Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pengantin yang Hilang
Hujan rintik-rintik seolah turut meratapi suasana di dalam aula pernikahan termewah di kota itu. Lampu gantung kristal yang berkilauan memantulkan cahaya keemasan, menyinari deretan tamu undangan yang sebagian besar adalah tokoh terpandang, pejabat, dan rekan bisnis berpengaruh. Namun, kemegahan itu terasa hampa, bahkan seakan mencekik, ketika mata semua orang tertuju pada satu sosok yang duduk diam di atas kursi roda di pelaminan.
Itu adalah Argan Adhyaksa—pewaris tunggal keluarga konglomerat Adhyaksa, pemimpin perusahaan yang namanya disegani di seluruh negeri. Tubuhnya tegap namun terlihat kaku, kemeja jas putih yang disesuaikan dengan sempurna menutupi bekas luka yang masih terasa perih, bukan hanya pada tubuhnya yang lumpuh sejak kecelakaan setahun silam, melainkan juga pada hatinya yang lama tertutup rapat. Wajahnya tampan namun dingin, matanya yang tajam tak menyiratkan sedikit pun kegembiraan yang seharusnya dimiliki seorang pengantin pria. Hanya ada kekosongan, dan sedikit rasa lelah yang tak mampu ia sembunyikan.
Ia sudah tahu sejak awal pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian. Perjanjian yang disusun oleh kedua orang tuanya, untuk menyatukan keluarga Adhyaksa dengan keluarga tunangannya, Aisyah. Sebuah pernikahan yang dimaksudkan untuk menjaga nama baik keluarga, memperkuat kerja sama bisnis, dan memastikan bahwa tak ada yang tahu betapa hancurnya dirinya pasca kecelakaan itu. Argan setuju, bukan karena cinta, melainkan karena ia sudah tak punya alasan untuk menolak—setelah kecelakaan itu merenggut kemampuannya berjalan sekaligus harapan bahwa ia akan pernah dicintai apa adanya.
Jam dinding di ujung aula berdentang pelan, tepat menunjukkan pukul delapan malam. Upacara seharusnya sudah dimulai sepuluh menit yang lalu. Namun, sosok yang seharusnya berdiri di sampingnya—Aisyah—tak kunjung muncul.
Bisik-bisik pelan mulai terdengar di antara tamu undangan. Awalnya samar, lalu perlahan makin nyaring.
“Mana pengantin wanitanya?”
“Bukankah undangan sudah menyatakan mereka akan menikah hari ini?”
“Dengar-dengar dia tak mau menikah dengan pria yang tak bisa berjalan...”
“Kasihan sekali Tuan Muda Argan...”
Setiap bisikan itu terasa seperti jarum yang menusuk perlahan ke dalam dada Argan. Rahangnya mengeras, tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi roda mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah menduga hal ini mungkin terjadi. Aisyah selalu terlihat ragu setiap kali mereka bertemu, dan tatapannya yang penuh rasa iba perlahan berubah menjadi rasa jijik yang tak bisa disembunyikan. Namun, ia tak pernah menyangka wanita itu akan berani melarikan diri tepat di hari pernikahan mereka, di hadapan semua orang yang mereka kenal.
Saat kebingungan mulai berubah menjadi keributan kecil, seorang wanita muda melangkah masuk ke dalam aula dengan langkah ragu. Ia mengenakan gaun pengantin sederhana yang sedikit kebesaran, wajahnya pucat pasi namun matanya berkilat penuh keteguhan yang tak terduga. Itu adalah Aruna—adik kandung Aisyah.
Ia berjalan melewati barisan tamu yang menatapnya heran, langkahnya gemetar namun tak berhenti sampai ia berdiri tepat di samping Argan. Dengan suara yang sedikit bergetar namun jelas terdengar oleh siapa saja yang mendengarnya, ia berkata:
“Maafkan keterlambatan saya... Saya Aruna, pengantin wanita Tuan Argan malam ini.”
Kata-kata itu membuat seluruh aula mendadak senyap total. Bahkan Argan sendiri tertegun menatap wanita di hadapannya itu, matanya menyiratkan tanya yang besar—tak mengerti mengapa adik tunangannya yang menghilang justru datang menggantikan posisinya, dan apa yang sebenarnya tersembunyi di balik keputusan mendadak itu. Aruna menatapnya balik, menyembunyikan rasa takut dan sedih yang mendalam di balik senyum tipisnya, menyadari bahwa langkah yang baru saja ia ambil akan mengubah seluruh hidupnya dan hidup pria dingin di hadapannya itu selamanya.