NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Kehidupan Bertiga

Tiga hari perjalanan membawa mereka ke sebuah kota bernama Fenwick, jauh lebih besar dari kota-kota kecil yang pernah Sasuke singgahi sebelumnya—jalanan berbatu yang ramai, toko-toko dengan papan nama berwarna-warni, dan suara riuh pasar yang memenuhi udara pagi.

Elaina, yang seumur hidupnya hanya mengenal taman buatan di dalam dungeon, berjalan dengan mata terbelalak lebar, menggenggam erat tangan Saviera di satu sisi dan satu-satunya tangan Sasuke di sisi lain, seolah takut kehilangan mereka berdua di tengah keramaian yang luar biasa baginya.

"Mama, itu apa?!" serunya, menunjuk ke arah gerobak penjual kue yang mengepulkan asap manis. "Baunya enak sekali!"

"Itu kue," Saviera menjawab sambil tertawa kecil, untuk pertama kalinya sejak Sasuke mengenalnya tawa itu terdengar benar-benar lepas, tidak dibebani kekhawatiran. "Nanti kita beli, ya."

"Itu apa, Papa?" Elaina bertanya lagi, kali ini menunjuk ke arah sekelompok anak-anak yang berlarian sambil melempar bola kain kecil ke sana kemari, tertawa riang.

"Itu anak-anak sedang bermain," Sasuke menjawab, sedikit terkejut betapa aneh rasanya menjawab pertanyaan sesederhana itu, mengingat betapa asingnya dunia ini bagi Elaina yang belum pernah melihat kehidupan normal sebelumnya.

Elaina menatap anak-anak itu lama, matanya penuh rasa ingin tahu bercampur sesuatu yang menyerupai kerinduan kecil pada sesuatu yang belum pernah ia miliki.

"Boleh Elaina main juga nanti?"

Sasuke dan Saviera bertukar pandang sejenak, sesuatu yang hangat dan tidak terucap mengalir di antara mereka berdua.

"Tentu saja," Saviera menjawab lembut, mengelus kepala anaknya. "Kita akan cari waktu untuk itu."

---

Mereka menyewa kamar di sebuah penginapan sederhana bernama Penginapan Greywyn, cukup dekat dengan alun-alun kota. Sayangnya, hanya tersisa satu kamar dengan satu ranjang besar—musim ramai pengunjung membuat sebagian besar kamar lain sudah penuh dipesan.

"Tidak apa-apa, kok!" Elaina langsung berseru riang begitu mendengar kabar itu dari pemilik penginapan, menggenggam tangan Saviera dan jubah Sasuke sekaligus. "Elaina mau sekamar sama Mama dan Papa saja! Lebih seru!"

Saviera sempat ingin protes, wajahnya sedikit memerah membayangkan situasinya, namun raut wajah Elaina yang begitu penuh harap membuatnya luluh. "...Baiklah kalau begitu."

Kamar itu sendiri cukup sederhana—satu ranjang besar di tengah, sebuah sofa kecil usang di sudut dekat jendela, dan lemari kayu yang berderit setiap kali dibuka. Setelah makan malam ringan yang dipesan dari kedai bawah, mereka bertiga mulai bersiap-siap tidur, dan di situlah negosiasi kecil yang cukup lucu dimulai.

"Papa tidur di sini juga!" Elaina berseru riang, sudah melompat naik ke tengah ranjang dan menepuk-nepuk kedua sisinya dengan penuh semangat, seolah sedang mengatur tempat duduk untuk pesta.

"Aku akan tidur di sofa," Sasuke menjawab tenang, sudah melangkah ke arah sofa kecil di sudut ruangan.

"Tidak boleh!" Elaina langsung merengut, melipat tangan kecilnya di depan dada dengan gaya paling galak yang bisa ia tunjukkan—yang justru terlihat menggemaskan alih-alih menakutkan. "Kalau Papa di sofa, nanti Papa kedinginan!"

"Aku tidak apa-apa, sungguh."

"Tidak apa-apa apanya! Sofa itu kelihatannya keras sekali!" Elaina bersikeras, melompat turun dari ranjang dan berjalan ke arah sofa itu, menekan-nekan bantalnya dengan kedua tangan kecilnya seolah sedang melakukan inspeksi resmi. "Lihat, kan! Keras!"

Saviera, yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin kecil, tidak bisa menahan tawa geli melihat perdebatan serius antara pria terkuat yang pernah ia temui dan seorang anak berusia beberapa tahun.

"Kau tidak akan menang, kau tahu," Saviera berkata, masih tertawa kecil. "Dia mewarisi kekeraskepalaan dari entah siapa."

"Dari Mama!" Elaina menjawab cepat, membuat Saviera nyaris tersedak tawanya sendiri.

"Hei!"

"Habis Mama juga keras kepala kok kalau soal Elaina," anak itu berkata polos, membuat Sasuke tanpa sadar terkekeh pelan—suara tawa kecil yang jarang sekali muncul dari dirinya sejak reinkarnasinya.

Melihat Sasuke tertawa, Elaina langsung merasa menang telak, kembali menghampirinya dan menarik-narik ujung lengan bajunya. "Nah, kan! Papa juga setuju sofa itu jelek! Ayo tidur di kasur saja!"

"Aku tidak bilang begitu," Sasuke membela diri, meski senyum kecil masih tersisa di wajahnya.

"Tapi Papa senyum-senyum!"

"Itu beda."

"Sama saja!"

Perdebatan kecil itu terus berlanjut beberapa menit lagi, hingga akhirnya Sasuke mengalah dengan caranya sendiri—berjanji akan duduk di tepi ranjang sampai Elaina benar-benar tertidur, sebelum pindah ke sofa. Elaina, meski masih sedikit cemberut karena tidak sepenuhnya menang, akhirnya menerima kompromi itu, merangkak naik ke ranjang dan menepuk-nepuk tempat di sampingnya.

"Janji ya, Papa duduk di sini sampai Elaina tidur."

"Janji," Sasuke menjawab, duduk di tepi ranjang seperti yang diminta.

Tidak butuh waktu lama—kelelahan akibat hari pertama yang penuh kejutan di dunia luar akhirnya mengalahkan Elaina, matanya perlahan menutup sambil masih menggenggam ujung lengan baju Sasuke, napasnya melambat menjadi teratur dalam beberapa menit saja.

Saviera, yang sudah berbaring di sisi lain ranjang, menatap pemandangan itu dengan senyum lembut. "Kau benar-benar tidak keberatan semua ini?"

"Tidak," Sasuke menjawab jujur, pelan-pelan melepaskan genggaman kecil Elaina dari lengan bajunya sebelum beranjak ke arah sofa. "Aku... tidak menyangka akan menikmatinya sebanyak ini."

Saviera tersenyum kecil mendengar itu, sebelum akhirnya menyusul Elaina ke alam mimpi, sementara Sasuke merebahkan diri di sofa kecil yang tadi begitu gigih dipermasalahkan Elaina, mematikan lampu kamar dengan satu gerakan tangan sederhana.

Tidak sampai satu jam kemudian, sebuah isakan kecil membangunkannya dari tidur ringannya. Elaina, yang ternyata cukup gelisah tidur di tempat baru, telah merangkak turun dari ranjang dalam kegelapan, matanya setengah terbuka mencari-cari sesuatu yang membuatnya merasa aman.

"...Papa?" gumamnya lirih, suaranya bergetar, sedikit panik karena tidak menemukan sosok itu di sisinya seperti yang ia harapkan.

"Di sini," Sasuke menjawab pelan dari sofa, dan Elaina langsung berjalan terhuyung ke arahnya, memanjat naik ke pangkuannya tanpa banyak bicara, menggelendot erat dan langsung kembali terlelap begitu merasakan kehangatan dekapannya.

Sasuke terdiam sejenak, menatap wajah kecil yang kini tertidur damai di dekapannya, sebelum akhirnya menghela napas pelan dan membiarkan dirinya sendiri ikut terlelap di sofa itu, dengan Elaina yang tidak mau dilepaskan sama sekali.

Keesokan malamnya, setelah Elaina kembali tertidur lelap—kali ini dengan tenang di ranjang bersama Saviera—Sasuke duduk sendirian di beranda kecil penginapan, menikmati udara malam yang sejuk, ketika Saviera keluar menyusulnya, duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.

"Aku sudah lama tidak melihatnya sebahagia ini," Saviera berkata pelan, menatap ke arah jendela kamar mereka yang gelap, tempat Elaina tertidur nyenyak. "Selama ini, dunianya hanya sebatas taman kecil dan aku. Tidak pernah ada anak-anak lain, tidak pernah ada pasar, tidak pernah ada... apa pun."

"Dia beradaptasi lebih cepat dari yang kubayangkan," Sasuke berkata, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. "Anak-anak memang begitu, kurasa."

Saviera menoleh menatapnya, senyum kecil tersungging di wajahnya. "Kau bicara seolah kau tahu banyak soal anak-anak."

"Tidak juga," Sasuke mengakui, sedikit canggung. "Aku... tidak pernah benar-benar dekat dengan siapa pun sebelumnya."

Kejujuran itu keluar begitu saja, mengejutkan dirinya sendiri lebih dari mengejutkan Saviera.

"Kalau begitu," Saviera berkata pelan, "kita berdua sama-sama belajar hal baru, ya?"

Sasuke menoleh menatapnya, dan untuk sesaat, keheningan nyaman menyelimuti mereka berdua, hanya ditemani suara jangkrik malam dan cahaya lampu jalan yang berkelap-kelip lembut di kejauhan.

---

Keesokan paginya, mereka berjalan menuju gedung besar dengan lambang pedang bersilang dan perisai di alun-alun kota—cabang Guild Petualang Fenwick, jauh lebih besar dan ramai dari cabang kecil yang pernah Sasuke kunjungi sebelumnya.

"Kalau kita akan terus berpindah-pindah kota," Sasuke berkata sambil melangkah masuk, "mendaftar sebagai petualang mungkin akan berguna. Kita butuh cara untuk mendapatkan penghasilan selama perjalanan, dan Guild menawarkan itu."

Saviera mengangguk setuju, meski wajahnya menampakkan sedikit kegugupan—ini pertama kalinya ia benar-benar berurusan dengan institusi resmi dunia luar setelah bertahun-tahun bersembunyi.

Resepsionis di meja depan, seorang wanita paruh baya dengan kacamata bertengger di ujung hidungnya, tersenyum ramah menyambut mereka. "Selamat datang di Guild Fenwick! Ingin mendaftar sebagai petualang?"

"Ya," Sasuke menjawab. "Untuk kami bertiga, kalau memungkinkan."

Wanita itu melirik ke arah Elaina yang bersembunyi malu-malu di balik gaun Saviera, mengintip dengan mata penasaran ke arah resepsionis. "Ah, untuk anak sekecil ini, tentu belum bisa terdaftar sebagai petualang aktif—tapi bisa kudaftarkan sebagai 'tanggungan', supaya tercatat resmi jika bepergian bersama kalian."

Proses pendaftaran berjalan cukup sederhana—pengukuran Level dasar lewat kristal khusus yang bersinar sesuai kekuatan orang yang memegangnya, diikuti pembuatan Kartu Guild yang mencantumkan nama dan peringkat awal mereka.

Ketika giliran Sasuke memegang kristal itu, seluruh ruangan tiba-tiba hening. Kristal yang biasanya bersinar dengan intensitas sedang untuk sebagian besar petualang baru, kali ini berpendar begitu terang hingga beberapa orang di sekitar mereka menutup mata, silau oleh cahayanya.

"...Ini," resepsionis itu bergumam, suaranya bergetar tidak percaya, menatap angka yang muncul di alat pengukurnya, "ini tidak mungkin salah baca, kan? Tuan, dengan angka seperti ini, kau berhak langsung didaftarkan sebagai petualang peringkat Platinum, tertinggi yang bisa kuberikan di cabang ini—"

"Tidak perlu," Sasuke memotong cepat, membuat resepsionis itu mengerjap bingung. "Aku hanya butuh kartu biasa. Peringkat terendah saja sudah cukup."

"...Maaf?" Resepsionis itu menatapnya seolah salah dengar. "Tuan, kekuatanmu jelas jauh di atas rata-rata petualang mana pun yang pernah kutangani. Kalau kau mendaftar dengan peringkat rendah, kau tidak akan bisa mengambil misi-misi besar yang sepadan dengan levelmu, dan bayarannya juga—"

"Aku mengerti," Sasuke menjawab tenang. "Tapi aku tidak berencana mengambil misi besar untuk saat ini. Aku hanya butuh sesuatu untuk bepergian dari kota ke kota, sesekali menjual barang atau mengambil misi kecil. Aku lebih suka tidak terlalu diperhatikan."

Resepsionis itu menatapnya lama, mencoba memahami alasan di balik permintaan yang begitu tidak biasa itu, sebelum akhirnya mengangguk pelan, meski masih sedikit bingung. "Baiklah, Tuan. Jika itu yang kau inginkan... akan kucatat sebagai petualang peringkat Besi, yang terendah."

Ia menyerahkan Kartu Guild berwarna cokelat kusam yang sederhana, jauh berbeda dari kartu-kartu berkilau yang biasa diberikan pada petualang berbakat. "Tapi catatan kekuatan aslimu tetap tersimpan di arsip internal Guild, untuk keperluan darurat. Kartu ini hanya menyembunyikannya dari mata publik."

"Itu sudah lebih dari cukup," Sasuke berkata, mengantongi kartu itu dengan tenang.

Beberapa petualang lain di ruangan itu, yang sempat berbisik-bisik menyaksikan kristal yang bersinar terang tadi, kini tampak kebingungan melihat kartu peringkat rendah yang diterima Sasuke, saling bertukar pandang heran namun tidak berani bertanya lebih jauh.

Elaina, tidak sepenuhnya mengerti situasi yang terjadi, hanya menarik-narik jubah Sasuke dengan wajah penasaran. "Papa dapat kartu apa?"

"Kartu biasa," Sasuke menjawab singkat, tersenyum kecil. "Yang penting kita bisa mulai bepergian."

---

Setelah menyelesaikan pendaftaran, mereka bertiga duduk di sebuah kedai kecil dekat Guild, menikmati makan siang sederhana sambil membahas rencana perjalanan mereka ke depan.

"Jadi," Saviera bertanya, menyeruput minumannya, "ke mana selanjutnya?"

Sasuke terdiam sejenak, memikirkan misinya sendiri—pencarian akan sosok yang disebut Eternity, yang masih menjadi misteri besar baginya, tersembunyi di suatu tempat di dunia yang teramat luas ini.

"Aku sendiri tidak sepenuhnya yakin," ia akhirnya mengakui jujur. "Aku sedang mencari seseorang, tapi aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."

"Mungkin kita bisa mulai dengan mengambil beberapa misi Guild sambil berjalan," Saviera menyarankan. "Selain menghasilkan uang, itu juga cara yang bagus untuk mengenal lebih banyak tempat, mendengar lebih banyak informasi. Dunia ini luas, tapi kabar selalu menyebar lewat orang-orang yang bepergian."

Sasuke menatapnya, sedikit terkejut dengan kebijaksanaan praktis dalam saran itu.

"Itu... ide yang bagus," ia mengakui.

Elaina, yang sedang sibuk mengunyah sepotong roti manis, tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti anak sekolah yang ingin menjawab pertanyaan guru.

"Elaina mau ikut ke mana-mana juga!"

"Tentu saja," Sasuke menjawab, senyum kecil yang semakin sering muncul akhir-akhir ini kembali menghiasi wajahnya. "Kita akan pergi ke mana-mana bersama."

Di luar kedai, matahari siang bersinar cerah di atas Kota Fenwick, dan untuk pertama kalinya sejak reinkarnasinya, Sasuke merasakan sesuatu yang menyerupai arah yang jelas—bukan hanya soal misi yang dibebankan Dewa Agung padanya, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan personal: sebuah kehidupan, bersama dua orang yang kini menjadi bagian tak terpisahkan darinya.

---

*Bersambung ke Bab 12: Misi Pertama*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!