Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Supaya Bisa Modusin Cewek Di Kantor
Malam itu, suasana private party terasa hangat tanpa campur tangan keluarga. Orang tua dan adik-adik Kanaya sengaja absen, memberi ruang bagi sang pengantin baru untuk menjamu para rekan kerja Yudha. Sementara keluarga besar Yudha memang sengaja tak diundang. Langkah aman ini sengaja diambil Yudha untuk mencegah percikan ketegangan antar dua belas pihak yang masih belum tuntas, meskipun kedua anak mereka justru susah asyik memadu kasih dan berbagi kemesraan.
Beberapa tamu sudah tampak memenuhi ruangan, meski dua sejoli sang pemilik acara belum juga menampakkan batang hidungnya.
Di sudut-sudut ruangan, gelak tawa dan obrolan santai terdengar bersahutan. Rekan-rekan kerja Yudha begitu antusias menanti. Rasa penasaran memenuhi pikiran mereka tentang sosok Kanaya yang selama ini tersembunyi. Namun, potret pernikahan di undangan digital sudah cukup menjadi bukti, wanita itu memang terlihat cantik, sepadan dengan paras rupawan milik Yudha.
Di tengah susana bahagia itu, ada seseorang wanita yang mematung dengan senyum tertahan yang dipaksakan.
Ayumi. Hatinya dilanda kekecewaan. Kabar pernikahan Yudha bagaikan menghantam dadanya. memupus angannya yang sempat membumbung tinggi saat Yudha gencar mendekatinya dulu.
"Selamat malam dan selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Pimpinan, Wakil Pimpinan, jajaran eksekutif, serta seluruh staf PT Urban Plaza Indonesia," suara MC memecah riuh obrolan melalui pengeras suara.
"Terima kasih tak terhingga atas kehadiran Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian yang telah meluangkan waktu untuk hadir, berbagi kebahagiaan, dan menjadi saksi keindahan cinta dalam private wedding party Pak Yudha dan Ibu Kanaya. Semoga kehangatan malam ini mengukir kenangan indah bagi kita semua."
"Mari kita sambut dengan tepuk tangan paling meriah untuk sang pengantin baru... Bapak Yudha dan Ibu Kanaya!"
Suara MC melengking di penghujung kalimat. Tangannya mengarah tepat ke pintu utama, memaksa seluruh pasang mata di ruangan untuk tertuju ke satu titik yang sama.
Tepuk tangan bergemuruh seketika saat pasangan suami-istri itu melangkah masuk dengan jemari yang saling bertautan erat. Beberapa tamu bahkan antusias berdiri untuk menyambut mereka.
Bisik-bisik kagum langsung menjalar cepat. Penampilan menawan pasangan pengantin baru itu sukses menyita perhatian siapa pun yang melihatnya.
"Wah, memang cantik banget sih istrinya Pak Yudha. Kelihatan pas banget, sama-sama cakep," bisik Chika pada Lena di sebelahnya.
"Bener, Chik. Pantas aja Ayumi langsung tereliminasi..." seloroh Lena menyindir halus, meskipun itu hanya sebuah candaan.
Ayumi mengepalkan tangannya dan menggigit bibir, menahan gejolak di dadanya. Ia tahu Lena hanya bercanda. Namun, di saat hatinya sedang sakit karena kecewa, godaan sekecil apa pun terasa bagai sayatan pisau.
"Eh, mulutmu asal jeplak aja, Len. Lihat tuh, Ayumi mukanya udah mau nangis," bisik Chika memperingatkan.
Dada Ayumi bergemuruh hebat. Kesal, kecewa pada kedua temannya, dan perih yang mendalam karena merasa dipermainkan oleh Yudha.
"Selanjutnya, kami persilakan kepada Bapak Yudha untuk menyampaikan kata sambutan," lanjut MC memberikan panggung kepada pemilik acara.
Yudha menerima mikrofon dengan senyum mengembang. "Terima kasih, Mas Ridho."
"Selamat malam kepada Pak Benny beserta Ibu, Pak Gusti beserta Ibu, serta seluruh rekan-rekan sejawat yang saya banggakan," kata Yudha dengan suara tenang penuh wibawa.
"Sebuah kebahagiaan yang sangat besar bagi kami berdua atas kesediaan Bapak, Ibu, dan rekan-rekan semua untuk hadir di pesta sederhana ini." Yudha makin mempererat genggaman tangannya pada jemari Kanaya.
"Mungkin sebagian besar dari rekan-rekan merasa kaget dengan kabar ini. Memang tidak banyak yang tahu kalau saya sudah resmi menikah kurang lebih dua minggu yang lalu. Karena itulah, malam ini kami menggelar acara khusus untuk membagikan kebahagiaan ini secara langsung."
Yudha menghentikan kalimatnya sejenak, menoleh ke wanita di sampingnya. Tatapannya hangat, sarat akan kebanggaan.
"Ini istri saya, Kanaya." Yudha memperkenalkan wanita itu ke hadapan publik. "Kalau rekan-rekan bertanya-tanya bagaimana kami bisa bertemu, sebenarnya kami ini korban perjodohan dari orang tua." Yudha berkelakar semakin menghangatkan suasana party itu.
Bisik-bisik pun langsung terdengar ketika Yudha menyebutkan tentang perjodohan. Namun, kemesraan Yudha dan Kanaya malam itu terasa begitu natural, tak terlihat gestur yang dipaksakan. Siapa pun yang melihat akan menganggap mereka sepasang kekasih yang menjalin asmara sejak lama.
"Saya kira zaman Siti Nurbaya aja yang pakai perjodohan, Pak!" celetuk salah satu rekan kerja Yudha, disambut derai tawa hangat dari kerumunan tamu.
"Asal nasib saya nggak berakhir mengenaskan kaya Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih aja," sahut Yudha santai.
"Gantian Bu Kanaya yang bicara dong, Pak!" ujar Chika dari sudut kanan ruangan.
"Waduh, kalau istri saya yang pegang mic, bisa-bisa kamu malah dikasih PR, Chik," balas Yudha cepat.
"Oh, guru ya, Pak? Guru sekolah mana? Awas lho, Pak, nanti istrinya dimodusin murid-murid cowok!" timpal Lena tak mau kalah.
"Muridnya kalah ganteng sama suaminya. Yang ada siswi di sana mendadak ngefans sama saya."
Sembari terkekeh, Yudha menyodorkan mic di tangannya kepada Kanaya. Sebagai tuan rumah, sudah saatnya sang istri memberikan sepatah dua patah kata.
Kanaya menyambut mic itu dengan senyum anggun. Namun, baru saja jemarinya melingkari gagang mik, Yudha berujar, "Yank ... pegang mic-nya jangan sambil ngebayangin yang biasa dipegang kalau malam, ya!"
Candaan absurd itu sukses membuat suasana semakin pecah dengan tawa di seluruh penjuru ruangan. Beberapa tamu bahkan bertepuk tangan kegirangan.
Seketika, rona merah merayap di pipi Kanaya. Jantungnya berdesir hebat, bukan hanya karena panggilan 'Yank' baru pertama kali terdengar di telinganya yang berasal dari mulut Yudha. Tapi juga karena godaan vulgar yang diselipkan Yudha tanpa melihat tempat.
"Uhuuuuy! Sikat, Pak!" goda para tamu makin ngelunjak.
Kanaya hanya bisa menggeleng pelan, meredam keterkejutannya. Ia benar-benar tak menyangka pria di sampingnya ini nekat melontarkan lelucon sebebas itu di hadapan para jajaran atasan kantornya sendiri.
"Umm ..." Kanaya meremas mic pelan, menarik napas dalam-dalam.
Sebagai seorang pengajar, berdiri di hadapan banyak orang sebenarnya adalah makanan sehari-harinya. Namun malam ini, berada di bawah sorotan lampu pesta dan godaan suaminya sendiri sukses membuat percaya dirinya sedikit goyah.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam Bapak, Ibu, dan seluruh tamu undangan." Kanaya membuka sambutan. Suaranya perlahan kembali tenang. "Terima kasih banyak sudah menyempatkan hadir malam ini ...."
Kanaya melempar pandangan hangat mengitari ruangan.
"Sambil mendengarkan saya bicara, silakan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Santai saja ya, tidak perlu formal-formal."
Bukan Kanaya namanya jika tidak mampu menguasai panggung dengan cepat. Karismanya sebagai guru terpancar alami, membuat ketegangan di udara seketika. mencair.
"Perkenalkan, saya Kanaya. Dan betul kata suami saya tadi, saya mengajar di sekokah SMP."
Tiba-tiba Yudha memotong, matanya berbinar jenaka. "Yank, teman-teman kantorku pasti penasaran banget nih, kenapa aku terkesan merahasiakan pernikahan kita. Boleh bantu dijawab nggak?"
Yudha sengaja melempar umpan, penasaran bagaimana cara istrinya menyingkapinya.
Kening Kanaya berkerut halus. Bibirnya mengatup sebentar, mencari jawaban.
"Hmmm ... mungkin supaya kamu tetap bisa modusin cewek-cewek di kantor?" tuntas Kanaya dengan nada polos tapi menusuk.
Ledakan tawa kembali memenuhi ruangan. Teman-teman kantor Yudha bersorak puas melihat Yudha diskakmat oleh istrinya sendiri.
"Wah! Siap-siap tidur di luar kamu, Yud!" celetuk rekan Yudha yang lain diiringi derai tawa yang tak kunjung padam.
Sementara hati Ayumi serasa terbakar api cemburu melihat kemesraan Yudha dan istrinya. Rasanya ingin berhambur ke luar ruangan, meninggalkan pesta yang membuatnya ingin menangis.
❤❤❤
Bersambung...
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..