Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Hukuman
Mira berdiri di samping, masih tampak kesal. “Dasar Tina. Aku hampir tidak bisa menahan diri tadi. Untung Pak Raka datang.”
Alena tersenyum kecil, meski masih terasa perih. “Terima kasih sudah membela aku.”
“Sudah seharusnya,” jawab Mira. “Kau terlalu baik. Orang seperti Tina kalau dibiarkan semakin menjadi.”
Petugas selesai membalut tipis lengan Alena dan memberi sedikit obat untuk lututnya. “Istirahat sebentar di sini kalau perlu. Atau langsung kembali ke meja juga tidak apa-apa.”
Alena mengucapkan terima kasih, lalu turun dari tempat periksa. Mira membantunya merapikan lengan baju yang basah.
Baru saja mereka hendak keluar, pintu ruang kesehatan terbuka. Raka berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit lebih cepat seolah baru berjalan cepat ke sini. Matanya langsung mencari Alena, lalu turun ke lengan yang sudah dibalut.
“Bagaimana?” tanyanya singkat, tapi nada khawatirnya jelas terdengar.
Mira menoleh. “Luka ringan, Pak. Sudah diobati. Tidak apa-apa.”
Raka mengangguk, lalu menatap Alena. “Kau yakin?”
Alena mengangguk pelan. “Saya baik-baik saja. Terima kasih… tadi.”
Raka terdiam sejenak. Pandangannya masih menempel pada balutan di lengan Alena. Lalu ia mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh, tapi menahan diri karena ada Mira.
“Pulang lebih awal hari ini,” katanya akhirnya. “Aku akan antar. Tidak ada diskusi.”
Alena membuka mulut, ingin menolak, tapi tatapan Raka membuatnya mengurungkan niat.
Mira hanya bisa tersenyum kecil di belakang, pura-pura tidak melihat ketegangan yang kembali muncul di antara mereka. Raka menatap Alena sekali lagi, seolah memastikan dengan matanya sendiri bahwa gadis itu benar-benar baik-baik saja. Dan di matanya, masih tersisa amarah yang belum sepenuhnya padam… serta sesuatu yang jauh lebih dalam.
Mobil Raka melaju stabil di jalanan sore. Suasana di dalam kabin cukup sunyi, hanya suara AC dan deru mesin yang terdengar. Alena duduk di kursi penumpang, lengan yang dibalut masih sedikit terasa perih. Ia menatap keluar jendela, enggan memulai percakapan.
Raka yang menyetir sesekali meliriknya. “Kenapa tidak menghindar tadi?” tanyanya tiba-tiba, suaranya rendah.
Alena menoleh. “Apa?”
“Saat Tina mendekat dengan nampan. Kau berdiri diam. Lalu saat dia menjegal, kau juga tidak sempat menahan diri.” Raka menatap jalan di depan, rahangnya mengeras. “Kau terlalu tenang. Terlalu membiarkan.”
Alena menghela napas. “Kalau aku melawan, gosipnya akan semakin parah. Aku hanya tidak ingin menambah masalah.”
“Masalah sudah ada,” balas Raka tegas. “Dan kau hampir terluka karena sikapmu yang terlalu mengalah.”
Alena terdiam. Dia tahu Raka sedang kesal, tapi bukan kesal pada Tina saja. Ada sesuatu yang lebih personal di nadanya.
“Aku baik-baik saja,” katanya pelan. “Hanya lecet sedikit kau tidak perlu sekhawatir itu terhadapku.”
Raka tidak menjawab. Dia hanya mengencangkan pegangan pada setir. Sepanjang perjalanan, percakapan mereka terputus-putus. Raka bertanya soal rasa sakit di lengan, Alena menjawab singkat. Di balik kata-kata formal itu, ketegangan yang berbeda mengalir di antara mereka—ketegangan yang berasal dari kekhawatiran Raka yang tidak bisa disembunyikan.
Sesampainya di rumah Raka, pria itu memarkir mobil dan langsung turun. Dia membuka pintu untuk Alena, lalu memandu gadis itu masuk tanpa banyak bicara. Begitu pintu utama tertutup, Raka mengunci dari dalam. Dia melepas jasnya, melemparnya ke sofa, lalu berbalik menghadap Alena yang masih berdiri di dekat pintu.
“Ke ruang tamu,” perintahnya pelan.
Alena menurut. Dia duduk di sofa, menatap Raka yang masih berdiri di depannya dengan wajah serius.
Raka menunduk, kedua tangan bertumpu di sandaran sofa di sisi Alena, mengurungnya.
“Kau ceroboh hari ini,” katanya rendah. “Membiarkan seseorang mencelakaimu di depan mataku. Membiarkan diri sendiri hampir jatuh. Aku tidak suka.”
Alena menelan ludah. “Aku sudah bilang, aku tidak ingin—”
“Tidak ada alasan,” potong Raka. Matanya menatap tajam, tapi di baliknya ada api yang berbeda. “Karena kau ceroboh… aku akan menghukummu.”
Alena membelalak. “Menghukum…?”
Raka tidak menjawab dengan kata. Dia menundukkan kepala, lalu menangkap bibir Alena dalam sebuah ciuman tiba-tiba. Ciuman itu dalam, menuntut, penuh emosi yang selama ini ditahan. Bibir Raka menekan milik Alena dengan tegas, seolah ingin menghukum sekaligus memastikan bahwa gadis itu benar-benar ada di pelukannya, aman, dan utuh.
Alena terkejut. Tangannya sempat menahan dada Raka, tapi beberapa detik kemudian jari-jarinya mencengkeram kemeja pria itu. Napasnya tercekat. Raka memiringkan kepala, memperdalam ciuman, lidahnya menuntut akses yang akhirnya diberikan Alena dengan ragu.
Saat Raka akhirnya melepaskan bibirnya, keduanya terengah. Benang saliva tipis sempat terlihat sebelum putus. Dahi mereka saling bersentuhan.
“Itu hukumanmu,” bisik Raka serak. “Karena berani membuatku khawatir.”
Alena masih memejamkan mata, bibirnya basah dan sedikit bengkak. Pipinya merah padam.
“Raka…” suaranya parau.
Raka mengusap pelan sudut bibir Alena dengan ibu jari, matanya masih gelap oleh emosi.
“Lain kali,” katanya pelan tapi tegas, “jangan biarkan siapa pun menyentuhmu. Jangan biarkan siapa pun membuatmu terluka. Karena kalau itu terjadi lagi… hukumannya tidak akan semudah ini.”
Alena membuka mata, menatap pria di depannya. Jantungnya berdetak kencang, campur aduk antara marah, bingung, dan sesuatu yang hangat yang tidak bisa dia pungkiri. Raka masih menatapnya, seolah menunggu reaksi. Dan di ruang tamu yang sunyi itu, hanya napas mereka yang tersengal yang memenuhi udara.
Alena masih terdiam di sofa, napasnya belum sepenuhnya stabil. Bibirnya masih terasa panas, seolah jejak ciuman Raka belum hilang. Ia menatap pria di depannya dengan mata yang campur aduk—terkejut, marah, bingung, dan sesuatu yang lain yang membuat dadanya sesak.
“Kau… tidak boleh melakukan itu,” katanya akhirnya, suaranya pelan tapi bergetar. “Aku bukan milikmu. Kau tidak berhak menghukumku dengan cara seperti itu.”
Raka masih mencondongkan tubuh, belum menjauh. Matanya menatap Alena tanpa berkedip, seolah sedang membaca setiap ekspresi di wajah gadis itu.
“Aku tahu,” jawabnya rendah. “Tapi aku tetap melakukannya.”
Alena menggeleng, mencoba mendorong dada Raka pelan agar ada jarak. “Itu tidak adil. Aku sudah berusaha tenang di kantor, sudah berusaha tidak membuat masalah lebih besar, tapi kau malah…”
Suaranya terhenti. Dia menunduk, memegang lengan yang dibalut, seolah mencari alasan untuk tidak menatap mata Raka.
“Aku takut,” lanjutnya lebih pelan. “Bukan hanya pada orang-orang yang mengejarku. Tapi juga pada perasaan ini. Pada caramu menatapku. Pada caramu melindungiku. Dan sekarang… pada caramu menciumku.”
Raka terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk rumah, ekspresinya melembut sedikit. Alena mengangkat wajah, matanya sedikit berkaca-kaca menahan emosi. “Kalau kau terus seperti ini, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah cukup kacau dengan ancaman di luar. Jangan tambah kacau hatiku juga.”
Raka menghela napas panjang. Ia akhirnya menegakkan tubuh, memberi Alena ruang untuk bernapas. Namun ia tidak menjauh sepenuhnya. Ia duduk di samping Alena, tubuhnya masih menghadap ke arah gadis itu.
“Aku tidak bisa berjanji akan berhenti,” katanya jujur. “Karena setiap kali kau hampir terluka, setiap kali kau membiarkan orang lain memperlakukanmu buruk… aku merasa ingin mengunci mu di sini dan tidak membiarkan siapa pun mendekat.”