NovelToon NovelToon
KUTUKAN KUYANG

KUTUKAN KUYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Tumbal
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.

Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.

Siapakah penerornya?

Ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata Yang Tidak Panik

Dayang Sari segera membuang pandangannya. Tatapan Arkan terlalu dalam, seolah ingin mengorek semua rahasianya.

Kabut masih cukup tebal. Udara juga masih sangat dingin, tetapi dada Dayang Sari bergemuruh, membuat darahnya berdesir dan menghantarkan rasa hangat pada suhu tubuhnya.

"Ada perlu apa, Pak Wartawan?" tanya Dayang dengan nada yang cukup dingin. Ia mengetahui profesi Arkan dari data yang ada di kelurahan.

Arkan mengulas senyum tipis. "Emmm, saya ada perlu sedikit, Bu... Minta waktunya untuk ngobrol,"

Dayang Sari terdiam sejenak. Lalu memasang wajah yang setenang mungkin.

"Masuk dulu. Saya akan buatkan camilan dan juga minum teh..."

Dayang Sari menggeser tubuhnya dari ambang pintu, dan memberi jalan kepada Arkan untuk masuk. Sikapnya terlalu tenang.

Arkan mengangguk, lalu menapaki anak tangga dan masuk ke dalam rumah panggung.

Pemuda itu menyapu pandangannya ke segala arah. Rumah yang tampak rapi. Ada meja belajar, buku-buku, dan satu foto anak-anak TK yang yang menjadi siswa dari Dayang Sari di tempatnya mengajar.

Dayang Sari menatap punggung Arkan yang berjalan menuju ke arah foto para siswanya.

Ia berusaha kembali tenang. Lalu menuju dapur, dan memasak teh untuk tamunya.

Lima menit kemudian, ia datang dengan nampan berisi segelas teh dan juga seporsi pisang kapit. Yaitu jajanan yang terbuat dari pisang kepok bakar dan di jepit, lalu di siram dengan kuah santan bercampur gula aren.

"Silahkan di cicipi," Dayang Sari menata hidangannya di atas meja.

Sedangkan Arkan menatapnya dengan sekilas. "Terimakasih..." ia mengambil teh tersebut, dan menyeruputnya. "Bu Rodiah tetangga Ibu, kan?" ia meletakkan gelas di atas meja.

"Iya. Rumahnya tiga rumah dari sini." jawab Dayang setenang mungkin.

Ia mengangkat cangkir teh. Tangannya tidak gemetar sama sekali, lalu menyeruput tehnya.

Arkan sudah memperhatikan kondisi desa. Sejak subuh ia berkeliling. Semua warga heboh, menangis, dan bahkan berteriak "KUYANG! KUYANG!"

Akan tetapi, Dayang Sari yang terlihat... biasa aja.

Arkan menarik nafasnya dengan dalam. Lalu menatap Dayang yang wajahnya terlihat semakin cantik. Bahkan Arkan bisa membandingkannya dengan para artis yang sering perawatan di salon mahal. Tetapi Dayang lebih terlihat alami.

"Bu Guru... Ibu gak takut dengan berita Kuyang ini?"

Dayang Sari menarik nafasnya dengan berat. Lalu menatap pada pada Arkan.

 "Tentu saja saya takut. Tapi berusaha tidak panik. Karena panik gak akan menyelesaikan masalah. Bukan begitu— Pak."

Dayang membenahi duduknya. Lalu melanjutkan ucapannya. "Tadi malam saya dengar ada suara teriakan. Saya mau ikut menolong. Tapi Damang bilang, kalau saya jangan keluar. Jadi saya hanya berdoa dari rumah."

Arkan mengambil buku sakunya. Lalu mencatat apa yang menjadi garis besar dalam setiap hal yang ia anggap informasi, meskipun sekecilnya.

 "Apakah anak-anak tau soal Bu Rodiah?" tanya Arkan, penuh selidik.

"Belum saya beri tahu. Takut mereka trauma.. Tetapi tanpa saya beritahu, mereka pasti sudah mendengar ceritanya dari orang tua mereka."

Suasana mendadak hening. Mereka diam untuk sesaat.

Arkan menatap kembali wajah sang gadis. Bibir tipis dengan warna merah muda, dan membuat mata pria manapun akan terpesona.

"Jujur, Bu. Dari semua orang yang saya temui pagi ini... Ibu adalah satu-satunya yang gak histeris sama sekali..."

Dayang Sari tersenyum tipis. "Kalau saya ikut histeris, siapa yang akan menenangkan anak-anak nanti?"

Jantung Arkan seakan terhenti...

Dug!

Arkan menelan salivanya. "Boleh saya tanya lebih dalam? Soal mitos Kuyang di sini?"

Dayang mengangguk pelan. "Boleh. Tapi janji jangan membuat warga semakin takut."

Arkan mengangguk setuju. "Aku janji." ia berhenti sejenak. Menyusun kata yang lebih tepat. "Menurut Ibu, apa yang menyerang Bu Rodiah itu beneran Kuyang?"

Dayang Sari terdiam sejenak. Lalu berusaha menjaga deguban jantungnya tetap normal. "Saya gak tau, Pak. Saya hanya seoeang guru. Tapi yang saya tau, kalau ada orang sakit, kita akan tolong dulu. Baru cari tau siapa pelakunya."

Arkan terus mencecarnya. "Kalau pelakunya orang kampung ini sendiri bagaimana?"

Dayang menatap Arkan. "Kalau begitu... kita doakan agar dia segera sadar."

Arkan cukup kaget dengan jawaban Dayang Sari. "Wah, ternyata ibu baik banget ya..."

Dayang:m tersenyum tipis. "Bukan baik. Ini hanya sebuah tugas dan juga contoh."

Kemudian ia berdiri, mengambil buku. "Ini daftar anak yang orang tuanya kemarin ikut ronda. Mungkin bisa bantu Bapak."

Arkan meneimanya. Jari mereka tanpa sengaja saling bersentuhan.

Terasa dingin. Tetapi ada rasa yang aneh.

WUUUSH!

Mendadak aroma anyir darah menguar di ruang tamu. Arkan mengendusnya, dan rasa mual seolah sedang mengaduk perutnya.

Dari luar sana, suara anjing melolong panjang.

Dayang masih tetap bersikap tenang. Angin bertiup kencang, dan membuat Arkan merasakan bulu kuduknya meremang.

"Apakah ibu tidak merasa takut dengan kejadian ini?"

"Takut itu hanya sama Yang Maha Kuasa saja. Sama yang lain, ngapain takut?" jawabnya penuh percaya diri.

Arkan mendengkus. Jawaban yang diberikan Dayang Sari selalu saja mematahkan argumennya. "Baiklah, Bu... Lain kali boleh saya kesini lagi? Buat melakukan riset?"

"Silakan saja. Asal jam kerja saya tidak diganggu." jawab Dayang Sari.

"Siap, Bu Guru." Arkan bersiap pergi. Lalu beranjak bangkit, dan berdiri hendak pamit.

"Makasih atas suguhan tehnya, Bu." ucap Arkan dengan sopan.

Ia kembali mengendus aroma anyir darah yang tak biasa.

"Sama-sama. Hati-hati di jalan." sahut Dayang Sari.

Arkan menganggukkan kepalanya. Lalu menuruni dua anak tangga. Dan ia berhenti sejenak.

Ia melihat anjing berkeliaran di balik semak, dan menggonggong dengan sangat panjang.

"Oh ya, Bu. Malam nanti ada waktu tidak? Saya masih ingin berdiskusi tentang masalah Kuyang."

Dayang Sari terdiam sejenak. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Maaf, Pak Wartawan... Saya ada tugas sekolah, dan ini demi materi ajar anak didik saya." tolaknya dengan sopan.

Arkan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya tidak akan memaksa...."

"Terimakasih atas pengertiannya, Pak Wartawan..." Dayang Sari tersenyum.

"Panggil saja saya Arkan, jangan Pak Wartawan, terlalu formal," Arkan meralat ucapan Dayang Sari. Lalu berjalan menapaki anak tangga. Kemudian berhenti kembali, dan menoleh ke arah Dayang.

Jantungnya seperti bergemuruh. Entah perasaan apa yang sedang hadir di relung hatinya. Dua bola mata sang gadis, seolah tampak begitu jernih, dan dapat menembus pikirannya.

Dayang masih berdiri di pintu. Ia melambaikan tangan dengan gerakan yang pelan.

Arkan tersenyum datar. Lalu kembali berjalan dan pergi.

Saat berada di motornya, Dayang Sari sudah menutup pintu.

"Aneh sekali... semua orang merasa panik. Tetapi dia malah menawarkan teh." gumamnya dalam hati.

Arkan menghidupkan mesin motornya. Lalu pergi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Dalam hatinya, ia sedang merasa curiga.

1
Siti Yatmi
aduh..pas tegang..eh udahan....
neni nuraeni
semoga Arkan tidak ketauan dan segera mndptkn 2 minyak,,, 💪💪 Arkan 💪💪💪pula buat kak thornya biar upnya dbnykin🤭,lnjutt
FiaNasa
semangat Arkan kau pasti bisa
tati st🌼🌼
ayo semangat arka kamu pasti berhasil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
semoga Arkan berhasil,semangat Arkan,, semngt juga buat kak thor nya
Siti Yatmi
ayo arkan semangat kamu pasti bisa..💪 author cantik juga yg semangat yah up nya...😍
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
lnjuttt
neni nuraeni: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
FiaNasa
baguslah sudah ada titik terang untuk bisa melepaskan kutukan itu
tati st🌼🌼
🧡🧡🧡🧡🧡
tati st🌼🌼
katanya dlm sebulan gak bakal.minta tumbal dulu,dasar iblis janji palsu
neni nuraeni
iiihhh sllu deh bikin aku pnsrn Bae kak thor mah🤭🤭,, lnjuttt lahhh
FiaNasa
klau cuma ngomong aja mau cari jalan kluar tanpa bertindak mana bisa Arkan,,dr awal cuma ngomong terus tp gak ada tindakan
FiaNasa: udah tak siapin gayung ni thor buat getok si arkan😅😅😅
total 2 replies
neni nuraeni
kuyang oh kuyang kau meresahkan sekali,,, pengen tak bakar kau kasian dayang
neni nuraeni: betul itu kak 😂😂tapi jijay juga kali kak😁😁
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Damang Jaya meninggal?

Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..

Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
neni nuraeni
ih tatut.. semoga mereka bisa menemukn cara agar dayang terlepas dr kutukan itu
Anggita.🤗
Syng sekali, gadis ko jd kuyang😫, mungkin kh ilmu hitam itu diturunkan dri kakek buyutnya ya.
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Anggita.🤗
Saya dulu juga pernah diganggu kuyang thor, saat ber 2 sm ank ku yg waktu itu msh balita drumah.
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.

Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Anggita.🤗: betul bngt.
total 2 replies
Anggita.🤗
Wahh ada bahasa daerah nya, atau bahasa Banjar🤭thor, kalimantan selatan merupakan suku Banjar.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺
Anggita.🤗: oh gitu🤭
total 2 replies
V3
smg Arkan menemukan cara nya untuk memutuskan kutukan itu 🤗
V3
hmmmm ..... Damang Jaya pdhal di percaya sbgi panutan warga tp mlh Dia sndri yg JD Kuyang nya 😔😱😱😱😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!