Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Pertengkaran Hebat
Matahari sore baru saja meredup di ufuk barat, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul di balik jendela kaca gedung-gedung bertingkat. Suara deru mesin mobil mewah berjenis sedan hitam pekat milik Arka memasuki pekarangan rumah besar keluarga Pratama dengan kecepatan sedang, ban mobilnya bergesekan pelan dengan lantai paving blok halaman. Pria itu baru saja turun dari mobil dengan setelan jas kerja lengkap yang kancing atasnya sudah sedikit terbuka dan dasinya sedikit berantakan, mencerminkan kelelahan luar biasa setelah seharian penuh bergelut dengan masalah korporasi, negosiasi alot, dan rapat direksi yang menguras tenaga di kantor pusatnya yang megah di kawasan segitiga emas.
Begitu Arka melangkah masuk melalui pintu utama berukiran kayu jati klasik, suasana rumah tampak terasa berbeda dari biasanya. Para pelayan rumah tangga tampak mondar-mandir dengan wajah cemas, saling melempar pandangan gelisah tanpa berani bersuara terlalu keras. Sebelum Arka sempat melonggarkan dasinya atau memanggil pelayan untuk membawakan tas kerjanya, Bi Inah—kepala pelayan paruh baya yang paling senior di rumah itu—bergegas mendekatinya dengan langkah setengah memburu, napasnya sedikit terengah-engah.
"Tuan... ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap Bi Inah dengan nada ragu-ragu, jemarinya saling meremas di depan apronnya, mencoba menahan langkah majikannya yang hendak berlalu ke lantai atas.
Arka menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia menatap kepala pelayan tua itu dengan sebelah alis terangkat tajam, garis kerutan terbentuk di keningnya akibat rasa lelah yang bercampur jengkel. "Ada apa lagi, Bi Inah? Jangan bilang ada urusan sepele rumah tangga yang membuat keributan lagi di rumah ini. Saya sudah cukup pusing dengan urusan kantor."
"Bukan masalah sepele, Tuan. Ini menyangkut Nyonya Kirana," lapor Bi Inah jujur dan apa adanya, meski ia tahu persis risiko kemarahan yang akan ia terima jika menyebut nama itu di hadapan Arka. "Tadi siang... Nyonya Kirana pergi keluar rumah menggunakan sopir pribadi kita. Beliau meminta diantar ke salah satu toko perlengkapan bayi yang cukup terkenal di pusat kota."
*Deg.*
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bi Inah, menghantam telinga Arka bagaikan sambaran petir di siang bolong yang meruntuhkan konsentrasinya dalam sekejap.
Pria itu tertegun sesaat di tempatnya berdiri. Seluruh otot di tubuhnya menegang kaku. Sesaat kemudian, gelombang amarah yang pekat, panas, dan menggelora langsung mendidih di dalam dadanya, membakar sisa-sisa kewarasannya setelah seharian bekerja. Sudut bibirnya terangkat naik membentuk sebuah senyuman sinis yang teramat tajam dan menakutkan. Di tengah pikirannya yang sudah penat oleh masalah bisnis, informasi itu terdengar di telinganya bukan sebagai sebuah kabar gembira, melainkan sebagai puncak dari segala kepolosan, kekonyolan, dan drama tidak penting yang selama ini melekat pada diri Kirana.
*Toko perlengkapan bayi?* batin Arka bergemuruh geram di dalam kepalanya. Pria itu sama sekali belum tahu—dan tidak punya petunjuk apa pun—bahwa Kirana sedang mengandung darah dagingnya sendiri. Yang berputar di dalam kepala Arka saat itu hanyalah asumsi kaku bahwa istrinya kembali berulah. Ia berpikir Kirana sedang memanfaatkan fasilitas rumah tangga, memperbudak sopir pribadi, dan menghabiskan waktu luangnya hanya untuk membeli barang-barang tidak berguna, bermain peran menjadi ibu rumah tangga teladan, atau sekadar memuaskan sifat kekanak-kanakannya yang manja.
Tanpa membuang waktu sedetik pun atau mendengarkan penjelasan lanjutan dari Bi Inah, Arka melangkah lebar-lebar dengan penuh tekanan menuju kamar tamu di lantai bawah—tempat di mana Kirana selama ini tinggal dan menyendiri.
*Brak!*
Pintu kamar itu didorong terbuka dengan dorongan yang sangat kasar, menghantam dinding di baliknya tanpa aba-aba peringatan sedikit pun.
Di dalam kamar yang bernuansa minimalis itu, Kirana yang sedang duduk tenang di balik meja kerjanya—merapikan beberapa dokumen kecil, catatan resep, dan pembukuan usaha kateringnya—tersentak kaget hingga pensil di tangannya hampir terjatuh. Ia mendongak dengan cepat, mendapati Arka berdiri di ambang pintu dengan dada naik turun menahan murka yang meluap-luap, sorot mata pria itu menyala tajam penuh amarah siap membakar apa saja.
"Arka...?" panggil Kirana lirih, sedikit terkejut dengan kedatangan suaminya yang mendadak agresif dan menyerbu privasinya tanpa etika.
Tanpa mempedulikan keterkejutan istrinya, Arka melangkah masuk mendekati meja kerja Kirana dengan langkah menghentak. Pria itu langsung mencengkeram tepi meja kayu tersebut dengan kedua tangannya, membungkukkan badan ke depan, dan memaksa Kirana untuk mendongak serta menatap lurus ke dalam manik matanya yang penuh kemarahan.
"Jadi, kamu memanfaatkan sopir pribadi dan mobil keluarga hanya untuk pergi ke toko perlengkapan bayi?" suara Arka bergemerincing rendah, dingin, penuh tekanan emosi yang hampir meledak dari balik giginya yang kertap-kertip. "Apa sebenarnya yang merasuki pikiranmu, Kirana?! Apa kurang kerjaan sekali hidupmu sampai harus bermain-main ke tempat seperti itu?"
Kirana mengerjap pelan, mencoba mempertahankan benteng ketenangannya di hadapan pria yang kini tampak bagaikan monster asing. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap wajah suaminya yang mengeras tanpa rasa gentar. "Aku punya keperluan penting ke sana, Mas. Aku tidak meminta uang sepeser pun darimu untuk ke sana, dan aku hanya—"
"Keperluan penting apa?!" potong Arka membentak keras, suaranya menggelegar memenuhi ruangan kecil itu, memecah kesunyian sore hari. "Jangan membuat alasan konyol di hadapanku!"
Bentakan keras itu membuat jantung Kirana berdegup kencang secara refleks, namun ia mati-matian menahan diri agar tidak menciut atau menunjukkan kelemahan di hadapan suaminya.
"Jangan mempermalukan diri sendiri dengan tingkah kekanak-kanakan seperti itu!" lanjut Arka dengan nada penuh cemooh dan penghinaan yang menyayat hati. "Belum cukupkah semua fasilitas mewah yang sudah saya berikan di rumah ini? Kamu mau bermain-main jadi ibu rumah tangga? Mau membeli pernak-pernik bayi yang sama sekali tidak ada gunanya untuk kita? Kamu ini benar-benar wanita manja yang tidak tahu diuntung dan tidak tahu malu!"
Kata-kata pedas itu meluncur begitu saja, menghujam tepat di ulu hati Kirana bagaikan belati berkarat. Darahnya mendidih seketika, panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, alih-alih menangis terisak atau merengek seperti Kirana di masa lalu, rasa sakit yang teramat sangat itu justru membangkitkan keberanian luar biasa yang selama ini terpendam di balik kelembutannya. Kirana perlahan berdiri dari kursi kerjanya, menegakkan tubuhnya dengan anggun, dan menatap Arka tepat di dalam manik mata hitam pria itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku tidak sedang bermain-main, Mas," jawab Kirana dengan suara yang sangat dingin, datar, dan begitu tegas, tanpa ada getaran takut di dalamnya.
"Lalu apa namanya kalau bukan bermain-main dan mencari perhatian?!" Arka balas membentak jauh lebih keras, benar-benar hilang kesabarannya melihat sikap tenang Kirana yang dianggapnya sebagai bentuk pembangkangan yang tidak menghormati suami. "Kamu tidak bisa mandiri! Keluar rumah sedikit saja harus diantar sopir, belanja hal-hal tidak penting yang tidak masuk akal, dan hidup bergantung sepenuhnya pada fasilitas rumah ini yang selalu kamu benci tapi nikmati setiap hari! Kapan kamu mau belajar dewasa, Kirana?! Kapan kamu berhenti menjadi beban hidupku dan belajar mandiri seperti orang dewasa pada umumnya?!"
Bagi Arka, bentakan keji itu adalah teguran keras agar istrinya sadar diri dan berhenti bertingkah aneh.
Namun bagi Kirana, kalimat-kalimat barusan adalah batas akhir dari segalanya—titik nadir di mana kesabarannya resmi habis. Arka menuduhnya manja, menuduhnya sebagai beban hidup, dan mencaci maki tujuannya pergi ke toko bayi—tempat di mana ia sebenarnya sedang mempersiapkan segala kebutuhan kecil untuk menyambut darah daging Arka sendiri, anak kandung pria itu. Rahasia besar tentang kehamilannya mendesak hebat di tenggorokan Kirana, ingin sekali ia lemparkan ke muka suaminya saat itu juga untuk membungkam mulut arogan yang penuh prasangka buruk tersebut.
*Apakah aku harus mengatakannya sekarang?* batin Kirana bergejolak hebat, pertempuran batin berkecamuk di dalam dadanya. *Apakah aku harus bilang kalau aku sedang mengandung anaknya, agar pria biadab ini berhenti menginjak-injak harga diriku sebagai wanita?*
Namun, sesaat kemudian, Kirana melirik sorot mata Arka yang dipenuhi oleh kemarahan membabi buta, prasangka murahan, dan ketidaksukaan yang mendalam. Ia sadar sepenuhnya. Jika ia mengatakan kehamilan itu di tengah amarah dan tuduhan keji seperti ini, Arka tidak akan merasa bahagia. Pria itu justru akan mencurigainya, menganggap kehamilan tersebut sebagai taktik licik atau jebakan murahan untuk mengikatnya lebih erat. Harga diri Kirana yang telah dihancurkan berkali-kali menolak keras untuk merendahkan diri sedemikian rupa.
Kirana menarik napas panjang, menelan seluruh rasa sakit, sisa-sisa air mata, dan kebenaran yang tertahan di tenggorokan hingga tenggelam kembali ke dasar hatinya. Topeng ketenangannya terpasang sempurna kembali—jauh lebih dingin, lebih tebal, dan jauh lebih membeku dari es batu.
"Sudah selesai marahnya, Tuan Pratama?" tanya Kirana dengan suara datar yang sangat tenang, begitu kontras dengan amarah Arka yang masih berkobar-kobar di hadapannya.
Arka tertegun sejenak di tempatnya. Napas pria itu masih memburu naik turun, namun nada bicara Kirana yang sama sekali tidak membalas berteriak membuat emosinya sedikit tertahan di udara, kehilangan bahan bakar untuk terus menyala.
"Kalau kamu sudah selesai mencaci makiku, menghina tujuanku, dan menyebutku wanita manja yang tidak mandiri," lanjut Kirana sambil menatap lurus mata suaminya tanpa gentar sedikit pun, "kamu boleh keluar dari kamar ini sekarang juga. Aku tidak pernah butuh izinmu untuk pergi ke mana pun, dan ingat kata-kataku ini: aku akan buktikan bahwa aku bisa hidup mandiri, sukses, dan bahagia jauh melampaui bayangan terburukmu."
Setelah mengucapkan kalimat penutup yang menghujam telak itu, Kirana berbalik badan begitu saja tanpa menoleh lagi. Ia berjalan menuju sudut kamar untuk merapikan bukunya, meninggalkan Arka berdiri mematung di tengah ruangan dengan amarah yang mendadak menggantung tanpa pelampiasan, menyisakan keheningan yang menyesakkan dada.
Arka menatap punggung istrinya dengan perasaan yang bercampur aduk secara ekstrem—antara rasa jengkel yang sisa-sisa, keheranan yang mendalam, dan sebuah sensasi asing yang dingin mencengkeram dadanya. Ada sesuatu yang sangat fundamental telah hilang dari diri Kirana, sesuatu yang membuat bentakan, amarah, dan cacian kasarnya tidak lagi mampu menyentuh, melukai, atau meruntuhkan pertahanan jiwa wanita itu.
.. mending pretty cure