NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Racun Berbalut Manis

Kantin SMA Nusa Bangsa sedang padat-padatnya saat Darel menuntun Aira ke salah satu meja kosong di sudut ruangan. Suasana riuh riang para siswa seketika agak mereda di sekitar mereka. Kehadiran Darel sebagai siswa baru yang tampan, rapi, dan berwibawa langsung menjadi pusat perhatian—terlebih saat melihat siapa yang sedang ia dampingi: Aira, cewek yang baru saja dipermalukan di lapangan indoor.

"Kamu duduk dulu di sini ya. Saya belikan makanannya," ucap Darel lembut. Tangannya menepuk pelan bahu Aira sebelum melangkah menuju area stan makanan.

Aira menunduk rapat, meremas pinggiran rok seragamnya. Tatapan dan bisik-bisik dari siswa di meja lain terasa menusuk kulitnya.

"Itu bukannya cewek yang tadi disuruh-suruh Vino?"

"Kok bisa dekat sama cowok baru itu ya?"

"Dih, palingan cuma kasihan doang..."

Tak butuh waktu lama, Darel kembali membawa nampan berisi semangkuk soto ayam hangat, sepotong roti, dan teh manis hangat. Ia menata makanan itu tepat di hadapan Aira dengan telaten, seolah Aira adalah sesosok cewek yang sangat berharga.

"Makan ya, Aira. Habiskan," kata Darel, tersenyum manis seraya mendudukkan diri di kursi depan Aira.

"Ka—Kak Darel... makasih banyak," bisik Aira terbata-bata. Matanya berkaca-kaca menatap mangkuk soto hangat di depannya. "Tapi aku gak enak... aku gak punya uang buat ganti..."

Darel terkekeh pelan. Suaranya terdengar begitu hangat dan menenangkan di tengah bisingnya kantin. "Siapa yang minta diganti? Saya belikan ini ikhlas buat kamu. Lagian, masa sama sepupu Vino sendiri saya perhitungan?"

Aira menyendok sotonya perlahan. Rasa hangat kuah gurih itu sedikit meredakan gemetar di tubuhnya akibat kelelahan dan rasa lapar sejak pagi. Darel memperhatikan setiap gerakan Aira dengan tatapan teduh—tatapan yang belum pernah Aira dapatkan dari Vino selama tinggal di rumah Pradipta.

"Vino sering nyuruh-nyuruh kamu kayak tadi?" tanya Darel pelan, memiringkan kepalanya sedikit.

Aira menghentikan sendoknya. Ia ragu untuk menjawab, takut salah kata. "...Vino cuma nagih tugas yang emang harus aku kerjain, Kak. Aku kan tinggal di rumah keluarganya, jadi udah seharusnya aku bantu-bantu."

Darel menghela napas panjang, memasang raut wajah prihatin yang begitu alami. "Tapi kamu itu calon tunangannya, Aira. Bukan pembantu."

Kalimat itu memukul telak ulu hati Aira. Aira menunduk makin dalam, menyembunyikan matanya yang mulai memerah menahan tangis.

"Paman sama Tante di rumah mungkin sibuk sama urusan bisnis, jadi mereka gak tahu gimana perlakuan Vino ke kamu di sekolah," lanjut Darel, suara pelannya terdengar bagai bisikan pahlawan yang memahami penderitaannya. Darel mengulurkan tangan, mengusap jemari Aira yang dingin di atas meja. "Kasian kamu, Aira... harus nanggung beban seluar biasa ini sendirian. Kalau saya jadi Vino, saya gak akan pernah biarin cewek seluar-biasa kamu diperlakukan kayak gitu."

Aira mendongak perlahan, menatap mata Darel. Di sana, yang terlihat oleh Aira hanyalah ketulusan dan keprihatinan yang murni. Aira tidak sadar bahwa di balik kata-kata manis itu, Darel sedang menanamkan benih doktrin halus: Vino itu jahat, dan hanya Darel yang mengerti dirimu.

"Mulai sekarang, kalau Vino suruh-suruh kamu lagi, kamu bilang ke saya ya?" bujuk Darel halus. "Biar saya yang gantikan tugas kamu. Kamu gak usah takut lagi."

"Jangan, Kak Darel... nanti Vino marah sama Kakak," sahut Aira panik.

Darel tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang tak sanggup diartikan oleh Aira. "Biarkan dia marah. Bagi saya, keselamatan dan kenyamanan kamu jauh lebih penting daripada emosi sesaat Vino."

Hati Aira yang hampa dan ketakutan seketika diliputi perasaan hangat yang membuncah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak lagi sendirian di dunia ini.

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Seperti biasa, Aira harus menunggu di dekat area parkir untuk membawakan tas sekolah Vino yang berat.

Tak lama, Vino berjalan keluar koridor bersama Caren. Vino tampak acuh tak acuh, memegang es kopi kemasan, sementara Caren terus mengoceh di sampingnya. Begitu melihat Aira berdiri di pinggir jalan dekat mobilnya, Vino melempar kunci mobil ke arah Aira.

Aira dengan sigap menyambut kunci itu meski hampir terjatuh.

"Buka bagasi, taruh tas gue," perintah Vino datar tanpa menghentikan langkahnya. "Habis itu lu naik angkot balik ke rumah. Nanti malam lu ikut gue ke supermarket buat beli belanjaan dapur yang habis."

"Iya, Vin—"

"Biar saya saja yang antar Aira pulang, Vino."

Suara Darel kembali memotong. Pria itu muncul dari balik barisan mobil parkir, melangkah tenang dengan senyum khasnya. Ia mengambil tas berat dari tangan Aira sebelum Vino sempat menanggapi.

Vino menghentikan langkahnya, menatap Darel dengan alis berkerut malas. "Lu lagi. Lu ngapain sih ikut-ikutan terus dari tadi pagi?"

"Gue cuma mau bantu Aira," jawab Darel santai. "Kebetulan gue juga mau balik ke rumah. Aira biar balik bareng gue naik mobil. Kasihan dia kalau harus desak-desakan naik angkot jam pulang sekolah gini."

Caren yang berdiri di samping Vino melipat tangannya, mendengus sinis. "Dih, perhatian banget sih kamu sama cewek kayak gini? Kamu gak malu apa, Darel?"

Darel menoleh pada Caren, tersenyum sopan namun dingin. "Menolong orang yang butuh bantuan itu gak pernah bikin malu, Caren."

Vino melirik Aira yang berdiri kaku di belakang Darel. Rasa risih mulai muncul di benaknya—bukan karena cemburu, tapi karena Vino merasa Darel terlalu sok pahlawan dan ikut campur urusan rumahnya.

"Terserah lu dah, Rel," kata Vino akhirnya sambil mendengus kasar. Ia membukakan pintu mobil sports-nya untuk Caren. "Kalau lu emang hobi jadi supir gratisan buat dia, bawa aja. Lumayan, duit ongkos angkotnya bisa dihemat."

Vino langsung masuk ke mobil dan menancap gas, meninggalkan deru mesin dan kepulan asap di hadapan mereka.

Darel menoleh pada Aira, matanya memancarkan rasa puas yang tak terlihat. "Yuk, Aira. Masuk ke mobil saya."

"Makasih banyak ya, Kak Darel..." ucap Aira tulus, merasa sangat bersyukur.

Aira berjalan menuju mobil Darel dengan perasaan lega. Di dalam benak polosnya, Aira merasa telah menemukan sesosok pelindung. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam mobil Darel yang harum dan tenang itu, ia justru sedang melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik seorang master manipulasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!