Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Yang Tidak Panik
Dayang Sari segera membuang pandangannya. Tatapan Arkan terlalu dalam, seolah ingin mengorek semua rahasianya.
Kabut masih cukup tebal. Udara juga masih sangat dingin, tetapi dada Dayang Sari bergemuruh, membuat darahnya berdesir dan menghantarkan rasa hangat pada suhu tubuhnya.
"Ada perlu apa, Pak Wartawan?" tanya Dayang dengan nada yang cukup dingin. Ia mengetahui profesi Arkan dari data yang ada di kelurahan.
Arkan mengulas senyum tipis. "Emmm, saya ada perlu sedikit, Bu... Minta waktunya untuk ngobrol,"
Dayang Sari terdiam sejenak. Lalu memasang wajah yang setenang mungkin.
"Masuk dulu. Saya akan buatkan camilan dan juga minum teh..." ajaknya pada sang tamu
Dayang Sari menggeser tubuhnya dari ambang pintu, dan memberi jalan kepada Arkan untuk masuk. Sikapnya terlalu tenang.
Arkan mengangguk, lalu menapaki anak tangga dan masuk ke dalam rumah panggung.
Pemuda itu menyapu pandangannya ke segala arah. Rumah yang tampak rapi. Ada meja belajar, buku-buku, dan satu foto anak-anak TK yang yang menjadi siswa dari Dayang Sari di tempatnya mengajar.
Dayang Sari menatap punggung Arkan yang berjalan menuju ke arah foto para siswanya.
Ia berusaha kembali tenang. Lalu menuju dapur, dan memasak teh untuk Arkan.
Lima menit kemudian, ia datang dengan nampan berisi segelas teh dan juga seporsi pisang kapit. Yaitu jajanan yang terbuat dari pisang kepok bakar dan di jepit, lalu di siram dengan kuah santan bercampur gula aren.
"Silahkan di cicipi," Dayang Sari menata hidangannya di atas meja.
Sedangkan Arkan menatapnya dengan sekilas. "Terimakasih..." ia mengambil teh tersebut, dan menyeruputnya. "Bu Rodiah tetangga Ibu, kan?" ia meletakkan gelas di atas meja.
"Iya. Rumahnya tiga rumah dari sini." jawab Dayang setenang mungkin.
Ia mengangkat cangkir teh. Tangannya tidak gemetar sama sekali, lalu menyeruput tehnya.
Arkan sudah memperhatikan kondisi desa. Sejak subuh ia berkeliling. Semua warga heboh, menangis, dan bahkan berteriak "KUYANG! KUYANG!"
Akan tetapi, Dayang Sari yang terlihat... Bersikap biasa saja.
Arkan menarik nafasnya dengan dalam. Lalu menatap Dayang yang wajahnya terlihat semakin cantik. Bahkan Arkan bisa membandingkannya dengan para artis yang sering perawatan di salon mahal. Tetapi Dayang lebih terlihat alami.
"Bu Guru... Ibu gak takut dengan berita Kuyang ini?" tanyanya dengan nada penuh selidik.
Dayang Sari menarik nafasnya dengan berat. Lalu menatap pada pada Arkan.
"Tentu saja saya takut. Tapi berusaha tidak panik. Karena panik gak akan menyelesaikan masalah. Bukan begitu— Pak."
Dayang membenahi duduknya. Lalu melanjutkan ucapannya. "Tadi malam saya dengar ada suara teriakan. Saya mau ikut menolong. Tapi Damang bilang, kalau saya jangan keluar. Jadi saya hanya berdoa dari rumah."
Arkan mengambil buku sakunya. Lalu mencatat apa yang menjadi garis besar dalam setiap hal yang ia anggap informasi, meskipun sekecilnya.
"Apakah anak-anak tau soal Bu Rodiah?" tanya Arkan, penuh selidik.
"Belum saya beri tahu. Takut mereka trauma.. Tetapi tanpa saya beritahu, mereka pasti sudah mendengar ceritanya dari orang tua mereka."
Suasana mendadak hening. Mereka diam untuk sesaat.
Arkan menarik nafasnya dengan dalam, dan menghelanya. Kemudian menatap kembali wajah sang gadis. Bibir tipis dengan warna merah muda, dan membuat mata pria manapun akan terpesona.
"Jujur, Bu. Dari semua orang yang saya temui pagi ini... Ibu adalah satu-satunya yang gak histeris sama sekali..."
Dayang Sari tersenyum tipis. "Kalau saya ikut histeris, siapa yang akan menenangkan anak-anak nanti?"
Jantung Arkan seakan terhenti...
Dug!
Arkan menelan salivanya. "Boleh saya tanya lebih dalam? Soal mitos Kuyang di sini?"
Dayang mengangguk pelan. "Boleh. Tapi janji jangan membuat warga semakin takut."
Arkan mengangguk setuju. "Aku janji." ia berhenti sejenak. Menyusun kata yang lebih tepat. "Menurut Ibu, apa yang menyerang Bu Rodiah itu adalah beneran Kuyang?"
Dayang Sari terdiam sejenak. Lalu berusaha menjaga deguban jantungnya tetap normal. "Saya gak tau, Pak. Saya hanya seorang guru. Tapi yang saya tau, kalau ada orang sakit, kita akan tolong dulu. Baru cari tau siapa pelakunya."
Arkan terus mencecarnya. "Kalau pelakunya orang kampung ini sendiri bagaimana?"
Dayang menatap Arkan. "Kalau begitu... kita doakan agar dia segera sadar."
Arkan cukup kaget dengan jawaban Dayang Sari. "Wah, ternyata ibu baik banget ya..."
Dayang:m tersenyum tipis. "Bukan baik. Ini hanya sebuah tugas dan juga contoh."
Kemudian ia berdiri, mengambil buku. "Ini daftar anak yang orang tuanya kemarin ikut ronda. Mungkin bisa bantu Bapak."
Arkan meneimanya. Jari mereka tanpa sengaja saling bersentuhan.
Terasa dingin. Tetapi ada rasa yang aneh.
WUUUSH!
Mendadak aroma anyir darah menguar di ruang tamu. Arkan mengendusnya, dan rasa mual seolah sedang mengaduk perutnya.
Dari luar sana, suara anjing melolong panjang.
Dayang masih tetap bersikap tenang. Angin bertiup kencang, dan membuat Arkan merasakan bulu kuduknya meremang.
"Apakah ibu tidak merasa takut dengan kejadian ini?"
"Takut itu hanya sama Yang Maha Kuasa saja. Sama yang lain, ngapain takut?" jawabnya penuh percaya diri.
Arkan mendengkus. Jawaban yang diberikan Dayang Sari selalu saja mematahkan argumennya. "Baiklah, Bu... Lain kali boleh saya kesini lagi? Buat melakukan riset?"
"Silakan saja. Asal jam kerja saya tidak diganggu." jawab Dayang Sari.
"Siap, Bu Guru." Arkan bersiap pergi. Lalu beranjak bangkit, dan berdiri hendak pamit.
"Makasih atas suguhan tehnya, Bu." ucap Arkan dengan sopan.
Ia kembali mengendus aroma anyir darah yang tak biasa.
"Sama-sama. Hati-hati di jalan." sahut Dayang Sari.
Arkan menganggukkan kepalanya. Lalu menuruni dua anak tangga. Dan ia berhenti sejenak.
Ia melihat anjing berkeliaran di balik semak, dan menggonggong dengan sangat panjang.
"Oh ya, Bu. Malam nanti ada waktu tidak? Saya masih ingin berdiskusi tentang masalah Kuyang."
Dayang Sari terdiam sejenak. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Maaf, Pak Wartawan... Saya ada tugas sekolah, dan ini demi materi ajar anak didik saya." tolaknya dengan sopan.
Arkan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya tidak akan memaksa...."
"Terimakasih atas pengertiannya, Pak Wartawan..." Dayang Sari tersenyum.
"Panggil saja saya Arkan, jangan Pak Wartawan, terlalu formal," Arkan meralat ucapan Dayang Sari. Lalu berjalan menapaki anak tangga. Kemudian berhenti kembali, dan menoleh ke arah Dayang.
Jantungnya seperti bergemuruh. Entah perasaan apa yang sedang hadir di relung hatinya. Dua bola mata sang gadis, seolah tampak begitu jernih, dan dapat menembus pikirannya.
Dayang masih berdiri di pintu. Ia melambaikan tangan dengan gerakan yang pelan.
Arkan tersenyum datar. Lalu kembali berjalan dan pergi.
Saat berada di motornya, Dayang Sari sudah menutup pintu.
"Aneh sekali... semua orang merasa panik. Tetapi dia malah menawarkan teh." gumamnya dalam hati.
Arkan menghidupkan mesin motornya. Lalu pergi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Dalam hatinya, ia sedang merasa curiga.
siapa bila ai itu
serba salah kan
apa tau KLO daymg kuyang tersebut
kok kek nya ada indukan juga
apa dayang sari hanya korban apa gmn
kemana kak ❓🤔
lho
spo kui kuyang e SMG cpet ketemu deh
ahhh e Tah lah