NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Nyawaku cuma satu Nona Kacamata, tapi aku tidak punya pilihan selain merebut dokumen itu kembali," balas Bayu menatap lekat mata Anya.

Anya membuang mukanya ke samping karena merasa salah tingkah ditatap sedekat itu oleh Bayu.

"Terserah kamu saja, kalau kamu mati di sana aku tidak mau ikut mengurus pemakamanmu," ketus Anya menyembunyikan rona merah di pipinya.

Clara membereskan kabel laptopnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas ransel hitam miliknya.

"Persiapan kita sudah cukup, mobil van ini masih layak pakai meskipun bumper depannya agak peyok," kata Clara mengambil kunci kontak di atas meja.

"Kita berangkat sekarang sebelum mode pendinginan sistem milik Bayu benar benar habis."

[Pemberitahuan Sistem: Mode pendinginan telah selesai.]

[Energi Waktu kembali pulih ke kapasitas penuh: 25/25.]

Layar biru transparan itu tiba tiba muncul berkedip terang di sudut pandang Bayu.

"Waktu istirahatku sudah habis, saatnya kita mendatangi pesta sambutan mereka," gumam Bayu menarik napas dalam dalam.

Mereka bertiga berjalan keluar dari area garasi tua menuju ke arah mobil van hitam yang terparkir di dalam.

Ceklek.

Bayu membuka pintu depan mobil dan langsung duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi.

Clara menyalakan mesin van yang langsung meraung pelan memecah keheningan malam di pinggiran kota.

Bum.

Mobil van itu melaju mundur keluar dari gerbang besi tua meninggalkan jejak debu tipis di belakangnya.

Perjalanan menuju bukit perbatasan utara memakan waktu sekitar tiga puluh menit melalui jalanan berbukit yang sepi.

Di sepanjang perjalanan tidak ada satupun dari mereka bertiga yang membuka suara untuk berbicara.

Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu tegang dan dipenuhi oleh pikiran masing masing.

Anya terus memeluk lututnya di kursi belakang sambil menatap keluar jendela melihat pepohonan gelap yang berlalu cepat.

"Bayu, apa kamu yakin bisa menghadapi perangkap ruang milik mereka nanti?" tanya Anya memecah keheningan malam dengan suara parau.

Bayu menoleh ke belakang melihat wajah cemas gadis berkacamata itu melalui celah kursi.

"Aku tidak tahu pasti seperti apa bentuk perangkapnya, tapi aku punya kalian berdua yang selalu memberiku info," jawab Bayu tersenyum menenangkan.

"Jangan merayu lewat kata kata basi seperti itu, fokus saja pada pertarungan nanti," potong Clara melirik tajam ke arah spion tengah.

Mobil van hitam itu mulai memasuki kawasan jalanan berbatu menanjak menuju ke arah puncak bukit perbatasan.

Di atas puncak bukit terlihat samar samar kerangka bangunan landasan helikopter tua yang dikelilingi pagar kawat berduri.

Beberapa lampu sorot besar tampak menyala terang menerangi area lapangan helipad tersebut dari kejauhan.

"Kita sudah dekat, matikan lampu utama mobil ini agar tidak ketahuan," instruksi Clara menurunkan gigi persneling mobilnya.

Clara memutar tuas lampu dan membawa mobil van itu merayap pelan di balik rimbunnya semak belukar pinggir jalan.

Mereka berhenti di balik gundukan tanah tinggi sekitar dua ratus meter dari area landasan helikopter utama.

"Dari sini kita jalan kaki saja agar suara mesin tidak memancing perhatian musuh," usul Bayu membuka pintu mobil perlahan.

Clara dan Anya mengangguk setuju lalu ikut keluar merunduk di balik bayangan pepohonan gelap.

Angin malam bertiup sangat kencang menerbangkan helai rambut merah Clara dan jaket usang yang dikenakan Bayu.

Mereka bertiga merayap pelan mendekati pagar kawat berduri yang membatasi area landasan helikopter rahasia tersebut.

"Perhatikan layar kecil di tanganku ini," bisik Clara menunjukkan sebuah alat pemindai frekuensi digital genggam.

"Ada setidaknya sepuluh titik panas energi misterius yang berkumpul di dalam gedung utama helipad."

Bayu menyipitkan matanya menatap bangunan pos pengawas berlantai dua yang berdiri kokoh di dekat landasan beton.

"Apakah Sang Penghapus Jejak ada di dalam gedung itu?" tanya Bayu memastikan target utamanya.

"Sinyal dokumen itu berada tepat di lantai dua ruangan utama pos pengawas," jawab Clara menegaskan posisinya.

Tiba tiba udara di sekitar mereka terasa bergetar hebat aneh mengeluarkan suara dengungan frekuensi rendah.

Bzzzzt.

Bayu merasakan kulit di seluruh tubuhnya merinding hebat seolah ada ancaman tak kasat mata yang mendekat.

"Awas! Ada distorsi spasial yang mendadak aktif di depan pagar itu!" teriak Anya memperingatkan dengan suara tertahan.

Sinar cahaya putih kebiruan mendadak berpendar terang memotong udara kosong di hadapan mereka.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!