NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Sang CEO

Pernikahan Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu yang disembunyikan

Tiga hari berlalu setelah Aurelia mentanda tangani surat kontrak antara dirinya dan Nathaniel. Kini, ia masih bekerja di kantornya, kembali bergelut dengan tumpukan dokumen yang perlu ia periksa.

Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Aurelia menoleh pada Tyana yang baru saja datang membawa nampan yang berisikan dua cangkir kopi dan teh hangat.

Tyana menghampiri meja Aurelia lalu meletakkan secangkir teh hangat.

"Teh hangat tanpa gula, nona." Ucap Tyana seraya berjalan ke arah meja kerjanya.

Aurelia tersenyum hangat. "Terimakasih, Tyana." Tangannya bergerak menggeser cangkir teh itu dengan hati-hati.

"Dengan senang hati, nona." Tyana berucap setelah mendudukkan dirinya di kursi.

Aurelia meraih cangkir itu, lalu meminumnya sedikit demi sedikit.

"Ada undangan makan malam dari keluarga Alister, nona." Ucap Tyana setelah memeriksa beberapa pesan yang masuk di laptopnya.

Aurelia terdiam sesaat. Ia merasakan uap teh yang menerpa wajahnya. Kemudian kembali meletakkan cangkir itu dengan hati-hati.

"Papa juga di undang?" Tanya Aurelia memastikan.

Tyana mengangguk pelan. "Iya, nona. Tuan Giovani juga diundang." Timpalnya pelan kemudian meraih cangkir kopi miliknya.

Aurelia terdiam, matanya menatap lurus pada jendela. Ia mengetukkan jemarinya secara perlahan.

Undangan makan malam.

Tapi ia datang sebagai calon istri dari Nathaniel Alister, bukan lagi rekan bisnis. Ketika mengingat kenyataan itu, entah kenapa jantung Aurelia selalu berpacu dua kali lebih cepat. Ia selalu berpikir... Bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti. Apalagi pernikahan mereka hanya menghitung minggu.

Lalu ia teralihkan pada bunyi panggilan di ponselnya.

Matanya menyorot tajam pada nama yang tertera di layarnya.

Nathaniel Alister.

Ia hanya berpikir sebentar, lalu meraih ponsel dan mengangkat panggilannya.

"Selamat pagi, Aurelia."

Aurelia mendengar suara Nathaniel setelah ia menempelkan benda pipih itu di samping telinga.

"Iya, tuan Nathaniel?" Aurelia menyipitkan matanya tanpa membalas sapaan pria itu.

"Apa anda sudah mendapat surat undangannya?"

Aurelia diam sejenak, ia menghembuskan napas kecil, lalu melirik sekilas ke arah Tyana.

"Iya. Tyana sudah memberitahu." Timpal Aurelia seadanya. Ia belum terbiasa mengobrol dengan Nathaniel diluar kerjaan.

"Saya harap anda datang tanpa mengenakan pakaian yang terlalu formal."

Kedua alis Aurelia mengeryit.

"Kenapa?"

"Karena nanti malam. Yang Saya ingin lihat adalah calon istri saya, bukan rekan kerja."

Aurelia membeku. Entah kenapa hatinya sedikit merasa tidak nyaman dengan ucapan Nathaniel barusan.

Calon istri?

"Iya baiklah, saya mengerti."

"Jika tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya matikan ponselnya. Ini masih di jam kerja."

"Tidak ada. Terimakasih atas waktunya, Aurelia."

Aurelia mematikan panggilan. Ia buru-buru meletakkan ponselnya di atas meja. Tangannya bergerak memeluk tubuhnya. Aurelia belum terbiasa dengan ini semua.

"Apa bahasa anda tidak terlalu formal untuk berbicara pada calon suami?"

Aurelia langsung menoleh pada Tyana. Ia terdiam dan berpikir keras. Bagaimana bisa ia lupa keberadaan Tyana disini. Kalau ia sadar, pasti ucapannya tidak akan sekaku tadi.

Wanita itu menegakkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya kecil.

"Aku tidak mempermasalahkan itu selama ini. Aku belum terbiasa, Tyana. Aku sudah biasa menganggap dia sebagai rekan kerja." Ucap Aurelia disertai kekehan kecil.

Tyana hanya menganggap pelan.

"Mungkin anda harus membiasakan diri."

Ucap Tyana lalu kembali menatap laptopnya. Ia tidak benar-benar mempermasalahkan hal ini. Karena Tyana tahu, ketika menjalin hubungan dengan Adriant pun... Ucapan Aurelia selalu kaku, ia seperti tidak bisa mendeskripsikan rasa sayang yang sesungguhnya. Bahkan, ia selalu menutupi lukanya dengan senyuman.

"Apa kita perlu membeli pakaian untuk makan malam nanti, Tyana?" Aurelia menatap Tyana. Ia sedang gelisah dan membutuhkan pendapat.

Tyana menggidikkan bahunya.

"Kalau saya sendiri tidak perlu, nona. Tapi untuk anda... Itu pilihan anda. Setahu saya pakaian anda sudah banyak." Ucap Tyana tanpa berpikir panjang. Untuk apa dia harus membeli pakaian? Dia sudah cukup mengenakan jas dan celana hitam seperti biasa. Tapi kalau Aurelia.. Mungkin memang perlu, karena nanti malam adalah hal penting.

Aurelia mendesah pendek.

"Bantu aku pilihkan baju." Ia beranjak dan meraih ponsel, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Tyana melebarkan pupilnya.

"Kita beli baju baru sekarang, nona?" Ucapnya memastikan. Perintah Aurelia terlalu mendadak tanpa aba-aba.

Aurelia mengangguk cepat.

"Iya. Aku ingin baju yang elegant tapi terlihat santai. Baju di lemariku terlalu formal, adapun yang santai.. Terlalu sering aku pakai."

"Baik, nona." Timpal Tyana ragu. Padahal, kata sering yang dipakai Aurelia adalah dua kali. Atasannya itu hanya memakai baju tidak lebih dari dua kali. Selebihnya ia akan memberikannya pada pelayan. Ini adalah salah satu sifat yang kurang disukai Tyana dari Aurelia. Tapi perlu ditekankan. Aurelia seorang wanita, ia sangat suka jika dengan hal-hal yang berkaitan dengan penampilan sampai mempercantik diri.

Dan jika Tyana tidak salah dengar. Aurelia mematikan panggilan karena ini adalah jam kerja. Tapi diwaktu kerja, Aurelia pergi berbelanja.

"Saya harap tidak terlalu lama, nona."

Aurelia mendesah sebelum melewati pintu.

"Aku bahkan belum keluar dari kantor. Tapi kamu sudah memberikan peringatan." Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil. Tyana terlalu disiplin, ia sangat tidak suka membuang waktu.

"Pekerjaan saja masih banyak, nona." Perjelas Tyana, tidak bermaksud lancang.

Aurelia mulai melangkahkan kakinya. Tujuan sebenarnya bukan hanya membeli pakaian, tapi ada satu urusan penting. Ia juga tidak suka membuang waktu, apalagi hanya untuk membeli pakaian.

Aurelia dan Tyana akhirnya meninggalkan gedung perusahaan.

Namun, alih-alih langsung menuju pusat perbelanjaan, Aurelia justru meminta sopirnya membawa mereka ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari kawasan perkantoran.

Tyana yang duduk di sampingnya langsung menoleh.

"Nona, bukankah kita mau membeli pakaian?"

Aurelia masih sibuk memeriksa ponselnya.

"Kita memang akan membeli pakaian."

"Lalu kenapa kita ke sini?"

Aurelia mengunci layar ponselnya. Tatapannya beralih ke Tyana.

"Aku punya janji dengan seseorang."

Tyana mengangkat sebelah alis.

"Seseorang?"

Aurelia hanya mengangguk. Tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Dan beberapa menit kemudian mereka berhenti di sebuah restoran.

"Ikut aku, Tyana." Titah Aurelia, lalu turun dari mobil setelah Leon membukakan pintunya.

"Baik, nona." jawab Tyana cepat dan buru-buru keluar dari mobil.

Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki restoran. Setelah melewati pintu masuk, mata Aurelia beredar mencari seseorang.

Bibirnya melengkungkan senyum tipis setelah menemukan seorang yang ia cari. Kakinya mulai melangkah menghampiri.

Seorang pria yang sudah duduk disana langsung beranjak berdiri.

"Selamat siang, nona." Ucap pria itu sopan.

Aurelia mengangguk kecil.

"Silahkan duduk, Tyana." Aurelia menarik kursi dan mendudukkan dirinya setelah mempersilahkan Tyana. Mereka duduk tenang disana. Tyana hanya mengamati tanpa bertanya lebih jauh.

"Ini adalah berkas-berkas yang anda butuhkan."

Aurelia menatap beberapa berkas yang baru saja disodorkan pria itu. Bibirnya masih melengkung tipis, lalu tangannya bergerak meraih berkas itu.

"Apa kau sudah mendapatkan semua yang aku minta?" Aurelia menarik senyumnya. Rautnya berubah serius.

"Sudah, nona. Tapi ada beberapa yang tidak bisa saya jangkau. Pertahanan informasi yang lebih dalam tentang keluarga Alister terlalu sulit ditembus." Ucap pria itu dengan sedikit raut tegang.

Tyana langsung menoleh pada Aurelia. Ia tahu tujuan pertemuan kali ini.

"Apa yang tidak bisa kamu dapatkan?" Aurelia menyipitkan matanya. Ia cukup mengenal orang yang ada dihadapan saat ini.

"Mengenai beberapa perusahaan yang pernah bekerjasama dengan mereka. Ada beberapa yang ditutup rapat. Dan juga mengenai masa lalu tuan Nathaniel."

"Maaf, nona. Apa anda perlu mengetahui sampai ke masa lalu, tuan Nathaniel?"

Aurelia langsung menoleh pada Tyana. Ia menunjukkan senyum miring yang tidak biasa.

"Aku harus tahu dengan siapa aku akan hidup, Tyana."

1
Yayaa
seruu
Yayaa
lanjut ka
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Yayaa
semangat
Yayaa
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!