Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam perayaan
Tiga bulan sejak proyek percobaan pertama dimulai, Studio Kreatif Alinea resmi mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 65 persen, jauh melampaui target awal yang disepakati bersama Cahaya Abadi Investama. Keberhasilan itu membuat Kirana memutuskan mengadakan malam perayaan kecil, mengundang tim inti dari kedua belah pihak sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama yang berjalan lebih baik dari perkiraan siapa pun.
Acara itu diadakan di sebuah restoran dengan konsep semi-outdoor, lampu-lampu gantung kecil menghiasi langit malam yang cerah, jauh dari suasana formal ruang rapat yang biasa mereka gunakan.
"Nggak nyangka bisa sampai sejauh ini," kata Alya, berdiri di dekat pagar balkon restoran sambil memandangi kota dari ketinggian, segelas jus jeruk di tangannya—ia tidak minum alkohol, kebiasaan yang sudah diketahui Dimas sejak beberapa bulan terakhir bekerja sama dengannya.
"Kamu yang kerja keras," jawab Dimas, berdiri di sampingnya, ikut memandangi pemandangan yang sama. "Kami cuma bantu kasih ruang buat kamu berkembang."
"Ruang itu penting banget, Dimas," kata Alya, menoleh menatapnya. "Kamu tahu, dari semua investor yang pernah aku temui, kamu satu-satunya yang bener-bener paham itu."
Kirana, dari kejauhan, memperhatikan interaksi keduanya dengan senyum kecil, sebelum ditegur pelan oleh Pak Hadi yang duduk di sampingnya. "Kelihatan seneng banget lihat mereka berdua," goda Pak Hadi.
"Saya cuma senang lihat Dimas berkembang," jawab Kirana, tersenyum, meski matanya tetap memperhatikan Dimas dan Alya dari kejauhan dengan penuh perhatian, seperti seorang kakak yang diam-diam berharap yang terbaik untuk adiknya.
Reza, yang duduk tidak jauh dari situ, ikut memperhatikan hal yang sama, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih santai dari beberapa bulan lalu. "Kayaknya cuma tinggal tunggu waktu aja," gumamnya pelan pada Rani yang duduk di sebelahnya.
"Tunggu apa, Mas Reza?" tanya Rani, pura-pura tidak mengerti meski senyum di wajahnya menunjukkan sebaliknya.
"Kamu tahu maksud saya," jawab Reza, tertawa kecil.
Di balkon, percakapan antara Dimas dan Alya berlanjut lebih personal seiring malam yang semakin larut. Musik pelan mengalun dari dalam restoran, cukup lembut untuk menemani obrolan tanpa mengganggu.
"Aku mau cerita sesuatu," kata Alya, tiba-tiba terdengar lebih serius. "Waktu pertama kali kamu dateng ke studio aku, aku udah siap nolak kamu kayak investor-investor sebelumnya. Tapi entah kenapa, cara kamu ngomong waktu itu beda. Kamu nggak kelihatan kayak lagi jualan, kamu kelihatan kayak bener-bener pengen ngerti."
"Aku emang pengen ngerti," jawab Dimas jujur. "Waktu itu aku mikir, kalau aku gagal ngerti alasan kamu, aku nggak akan pernah bisa nawarin solusi yang bener-bener cocok buat kamu."
Alya tersenyum, menatap Dimas lama dalam diam yang terasa nyaman, bukan canggung. "Dimas, boleh aku tanya sesuatu yang agak personal?"
"Boleh," jawab Dimas, jantungnya mulai berdebar lebih cepat, entah menduga ke mana arah pertanyaan itu.
"Kamu... lagi deket sama seseorang sekarang? Maksudku, di luar kerjaan?"
Pertanyaan itu membuat Dimas terdiam sesaat, mempertimbangkan jawaban yang tepat. Ini momen yang selama ini ia hindari, tapi juga momen yang, jauh di lubuk hatinya, ia tunggu-tunggu tanpa berani mengakuinya secara terbuka.
"Nggak ada," jawab Dimas akhirnya, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya. "Tapi ada seseorang yang belakangan ini terus aku pikirin, meski aku selalu coba jaga jarak profesional karena posisi kita."
Mata Alya membulat sedikit, menangkap arah pembicaraan itu. "Posisi kita gimana maksudnya?"
Dimas menghela napas, memutuskan untuk jujur sepenuhnya, mengingat nasihat Kirana beberapa bulan lalu—bahwa perasaan itu tidak salah, yang penting bagaimana ia menjaga profesionalismenya di sisi lain.
"Alya, aku—"
Kalimat itu terpotong oleh suara Rani yang tiba-tiba muncul dari dalam restoran, berlari kecil menuju balkon dengan wajah panik.
"Bang Dimas! Bu Kirana nyariin, katanya penting banget, soal klien lain yang tiba-tiba nelepon mendadak!"
Dimas menoleh, terkejut, kehilangan momentum yang baru saja ia bangun susah payah. Ia menatap Alya sekilas, keduanya sama-sama menyadari momen penting itu terpaksa tertunda.
"Aku... harus cek dulu," kata Dimas, terlihat menyesal.
"Nggak apa-apa," jawab Alya, tersenyum meski ada sedikit kekecewaan tersirat di wajahnya. "Kita lanjutin lain kali."
Dimas bergegas masuk ke dalam restoran, mendapati Kirana sedang berdiri di dekat pintu masuk dengan ekspresi serius, ponsel di tangannya.
"Ada masalah apa, Bu?" tanya Dimas, mencoba fokus meski pikirannya masih separuh tertinggal di balkon.
"Klien lama kita, PT Nusantara Kreatif, tiba-tiba minta pertemuan darurat besok pagi," jawab Kirana. "Katanya ada masalah serius soal laporan keuangan yang mereka temukan, dan mereka minta kamu yang langsung tangani, karena kamu yang paling paham detail proyek mereka."
Dimas mengangguk, meski di dalam hati merasa momen penting dengan Alya baru saja terganggu di saat yang paling krusial. "Baik, Bu. Saya siapkan semua materi malam ini juga."
Kirana memperhatikan ekspresi Dimas sejenak, cukup peka untuk menangkap ada sesuatu yang mengganjal di balik kesigapannya menjawab. "Kamu kelihatan kayak lagi di tengah momen penting tadi," katanya, tersenyum kecil, penuh pengertian. "Maaf ganggu. Tapi ini memang mendesak."
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Dimas, mencoba tersenyum meski kekecewaan masih terasa. "Kerjaan tetap prioritas."
Malam itu, sebelum benar-benar pulang, Dimas sempat kembali ke balkon sebentar, mendapati Alya masih berdiri di sana, menatap kota yang berkelap-kelip di kejauhan.
"Aku harus pulang duluan," kata Dimas. "Ada urusan mendadak."
"Aku ngerti," jawab Alya, tersenyum tulus meski matanya menyimpan sedikit kekecewaan yang sama seperti Dimas rasakan. "Kapan-kapan, kita lanjutin obrolan tadi, ya?"
"Pasti," jawab Dimas, mantap.
Ia berjalan pulang malam itu dengan perasaan campur aduk—kekecewaan karena momen pentingnya tertunda, tapi juga harapan baru yang mulai tumbuh jelas di dalam hatinya, bahwa perasaan itu, cepat atau lambat, akan menemukan waktu yang tepat untuk benar-benar diungkapkan.