Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SELALU ADA NAMA LIONA
Sementara itu, suasana berbeda menyelimuti gedung Dirgantara Group.
Kesibukan para karyawan masih berlangsung seperti biasa. Suara ketukan papan ketik dan langkah kaki yang bersahutan memenuhi setiap sudut lantai utama.
Di saat yang sama, pintu ruang rapat terbuka.
Sagara melangkah keluar dengan wajah datar. Jas hitam yang dikenakannya tampak rapi, sementara satu tangannya memasukkan berkas ke dalam map sebelum melanjutkan langkah menyusuri lorong menuju ruang kerja.
“Pak...”
Suara itu membuat langkahnya terhenti.
Sagara menoleh. Tatapannya jatuh pada Liam yang berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Liam?” alisnya terangkat tipis. “Kenapa kamu kembali? Bukannya kamu masih menjalankan tugasku?”
Liam menghampiri beberapa langkah, lalu berhenti dengan sikap hormat.
“Bapak pernah bilang, saya harus segera melapor kalau ada sesuatu yang penting. Karena itu saya kembali.”
Sagara menatap asistennya tanpa ekspresi.
“Apa itu?”
“Nona Liona bertemu Bu Ainun di Kafe Cendana.”
Sorot mata Sagara berubah tajam.
“Lalu?”
“Saya tidak mendengar semuanya, Pak.” Liam menarik napas singkat. “Tapi saya sempat melihat Nona Liona memberikan cek kosong dan tiket kepada Bu Ainun. Saya juga melihat Bu Ainun menuliskan nominal di cek itu.”
Sagara terdiam.
Rahangnya mengeras.
“Jadi... wanita itu menerimanya,” gumamnya pelan.
‘Semudah itu dia menerima uang untuk pergi dariku?’
“Terus apa lagi yang kamu dengar?” tanyanya lagi.
“Sebelum saya pergi, saya sempat mendengar Nona Liona meminta Bu Ainun mengajak Bapak datang ke rumah malam ini. Setelah itu saya langsung kembali ke kantor.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Sagara merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel.
Layar segera menyala.
Ia membuka aplikasi pelacak yang terhubung dengan GPS. Sebuah titik merah masih terlihat berada di lokasi Kafe Cendana.
Tatapannya terpaku pada layar itu selama beberapa saat.
‘Dia masih di sana.’
Tanpa mengubah ekspresi, Sagara mengunci layar ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana.
Ia mengangkat pandangan ke arah Liam.
“Kembalilah bekerja.”
“Baik, Pak.”
Liam mengangguk hormat sebelum berbalik meninggalkan tempat itu.
Sagara tetap berdiri beberapa saat di tempatnya. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya dipenuhi laporan yang baru saja didengarnya.
Sesaat kemudian, ia kembali melangkah menuju ruang kerjanya.
. . .
Waktu terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Sinar matahari yang semula terik perlahan berubah jingga. Cahaya senja menyelinap masuk melalui jendela ruang tamu, memantulkan warna oranye lembut di lantai rumah.
Ainun duduk seorang diri di sofa. Sesekali matanya beralih ke arah pintu utama, berharap Sagara segera pulang agar ia bisa menyampaikan pesan dari Liona.
Tak lama kemudian, pandangannya jatuh pada layar ponsel.
Pukul 16.30.
‘Aku harus menghubungi Laras. Katanya besok dia berangkat ke luar kota. Kalau aku benar-benar pergi dari rumah ini, mungkin aku bisa ikut dengannya.’
Tanpa menunda lagi, Ainun membuka daftar kontak, lalu menekan nama Laras.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Beberapa detik kemudian, panggilannya tersambung.
“Assalamu’alaikum. Ada apa, Ainun?” sapa Laras dari seberang telepon.
“Wa’alaikumsalam, Ras.” Ainun mengembuskan napas pelan sebelum melanjutkan. “Aku dengar kamu dipindahkan ke luar kota, ya?”
“Iya. Kenapa memang?”
“Aku... rencananya mau berhenti mengajar. Setelah itu aku ingin buka usaha.”
“Eh, berhenti?” Nada suara Laras terdengar terkejut. “Kenapa, Ainun?”
Ainun menggigit bibir bawahnya sejenak.
“Ceritanya panjang, Ras.” Ia tersenyum tipis meski tak dapat dilihat lawan bicaranya. “Besok saja kita ngobrol. Sekalian aku mau minta tolong sama kamu.”
“Boleh. Aku tunggu besok.”
“Iya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Panggilan pun berakhir.
Ainun menurunkan ponsel dari telinganya, lalu memandang layar yang kini telah menggelap.
Ia mengembuskan napas panjang.
‘Kalau Laras mau membantuku, setidaknya aku nggak akan benar-benar sendirian saat meninggalkan kota ini.’
Jemarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.
“Ekhem...”
Suara dehaman itu membuat bahu Ainun terangkat refleks. Ia buru-buru menoleh.
“M-Mas Sagara...?”
Entah sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu ruang tamu. Tatapannya lurus mengarah kepadanya.
“Siapa yang mau keluar dari pekerjaan?” tanya Sagara datar.
Jantung Ainun berdetak sedikit lebih cepat.
“I-itu... Laras, Mas.” Ia berusaha tersenyum setenang mungkin. “Dia mau berhenti dari pekerjaannya.”
Sagara tidak langsung menanggapi. Tatapannya tetap tertuju pada wajah Ainun, seolah sedang memastikan sesuatu.
‘Apa Mas Sagara nggak percaya?’
Ainun menundukkan kepala. Bibir bawahnya tergigit pelan sebelum ia kembali mengangkat wajah.
“A-aku nggak bohong.”
Suasana kembali hening.
Ainun berdeham pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya, Mas.” Ia menggenggam kedua tangannya di depan perut. “Nanti malam Ibu ngajakin kita datang ke rumah.”
Sagara masih diam.
Tak ada perubahan raut wajahnya.
“Kalau Mas Sagara sibuk...” lanjut Ainun pelan. “Nggak apa-apa. Biar aku saja yang ke sana sendiri.”
“Oke.”
Jawaban singkat itu membuat kening Ainun berkerut.
‘Oke? Maksudnya dia mau ikut... atau malah mengizinkan aku pergi sendiri?’
Sebelum sempat bertanya lagi, Sagara berbalik dan melangkah menuju tangga.
Ainun hanya bisa mengikuti punggung suaminya dengan pandangan.
Langkah pria itu menghilang di lantai atas tanpa mengatakan apa pun lagi.
Ruangan kembali sunyi.
Ainun menundukkan kepala sambil mengembuskan napas panjang.
‘Kalau begini, aku nggak tahu maksud jawabannya apa.’
Ia memejamkan mata sesaat.
‘Kalau Mas Sagara nggak datang, rencana Mbak Liona bisa berantakan.’
Ainun mengangkat kepalanya kembali.
“Lebih baik aku memastikan langsung.”
Dengan tekad yang mulai terkumpul, ia melangkah menuju tangga.
Meski ada rasa gugup yang menggelayuti dada, Ainun tetap menyusul Sagara ke lantai atas.
Ia berharap, kali ini pria itu bersedia mendengarkan permintaannya dan mau ikut ke rumah Bu Lina malam nanti.
. . .
Setibanya di depan kamar Sagara, langkah Ainun terhenti.
Ia menarik napas pelan untuk mengumpulkan keberanian, lalu mengetuk pintu sebelum membukanya sedikit.
“Assalamu’alaikum...” panggilnya lirih.
“Kenapa kamu ke sini?”
Suara berat itu membuat Ainun mengangkat kepala.
Sagara berdiri tak jauh darinya. Pria itu hanya memakai celana dan hanya memperlihat bagian badannya yang atletis, semua tonjolan di badannya sangat terlihat jelas.
Ainun segera mengalihkan pandangan sejenak, berusaha meredakan gugup yang tiba-tiba menyeruak.
“Mas Sagara...” suaranya terdengar pelan. “Aku mohon. Ayo ikut ke rumah Ibu malam ini. Aku janji nggak akan minta apa-apa lagi. Cuma kali ini saja.”
“Tidak. Saya lelah,” jawab Sagara singkat.
Jawaban itu membuat dada Ainun terasa sesak.
‘Kalau Mas Sagara tetap menolak, bagaimana Mbak Liona bisa bertemu dengannya? Aku juga nggak mau terus terjebak dalam semua ini.’
Tanpa berpikir panjang, Ainun menurunkan tubuhnya hingga berlutut di hadapan Sagara.
“Aku akan melakukan apa saja... asal Mas Sagara mau ikut bersamaku.”
Sorot mata Sagara berubah lebih tajam.
“Ada apa?” tanyanya. “Kenapa kamu memaksa saya? Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Ainun?”
Jantung Ainun berdetak semakin cepat.
“A-aku...” Tenggorokannya terasa tercekat. “Aku nggak menyembunyikan apa pun. Aku cuma ingin Mas Sagara ikut. Itu saja.”
“Tatap saya, Ainun.”
Jemari Ainun mengepal di atas pahanya. Perlahan ia mengangkat wajah hingga pandangannya bertemu dengan tatapan tajam pria itu.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Kalau begitu,” ucap Sagara tenang, “buktikan kalau kamu benar-benar serius. Setelah itu, saya akan mempertimbangkannya.”
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Ainun pelan.
Sagara melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka semakin tipis.
“Buktikan kesungguhanmu.”
Ainun terdiam.
“Kenapa?” tanya Sagara lagi. “Nggak sanggup?”
Ainun menggigit bibir bawahnya.
“Aku...”
Tatapannya perlahan menunduk.
‘Apa aku harus melakukannya? Toh mungkin ini menjadi yang terakhir kalinya untuk menjadi istri.’
Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan.
“Baik... aku akan melakukannya.”
Sagara tidak berkata apa-apa lagi.
Ainun pun bangkit dari lututnya. Dengan langkah pelan, ia mendekat, berusaha mengumpulkan keberanian untuk memenuhi permintaan pria itu, sementara debar di dadanya terus berpacu tanpa henti.
Kecupan.
Ciuman.
Elusan yang sangat hangat.
“Ahk, Liona, Baby.”
Bahkan seperti biasa, Sagara menyebut nama wanita lain.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪