NovelToon NovelToon
The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / One Night Stand / Tamat
Popularitas:22.7M
Nilai: 5
Nama Author: Winda keenandra

Bagaimana jadinya jika seorang laki-laki dan perempuan yang tidak saling mengenal terjebak pada situasi yang mengharuskan mereka menikah?

Zivanya Anindita
Gadis berusia 19 tahun harus tinggal di kota besar seorang diri untuk menempuh pendidikan di bangku kuliah. Dia harus bekerja part time untuk menambah penghasilannya.

Kenzo Julian Abram
Seorang pengusaha yang sangat dingin. Dia hanya memikirkan pekerjaan dan tidak memikirkan pernikahan hingga kedua orang tuanya memberikan ultimatum

Ikuti kisah Kenzo dan Vanya yang harus menikah karena kesalahpahaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda keenandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasangan normal?

Vanya yang mendengar perkataan Kenzo segera menoleh menatap Kenzo. Bagaimana mungkin orang ini bisa mengatakan hal itu dengan yakin, seolah-olah dia beneran akan menjalankan pernikahan ini dengan baik, batin Vanya.

Sementara itu, Kenzo yang merasa sedang diperhatikan hanya mengendikkan bahunya sambil menyeruput minuman wedang jahe yang ada di depannya. Pembicaraan dilanjutkan dengan obrolan ringan tentang masa kecil Vanya hingga ayah datang. Setelah ngobrol sebentar, mereka segera beranjak untuk beristirahat. Malam itu, Vanya meminta ibu tidur dengannya.

Pagi itu setelah sarapan, Vanya dan Kenzo segera berpamitan untuk kembali ke kota. Ayah dan ibu akan menyusul untuk acara ijab qobul empat hari lagi. Vanya memilih untuk naik kereta api, meski Kenzo sudah menolaknya. Dia sudah lama sekali tidak naik kereta api, dan dia merasa sedikit kurang nyaman jika harus berdesak-desakan dengan banyak orang. Akhirnya Vanya mengalah dengan membeli tiket bisnis kereta api.

Selama kurang lebih dua jam mereka sudah tiba. Supir keluarga Kenzo sudah menunggu di stasiun untuk menjemput mereka dan segera membawa mereka ke tempat masing-masing.

"Turunkan aku di depan saja Pak, tidak usah sampai depan kos-kosan," pinta Vanya kepada pak supir.

Kenzo yang mendengarnya mengernyitkan dahinya. "Kenapa?" Tanyanya.

Vanya menoleh kepada Kenzo. "Tidak apa-apa, aku cuma tidak mau ada banyak pertanyaan nantinya. Ini kan sudah siang, jadi banyak penghuni kos yang akan pulang untuk istirahat atau makan siang di kos," jawab Vanya.

Kenzo terlihat tidak suka dengan jawaban Vanya. Bukannya mereka akan menikah. Jika tidak ada yang tahu tentang hal itu bisa-bisa dia akan diarak keliling komplek jika terlihat sedang bersama Vanya di dalam kos. Batin Kenzo.

"Biar saja mereka tahu, kita akan segera menikah," kata Kenzo. "Sekalian saja diumumkan kepada seluruh penghuni kos. Jadi jika nanti aku terlihat disana, tidak akan ada yang menggerebek kita," lanjut Kenzo.

Vanya merengut mendengar penjelasan Kenzo. "Memang apa yang akan kita lakukan di kos-kosanku?" Tanya Vanya.

Kenzo mendengus kesal mendengar pertanyaan Vanya. "Masih saja bertanya," ketus Kenzo. "Memang apa lagi yang akan dilakukan pasangan suami istri di dalam kamar hah," lanjut Kenzo.

Seketika Vanya membulatkan mata dan mulutnya mendengar perkataan Kenzo. Dia segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menggeser duduknya menjauhi Kenzo hingga menempel pada pintu mobil. Kenzo yang melihat tingkah Vanya mendengus kesal. 

"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Kenzo.

"Apa maksudnya tadi?" 

"Itu kan hal yang biasa dilakukan pasangan suami istri normal. Mereka akan melakukan hal-hal yang iya-iya setelah menikah," jelas Kenzo.

"Lalu?" Vany masih terus saja khawatir.

"Tenang saja, kita kan bukan pasangan suami istri normal," jelas Kenzo. Vanya mendengus kesal mendengar jawaban Kenzo.

Akhirnya, mau tidak mau Vanya menerima jika Kenzo tetap mengantarnya hingga sampai ke kos-kosan. Dan benar saja, banyak pasang mata yang sempat berpapasan mengamati Vanya dan Kenzo yang baru saja tiba. Kenzo memaksa untuk membawakan tas Vanya hingga ke dalam kamar kosnya. Sekalian unjuk muka, kilahnya. Sementara Vanya hanya bisa menundukkan wajahnya.

Sesampainya di depan kamar, Vanya langsung membuka pintu kamar kosnya. Kenzo menunggu di depan pintu sambil masih membawa tas Vanya. Begitu pintu terbuka Kenzo segera memberikan tas Vanya.

"Ini tasmu. Jangan lupa besok setelah kuliah segera ke kantorku. Kita berangkat bersama-sama fitting baju," kata Kenzo mengingatkan.

Vanya mendengus kesal. Pasalnya, ini sudah beberapa kali Kenzo mengingatkannya tentang hal itu. Apalagi, mama Tari juga sudah beberapa kali meneleponnya untuk memberitahukan hal itu.

"Iya, aku ingat" jawab Vanya.

"Jangan lupa minta izin untuk tidak bekerja, kalau perlu sekalian resign. Aku sudah berjanji akan memberikan fasilitas yang kamu butuhkan," lanjut Kenzo.

"Kalau berhenti mendadak aku tidak enak dengan pemilik eSTe. Dia sudah sangat baik kepadaku selama ini," kata Vanya dengan wajah memelas sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Kenzo mendengus kesal melihat ekspresi Vanya. "Terserahlah, tapi untuk minggu ini ijin dulu," kata Kenzo. "Acaranya tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak mau acaranya berantakan. Kamu tahu apa yang akan dilakukan mama," lanjut Kenzo. Vanya hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia mengerti ucapan Kenzo.

Setelah berbicara sebentar, Kenzo segera pergi. Dia ingin segera pulang dan mengistirahatkan badannya. Dia merasa sangat letih. Kenzo pun memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Setidaknya, akan ada beberapa asisten rumah tangga disana yang bisa membantunya.

Sementara Vanya segera membersihkan diri setelah masuk ke dalam kamar kosnya. Setelah selesai, dia langsung merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Vanya merasa sangat letih sekali. Tak berapa lama kemudian, Vanya pun terlelap. Hingga sore hari, Vanya terbangun ketika mendengar suara hujan turun. 

Keesokan harinya setelah pulang kuliah, Vanya sudah berada di depan kantor Kenzo setelah tadi mendapatkan alamat kantornya. Vanya berdiri melihat bangunan kantor Kenzo yang sangat besar. Dia merasa sangat takjub dengan design bangunan itu. Dia segera melangkahkan kakinya menuju bagian resepsionis kantor tersebut.

“Permisi mbak, saya ingin bertemu dengan Bapak Kenzo. Apakah bisa?” tanya Vanya.

Petugas resepsionis tersebut mengamati Vanya sebentar. Dia terlihat memaksakan senyum sebelum menjawab pertanyaan Vanya. Namun, sebelum petugas resepsionis tersebut menjawab, sebuah panggilan menginterupsi mereka. 

“Nona Vanya!” panggil sebuah suara.

Si empunya suara segera menoleh untuk melihat siapa yang telah memanggilnya. Sedikit senyum Vanya tercipta tatkala mengetahui pemanggil namanya. Reyhan. Ya, asistennya Kenzo tadi yang telah memanggilnya.

“Sudah lama?” tanya Reyhan.

“Belum lama, ini juga baru sampai,” jawab Vanya yang segera di angguki oleh Reyhan.

“Mari, kita langsung menunggu di ruangan bos,” ajak Reyhan pada Vanya. Mereka langsung beranjak menuju ruangan Kenzo di lantai tujuh belas. 

Reyhan segera membuka pintu ketika mereka sudah sampai di depan sebuah ruangan dan meminta Vanya untuk masuk. “Silahkan masuk, Nona!” kata Reyhan.

Vanya segera masuk dan diikuti oleh Reyhan. Vanya segera duduk ketika Reyhan memintanya. Vanya sedikit risih ketika Reyhan memanggilnya dengan sebutan nona.

“Eeeehhmmm, maaf. Bisakah jangan memanggilku dengan sebutan nona, aku merasa risih dengannya,” pinta Vanya. Reyhan yang sedang mengambilkan air minum pun segera menoleh. 

“Maaf nona, saya tidak bisa melakukannya,” jawab Reyhan. “Saya bisa dimarahi bos jika melakukannya. Saya masih sayang pekerjaan saya,” lanjut Reyhan sambil mengulas senyum.

Vanya mendengus kesal mendengarnya. Dia mengerucutkan bibirnya sambil mengamati ruangan tempatnya berada.

“Ini ruangan bos kamu?” tanya Vanya.

“Iya, ini ruangan bos,” jawab Reyhan. 

“Lalu, dimana dia?” tanya Vanya. “Tadi saat makan siang dia memintaku untuk cepat-cepat datang kemari, tapi dia sendiri tidak ada di kantor” lanjut Vanya sambil mendengus kesal. Dia sudah cepat-cepat datang ke kantor Kenzo, namun si empunya malah tidak ada.

“Saya atas nama Bos Ken minta maaf Nona. Bos masih menemani klien makan siang sambil membahas next project di Bali. Mungkin sebentar lagi selesai,” jawan Reyhan sambil melihat jam tangannya.

“Ini kan sudah lewat jam makan siang,” dengusnya masih kesal. “Aku saja belum sempat makan siang tadi,” lanjut Vanya dengan lirih, namun masih bisa didengar oleh Reyhan.

“Nona belum makan siang?” tanya Reyhan.

Vanya mendongak menatap Reyhan yang sudah berdiri sambil memainkan ponselnya. 

“Saya sudah memesankan makan siang untuk nona, sebentar lagi akan datang. Maaf saya tinggal sebentar. Saya harus segera menyiapkan file untuk meeting besok,” kata Reyhan sambil membungkukkan badannya.

Vanya segera mengangguk dan mempersilahkan Reyhan untuk melanjutkan pekerjaannya.

.

.

.

.

.

\=\=\=\=\=

Masih adakah yang menunggu?

Jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan komen

Biar aku tidak merasa sendiri 🤗🤗

Thank you

1
Dinatha
makan pisang ya Banya?🤣🤣🫣😁
Dinatha
ya ealah...
Nama terkenal doang Kenzo dan Rey..
aslinya sih Buambangg 🤣🤣🤣
Dinatha
25 tahun? 🤣🤣🤣
temanmu hanya sebatas untuk menyenangkan hatimu saja..
dalam hati mereka bilang 52 tahun 😁😁🫣
Ani Haryani
kata mendengus kesal sering banget
Rossa Simangusong
kenapa??? kenapa harus dia yg jadi asisten Kenzo??? 😭😭😭
Febri Ana
ha ha lanjuutt thor
Febri Ana
ha ha lanjuuttt
Febri Ana
ha ha bingung deh vanya
Pujianto Ajha
Luar biasa
Yuri shina
Yuri shina
“”””
queen_umi252
kecil banget burung emprit.. 😁😁
Febri Ana
aduh fida lucu dan gesrek aku jadi gemes
Nia Juniawati
bagus sekali ceritanya
Annysa Idris Sanga
untung Kenzo TDK gengsian👍👍
Fadillah Ahmad
Alasan: karena masih ada taypo di beberapa bab,dan menyulitkan saya untuk membaca nya. Terima kasih.
Dess
😆😆siap siap Cakar cakaran nih
ika
pokoknya ini novel bener" bagus 😘😘🥰🥰
ANDI RAHMAN
ok
Endang thin
othor ini sekolahnua dmn ya??? kok bisa dpt buanyaaakkkk istilah2 yg absyur koyo begono thor???🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!