NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sinar matahari pagi masuk lewat celah jendela ruang kerja Dimas.

Tapi pria itu sama sekali tidak peduli dengan cahaya yang menyilaukan matanya.

Dimas hanya duduk diam di kursi kerjanya sejak semalam.

Tatapan matanya kosong melihat ke arah lantai.

Nafasnya terdengar berat dan kasar.

"Sialan."

"Ini semua tidak mungkin terjadi padaku."

Dimas bergumam sendiri dengan suara serak.

Dia mengambil ponselnya dari atas meja dengan tangan gemetar.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar keras.

Kriet.

Pintu ruangan terbuka lebar dengan paksa.

Rina berlari masuk dengan nafas terengah-engah.

"Dimas."

"Kau harus lihat berita pagi ini."

Rina meletakkan sebuah tablet ke atas meja kerja Dimas.

Nafas wanita itu masih belum teratur.

"Apa lagi sekarang, Rina?"

"Kau tidak lihat aku sedang pusing mencari pinjaman dana?"

Dimas membalas dengan nada tinggi.

"Saham perusahaan kita sudah hancur total."

"Semua orang menolak panggilan telepon dariku."

"Lalu apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini?"

Rina menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Matanya terlihat merah seperti habis menangis.

"Ini soal Rumah Sakit Pratama."

"Semua dokter spesialis senior mengundurkan diri pagi ini."

"Mereka bahkan membawa semua perawat kepala pergi."

Dimas langsung berdiri dari kursinya.

Matanya membelalak lebar menatap Rina.

"Kau bicara apa?"

"Bagaimana mungkin mereka berani keluar begitu saja?"

"Aku yang membayar gaji mereka selama ini."

Rina menunjuk layar tablet yang menyala itu.

"Lihat sendiri beritanya, Dimas."

"Izin operasional rumah sakit kita dibekukan oleh kementerian kesehatan tadi subuh."

"Alasannya karena ada laporan malapraktik dan pencucian uang di sana."

Dimas merebut tablet itu dengan kasar.

Dia membaca rentetan kalimat di layar dengan mata terbuka lebar.

"Ini gila."

"Siapa yang berani melaporkan hal seperti ini?"

"Aku sudah menyuap semua orang di kementerian itu."

Dimas melempar tablet itu ke lantai.

Prang.

Layar tablet itu hancur berkeping-keping.

"Lalu bagaimana dengan pasien VIP kita?"

"Mereka adalah sumber uang tunai kita satu-satunya sekarang."

Dimas bertanya dengan suara yang sedikit panik.

"Mereka semua sudah dipindahkan."

"Semua pasien VIP ditarik ke Rumah Sakit Internasional baru di pusat kota."

"Pemilik rumah sakit baru itu memberikan fasilitas gratis untuk pemindahan mereka."

Rina menjawab dengan suara bergetar ketakutan.

Dimas mundur selangkah dan menabrak kursinya sendiri.

Kakinya terasa sangat lemas.

"Rumah Sakit Internasional baru?"

"Siapa pemiliknya?"

"Kenapa aku tidak pernah dengar ada rumah sakit baru yang dibangun?"

Dimas bertanya secara beruntun.

"Di berita tidak disebutkan siapa nama pemiliknya."

"Tapi mereka bilang rumah sakit itu baru saja membeli seluruh saham mayoritas dari Rumah Sakit Pratama."

"Keluarga kita sudah tidak punya hak apa-apa lagi di sana."

Mendengar itu, Dimas menggertakkan giginya dengan keras.

Krek.

Suara rahangnya terdengar sangat jelas.

"Sony."

"Pasti ini semua ulah si bajingan Sony itu."

"Dia benar-benar ingin memotong semua jalur keuanganku."

"Dia ingin aku mati kelaparan seperti anjing jalanan."

Dimas memukul meja kerjanya dengan kepalan tangan.

Brak.

"Aku tidak akan membiarkan dia menang begitu saja."

"Ayo kita ke rumah sakit sekarang, Rina."

"Aku harus menghentikan para staf itu sebelum mereka benar-benar pergi."

Sementara itu, di kamar hotel Grand Surya yang mewah.

Sony sedang berdiri menghadap jendela kaca besar.

Dia mengenakan setelan jas putih bersih tanpa dasi.

Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dengan santai.

"Kau bangun sangat pagi hari ini, Sony."

Nadhira bersuara dari arah sofa di tengah ruangan.

Dia sedang meniup cangkir teh hangat di tangannya.

Sruput.

Nadhira meminum tehnya sedikit.

Sony menoleh pelan ke arah wanita itu.

"Hari ini adalah hari yang penting, Nadhira."

"Aku tidak mau melewatkan satu detik pun dari pertunjukan ini."

"Pertunjukan apa lagi yang kau buat pagi ini?"

Nadhira bertanya dengan raut wajah penasaran.

"Kau sudah membuat seluruh pasar saham negara ini kacau balau kemarin."

"Kau juga mempermalukan Dimas di acara lelang semalam."

"Apalagi yang mau kau ambil darinya?"

Sony tersenyum tipis mendengar pertanyaan Nadhira.

"Aku belum mengambil apa-apa darinya."

"Aku hanya merusak mainannya."

"Hari ini, aku baru akan mulai mengambil aset milik keluarganya."

Nadhira mengerutkan kening tidak mengerti.

"Aset apa maksudmu?"

Cklek.

Pintu kamar hotel terbuka dari luar.

Leo melangkah masuk dengan rapi membawa sebuah map dokumen berwarna biru.

"Selamat pagi, Tuan."

"Selamat pagi, Nona Nadhira."

Leo menyapa dengan sopan sambil menundukkan kepala.

"Bagaimana hasilnya, Leo?"

Sony langsung bertanya tanpa basa-basi.

Leo berjalan mendekat dan menyerahkan map dokumen itu.

"Semuanya berjalan persis seperti yang Anda rencanakan, Tuan."

"Dewan komisaris lama Rumah Sakit Pratama sudah menyerah."

"Mereka menandatangani surat pelepasan saham subuh tadi."

Nadhira hampir saja tersedak tehnya sendiri.

"Tunggu sebentar."

"Rumah Sakit Pratama?"

"Itu kan rumah sakit swasta paling mahal di kota ini."

Nadhira menaruh cangkirnya ke atas meja dengan cepat.

"Bagaimana caranya kau bisa mengambil alih tempat itu dalam semalam?"

"Setahuku itu adalah aset utama keluarga Dimas yang paling dijaga ketat."

Sony membuka map dokumen itu dan membaca isinya sekilas.

"Leo yang mengurus semuanya."

"Jelaskan pada Nadhira, Leo."

"Baik, Tuan."

Leo berdeham pelan sebelum mulai bicara.

"Kami sudah membeli diam-diam saham mayoritas dari para pemegang saham kecil sejak minggu lalu."

"Lalu pagi ini, saya mengirimkan bukti-bukti malapraktik ke kementerian."

"Para komisaris lama panik karena takut dipenjara."

"Jadi mereka setuju menjual sisa saham mereka kepada kita dengan harga sangat murah."

Nadhira menggelengkan kepalanya perlahan.

Dia benar-benar tidak habis pikir dengan cara kerja dua orang di depannya ini.

"Kalian berdua ini benar-benar gila."

"Lalu bagaimana dengan dokter dan pasiennya?"

Nadhira bertanya lagi.

"Tuan Sony sudah menyiapkan rumah sakit baru dengan fasilitas jauh lebih baik."

"Kami menawarkan gaji tiga kali lipat untuk para dokter yang mau pindah."

"Tentu saja mereka semua langsung setuju."

Leo menjawab dengan nada tenang dan datar.

Sony menutup map dokumen itu lalu menyerahkannya kembali pada Leo.

"Persiapan yang bagus."

Ting.

Sebuah suara sistem berbunyi di dalam pikiran Sony.

[Sistem Pemberitahuan: Pengambilalihan Rumah Sakit Pratama Selesai Seratus Persen]

[Misi Baru Terbuka: Kunjungi Lokasi dan Hancurkan Sisa Harapan Target Utama]

Sony tersenyum melihat kotak biru transparan di depannya.

"Ayo kita pergi ke sana sekarang."

"Aku ingin melihat langsung wajah Dimas."

"Dia pasti sedang mengamuk di lobi rumah sakitnya saat ini."

"Kau mau ikut, Nadhira?"

Sony menatap jurnalis wanita itu.

"Tentu saja aku ikut."

"Aku tidak mau melewatkan berita besar ini."

Nadhira segera berdiri dan mengambil tasnya.

Di lobi utama Rumah Sakit Pratama.

Suasana sangat sepi dan berantakan.

Kertas-kertas berserakan di lantai.

Beberapa perawat masih berkumpul di sudut ruangan dengan wajah cemas.

Mereka sedang memasukkan barang pribadi ke dalam tas.

Brak.

Pintu kaca lobi didorong dengan sangat kasar dari luar.

Dimas masuk dengan nafas memburu.

Rina berlari kecil mengikutinya dari belakang.

"Berhenti."

"Kalian semua mau pergi ke mana?"

Dimas berteriak dengan suara keras menggema di lobi.

Para perawat itu terkejut dan menoleh ke arahnya.

Mereka terlihat ketakutan melihat wajah Dimas yang sedang marah besar.

Seorang staf administrasi pria mencoba maju ke depan.

"M-maaf Tuan Dimas."

"Kami sedang berkemas untuk pindah kerja."

Staf itu berbicara dengan nada gemetar.

Dimas melangkah cepat mendekati pria itu.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!