Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Kabar dari Utara
Seminggu berlalu dengan tenang di Millbrook dan kota-kota sekitarnya, mereka bertiga kembali menjalani rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan—mengambil misi kecil dari Guild, membantu penduduk desa, dan menikmati momen-momen sederhana bersama yang selama ini menjadi fondasi kehidupan mereka. Elaina semakin lancar membaca aksara dasar, bahkan mulai bisa menulis namanya sendiri dengan cukup rapi, sebuah pencapaian yang ia rayakan dengan penuh kebanggaan setiap kali menunjukkannya pada siapa pun yang mau melihat.
Namun ketenangan itu kembali terusik pada suatu sore, ketika mereka baru saja kembali dari misi kecil membasmi hama tanaman di ladang seorang petani, dan mendapati Guild Millbrook dipenuhi keributan yang tidak biasa.
"Kalian dengar beritanya?" seorang petualang bertanya pada rekannya, cukup keras hingga terdengar oleh Sasuke yang baru melangkah masuk. "Gereja Cabang Utara mengumumkan program baru—'Ksatria Suci', katanya. Merekrut petualang muda berbakat untuk dilatih langsung di bawah bimbingan Uskup Agung sendiri."
"Dengar-dengar bayarannya luar biasa besar," rekannya menjawab, matanya berbinar penuh minat. "Dan katanya siapa pun yang lolos seleksi akan diberi kekuatan istimewa langsung dari Dewa Agung sendiri, semacam berkat khusus."
Sasuke membeku di tempatnya\, kata-kata itu menghantam kesadarannya seperti petir. Ia teringat kembali ancaman terselubung Uskup Valemont beberapa minggu lalu—*tugas ini dialihkan pada seseorang yang lebih berkomitmen*.
"Sasuke?" Saviera memanggil, memperhatikan perubahan mendadak di wajahnya. "Ada apa?"
"Program itu," Sasuke berkata pelan, suaranya tegang. "Aku rasa ini yang dimaksud Uskup Valemont waktu itu."
---
Mereka mendekati papan pengumuman Guild, tempat sebuah poster besar baru saja ditempel, lambang matahari bersinar Gereja tercetak jelas di bagian atasnya. Tulisan besar mengumumkan pembukaan pendaftaran "Ksatria Suci Gereja", dengan syarat-syarat yang mencakup minimal Level tujuh puluh, loyalitas penuh pada Gereja, dan kesediaan menerima "tugas khusus" tanpa banyak bertanya.
Di bagian bawah poster\, tercantum sebuah kalimat kecil yang membuat perut Sasuke terasa dingin: *Program ini bertujuan mengidentifikasi dan menetralisir ancaman berbahaya bagi keseimbangan dunia\, di bawah bimbingan langsung Dewa Agung.*
"Mereka melatih orang lain untuk melakukan misiku," Sasuke berkata pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Persis seperti yang diancamkan Uskup Valemont."
Saviera membaca poster itu dengan saksama, dahinya berkerut khawatir. "Kau pikir mereka akan mengirim petualang biasa untuk menghadapi Eternity? Setelah semua yang kau pelajari soal seberapa berbahayanya dia?"
"Aku tidak tahu apakah mereka tahu seberapa berbahaya dia sebenarnya," Sasuke menjawab, kekhawatiran mulai bercampur dengan kemarahan yang jarang ia rasakan. "Atau mungkin mereka tahu, dan tetap bersedia mengorbankan orang lain demi hasil cepat."
Elaina, yang berdiri di antara mereka sambil menatap poster besar itu, mengerutkan dahinya kecil, mencoba memahami situasi yang kembali terasa berat. "Papa, itu artinya orang lain bakal dapat kekuatan kayak Papa? Terus disuruh cari orang jahat yang sama kayak yang Papa cari?"
"Sesuatu seperti itu," Sasuke menjawab, mengusap kepalanya lembut meski pikirannya sendiri berkecamuk.
"Tapi mereka nggak sekuat Papa, kan?" Elaina bertanya lagi, matanya penuh kekhawatiran yang tulus. "Nanti mereka bisa kena bahaya!"
Kepekaan sederhana Elaina, seperti biasa, menangkap inti masalah dengan lebih jelas daripada yang bisa diucapkan orang dewasa mana pun di sekitarnya.
---
Malam itu, Sasuke, Saviera, dan Elaina duduk bersama di kamar penginapan, suasana jauh lebih serius dari rutinitas tenang yang mereka nikmati seminggu terakhir.
"Aku harus melakukan sesuatu," Sasuke akhirnya berkata, memecah keheningan panjang. "Aku tidak bisa membiarkan orang lain dikirim ke bahaya yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya siap hadapi."
"Apa rencanamu?" Saviera bertanya, suaranya tenang meski matanya menunjukkan kekhawatiran yang sama.
"Aku perlu bicara dengan Uskup Valemont lagi," Sasuke menjawab, sudah mulai menyusun langkah dalam benaknya. "Menunjukkan progres nyata, meyakinkan mereka bahwa aku masih menjalankan misi ini dengan serius, cukup untuk menghentikan program 'Ksatria Suci' ini sebelum ada yang benar-benar terluka karenanya."
"Bagaimana caramu menunjukkan progres, kalau kau belum benar-benar mendekati Eternity sendiri?" Saviera bertanya, khawatir tapi juga realistis.
Sasuke terdiam sejenak, mempertimbangkan pilihannya dengan hati-hati. "Aku akan menceritakan apa yang kupelajari sejauh ini—tentang percakapanku dengannya di Aldric, tentang seberapa berbahaya dia sebenarnya. Bukan untuk memburu dia sekarang, tapi untuk menunjukkan bahwa aku sudah membuat kemajuan nyata dalam memahami ancamannya, dengan cara yang jauh lebih aman daripada mengirim petualang muda yang tidak siap."
Saviera mengangguk pelan, mempertimbangkan rencana itu. "Berisiko, tapi masuk akal. Kapan kau berencana melakukannya?"
"Secepat mungkin," Sasuke menjawab. "Setiap hari yang berlalu, semakin banyak petualang muda yang mungkin sudah mendaftar program itu, tidak menyadari bahaya sesungguhnya yang mereka hadapi."
Elaina, yang duduk di antara mereka berdua sambil memeluk boneka kain kecil yang baru saja dibelikan Saviera untuknya, menatap Sasuke dengan mata seriusnya. "Papa harus hati-hati juga, ya. Elaina nggak mau Papa kena bahaya juga."
Sasuke tersenyum kecil, mengusap kepalanya. "Aku janji akan berhati-hati."
"Janji beneran?" Elaina bertanya, mengulangi ritual kelingking mereka yang sudah menjadi kebiasaan.
Sasuke mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking kecil Elaina sekali lagi, meski kali ini beban di balik janji itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. "Janji beneran."
Di luar jendela, malam Millbrook yang tenang tetap tidak berubah, namun di dalam kamar penginapan itu, sebuah keputusan besar baru saja mulai terbentuk—satu yang akan membawa mereka kembali berhadapan dengan institusi yang mulai menunjukkan wajah aslinya yang jauh lebih rumit dari yang pernah mereka bayangkan.
---
*Bersambung ke Bab 28 : Menghadap Gereja*