tentang pasien baru di rumah sakit. Sepertinya dia berkaitan dengan perusahaan tempat kamu bekerja."
Namun sebelum menekan tombol kirim, Nadira berhenti. Sebuah pikiran tiba-tiba muncul.
Bagaimana jika ponselnya sedang diawasi?
Nadira menghapus pesan itu. Ia menatap layar beberapa detik. Kemudian mengetik pesan baru.
"Kita perlu bicara. Tapi jangan lewat pesan."
Baru kali ini Nadira merasa... masalah yang sedang dihadapi Adrian mungkin sudah mulai menyentuh tempat kerjanya. Dan Deren bisa menjadi bagian dari teka-teki yang selama ini mereka cari.