NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

BAB 20: Ruang Arsip Orang Mati

[Sudut Pandang: SURA]

Ekspektasi Sura tentang menjadi "Penasihat Muda Kerajaan":

Duduk di meja mahoni mengkilap, minum anggur terbaik, membisikkan strategi ke telinga Raja, dan mengenakan jubah sutra yang berkibar dramatis.

Realitas Sura tentang menjadi "Penasihat Muda Kerajaan":

Duduk di bangku kayu reyot yang salah satu kakinya diganjal batu bata, minum air keran yang berbau besi, dan mengenakan seragam birokrat kaku yang mencekik leher.

"Ini penghinaan," gumam Sura, menepuk debu tebal dari tumpukan dokumen di hadapannya.

"Ini ujian," koreksi Kian tanpa mengalihkan pandangan dari laporan pajak gandum. Kian duduk di seberangnya, terlihat tetap elegan meski berada di ruangan yang lebih mirip gudang sapu daripada kantor pejabat.

Kantor baru mereka terletak di Sayap Barat Istana—bagian istana yang paling tua, paling lembap, dan paling jauh dari Singgasana Raja. Tidak ada jendela. Hanya ada satu pintu kayu berlubang yang menghubungkan mereka dengan koridor dapur umum. Baunya selalu seperti campuran sup bawang dan keputusasaan.

"Kita menyelamatkan ekonomi negara," protes Sura, melempar pena bulu angsanya. "Kita membawa 10.000 koin emas! Dan apa hadiahnya? Kita disuruh mengaudit Laporan Pengeluaran Dapur Istana Tahun 1895? Itu sepuluh tahun yang lalu, Kian! Orang-orang yang makan makanan ini sudah mati!"

Kian meletakkan laporannya. Dia menatap Sura dengan sabar.

"Sura, di Istana, 'Penasihat Muda' adalah bahasa halus untuk 'Kambing Hitam Magang'. Para menteri tua itu tidak mau kita mencampuri urusan penting. Jadi mereka mengubur kita dengan pekerjaan administrasi sampah supaya kita bosan dan mengundurkan diri."

"Atau mati karena asma akibat debu ini," tambah Sura, terbatuk kecil.

Tiba-tiba, pintu kantor mereka terbuka tanpa diketuk.

Seorang pria tua bungkuk dengan kacamata rantai masuk. Dia membawa setumpuk gulungan kertas yang tingginya menutupi wajahnya.

"Penasihat Arselio, Penasihat Valerine," suara pria itu sengau. "Tugas tambahan dari Biro Logistik. Tolong verifikasi inventaris lilin istana. Ada selisih 500 batang lilin di tahun 1902. Cari tahu kemana perginya sebelum makan siang."

BRAK!

Pria itu menjatuhkan tumpukan kertas itu di meja Sura, menerbangkan awan debu ke wajahnya. Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan pergi.

Sura menatap tumpukan itu dengan niat membunuh.

"Aku akan membakar istana ini," desis Sura. "Aku serius. Aku punya korek api."

"Jangan dulu," kata Kian tenang. Dia mengambil salah satu gulungan itu. "Lihat ini."

Sura mendengus, tapi ikut melihat.

"Apa? Daftar lilin? Membosankan."

"Bukan lilinnya," jari Kian menelusuri kolom tanda tangan di bagian bawah. "Lihat siapa yang menandatangani pengadaan ini."

Sura menyipitkan mata. Tulisan itu bergelombang dan tintanya agak luntur, tapi namanya terbaca jelas.

Disetujui oleh: Lord Cassian (Wakil Menteri Logistik - 1902).

Sura mengerutkan kening. "Lord Cassian? Bukannya dia sekarang..."

"...Perdana Menteri," sambung Kian. Matanya berbinar. Kebosanan di wajahnya lenyap seketika. "Pria paling berkuasa kedua setelah Raja."

Kian berdiri, mondar-mandir di ruangan sempit itu.

"Sura, pikirkan. Kenapa birokrat rendahan tadi memberikan arsip ini pada kita? Arsip tua yang melibatkan nama Perdana Menteri saat dia masih pejabat menengah?"

Otak Sura mulai bekerja. Insting jalanannya menyala.

"Ada yang ingin menjatuhkan Cassian?" tebak Sura. "Atau... Cassian sendiri yang mengirim arsip ini?"

"Mari kita cari tahu," Kian menyeringai. "Ayo kita hitung lilin sialan ini."

Selama tiga jam berikutnya, mereka bekerja dalam diam. Kian menghitung angka, Sura mencari pola.

Ternyata, selisih 500 batang lilin itu bukan hilang. Lilin-lilin itu dialihkan ke "Paviliun Mawar".

"Paviliun Mawar..." gumam Sura. "Itu tempat tinggal selir favorit Raja terdahulu."

"Dan tebak siapa yang sering mengunjungi Paviliun Mawar secara diam-diam menurut rumor gosip istana tahun 1902?" tanya Kian.

"Cassian?"

"Tepat," Kian menutup buku itu. "Cassian, yang saat itu sudah menikah dengan putri Duke Utara, berselingkuh dengan selir Raja. Dia menggunakan anggaran lilin untuk menutupi jejak 'kunjungan malam'-nya. Lilin-lilin itu tidak dipakai untuk penerangan, tapi dijual untuk menyuap penjaga paviliun."

Sura bersiul. "Skandal perselingkuhan dan korupsi kecil-kecilan. Jika ini bocor, reputasi Perdana Menteri yang dikenal 'Suci dan Bermoral' akan hancur."

"Ini jebakan," simpul Kian. "Seseorang sengaja memberikan arsip ini pada kita. Jika kita melaporkan temuan ini ke Raja, kita akan menjatuhkan Cassian—dan otomatis kita akan menjadi musuh abadi faksi Perdana Menteri."

"Tapi jika kita menyembunyikannya..." Sura menimbang-nimbang. "...Dan orang yang memberikan arsip ini tahu kita menyembunyikannya, mereka bisa menuduh kita bersekongkol menutupi korupsi."

"Maju kena, mundur kena," kata Kian. "Selamat datang di politik istana, Partner."

"Jadi apa yang kita lakukan?" tanya Sura. "Membakar buktinya?"

"Tidak," Kian mengambil dokumen asli yang bertanda tangan Cassian itu. Dia melipatnya dan memasukkannya ke saku jas dalamnya.

"Kita kembalikan arsipnya," kata Kian. "Tapi lembar yang ini... kita simpan sebagai asuransi."

Sore harinya, mereka dipanggil ke Taman Koi.

Taman ini adalah tempat pribadi Perdana Menteri. Air kolamnya jernih, ikannya gemuk-gemuk dan berwarna emas menyala.

Lord Cassian berdiri di tepi kolam, menaburkan pelet makanan ikan. Dia adalah pria berusia lima puluhan, dengan rambut abu-abu yang disisir rapi dan senyum ramah yang terlihat seperti kakek baik hati. Berbeda jauh dengan Lysander yang dingin atau Hanzor yang brutal.

Cassian terlihat... normal. Dan itu membuatnya sangat menakutkan.

"Ah, Penasihat Muda kita yang berbakat," sapa Cassian tanpa menoleh. "Bagaimana hari pertama kalian? Apakah debu arsipnya mengganggu pernapasan?"

Sura dan Kian membungkuk hormat.

"Sangat edukatif, Yang Mulia Perdana Menteri," jawab Kian sopan. "Kami belajar banyak tentang... sejarah lilin."

Tangan Cassian berhenti menabur makanan. Ikan-ikan koi berebut di permukaan, mulut mereka membuka-tutup dengan suara cap-cap-cap.

"Lilin adalah benda yang menarik," kata Cassian pelan, berbalik menatap mereka. Matanya berwarna cokelat hangat, tapi ada kehampaan di sana. "Lilin memberikan cahaya, tapi jika kau tidak hati-hati, lilin bisa membakar seluruh rumah."

Cassian berjalan mendekat. Dia membersihkan tangannya dengan sapu tangan sutra.

"Saya dengar ada 'kesalahan hitung' di tahun 1902. Apakah kalian menemukan kemana perginya 500 batang lilin itu?"

Ini adalah ujiannya.

Jika mereka bilang "Ya, Anda mencurinya untuk selir", Cassian akan menghancurkan mereka karena terlalu lancang.

Jika mereka bilang "Tidak ketemu", Cassian akan memecat mereka karena tidak kompeten.

Sura maju selangkah. Dia memasang wajah polos terbaiknya.

"Kami menemukannya, Yang Mulia," kata Sura.

Mata Cassian menyipit sedikit. "Oh?"

"Ternyata lilin-lilin itu disumbangkan ke Panti Asuhan Kota atas nama anonim," bohong Sura dengan lancar. "Catatannya terselip di halaman belakang. Sungguh mulia pejabat yang melakukannya, menyumbang tanpa ingin diketahui namanya."

Sura mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. Itu bukan dokumen asli yang disimpan Kian. Itu adalah Laporan Audit Baru yang baru saja dipalsukan oleh tangan Sura sendiri (dengan meniru gaya tulisan Ren yang dia pelajari sedikit).

Di laporan palsu itu tertulis: Status: Disumbangkan untuk Amal.

Sura menyodorkan laporan palsu itu pada Cassian.

"Kami sudah menutup buku auditnya dengan kesimpulan ini. Kasus selesai. Tidak ada selisih."

Cassian menerima kertas itu. Dia membacanya sekilas. Lalu dia menatap Sura, kemudian Kian.

Perlahan, senyum kakek baik hati itu melebar.

"Amal," kekeh Cassian. "Ya... saya ingat sekarang. Saya memang sangat dermawan waktu muda."

Cassian merobek laporan palsu itu, lalu membuangnya ke kolam koi. Ikan-ikan langsung memakannya, mengira itu roti.

"Kalian lulus," kata Cassian.

Suasana tegang mencair sedikit.

"Banyak orang pintar di istana ini," kata Cassian, berjalan mengelilingi mereka. "Tapi orang pintar biasanya mati cepat karena mulut mereka terlalu besar. Saya tidak butuh orang pintar. Saya butuh orang yang mengerti."

Cassian berhenti di depan Kian, menepuk saku jas Kian—tepat di mana Kian menyembunyikan bukti asli perselingkuhan Cassian.

"Simpan 'kenang-kenangan' itu, Nak," bisik Cassian. "Anggap saja itu tali pengikat kepercayaan di antara kita. Selama dokumen itu tidak bocor, karir kalian akan aman."

Cassian tahu! Dia tahu Kian menyembunyikan bukti aslinya. Dan dia membiarkannya. Itu adalah bentuk Mutually Assured Destruction (Kehancuran Bersama). Kian memegang rahasia Cassian, Cassian memegang nasib Kian.

"Kami mengerti, Yang Mulia," kata Kian tenang.

"Bagus," Cassian kembali ke kolamnya. "Besok, kalian tidak perlu ke gudang arsip lagi. Datanglah ke Ruang Rapat Strategi jam 9 pagi."

Cassian menoleh sedikit, matanya berkilat dingin.

"Duta Besar dari Kekaisaran Naga Timur akan datang. Mereka terkenal sulit dipuaskan. Saya butuh 'Lidah Perak' kalian untuk memastikan mereka tidak menyatakan perang sebelum hidangan penutup disajikan."

"Kami siap," jawab Sura.

"Pergilah. Dan Sura..." panggil Cassian.

Sura berbalik.

"Ganti seragammu. Kau terlihat seperti ulat keket yang terbungkus daun kering. Penasihatku harus terlihat elegan."

Sura menggertakkan gigi, tapi membungkuk. "Baik, Yang Mulia."

Saat mereka berjalan keluar dari Taman Koi, Sura menghembuskan napas panjang yang dia tahan sejak tadi.

"Orang tua itu..." bisik Sura, "...dia jauh lebih berbahaya dari Lysander."

"Lysander ingin mengalahkan kita," kata Kian, meraba saku jasnya yang berisi bukti. "Cassian ingin memiliki kita. Dia baru saja mengikat leher kita dengan rantai tak terlihat."

"Setidaknya kita keluar dari gudang berdebu itu," Sura mencoba optimis. "Dan besok... Kekaisaran Naga Timur? Itu kampung halaman pedagang sutra, kan?"

"Benar," Kian menatap istana yang megah namun penuh bayangan itu. "Dan mereka punya kebiasaan unik: Mereka tidak bernegosiasi dengan kata-kata, tapi dengan teka-teki. Siapkan otakmu, Sura. Level permainannya baru saja naik."

Sura tersenyum miring.

"Teka-teki? Itu makananku saat sarapan."

Mereka melangkah masuk ke koridor utama yang terang benderang. Mereka bukan lagi anak-anak akademi yang bermain debat. Mereka sekarang adalah pemain di papan catur para raksasa.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!