NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: jalan keluar

Pendar cahaya obor merambat kian dekat. Gema derap langkah prajurit membentur dinding batu lorong, menciptakan kegaduhan yang kian gawat.

Jayengrana serta-merta bangkit berdiri. Kondisi istrinya terlampau ringkih dan lemas untuk diajak berlari kencang. Ia mencekal lembut kedua bahu wanita itu.

"Apakah kau sanggup menapakkan kaki?"

Istrinya mengangguk tegas. "Jika keadaannya mendesak."

Jayengrana mengambil selembar kain rumbia dari sudut sel, membungkus sebagian wajah istrinya agar terhindar dari debu dan serpihan. "Kita akan mengambil rute pelarian yang berbeda."

Baru beberapa tindak mereka melangkah keluar dari ambang sel...

Pekikan garing bergaung keras dari sudut jauh koridor. "ADA PENYUSUP! TAHAN MEREKA!"

Jayengrana menarik napas dalam-dalam. "Jaka!"

Sesosok tubuh mungil melompat keluar dari balik tumpukan rak. "Aku berada di sini!"

"Ikut aku!"

Mereka bertiga melesat menuju rute saluran air. Di belakang mereka, belasan pengawal berzirah mulai bergerak memburu. Bilah-bilah tombak dilontarkan menembus kegelapan.

Srak!

Sebilah tombak besi menghantam dinding batu, menyisakan jarak hanya beberapa jengkal dari pelipis Jayengrana. Ia tak mengendurkan kecepatan sedikit pun.

Mereka tiba di celah saluran air. "Jaka, merangkaklah lebih dulu!"

Anak itu meluncur cepat ke dalam celah, disusul oleh istri Jayengrana, sebelum akhirnya Jayengrana menutup barisan paling belakang.

Lorong sempit itu memaksa mereka merangkak merapat ke ubin yang basah. Lengkingan teriakan para pengawal masih memantul nyaring dari arah belakang.

"Kejar sampai ujung! Jangan biarkan sesosok pun lolos hidup-hidup!"

Jayengrana menoleh tajam. Sorot obor musuh mulai merayap memasuki mulut saluran. Ia memacu gerakannya, namun sang istri mendadak tersandung ceruk batu. Dengan sigap, Jayengrana meraih jemarinya.

"Mari, kuapit lenganmu."

"Aku masih sanggup menahannya," sahut istrinya menahan nyeri.

"Aku percaya padamu."

Mereka terus merayap maju menembus kegelapan. Beberapa saat kemudian, saluran air tersebut terbelah menjadi dua cabang rute.

Jaka menghentikan gerakannya. "Ambil rute sebelah kiri!"

Jayengrana menatap dua lorong yang sama-sama pekat. "Kau yakin dengan pilihan ini?"

"Sangat yakin!"

Tanpa ragu, mereka berbelok menerobos lorong kiri. Setelah memacu gerakan sejauh belasan langkah, terpaan hawa dingin yang segar mendadak menyapu paras mereka.

Rute pelarian itu bermuara di alam terbuka. Sebuah anak sungai kecil mengalir tenang di pinggiran benteng belakang Gedung Utara.

Jaka menyembul keluar lebih dahulu, disusul istri Jayengrana, lalu Jayengrana sendiri. Ia menghirup udara malam dalam-dalam, membiarkan dadanya terisi kesegaran.

Namun, sebelum mereka sempat menguraikan kelegaan...

Gema dentang genta bahaya menggelegar dahsyat dari puncak benteng batu.

Teng! Teng! Teng!

Seluruh penjuru Gedung Utara seketika terbangun dan terhenyak geger.

Jayengrana menatap lekat paras istrinya yang pucat. "Kita harus segera bergeser dari area ini."

Tanpa menunggu persetujuan, ia memboyong wanita itu ke dalam gendongannya.

"Aku masih sanggup melangkah, Jayengrana..."

"Tidak. Pergelangan kakimu terluka parah."

Istrinya membisu, merebahkan kepalanya di bahu Jayengrana.

Jaka berlari lincah memandu rute di depan. Mereka menyusuri tepian sungai, menerobos kerapatan vegetasi hutan di luar benteng. Di belakang mereka, teriakan frustrasi para prajurit berangsur memudar telan jarak.

Setelah menjelajah jauh ke dalam lebatnya rimba, mereka memutuskan berhenti untuk berlindung di bawah naungan pohon tua berukuran raksasa.

Istri Jayengrana disandarkan pelan pada pangkal akar, sementara Jaka meringkuk kelelahan di sisinya. Jayengrana tetap berdiri tegak, pasang mata mengawasi tiap jengkal kegelapan sekitar.

Suasana hening sejenak. Hanya derak gemercik air sungai, desir angin malam, serta helaan napas mereka yang bersahutan.

Istrinya menatap raut raga penyamaran "Saka" yang teramat asing di matanya. "Apakah ini benar-benar kau... Jayengrana?"

Jayengrana menyunggingkan senyum tipis yang amat dikenal wanita itu. "Bila bukan aku, siapa lagi yang mengetahui rahasia kecilmu yang kerap menyembunyikan bongkahan gula aren di bawah selimut?"

Wanita itu tertawa kecil menahan keharuan. Air matanya kembali merebak menetes di pipi. "Dasar kau ini..." Ia memekap wajahnya. "...artinya kau benar-benar masih bernapas di dunia ini."

Jayengrana berlutut di sisinya. "Aku terlambat datang menyelamatkanmu."

"Sama sekali tidak," sahut istrinya seraya menggeleng pelan. "Kau hadir tepat pada saat harapan itu hampir padam."

Kalimat itu mengendap hangat di sanubari Jayengrana.

Seketika itu pula, simpul perjanjian di dadanya menyengat hangat—jauh lebih pekat dan kuat dibanding getaran-getaran sebelumnya.

Gema suara Penunggang Perjanjian merayap dalam benaknya. "Jayengrana..."

Ia menundukkan pandangannya. 'Aku mendengarmu.'

"Kau lebih memilih menyelamatkan tiga nyawa tak berdaya... dibanding membalaskan dendam pada sosok yang telah mengkhianatimu."

Jayengrana memilih membisu.

"Garis perjanjian ini mencatat dengan cermat pilihan jiwamu."

Kehangatan murni menyebar merata ke seluruh jaringan pembuluh darahnya. Namun... tak ada pendar kemampuan baru yang terkuak. Tak ada manifestsasi jurus maupun transformasi fisik yang terjadi. Hawa hangat itu perlahan mereda begitu saja.

Jayengrana mengernyitkan dahi. 'Mengapa tidak ada simpul kekuatan baru yang terbuka?'

Penunggang Perjanjian menyahut dingin namun tenang. "Karena kesadaranmu belum menyentuh hakikatnya."

'Apa maksudmu?'

"Kebajikan murni bukanlah sebuah barang dagangan yang bisa kau pertukarkan. Jangan pernah mengulurkan pertolongan hanya karena dahaga akan kelimpahan kekuatan. Bila niatmu ternoda oleh keserakahan semacam itu... perjanjian gaib ini akan menjelma menjadi ketakutan terbesarmu."

Gema suara itu perlahan menguap lenyap.

Jayengrana menatap aliran air sungai di kegelapan. Ia mulai menangkap makna di balik titah tersebut. Kekuatan bukanlah muara akhir yang dikejar, melainkan keberanian mempertahankan kemanusiaan. Perjanjian gaib itu semata-mata cermin yang memantulkan tiap keputusan moral yang ia ambil.

Keriuhan burung malam mendadak memecah keheningan.

Jaka mendadak bangkit, jemari kecilnya menunjuk ke arah kerapatan pepohonan. "Saka..."

"Ada apa, Jaka?"

"Ada sosok yang mengintai di sana."

Jayengrana seketika bersiaga, jemarinya mencekal erat gagang tombak berbungkus kainnya.

Di antara jalinan dahan dan bayang kelam malam, berdiri sesosok raga yang tak bergerak. Sosok itu tak menunjukkan iktikad menyerang, hanya bersedekap menanti dalam diam.

Suara parau khas yang akrab mendadak memecah sunyi. "Pencapaian yang tak buruk. Setidaknya kali ini kau tak perlu membuang waktu memburuku."

Pengemis Tua melangkah santai keluar dari balik rindang pohon, mengayunkan kendi arak di tangannya seraya menyunggingkan senyum misterius.

"Sekarang..." desis lelaki tua itu seraya menatap Jayengrana lekat-lekat, "...kita musti bersiap menghadapi kemelut yang jauh lebih besar."

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!