Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. Musim Semi dan Janji
Setahun berlalu sejak rahasia Desa Ling dibongkar di depan seluruh istana, dan setahun itu terasa seperti sepuluh tahun bagi Tang Hyun, karena dalam setahun itu dia membangun seratus kuil peringatan, menyantuni tiga ratus keluarga keturunan Desa Ling, membuka sepuluh klinik gratis di Sichuan, dan juga menghadapi tujuh percobaan pembunuhan, dua puluh petisi pemecatan, dan seratus rumor yang lebih tajam daripada pedang, tetapi di tengah semua kekacauan itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu surat yang datang setiap bulan dari Chang'an, surat dengan tulisan tangan Putri Mahkota Li Xinyue yang selalu diakhiri dengan kalimat yang sama, "Biji bunga plum sudah tumbuh setinggi lutut. Kapan kau datang melihatnya?", kalimat yang membuat Tang Hyun tersenyum di tengah rapat Tetua dan yang membuat Tang So-yeon menggeleng sambil bilang "Kau sudah gila cinta", padahal Tang Hyun tahu bahwa dia memang gila, gila karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia punya alasan untuk hidup selain bertahan dan membalas dendam.
Musim semi tahun berikutnya datang lebih awal, dan ketika kabar sampai ke Klan Tang bahwa pohon bunga plum di taman belakang istana sudah mekar penuh, lebih indah dari tahun-tahun sebelumnya karena Putri sendiri yang menyiramnya setiap pagi, Tang Hyun langsung tahu bahwa waktunya sudah tiba, waktu untuk menepati janji yang mereka buat dua tahun lalu di bawah kelopak yang jatuh, janji bahwa ketika perang selesai dan ketika dunia tidak lagi mengejar mereka, mereka akan duduk bersama minum teh tanpa mahkota, tanpa lambang Klan, hanya sebagai Tang Hyun dan Xinyue.
Dia tidak membawa pasukan, tidak membawa hadiah mahal, hanya membawa satu kotak kayu kecil berisi teh terbaik dari Sichuan dan satu surat yang dia tulis selama tujuh malam, surat yang tidak berisi politik, tidak berisi laporan, hanya berisi tentang bagaimana dia akhirnya belajar tertawa lagi dan bagaimana dia ingin mengajari Putri cara membuat racun yang tidak membunuh tetapi menyembuhkan, sebuah surat yang dia simpan di dada dekat jantung selama sepuluh hari perjalanan ke Chang'an.
Setibanya di ibu kota, kota itu berbeda, lebih tenang, karena setelah eksekusi sisa-sisa anak buah Menteri Zhao Wei dan setelah Klan Tang membuktikan diri selama setahun, tidak ada lagi pejabat yang berani berbisik di belakang, dan ketika Tang Hyun masuk ke gerbang istana, para pengawal menunduk lebih dalam dari biasanya, bukan karena takut, melainkan karena hormat, karena semua orang tahu bahwa pria ini adalah orang yang memilih untuk menanggung rasa malu demi menyelamatkan nama baik orang lain.
Jamuan tidak diadakan, karena Putri Mahkota mengirim pesan diam-diam, "Jangan ke aula. Datanglah ke Paviliun Bunga Plum saat senja. Sendiri."
Tang Hyun mengerti, dan saat matahari mulai turun dan langit berubah menjadi jingga keemasan, dia berjalan ke paviliun itu dengan langkah yang lebih gugup daripada ketika dia menghadapi "Jenderal Es", karena musuh bisa dia bunuh, tetapi hati tidak bisa.
Paviliun itu kosong, kecuali satu meja kayu, dua cangkir teh, dan seorang wanita yang berdiri membelakangi pintu, mengenakan jubah biru pucat sederhana tanpa mahkota phoenix, rambutnya diikat longgar dan di tangannya ada gunting kecil, karena dia baru saja memotong beberapa tangkai bunga plum dari pohon di luar untuk ditaruh di vas.
"Xinyue," kata Tang Hyun pelan.
Putri Mahkota berbalik, dan senyumnya adalah senyum pertama yang benar-benar bebas yang pernah Tang Hyun lihat, bukan senyum politik, bukan senyum untuk rakyat, melainkan senyum untuk satu orang, "Kau terlambat satu tahun," katanya.
"Aku minta maaf," jawab Tang Hyun, "jalan ke sini lebih panjang dari yang kukira."
Putri tertawa kecil, "Duduklah. Aku sudah membuat teh. Teh yang kau bilang tidak sepahit teh istana."
Mereka duduk berhadapan, dan untuk beberapa menit tidak ada yang berbicara, hanya suara angin yang membawa kelopak bunga plum masuk melalui jendela dan jatuh ke atas meja, ke atas rambut Putri, ke atas bahu Tang Hyun, seolah langit sendiri ingin menjadi saksi.
"Kau baik-baik saja?" tanya Putri akhirnya.
"Aku baik," jawab Tang Hyun, "karena kau menungguku."
Putri menunduk, pipinya sedikit merah, "Aku juga baik. Karena akhirnya kau datang."
Tang Hyun mengeluarkan kotak kayu dari dalam jubahnya, "Ini untukmu. Teh dari Sichuan. Dan... ini."
Dia mengeluarkan surat itu dan memberikannya, dan Putri Mahkota menerimanya dengan kedua tangan, membacanya perlahan, dan di akhir surat, air matanya jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena lega, karena selama ini dia juga takut bahwa Tang Hyun hanya melihatnya sebagai Putri, bukan sebagai wanita.
"Kau bodoh," kata Putri sambil mengusap air matanya, "kenapa menulis hal seperti ini?"
"Karena aku tidak pintar bicara," jawab Tang Hyun jujur, "jadi aku menulis."
Putri Mahkota melipat surat itu dan menyimpannya di lengan bajunya, dekat jantung, sama seperti Tang Hyun menyimpan surat-suratnya, "Aku akan menyimpannya. Selamanya."
Mereka minum teh dalam diam, dan rasanya memang tidak sepahit teh istana, rasanya seperti rumah, seperti kedamaian setelah perang panjang.
"Kau tahu," kata Putri tiba-tiba, "setelah kau pergi tahun lalu, aku menanam biji yang kau berikan. Dan setiap hari aku takut pohon itu mati. Karena jika pohon itu mati, maka aku pikir... kita juga tidak akan bertemu lagi."
"Tapi pohon itu hidup," kata Tang Hyun, "sama seperti kita."
Putri mengangguk, "Ya. Hidup. Meskipun semua orang bilang kita tidak seharusnya bersama."
Tang Hyun menatap mata Putri, "Lalu bagaimana sekarang, Xinyue? Apa yang Yang Mulia inginkan?"
Putri Mahkota menarik napas, "Aku tidak ingin menjadi Putri Mahkota yang hanya duduk di singgasana dan menikah demi politik. Aku ingin... aku ingin memilih jalanku sendiri. Dan aku memilihmu."
Kata-kata itu membuat dunia Tang Hyun berhenti sedetik, karena dia tahu apa konsekuensinya, seorang Putri Mahkota memilih orang dari Klan Tang berarti perang politik baru, berarti Kaisar akan marah, berarti seluruh istana akan meledak.
"Kau yakin?" tanya Tang Hyun.
"Aku yakin sejak malam di utara ketika kau melindungiku," jawab Putri, "dan aku yakin setiap kali aku membaca suratmu."
Tang Hyun mengulurkan tangannya di atas meja, dan Putri menggenggamnya tanpa ragu, "Maka aku juga memilihmu," kata Tang Hyun, "bukan sebagai Wakil Kepala Klan. Tapi sebagai Tang Hyun. Pria yang ingin menghabiskan hidupnya untuk membuatmu tertawa, bukan menangis."
Mereka berjanji di bawah pohon bunga plum, janji yang tidak disaksikan siapa pun kecuali angin dan bulan, janji bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan berdiri bersama, dan janji bahwa jika dunia menolak mereka, maka mereka akan membangun dunia mereka sendiri.
Tapi dunia tidak memberi mereka waktu lama untuk bahagia, karena tiga hari kemudian, utusan darurat datang ke istana, membawa berita bahwa sisa-sisa Sekte Iblis yang bersembunyi di pegunungan selatan telah bersatu kembali di bawah pemimpin baru, seorang pria yang menyebut dirinya "Raja Racun" dan yang mengaku sebagai keturunan langsung Tetua pertama Klan Tang, pria yang mengatakan bahwa Tang Hyun adalah pengkhianat yang mempermalukan nama Klan dengan berlutut di depan istana dan yang bersumpah untuk "memurnikan" Klan dengan membunuh semua orang yang bekerja sama dengan kekaisaran, dimulai dari Chang'an.
Berita itu membuat seluruh istana gempar, karena jika Sekte Iblis menyerang ibu kota, maka itu bukan hanya perang sekte, melainkan perang melawan kekaisaran.
Kaisar memanggil Tang Hyun ke aula, "Kau tahu orang ini?"
"Aku tidak tahu," jawab Tang Hyun jujur, "tapi aku tahu apa yang dia inginkan. Dia ingin Klan kembali menjadi bayangan, kembali menjadi pembunuh, dan dia akan menggunakan namaku untuk melakukannya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Kaisar.
Tang Hyun berlutut, "Izinkan hamba memimpin pasukan untuk menghentikan dia. Sebelum dia sampai ke sini."
Kaisar menatap Putri Mahkota, yang berdiri di samping dengan wajah tenang tetapi tangan mengepal, lalu Kaisar mengangguk, "Pergilah. Dan bawa kemenangan. Atau jangan kembali."
Tang Hyun berdiri dan menatap Putri, dan dalam tatapan itu ada seribu kata yang tidak bisa diucapkan di depan umum.
Malam sebelum berangkat, mereka bertemu lagi di paviliun, kali ini tidak ada teh, hanya ada keheningan.
"Aku takut," kata Putri pelan, "takut kau tidak akan kembali."
"Aku akan kembali," jawab Tang Hyun, "karena janji kita belum selesai."
"Lalu janji apa yang kau buat sekarang?" tanya Putri.
"Janji bahwa setelah perang ini, aku akan kembali dan meminta izin kepada Kaisar untuk... untuk menikahimu," kata Tang Hyun dengan suara yang bergetar, "secara resmi. Di depan seluruh dunia."
Putri Mahkota menutup mulutnya, air matanya jatuh lagi, "Kau gila. Kau tahu betapa sulitnya itu?"
"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "tapi aku lebih gila jika harus hidup tanpa mencoba."
Putri memeluknya, erat, "Pergilah. Menang. Dan kembalilah."
Tang Hyun mengangguk, mencium kening Putri sekali, ciuman pertama dan satu-satunya yang mereka bagi, ciuman yang tidak nafsu, melainkan janji, "Tunggu aku."
Dia pergi sebelum fajar, memimpin tiga ribu prajurit Klan Tang dan dua ribu prajurit kekaisaran ke selatan, dan perjalanan itu memakan waktu dua puluh hari, melewati sungai, gunung, dan desa yang sudah dibakar oleh "Raja Racun".
Pertempuran besar terjadi di Lembah Naga Hitam, tempat "Raja Racun" menunggu dengan lima ribu orang dan dengan racun yang lebih kejam daripada racun Klan Tang, racun yang dibuat untuk membunuh tanpa pandang bulu.
Pertarungan berlangsung selama dua hari dua malam, dan Tang Hyun bertarung di garis depan, bukan karena dia paling kuat, melainkan karena dia tidak ingin anak buahnya mati karena perintahnya, dan di hari kedua, dia berhadapan langsung dengan "Raja Racun", pria bertopeng yang tertawa ketika melihat Tang Hyun.
"Kau mempermalukan nama Klan," kata Raja Racun, "kau berlutut pada Kaisar. Kau mencintai Putri. Kau bukan Tang."
"Aku adalah Tang," jawab Tang Hyun sambil mengeluarkan jarum, "karena Tang berarti melindungi. Bukan membunuh."
Pertarungan mereka adalah pertarungan racun melawan racun, dan di akhir, Tang Hyun menang, bukan karena racunnya lebih kuat, melainkan karena dia punya sesuatu untuk dilindungi, sementara lawannya hanya punya kebencian.
"Raja Racun" mati dengan mata terbuka, dan dengan kematiannya, sisa Sekte Iblis menyerah atau melarikan diri, dan perang yang sudah berlangsung selama lima tahun akhirnya selesai.
Tang Hyun kembali ke Chang'an dengan tubuh penuh luka, tetapi dengan kepala tegak, dan ketika dia masuk ke gerbang kota, seluruh rakyat keluar untuk menyambut, bukan karena dia pembunuh, melainkan karena dia pahlawan yang mengakhiri mimpi buruk.
Di istana, Kaisar menunggunya di aula, dan di samping Kaisar berdiri Putri Mahkota, mengenakan jubah resmi, tetapi matanya hanya tertuju pada Tang Hyun.
"Kau menang," kata Kaisar.
"Aku menang," jawab Tang Hyun, "demi kekaisaran. Dan demi rakyat."
Kaisar mengangguk, "Minta apa saja. Sebagai hadiah."
Seluruh aula menahan napas, karena semua orang tahu apa yang akan diminta Tang Hyun.
Tang Hyun berlutut, "Hamba tidak meminta emas, tidak meminta tanah. Hamba hanya meminta satu hal. Izin untuk menikahi Putri Mahkota Li Xinyue."
Gaduh, karena itu adalah permintaan yang belum pernah ada dalam sejarah.
Kaisar terdiam lama, lalu dia menatap Putri, "Xinyue, apa kau menginginkannya?"
Putri Mahkota melangkah maju dan berlutut di samping Tang Hyun, "Ya, Ayah. Aku menginginkannya. Dengan seluruh hatiku."
Kaisar menutup mata, "Ini akan membuat banyak orang marah."
"Maka biarkan mereka marah," kata Putri, "karena aku sudah lelah hidup untuk membuat orang lain bahagia."
Kaisar menghela napas panjang, lalu dia tersenyum kecil, senyum pertama yang dilihat Tang Hyun dari Kaisar, "Baiklah. Aku setuju. Pernikahan akan diadakan di musim semi depan, di bawah pohon bunga plum."
Tang Hyun dan Putri menunduk, "Terima kasih, Yang Mulia."
Berita itu menyebar seperti api, dan meskipun ada protes, ada ancaman, tidak ada yang bisa menghentikan, karena keputusan Kaisar adalah mutlak, dan karena rakyat mendukung, karena mereka sudah melihat bagaimana Tang Hyun dan Putri melindungi mereka.
Musim dingin berlalu, dan musim semi datang lagi, dan di hari pernikahan, seluruh Chang'an dihias dengan bunga plum, dan di Paviliun Bunga Plum, di bawah pohon yang sekarang sudah besar, Tang Hyun dan Li Xinyue menikah, bukan dengan kemewahan istana, melainkan dengan kesederhanaan, hanya dengan keluarga, teman, dan janji.
Setelah upacara, mereka duduk di bangku batu, minum teh dari cangkir yang sama, dan Putri bersandar di bahu Tang Hyun.
"Jadi," kata Putri, "kita melakukannya."
"Kita melakukannya," jawab Tang Hyun, "dan kita akan terus melakukannya."
"Kau menyesal?" tanya Putri.
"Tidak," jawab Tang Hyun, "untuk pertama kalinya, aku tidak menyesal apa pun."
Mereka duduk sampai matahari terbenam, dan kelopak bunga plum jatuh di atas mereka, menutupi jubah pengantin mereka seperti berkah.
Di kejauhan, Tang So-yeon melihat mereka dan tersenyum, "Akhirnya," gumamnya, "si Anak Racun menemukan rumahnya."
Dan di langit, bulan purnama bersinar terang, menyaksikan dua orang yang dulunya hidup dalam bayangan, sekarang hidup dalam cahaya, karena mereka memilih cinta di atas kebencian, memilih masa depan di atas masa lalu, dan memilih janji di atas segalanya.
Cerita Tang Hyun dan Putri Mahkota Li Xinyue tidak berakhir di sini, karena masih ada dunia yang harus mereka bangun bersama, masih ada rakyat yang harus mereka lindungi, tetapi untuk malam ini, di bawah pohon bunga plum, mereka hanya menjadi dua orang yang saling mencintai, dan itu sudah cukup.