NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:745
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

paman samudra

 

Hari ini Paman Samudra akan datang ke rumah. Aku berdandan rapi dan sopan layaknya anak gadis yang tahu tata krama, mengenakan pakaian sederhana namun rapi. Sedangkan Ibu... Ibu tidak berdandan berlebihan. Beliau hanya mengenakan pakaian yang biasa saja, rambutnya tergerai rapi seperti hari-hari biasanya. Tidak ada riasan wajah, tidak ada gaun indah. Ibu sengaja tidak mempercantik dirinya, seakan ingin menunjukkan apa adanya dirinya kepada pria itu. Jika ia menerima apa adanya, baiklah. Jika tidak, itu pun tidak mengubah siapa dirinya sebenarnya.

Kami berdua duduk di ruang depan menunggu kedatangannya. Hening terasa berat di udara. Aku menggenggam tangan Ibu erat, namun kali ini beliau yang justru mengusap punggung tanganku menenangkan. Ibu tampak tenang, jauh lebih tenang daripada yang kukira. Ketukan pintu terdengar. Sekali. Dua kali. Hatiku berdebar kencang. Dia datang.

 

Sambil menunggu kedatangan mereka, aku beranjak ke meja makan untuk menata beberapa jajanan yang sudah kusiapkan tadi. Aku menyusun piring-piring kecil berisi kue basah, pisang goreng yang masih hangat, serta gelas-gelas teh manis yang harum wanginya. Aku melakukannya perlahan, berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat gugup saat mereka datang.

Belum lama berselang, terdengar suara langkah kaki di halaman disertai ketukan di pintu. Aku membukanya, dan ternyata Bibi Wijaya yang datang lebih dulu. Beliau mengenakan pakaian yang lebih rapi dan mencolok dari biasanya, seakan hendak menghadiri acara besar. Ia tersenyum lebar saat melihatku, senyum yang terasa terlalu manis untuk sekadar kunjungan biasa.

"Sudah siap semuanya?" tanyanya sambil melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan.

"Sudah, Bibi. Silakan duduk," jawabku sopan sambil menunjuk kursi di ruang tamu.

Bibi Wijaya duduk di sebelah Ibu, lalu berbisik pelan sesuatu yang tidak tertangkap telingaku. Aku berdiri di samping Ibu, tidak beranjak sedikit pun, menatap pintu dengan hati yang mulai berdebar kencang. Sebentar lagi Paman Samudra akan datang. Aku tidak tahu seperti apa sosok pria yang akan menikahi Ibuku itu, namun naluriku mengatakan bahwa hari ini akan menjadi awal dari sesuatu yang mengubah hidup kami.

 

Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah kami. Pintu terbuka dan keluarlah seorang pria bertubuh gemuk dengan perut buncit. Kedua tangannya penuh berhiaskan cincin-cincin emas yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Ia mengenakan kemeja hitam dan celana hitam yang rapi namun tetap terasa sempit di tubuhnya. Di sebelahnya berdiri seorang pengawal berbadan tegap, hanya seorang saja, diam membisu dan menatap lurus ke depan.

Bibi Wijaya segera menyambutnya di ambang pintu, tersenyum ramah sekali seakan menyambut sanak saudara lama yang sangat dirindukan.

"Silakan masuk, Samudra. Sudah kami tunggu," ucapnya sopan sambil mempersilakan pria itu melangkah masuk.

Pria itu tersenyum ramah pula, namun senyumnya terasa licik dan dibuat-buat bagiku. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang, matanya meneliti setiap sudut ruangan kami yang sederhana itu seakan sedang menaksir harga benda-benda di dalamnya. Aku berdiri di samping Ibu, menggenggam tangan beliau erat, menatap pria itu lekat-lekat tanpa berkedip. Jauh di lubuk hatiku, peringatan keras terus bergema. Ada sesuatu yang salah di sini. Dan aku akan memastikan Ibu aman, apa pun yang terjadi.

Samudra duduk di kursi tamu, menyandarkan punggungnya dengan santai seakan rumah ini sudah miliknya. Ia meletakkan tangan berhias cincin-cincin emas itu di atas meja, lalu menatap Ibu lekat-lekat dari atas hingga ke bawah. Tatapannya membuatku merinding, tak sopan sama sekali.

"Jadi ini calon istri saya?" tanyanya pada Bibi Wijaya, suaranya berat dan kasar. "Lumayan juga, terawat baik."

Wajahku memerah menahan marah. Bagaimana bisa ia bicara begitu tentang Ibuku seakan barang dagangan? Namun Ibu hanya diam menunduk, menggenggam tanganku makin erat.

Bibi Wijaya tertawa kecil, seakan tak mendengar kata-kata kasarnya itu. "Iya benar, Samudra. Cantik, baik, dan rajin memasak. Pasti kau betah di rumah."

Samudra tersenyum puas, lalu menoleh langsung ke arah Ibu. "Dengar, aku jujur saja. Aku punya tiga istri di rumah, semuanya cantik dan penurut. Kalau kau jadi istri keempatku, kau tak perlu bekerja lagi. Aku akan beri kau rumah sendiri, uang saku tiap bulan, perhiasan yang tak habis-habis. Tinggal kau turuti kemauanku saja, paham?"

Darahku mendidih mendengarnya. Tiga istri dan mau menambah lagi? Dan bicara seenaknya begitu? Aku hendak membuka mulut untuk menegur, tapi Ibu mengisyaratkan dengan jari di bibirnya agar aku diam dulu.

"Terima kasih atas tawaranmu, Samudra," jawab Ibu pelan namun tegas.

Samudra mendengus pelan, Ia berdiri perlahan, menatapku sekilas dengan tatapan tajam yang seakan mengancam. "Anak gadis ini juga cantik, sayang sekali..." gumamnya pelan hanya kami yang mendengar.

Bulu kudukku berdiri seketika. Pria ini sungguh menjijikkan.

Samudra tersenyum lebar, senyum yang sama sekali tak membuat orang merasa nyaman. Ia menatap Ibu dengan penuh keyakinan seakan semuanya sudah sepakat.

"Tidak perlu berpikir terlalu lama, cantik. Tiga hari lagi kita menikah. Sudah semua aku persiapkan. Dari pakaian hingga tamu, tak perlu kau pusingkan."

Ucapannya begitu tenang dan pasti, seakan itu keputusan yang sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat lagi. Ia bahkan tak menunggu jawaban Ibu, seakan jawaban itu sudah pasti iya.

"Tinggal kau hadir saja di pelaminan nanti, itu saja syaratnya," tambahnya sambil berdiri perlahan, merapikan kemejanya yang terasa sempit di tubuhnya. "Sampai jumpa tiga hari lagi, istriku."

Ia melangkah pergi begitu saja tanpa menoleh lagi, diikuti pengawalnya yang diam membisu. Bibi Wijaya menyusul di belakang sambil tersenyum puas, seakan urusan besar ini sudah selesai beres.

Tinggallah kami berdua terpaku. Ibu menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan pria itu. Tiga hari lagi? Tanpa persetujuan? Bagaimana bisa ia memutuskan begitu saja atas hidup Ibu? Dadaku sesak, tapi aku tak akan membiarkan itu terjadi. Apapun yang terjadi, aku tak akan membiarkan Ibu dipaksa menikah dengan pria itu.

 "Ibu setuju?" tanyaku.

"Iya nduk, mau bagaimana lagi. Demi ekonomi kita," jawab Ibu.

Aku menghela napas panjang. "Yasudah kalau Ibu mau. Tapi pikirkan baik-baik ya Bu, masih ada tiga hari."

 Aku berjalan menuju jendela, menatap ke luar tanpa melihat apa-apa. Pikiranku berputar cepat. Tiga hari. Hanya tersisa tiga hari sebelum semuanya berubah. Ibu memang bilang setuju, tapi aku tahu di lubuk hatinya yang paling dalam, beliau tidak mau. Beliau hanya tak punya pilihan lain.

"Bu," ucapku pelan tanpa menoleh, "Ekonomi kita memang sedang sulit, aku tahu itu. Tapi bukan berarti jalan keluarnya harus menikah dengan orang seperti Samudra. Ada cara lain, pasti ada."

Ibu tak menjawab. Hanya terdengar helaan napas panjangnya dari belakang.

"Selama ini kita makan apa saja, pakai apa saja, tetap bisa hidup kan? Susah memang, kadang kurang ini kurang itu, tapi kita bahagia. Kita tenang. Kalau Ibu menikah dengannya, Ibu akan hidup enak memang, tapi bahagia? Aku ragu, Bu. Pria itu punya tiga istri, Bu. Bayangkan bagaimana nasib Ibu nanti, hidup di antara mereka, diatur-atur, mungkin disakiti. Uang bisa dicari pelan-pelan, tapi kalau kebahagiaan Ibu hilang, tak akan bisa dibeli kembali."

Aku berbalik menghadap Ibu, menatapnya lekat-lekat. "Aku bisa bekerja lebih keras. Aku bisa cari tambahan kerja, aku bisa jual apa saja yang bisa dijual, asal jangan nikah dengan dia. Kumohon, Bu."

Ibu menatapku lama, matanya berkaca-kaca namun air matanya tak jatuh. Ia bangkit perlahan, mendekat lalu mengusap pipiku lembut. "Terima kasih ya sudah memikirkan Ibu. Tapi masalah ini tak semudah yang kau kira. Bibi Wijaya sudah terlanjur sepakat, Samudra juga sudah mempersiapkan segalanya. Mundur sekarang bisa berakibat buruk bagi kita."

"Biarkan saja! Kita hadapi bersama!" jawabku tegas menggenggam tangan Ibu. "Selama ini kita selalu berdua kan? Kali ini pun begitu. Kita cari jalan keluarnya bersama, bukan Ibu yang menyerahkan diri sendirian."

Ibu tersenyum tipis, namun raut wajahnya sedikit lebih tenang dari sebelumnya. "Baiklah nduk... tiga hari ini kita pikirkan bersama. Tiga hari itu cukup lama. Siapa tahu ada jalan lain."

Aku mengangguk mantap. "Pasti ada. Asal kita berusaha."

Sore itu kami berdua duduk di ruang tengah sampai matahari terbenam, membicarakan banyak hal, apa saja yang bisa dijual, pekerjaan apa yang bisa kucari, siapa yang mungkin bisa dimintai bantuan. Tak ada jawaban instan memang, tapi setidaknya Ibu tak lagi terlihat pasrah sepenuhnya. Dan itu sudah cukup membuatku lega. Selama masih ada waktu, selama masih ada kami berdua, tak ada yang tak mungkin dihadapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!