NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Setelah membersihkan diri dari peluh dan kelelahan yang menempel sepanjang hari, Alya melangkah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju kaos sederhana dan celana kain panjang. Handuk kecil masih bertengger di bahunya, mengeringkan sisa-sisa titik air di ujung rambutnya. Udara malam di dalam rumah papannya terasa begitu menenangkan, berbanding terbalik dengan badai emosi yang sempat menghantamnya di sekolah tadi pagi.

Alya berjalan menuju meja belajar kecil di sudut kamarnya. Di sana, ponsel jadulnya tergeletak di samping lampu belajar. Begitu layarnya dinyalakan, sebuah notifikasi pesan dari aplikasi WhatsApp langsung menyita perhatiannya. Sebuah nama tertera di sana: *Devan Narendra*

Alya mendudukkan diri di tepi tempat tidur, membaca pesan dari Devan yang dikirimkan beberapa menit lalu saat cowok itu dalam perjalanan pulang.

*"Halo, Alya. Maaf ganggu istirahat malam kamu. Boleh tolong kirimin nomor rekening kamu? Biar aku transfer pembayaran untuk dua ratus kue yang kita bawa ke panti tadi sore ya. Selamat istirahat."*

Membaca pesan tersebut, Alya terdiam sejenak. Jemarinya menari di atas layar, menimbang-nimbang kalimat yang pas untuk dibalas. Dalam hitungan kodenya, dua ratus kue tersebut seharusnya bernilai sekitar empat ratus ribu rupiah. Namun, mengingat kebahagiaan murni yang ia lihat di wajah anak-anak panti asuhan tadi sore—serta rasa terima kasihnya yang tak terhingga atas kebaikan Devan yang sudah menyelamatkannya dari rasa malu—Alya merasa tidak tega jika harus mengambil pembayaran penuh.

Dengan ketulusan hati, Alya mengetikkan balasannya.

*"Halo Devan. Terima kasih sudah mengabari. Untuk pembayaran kuenya, kamu tidak perlu bayar penuh. Bayar setengah harga saja, yaitu dua ratus ribu rupiah. Aku sangat senang dan bersyukur bisa berbagi dengan anak-anak panti tadi sore. Kebahagiaan mereka sudah lebih dari cukup buat mengganti rasa lelah aku."*

Tak butuh waktu lama, hanya berselang beberapa detik saja, pesan balasan dari Devan langsung masuk kembali.

*"Gak bisa gitu, Al. Bisnis ya bisnis. Kamu dan Ibu kamu udah kerja keras semalaman buat bikin dua ratus kue itu. Kirim nomor rekeningnya sekarang ya, jangan membantah."*

Alya tersenyum tipis membaca ketegasan Devan yang sedikit terkesan memaksa namun terasa sangat hangat. Karena Devan terus mendesak dan Alya tidak ingin memperpanjang perdebatan di malam hari, Alya akhirnya menyalin nomor rekening bank milik ibunya lalu mengirimkannya melalui pesan tersebut.

*"Ini nomor rekening atas nama Ibu aku, Devan. Tapi tolong, transfer sesuai harga pasnya saja, jangan lebih."*

*"Oke, sudah masuk. Coba kamu cek rekening Ibu kamu,"*

balas Devan singkat tidak sampai dua menit kemudian.

Alya yang penasaran langsung membuka aplikasi m-banking di ponselnya untuk mengecek mutasi masuk. Namun, begitu angka di layar ponselnya memperlihatkan nominal saldo terbaru yang masuk, mata Alya seketika membelalak sempurna. Pekikan kagetnya tertahan di tenggorokan.

Di layar teleponnya, tertera sebuah notifikasi transfer masuk dari rekening atas nama **Devan Narendra** dengan nominal fantastis: **Rp 5.000.000,00**.

Lima juta rupiah. Angka itu sepuluh kali lipat lebih besar dari total harga asli dua ratus kue buatannya. Jantung Alya mendadak berdebar kencang karena terkejut. Jarinya gemetar hebat saat dengan cepat mengetik pesan balasan untuk Devan.

*"Devan! Kamu salah transfer ya?! Ini nominalnya lima juta rupiah! Banyakan banget, Devan! Harga kuenya cuma empat ratus ribu. Aku bakal transfer balik sisanya sekarang juga. Kirim nomor rekening kamu!"*

Di dalam kamarnya yang serba mewah, Devan yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memegang cangkir teh hangat hanya bisa tertawa pelan membaca pesan panik dari Alya. Cowok itu menyandarkan punggungnya, lalu melancarkan modus halus yang sudah ia susun rapi di kepalanya untuk meyakinkan gadis berhati baja itu.

Devan menekan tombol pesan suara agar suaranya terdengar lebih meyakinkan dan tidak bisa dibantah.

*"Alya, dengerin aku dulu,"*

suara berat Devan menggema melalui pesan suara yang diputar Alya.

*"Uang lima juta itu sama sekali gak salah transfer. Itu murni uang dari tabungan pribadi aku sendiri."*

Pesan suara kedua dari Devan kembali masuk.

*"Aku gak berniat buat merendahkan atau memberi belas kasihan sama kamu, Al. Tolong jangan berpikiran kayak gitu. Anggap saja uang itu adalah uang muka dari aku untuk pesanan kue-kue selanjutnya. Aku kan udah janji sama anak-anak panti tadi sore kalau kita bakal main dan dibawain kue lagi minggu depan. Nah, uang lebihnya itu buat kamu beliin bahan-bahan kue kualitas terbaik buat modal bikin kue panti minggu depan, sisanya masuk ke tabungan modal Dapur Saras."*

Alya mendengarkan pesan suara itu dengan napas yang tertahan. Sisi rasional dan harga diri tingginya sempat berbisik agar ia tetap menolak nominal yang terlalu besar itu. Namun, cara Devan menyampaikannya—dengan alasan pesanan rutin untuk anak-anak panti dan penguatan modal usaha Dapur Saras—terdengar begitu logis dan sulit untuk ditolak.

Alya membalas lewat ketikan lagi,

*"Tapi Devan... ini terlalu banyak buat sekadar uang muka kue. Aku merasa gak enak kalau terima uang sebanyak ini dari kamu."*

Devan tersenyum tipis melihat respon Alya yang mulai melunak. Ia kembali mengetik balasan dengan menyelipkan sedikit modus halus agar Alya mau menerima ikatan kerja sama kecil mereka.

*"Gak ada kata terlalu banyak buat ketulusan kamu dan Ibu kamu, Al. Kualitas kue Dapur Saras itu pantas dihargai tinggi. Anggap saja ini investasi jangka panjang aku sebagai pelanggan setia pertama kamu. Lagian, aku juga ketagihan sama kue buatan kamu. Jadi, terima ya? Kalau kamu balikin uangnya, berarti kamu nolak pesanan aku buat anak-anak panti minggu depan."*

Alya membaca pesan itu berulang kali. Kata-kata Devan yang mengaitkan uang tersebut dengan kebahagiaan anak-anak panti asuhan serta penghargaan atas karya ibunya benar-benar meruntuhkan sisa-sisa benteng penolakannya. Alya menyandarkan punggungnya ke dinding kamar, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa haru dan takjub.

Di balik alasan investasi dan pesanan panti, Alya tidak menyadari bahwa itu adalah cara manis Devan untuk membantunya secara elegan tanpa melukai harga dirinya sedikit pun. Sebuah modus bijak dari seorang pangeran sekolah yang rela memutar otak demi memastikan gadis yang dikaguminya itu memiliki modal yang cukup untuk terus melangkah maju.

Alya akhirnya mengetikkan balasannya dengan perasaan membuncah.

*"Baiklah, Devan... kalau alasannya buat anak-anak panti dan pesanan minggu depan, aku terima. Terima kasih banyak ya, Devan. Ketulusan dan kebaikan kamu malam ini benar-benar berarti besar buat aku dan Ibu. Aku janji bakal bikin kue terbaik buat kamu dan anak-anak panti."*

Di seberang sana, Devan menatap layar ponselnya dengan senyuman puas yang menghiasi wajah tampannya.

*"Sama-sama, Alya. Selamat tidur ya. Sampai ketemu di sekolah hari Senin."*

Malam itu, di kamar sederhananya, Alya memeluk ponselnya dengan rasa syukur yang membumbung tinggi ke udara. Badai kesedihan dari jebakan Clara pagi tadi telah sepenuhnya berganti menjadi pelangi keberkahan yang tak terduga. Dengan modal usaha yang kini tertata aman di rekening ibunya, Alya siap menyongsong esok hari dengan mimpi yang semakin nyata dan hati yang diliputi kehangatan baru.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!