NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Satu bulan yang lalu, di istana.

“JAX!”

“JAX!”

“JAX!”

Sorakan para prajurit yang mendukung pria muda bertubuh kekar itu memenuhi seluruh halaman latihan. Jaxon Drake, salah satu prajurit istana dengan kemampuan terbaik. Seperti biasanya, ia melakukan latihan tanding dengan prajurit lain yang juga dianggap sebagai yang terbaik. Jax tidak pernah rela gelar "yang terbaik" disandang siapa pun selain dirinya.

Suara pedang yang beradu tidak tertutup oleh sorakan para prajurit yang menontonnya. Dengan gerakan terakhir, akhirnya ia berhasil melucuti senjata lawan tandingnya dan menodongkan ujung pedangnya tepat di leher lawan tandingnya.

Senyum miring langsung menghiasi wajahnya dan ia turun dari arena tanding dengan dada membusung dan kepala mendongak.

“calon pengawal pribadi Kaisar memang berbeda kemampuannya dengan kita.”

Pujian yang didengarnya baik itu sengaja maupun tidak, berhasil menerbangkannya hingga langit ke tujuh. Ia pun menjadi semakin percaya diri bahwa dirinyalah yang paling pantas untuk menjadi pengawal pribadi sang Kaisar.

Seorang pria dengan pakaian istana dalam memasuki arena tanding dan menghampiri Jaxon.

“Jaxon Drake, ganti pakaianmu dan segera temui yang mulia Kaisar,” perintahnya.

“apa kamu akan diangkat menjadi pengawal pribadi kaisar sekarang?” tanya seorang prajurit sambil berbisik di dekat telinga Jax.

“jangan lupakan kita setelah kamu naik keluar dari tempat ini!”

“tenang saja, aku akan mengatakan hal baik tentang kalian!”

“terimakasih Jax!”

Namun, cita-cita setinggi langit itu harus dilupakan begitu saja ketika sebuah titah dibacakan oleh kasim. Rasa dingin tiba-tiba menusuk jantung Jax hingga membuatnya kesulitan bernafas. Matanya menatap kosong ke lantai dan keringat dingin menetes dari tubuhnya.

“ke Utara?” ulangnya pelan, seolah tidak percaya.

“benar, kamu aku tugaskan ke Utara untuk membantu melindungi benteng,” ucap Cassian sambil tersenyum.

“ba-baik yang mulia.”

“dan satu lagi…”

Jax mengangkat kepalanya sesaat lalu kembali menunduk hormat.

“aku mau kamu mengawasi seseorang di sana.”

Kali ini Jax benar-benar mengangkat kepalanya dan menatap Kaisar secara langsung. Raut wajahnya terkejut bercampur dengan sedikit semangat karena kepergiannya kali ini membawa misi rahasia dari sang Kaisar. Bukan hanya tugas militer biasa.

Saat ini di Draven.

Sementara itu, pagi hari di Draven kali ini berbeda dari biasanya. Kaelen sudah bersiap untuk pergi ke desa di belakang barak untuk mengumpulkan calon tenaga kerja. Setelah beberapa tahun tinggal di tenda, untuk pertama kalinya ia benar-benar menginjakkan kaki di desa dekat benteng.

Tempat itu bahkan sudah sulit disebut sebagai sebuah desa. Penduduknya hanya tersisa beberapa orang dan sebagian besar rumah di sini sudah rusak. Ada yang lapuk dimakan usia, ada pula yang hancur akibat perang.

“pergi kumpulkan semua orang yang tinggal di sini dan di desa sebelah,” perintahnya kepada prajurit yang ikut bersamanya.

“baik komandan.”

Beberapa saat kemudian, satu per satu warga dengan pakaian lusuh mulai berdatangan. Mereka datang dengan raut wajah penuh kewaspadaan. Melirik satu persatu prajurit yang berdiri di depan mereka.

“apa kalian akan mengusir kami dari sini?” tanya salah seorang warga yang terlihat sudah berusia lanjut.

Kaelen merasa sedikit bersalah karena ternyata mereka yang menjadi korban perang hidup dalam ketakutan seperti ini.

“kami datang bukan untuk mengusir kalian, melainkan untuk mengajak kalian bekerja sama dengan kami,” ucap Kaelen.

“bekerja sama? tapi kami tidak memiliki apapun.”

Kaelen menoleh ke arah Xavier yang berdiri di belakangnya untuk menjelaskan tujuan utama mereka datang ke desa ini. Xavier pun maju dan menjelaskan dengan bahasa yang dirasa mudah untuk dipahami oleh para warga.

“Jadi... bagaimana? Apa kalian bersedia bekerja sama dengan kami?” tanya Xavier.

“lagipula tidak ada yang bisa kami lakukan di sini, jadi aku akan ikut dengan kalian. Setidaknya kalau ikut kalian, kami tidak akan kelaparan lagi kan?” tanya seorang warga.

Xavier tersenyum hangat lalu mengangguk. Setelah mendapat persetujuan secara lisan, Xavier membagikan kertas berisi perjanjian kepada setiap orang.

“untuk apa perjanjian seperti ini? kami tidak bisa membaca!”

“dengan perjanjian ini, artinya semua yang kita lakukan memiliki kekuatan hukum. Dan jika ada salah satu pihak melanggar perjanjian, bisa dikenakan hukum sesuai undang-undang kekaisaran Alterus.” Ucap Kaelen.

“tapi kami tidak bisa membaca, bagaimana kami tahu kalau kalian tidak menipu atau menjebak kami?” teriak seorang pemuda diantara kerumunan itu.

Xavier menarik paksa Lysander untuk maju ke depan. Melihat Xavier menarik Lysander begitu saja, Gavin refleks meraih gagang pedangnya. Namun sebelum pedang itu sempat terhunus, Alaric lebih dulu menahan pergelangan tangannya. Penasihat tua itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Xavier sambil menghela nafas.

“dia namanya Lysander, orang istana dan paham aturan hukum kekaisaran. Dia akan menjelaskan isi perjanjiannya,” ucap Xavier yang berhasil dihadiahi tatapan penuh tanda tanya oleh lysander.

Perhatian semua warga kini beralih ke Lysander. Dia berdehem pelan lalu mengambil kertas yang dipegang oleh Xavier.

“di surat perjanjian ini, ada tiga poin utama,” ucapnya sambil menunjukkan kertas itu ke semua orang.

Lalu ia menunjuk bagian pertama,

“pertama, sejak kontrak berlaku, benteng akan menyediakan pangan dan perlindungan untuk kalian,” jelasnya dengan bahasa yang dibuat sesederhana mungkin.

“kedua, warga membantu untuk mengolah lahan dan beternak.”

“ketiga, hasil tani dan ternak akan dibagi hasil tujuh puluh persen untuk benteng, tiga puluh persen untuk kalian.”

“tujuh puluh persen untuk benteng? kalian memeras tenaga kami.”

Xavier maju ke samping Lysander lalu menyela, “Tiga puluh persen itu adalah bagian yang benar-benar menjadi milik kalian," jelas Xavier.

“Sementara makanan selama bekerja, bibit, ternak, perlindungan, dan kebutuhan lainnya tetap ditanggung benteng.”

“jadi meskipun kami sudah mendapatkan tiga puluh persen itu, benteng tetap memberikan makanan untuk kami?”

“Benar! Nanti saat desa sudah bisa berdiri sendiri, kita akan menyesuaikan ulang isi perjanjiannya.”

Setelah selesai dengan masalah perjanjian, dua orang prajurit muncul dari barak dengan satu panci besar berisi bubur nasi.

“Ini makanan pertama untuk kalian. Kami hanya sempat menyiapkan makanan sederhana, jadi mohon dimaklumi. Mulai besok, jatah makanan kalian akan sama seperti yang diterima para prajurit,” ucap Kaelen.

Warga mengantre dengan tertib dan memakan bubur tersebut dengan begitu lahap. Ada yang sudah berhari-hari hanya minum air, bahkan bubur polos pun kini terasa begitu nikmat.

Setelah selesai makan, para prajurit membawa perkakas bangunan dan juga beberapa set pakaian.

“mari kita mulai kerjasama ini dengan membangun rumah yang layak huni untuk kalian semua. Mulai hari ini, kalian akan tinggal bersama di Desa Alden,” Seru Kaelen.

Warga mengangguk pelan, lalu mulai memperbaiki rumah-rumah yang masih bisa diselamatkan dengan bantuan para prajurit. Diawasi langsung oleh Kaelen dan Lysander. Sementara itu, Xavier membagikan set pakaian hangat kepada perempuan dan anak-anak. Jumlah warga yang tersisa ternyata tidak sampai dua puluh orang. Hanya tiga anak-anak, enam perempuan, dan sebelas laki-laki dewasa yang masih bertahan di desa itu.

Di sisi kiri, Jax beserta pasukannya menatap seluruh kejadian di depan mereka dalam diam. Tidak ada yang pernah menyangka kalau di benteng mereka malah membagikan makanan dan pakaian ke warga desa.

Xavier melihat sekelompok tentara yang hanya diam saja di samping. Kemudian ia mengambil sebuah palu dan menghampiri mereka.

“Ini,” Xavier menyelipkan palu ke tangan Jax.

“jangan diam saja. Lebih cepat dikerjakan, lebih cepat selesai dan lebih cepat istirahat!” Ucapnya lalu ia pergi membantu yang lain.

Jax pun tidak bisa menolak karena ia tidak boleh sampai menimbulkan keributan di tempat ini. Kalau tidak, tujuannya datang ke tempat ini bisa rusak. Sementara itu, Lysander dari jauh melihat kejadian itu dan tersenyum tipis.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!