NovelToon NovelToon
MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA KERJA

Setelah Tiga hari kemudian, Alena pulang dengan senyum tipis di wajahnya. Ia diterima bekerja di toko pakaian sebagai pramuniaga. Gajinya memang tidak seberapa, tapi itu uang hasil keringatnya sendiri.

Sore itu saat masuk rumah, Ibu Sari sedang duduk di ruang tamu bersama Dinda.

"Kamu dari mana saja? udah sore begini baru pulang " tanya Ibu Sari dengan nada curiga.

"Aku baru pulang kerja Bu. Aku diterima di toko pakaian dekat pasar," jawab Alena tenang.

Dinda langsung tertawa sinis. "Kerja? Kamu pikir kamu mampu? Paling juga hanya beberapa hari udah diusir lagi ?"

"Kita lihat saja nanti Dinda. Aku akan berusaha sebaik mungkin," balas Alena tak terpancing emosi.

Ibu Sari menatap Alena dari atas sampai bawah. "Kalau kamu sudah dapat uang sendiri, berarti kamu nggak perlu lagi minta uang sama Hendra kan?"

"Ya Bu, aku nggak akan minta lagi. Uang gaji Mas bisa Ibu pakai semuanya," jawab Alena.

Mendengar itu, Ibu Sari malah tersenyum lebar. "Baguslah kalau begitu. Akhirnya kamu berguna juga walau hanya sedikit."

Tidak lama kemudian Hendra pulang kerja. Ia melihat Alena sedang menyiram bunga di halaman.

"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Hendra dingin.

"Aku diterima kerja Mas. Mulai bulan depan aku nggak akan minta uang satu rupiah pun darimu," jawab Alena menatap suaminya.

Hendra terdiam sejenak, lalu mendengus pelan. "Terserah kamu saja. Aku nggak peduli."

Malam itu di meja makan, suasana terasa canggung. Ibu Sari tiba-tiba berbicara.

"Kalau Lena sudah kerja, berarti gajinya lumayan juga kan? Nanti kalau sudah dapat gaji pertama, berikan separuhnya pada Ibu ya."

Alena berhenti mengunyah. "Kenapa harus separuh Bu? Itu uang hasil kerjaku sendiri."

"Kamu kan masih tinggal di rumah ini. Makan di sini, pakai air di sini, pakai listrik di sini. Wajar kalau kamu ikut bayar biaya rumah tangga," jawab Ibu Sari tegas.

"Tapi Bu, selama lima tahun ini aku mengurus rumah ini tanpa dibayar satu rupiah pun. Aku masak, aku cuci, aku bersihkan semuanya sendiri. Kenapa sekarang malah diminta bayar?" tanya Alena memberanikan diri.

"Itu tugasmu sebagai istri! Sekarang kamu sudah dapat uang sendiri, masa mau makan enak tanpa memberi apa-apa pada rumah ini?" bentak Ibu Sari.

Alena menatap suaminya memohon. "Mas, dengar kan apa kata Ibu? Apa Mas juga setuju?"

Hendra meletakkan sendoknya kasar. "Ibu benar Lena. Kamu kan tinggal di sini. Wajar kalau kamu bantu biaya rumah tangga."

"Mas juga begitu? Padahal selama ini aku nggak pernah di kasi lebih dari cukup untuk makan saja," suara Alena mulai bergetar.

"Itu urusan kami. Sekarang kamu sudah kerja, jangan banyak menuntut. Berikan saja separuh gajimu pada Ibu," jawab Hendra dingin.

"Aku nggak akan ngasi Bu. Uang itu akan aku simpan untuk keperluanku sendiri," ucap Alena tegas.

"Kamu berani membantah Ibu? Dasar menantu nggak tahu diri!" Ibu Sari langsung berdiri dan hendak menampar Alena.

Alena menepis tangan mertuanya. "Jangan sentuh aku Bu! Aku sudah sabar selama lima tahun, jangan uji kesabaranku lagi!"

Hendra langsung berdiri dan mendorong bahu Alena hingga ia terhuyung ke belakang.

"Kamu berani melawan Ibu? Kamu makin tidak tahu sopan santun ya!" bentak Hendra marah.

"Aku tidak melawan Mas. Aku hanya minta keadilan! Kenapa semuanya harus aku yang korban terus?" Alena menangis.

"Sudahlah, jangan berisik! Kalau kamu nggak mau ngasi uang, keluar saja dari rumah ini!" hardik Ibu Sari.

"Baiklah Bu. Kalau itu yang kalian mau, aku akan pergi," jawab Alena dengan suara gemetar namun tegas.

Malam itu Alena mengemasi barang-barangnya. Ia hanya membawa baju seadanya dan sedikit uang tabungannya. Saat hendak keluar pintu, ia berhenti sejenak menatap Hendra yang berdiri diam di ruang tengah.

"Mas, aku tanya sekali lagi, Apa Mas benar-benar membiarkan aku pergi?" tanya Alena untuk terakhir kalinya.

Hendra menunduk, lalu menjawab pelan. "Pergilah. Mungkin itu yang terbaik untuk kita berdua."

Air mata Alena jatuh membasahi pipi. Ia mengangguk pelan, lalu melangkah keluar meninggalkan rumah yang penuh luka itu tanpa menoleh lagi.

 BANTU LIKE DAN KOMEN YA

1
Thewie
jangan keluarkan airmatamu buat suami keparat itu ya alena
Thewie
terlalu lemah kau Alena. jadi agak gak suka lihat otor🤣🤣
Thewie
kapan Alena bahagia thorrrrr...
Nuna_Pena: ditunggu aja ya hehe,
total 1 replies
Thewie
5 tahun Alena... salut buatmu hidup dengan caci maki keluarga mertua .. luarbiasa kamu Alena..
Nuna_Pena: sprti diriku 7 tahun lbih bertahan dn sekarang menjauh dulu dri mereka😌😌😌.. hehe ngemeng2 makasi sudah mampir
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Cha Libra
jngan biarkan s alena d tindas mlu thour scpetnya cerai..semoga ja ada karma buat keluarga dajjal
Nuna_Pena: 😁😁😁... sabar sayang...
total 1 replies
Cha Libra
thour klo bsa hruf kapitalnya yg biasa ja jdi enak bacanya..
Nuna_Pena: makasi sudah mampir, nanti saya buat huruf biasa aja
total 1 replies
..
keren!
..
Hai kak, semangat yah. aku sudah bom like karya kamu. jangan lupa like balik karya aku juga yah. mari saling dukung!
Himna Mohamad
lanjut
..
semangat, kak. jangan lupa like balik dan saling dukung yah💪💪💪
SRIANA
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!