NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Sungkeman yang Dingin

"Kalau mereka memintaku menceraikanmu, jangan jawab dulu."

Adrian mengucapkannya saat mobil memasuki halaman rumah lama Gunawan di Menteng.

Kayla menoleh. "Kenapa? Kamu takut jawabanku lebih kejam?"

"Aku takut kamu merebut pekerjaanku."

"Pekerjaanmu menerbangkan pesawat."

"Hari ini pekerjaanku melindungi istriku."

Pintu mobil dibuka sebelum Kayla sempat menjawab. Rumah besar bergaya kolonial berdiri di balik pohon-pohon tua. Di teras, Pak Ridwan telah menunggu dengan dua pelayan.

"Selamat datang, Tuan Muda Adrian. Nyonya Kayla."

Adrian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan. Kayla menerimanya.

Semalam tangan itu memeluknya. Sore ini tangan yang sama membawanya masuk ke ruangan penuh orang yang mungkin menginginkan pernikahan mereka berakhir.

Di ruang tamu, meja altar leluhur berdiri di sisi dinding. Aroma dupa bercampur dengan teh melati. Engkong Herman duduk di kursi utama, wajahnya sulit dibaca. Di sampingnya, Ema Lanny menatap Kayla dari ujung rambut sampai sepatu.

Herwan, ayah Adrian, memegang gelas berisi wiski. Melinda duduk di dekatnya dengan senyum tipis.

Keluarga lain tampak lebih ramah.

Om Hendra berdiri dan menepuk bahu Adrian. Tante Winnie menyambut Kayla dengan hangat, sedangkan Kevin langsung menarikkan kursi untuknya.

"Akhirnya Ko Adrian membawa pulang seseorang," kata Kevin. "Saya kira dia akan menikah dengan kokpit."

"Kevin," tegur Tante Winnie, meski ia ikut tersenyum.

Ci Michelle mendekat dan menggenggam tangan Kayla. "Jangan tegang. Kalau ada yang bicara terlalu tajam, anggap saja suara televisi."

"Michelle," kata Ema Lanny dingin.

"Saya hanya menyambut anggota keluarga baru, Ema."

Di sofa lain, Om Hansen dan Tante Cindy hanya mengangguk. Mereka mengamati tanpa berniat mencampuri.

Kayla memperhatikan susunan tempat duduk. Herwan dan Melinda berada paling dekat dengan dua tetua. Om Hendra sekeluarga memilih sisi yang berhadapan dengan mereka, sedangkan Ci Michelle duduk sendiri di ujung sofa.

Tak seorang pun menyiapkan kursi di dekat Herwan untuk Adrian.

Adrian tampaknya sudah menduga. Ia duduk di samping Kayla tanpa meminta tempat lain.

"Saya dengar penerbangan kemarin mengalami gangguan cuaca," kata Om Hendra. "Kalian baik-baik saja?"

"Baik, Om," jawab Adrian. "Pesawat sedang diperiksa."

"Kayla juga menolong penumpang yang sakit," tambah Ci Michelle. "Beritanya sudah masuk grup keluarga maskapai."

Tante Winnie menatap Kayla dengan kagum. "Baru menikah sudah bekerja sama di udara. Kalian pasangan yang menarik."

"Dokter tetap dokter, di mana pun pasien jatuh," jawab Kayla.

"Pekerjaan di IGD pasti berat," kata Kevin.

"Berat, tapi orang sakit tidak bisa menunggu saya siap."

Ema Lanny mengetukkan kuku pada sandaran kursi. "Kita berkumpul untuk membicarakan pernikahan, bukan mendengarkan cerita rumah sakit."

Suasana yang sempat mencair langsung membeku.

Adrian menyentuh punggung tangan Kayla dengan ibu jarinya. Gerakan kecil itu tersembunyi dari orang lain, tetapi cukup untuk mengatakan bahwa ia ada di sana.

"Alwin dan Alicia tidak datang?" tanya Ema Lanny kepada Melinda.

"Alwin masih mengurus pekerjaan di luar kota. Alicia ada kegiatan kampus," jawab Melinda. "Mereka menitip salam."

Pak Ridwan memberi isyarat. Bik Inah membawa nampan teh dan meletakkannya di meja rendah di depan dua tetua.

"Mulai saja," perintah Ema Lanny.

Kayla sudah diberi tahu tata caranya oleh Adrian di mobil. Ia dan Adrian berlutut di atas bantalan, lalu memberi penghormatan di depan altar keluarga. Setelah itu Kayla mengangkat cangkir pertama dengan kedua tangan.

"Engkong Herman, silakan minum teh."

Engkong Herman memandangnya beberapa detik. Ia menerima cangkir, mencicipi sedikit, lalu meletakkannya kembali.

"Semoga kalian tahu beratnya keputusan yang kalian buat," katanya.

"Kami tahu, Engkong," jawab Adrian.

"Kamu menikah tanpa meminta restu."

"Saya datang untuk memberi hormat, bukan meminta keluarga memilihkan hidup saya."

Engkong Herman menyipitkan mata, seolah sedang menilai lawan negosiasi. "Kamu masih sama kerasnya."

"Saya belajar dari keluarga ini."

Tidak ada yang berani tertawa. Namun sudut bibir Engkong Herman bergerak tipis sebelum wajahnya kembali datar.

Tidak hangat, tetapi juga bukan penolakan.

Kayla mengambil cangkir kedua dan menghadap Ema Lanny.

"Ema Lanny, silakan minum teh."

Perempuan tua itu tidak bergerak.

Kayla tetap memegang cangkir. Uap panas menyentuh jarinya.

"Keluarga Halim punya apa?" tanya Ema Lanny.

Ruangan langsung hening.

"Toko sembako di Bekasi," jawab Kayla.

"Hanya itu?"

"Itu yang mereka miliki."

"Lalu dengan latar belakang seperti itu, kamu berani masuk ke keluarga Gunawan sebagai istri cucu tertua?"

Adrian hendak mengambil cangkir dari tangan Kayla, tetapi Kayla menahan gerakannya dengan tatapan.

"Saya datang karena Adrian menikahi saya," katanya. "Bukan karena saya mengajukan lamaran untuk menjadi ahli waris keluarga ini."

Ema Lanny mendengus. "Perempuan sekarang pandai bicara."

"Dokter IGD harus pandai bicara dengan cepat. Kadang satu kalimat menentukan pasien mau ditolong atau terus berdebat."

Kevin menunduk untuk menyembunyikan senyum. Ci Michelle menutup mulut dengan cangkir kosong.

Herwan membanting gelas ke meja.

"Jangan kurang ajar kepada orang tua."

Bau alkohol tercium bahkan dari tempat Kayla berlutut.

Herwan menunjuknya. "Kamu pikir kami tidak tahu cara perempuan sepertimu bekerja? Dekati laki-laki kaya, buat keadaan seolah tidak bisa mundur, lalu paksa menikah."

Wajah Adrian berubah dingin.

"Papa, cukup."

"Aku belum selesai." Herwan berdiri dengan langkah sedikit goyah. "Orang tuamu mengelola toko kecil, tetapi anaknya bisa menangkap putra keluarga Gunawan. Mereka pasti bangga."

Kayla menaruh cangkir yang tidak diterima itu kembali ke nampan. Ia bangkit dengan tenang.

"Pertama, saya tidak pernah mengejar uang Adrian. Kedua, keluarga yang membesarkan saya tidak berhak menjual nama saya untuk mengambil keuntungan. Ketiga, pekerjaan dan hidup saya dibangun dengan tangan saya sendiri."

"Kamu mengaku tidak mengejar uang setelah tinggal di rumahnya?" sindir Melinda.

Kayla menoleh kepadanya. "Kalau tinggal di rumah suami disebut mengejar uang, banyak istri di ruangan ini perlu diperiksa dengan ukuran yang sama."

Senyum Melinda hilang.

Tante Winnie berdeham. "Kayla datang dengan sopan. Tidak perlu mempermalukannya."

"Betul," sambung Om Hendra. "Pernikahan sudah terjadi. Kita seharusnya mengenal dia lebih dulu."

Ema Lanny akhirnya menyentuh cangkir teh, tetapi hanya untuk mendorongnya menjauh.

"Aku tidak menerima perempuan tanpa nama keluarga yang pantas."

Kayla menatap teh yang tumpah sedikit ke nampan. Dadanya panas, tetapi ia tidak menunduk.

"Nama baik bukan sesuatu yang otomatis ikut lahir bersama nama belakang," katanya. "Kalau nama baik harus dipertahankan dengan menghina tamu, mungkin masalahnya bukan pada nama keluarga saya."

Herwan memukul meja dengan telapak tangan.

"Batalkan pernikahan ini! Hari ini juga. Kalau tidak, Adrian tidak perlu mengakui rumah ini sebagai keluarganya."

Adrian berdiri.

Ia tidak membalas bentakan itu. Ia hanya berjalan ke kursi tempat tas kerjanya diletakkan.

Kayla melihatnya membuka pengait tas, memasukkan tangan, lalu mengeluarkan sebuah dokumen berstempel yang sudah disiapkan jauh sebelum mereka datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!