Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Husnan
Menjelang pukul enam sore Yuni bersama Hasan kembali ke rumah sakit sambi membawa kotak plastik yang berisi dua bungkus nasi dan lauk
"Nak kami datang"ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Ibu.." ucap Husnan sambil memandangi wajahnya.
"Maaf ya nak ibu baru datang."
"Gak apa Bu, Husnan baik baik aja kok."
Mereka berdua pun duduk di samping Husnan.
"Ayo makan dulu nak ibu bawain nasi sama lauk ikan."ucapnya sambil membuka kotak plastik itu.
Ia mengangguk."iya Bu."
Mereka bertiga pun makan bersama,. Di dalam hati Husnan, ia merasa seolah ini adalah makan malam terakhir bersama ibu dan adiknya. sesekali ibunya menyuap makanan ke mulut Husnan .
Setelah makan ibunya pun membersihkan sisa-sisa makanan yang jatuh di ranjang dan membuang bungkus nasinya kedalam tong sampah.
Beberapa saat kemudian ibunya bercerita tentang dongeng anak-anak.
Mereka berdua pun tertidur dengan nyenyak,tak lama kemudian ibunya yang kelelahan pun juga ikut tidur di kursi sebelah Husnan.
Sekitar pukul 6 pagi Yuni pun terbangun dengan badan yang kaku karena tidurnya sambil duduk .
"Ah sudah jam berapa sekarang."gumam Yuni sambil melihat jam dinding ."astaga sudah jam 6 lebih ".
Ia pun bergegas membangunkan Hasan "Hasan ayo pergi ke sekolah, ini udah jam 6 lebih."
tak lama kemudian Hasan pun terbangun.dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.setelah selesai mencuci muka mereka pulang.
Melihat Husnan masih tertidur Yuni pun tak tega membangunkannya. "Nanti setelah Hasan pulang sekolah kami kesini lagi,Nak."ucap Yuni sambil keluar dari ruangan.
Di perjalanan Yuni pun masih memikirkan tagihan rumah sakit."bagaimana ini biar bisa lunas."gumamnya di dalam hati.
Mereka berdua pun menuggu angkot sambil duduk di pinggir jalan.
Setelah beberapa saat ia pun melihat angkot.
"Pak..pak..kami mau naik"suara Yuni sambil menyodorkan tangannya ke jalan.
Angkotnya pun berhenti dan mereka berdua pun naik.
Tak sengaja orang di samping Yuni ternyata adalah orang yang memakai Yuni saat Yuni mengemis di gerbang rumah sakit.
"Eh bukannya ini orang yang berpura pura anaknya sakit."maki orang di sebelah Yuni sambil berbicara dengan temannya.
"Iya ini orangnya yang kemarin."
"Engak begitu buk ini memang anak saya tetapi saya masih punya anak satu lagi yang berada di rumah sakit."jawab Yuni sambil memegang pundak Hasan.
"Cih kalo mau nipu nipu saja gak usah bawa bawa anak."
"Beneran buk saya gak bohong kalau gak percaya ya sudah saya gak butuh sama percaya ibuk."jawab Yuni Dangan nada bicara yang agak kesal.
"Eh penipu ini marah."
Tetapi Yuni tidak menghiraukan mereka ia memilih diam daripada ngeladenin mereka.
Di perjalanan orang itu terus menghinanya.namun Yuni memilih untuk diam.
Setelah beberapa meter ia pun memilih turun dari angkot karena jarak dari rumahnya tidak jauh lagi."pak...pak...turun sini pak ."
Sopirnya pun berhenti di pinggir jalan.
"Berapa pak ?"
15rb ucap sopir dengan singkat .
Yuni pun memberikan uang itu ke pak sopir.
"Makasih ya pak"ucap Yuni
Angkotnya pun berjalan lagi ke arah yang tujuan.
Mereka berdua pun berjalan dengan wajah yang masih ngantuk dan lemas karena belum sarapan.
Setelah sampai di rumah mereka berdua pun masuk,Yuni langsung masuk ke dapur untuk memasak sederhana dan cepat.
Biar gak terlambat Hasan untuk pergi ke sekolah.
Setelah sarapan Hasan pun berangkat ke sekolah sendirian dengan rasa yang tidak biasa karena setiap berjalan ke sekolah pasti bersama dengan kakaknya.
Setelah sampai di sekolah ia pun di sapa sama teman temannya.
"Eh kok sendirian mana kakak mu."
"Kakak sedang di rumah sakit." Jawabannya sambil murung yang terus berjalan ke kelas.
Di rumah Yuni mencari pinjaman lagi ke tetangga berharap ada masih ada harapan untuk menyelamatkan Husnan.
Yuni pertama menghampiri rumah pak Said sambil berjalan ke pintu depannya.
"Dok..dok...pak Said ..pak .
Setelah beberapa saat kemudian pak Said pun keluar.
"Oh mbak Yuni sini masuk ."ucap pak Said .
Yuni pun masuk kedalam ruang tamu.
"Ada apa mbak."tanya pak Said.
"Ini pak saya mau meminjam uang dulu untuk bayar rumah sakit."
Pak Said pun terdiam sebentar.karena pak Said juga lagi gak memilik banyak uang.
"Sebentar ya mbak saya masuk dulu ."
Pak Said pun masuk ke dalam kamar ."aduh cuma punya 1juta" ia mengambil uangnya sambil keluar.ia pun duduk di sebelah Yuni,sambil menaruh uangnya di atas meja.
"Ini bu saya cuma ada 1 juta." Ucap pak Said.
"Iya gak papa pak saya meminjam ke tetangga lagi." Setelah Yuni mengambil uangnya Yuni pun pamit sama pak Said.
"Pak saya pamit dulu ya pak."ucap Yuni sambil berdiri dari kursi.
"Iya silahkan,mbak semoga dapat terselesaikan ya mbak.
Yuni pun mengangguk sambil keluar .
"Di dalam hati, Yuni mulai memiliki sedikit harapan. Baru rumah pertama saja sudah ada yang mau meminjaminya uang."
Ia pun masuk rumah demi satu persatu.
Berharap ada yang mau meminjamkannya lagi .
Tetapi sudah selesai menghampiri rumah satu kampung ia pun cuma mendapatkan 1,5 juta.
Setelah itu Yuni pun pulang, sesampainya di rumah Yuni berjalan ke kamar sambil meletakkan badannya di kasur.
Iapun tertidur dengan pulas karena kecapekan.
Sementara di rumah sakit Husnan pun bangun dari tidur. Ia duduk dan masih memikirkan rencana yang sudah di putuskan sejak kemarin.
Ia pun turun dari ranjang sambil mencari selembar kertas dan pulpen,dan akhirnya menemukannya.
Ia pun duduk di ranjang sambil menulis isi surat itu air matanya terus mengalir hingga membasahi sebagian kertas itu.
setelah selesai menulis ia pun menatap surat itu dengan lama .tangannya masih gemeteran sementara air matanya belum juga berhenti."ibu... maafkan aku ibu."
Kemudian Husnan berjalan menemui dokter yang kemarin sore berbicara dengannya.
Setelah beberapa saat akhirnya Husnan menemukan dokter itu yang sedang mau berjalan keluar dari ruang administrasi.
"Kenapa lagi,Husnan ?."tanya dokternya sambil tersenyum.
"Ini dok saya mau minta tolong." Jawab Husnan sambil menatap dokternya.
"Minta tolong apa?" Tanya dokter dengan rasa heran .
" Tolong surat ini di sampaikan kepada ibu." Ucap Husnan sambil menyodorkan suratnya ke tangan dokter.