Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Penghancur Bintang
Ethan tidak memberikan kemewahan berupa jawaban. Hidrolik nano di bagian belakang kakinya mendesis pendek saat ia melesat maju bagaikan seberkas kilat hitam-biru.
Sret! Sleb!
Dua murid Keluarga Mo yang baru saja mencoba berdiri tegak seketika membeku. Pedang plasma biru Ethan menembus dada mereka secara bersamaan dengan akurasi mikrometer, langsung menguapkan jantung dan inti sirkulasi Qi mereka. Bahkan sebelum tubuh mereka tumbang ke tanah, Ethan sudah menarik bilah energinya dan berpindah tempat menggunakan Langkah Bayangan: Blitz.
Zut! Zut! Zut!
Udara arena dipenuhi oleh bunyi desingan plasma yang memotong daging dan komponen zhirah. Setiap ayunan pedang Ethan didasari oleh efisiensi yang mengerikan—tidak ada gerakan tiruan yang sia-sia, tidak ada teriakan kemarahan, hanya kalkulasi dingin seorang Assassin profesional yang sedang membersihkan baris-baris kode usang dari sistem komputer.
Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, sisa murid Sekte Serigala Api dan Sekte Sanca Hijau bertumpukan menjadi jasad tak bernyawa yang hangus di atas batu arena.
[ Sebelas Target Tambahan Dieliminasi. ]
[ Mendapatkan: 4.400 Poin Sistem. ]
[ Total Poin Sistem Saat Ini: 8.750 Poin. ]
[ Persyaratan Toko Sistem Tingkat 3 Terpenuhi 100%. Memulai Proses Upgrade Sistem... ]
Seketika, indikator visual di dalam helm Ethan berganti dari hijau-biru menjadi warna emas siber yang teramat megah. Aliran data baru yang jauh lebih masif mengalir langsung ke dalam basis pengetahuannya, membuka kunci persenjataan berat dan teknologi manipulasi dimensi mikro yang selama ini terkunci.
Kini, di tengah arena raksasa yang luas itu, hanya tersisa dua orang yang masih hidup: Ethan yang berdiri tegak dengan pedang plasma bersinar terang, dan pemimpin murid Keluarga Mo yang sudah terduduk lemas di tanah, menatap tumpukan mayat rekan-rekannya dengan wajah yang sepenuhnya pucat pasi. Seluruh kewarasannya telah runtuh.
Di tribun penonton, puluhan ribu orang terdiam dalam keheningan yang begitu pekat hingga suara embusan angin fajar pun terdengar jelas. Ini bukan lagi sebuah pertandingan turnamen; ini adalah pembantaian taktis sepihak yang meruntuhkan seluruh martabat tiga sekte penguasa Kota Logam Hitam.
"Cukup, Bajingan Kecil!"
Sebuah raungan yang dipenuhi oleh kemarahan tak terbatas mengguncang langit. Mo Tianchuan, Kepala Keluarga Mo, tidak bisa lagi menahan dirinya melihat seluruh murid elitnya dibantai seperti ayam. Ia melompat turun dari panggung kehormatan tertinggi, diikuti oleh Huo Yan (Pemimpin Sekte Serigala Api) dan Penatua Agung Sekte Sanca Hijau.
Tiga ahli agung Ranah Pondasi Spiritual Tahap Akhir mendarat di arena secara bersamaan, menghancurkan formasi pelindung batu pembatas hingga hancur berantakan menjadi debu. Aura gabungan mereka bertiga begitu menakutkan, menciptakan tekanan gravitasi alami yang membuat tanah di sekitar arena melesap turun sedalam beberapa sentimeter.
"Kau telah melanggar batas, Ethan!" Mo Tianchuan mendesis, pedang pusaka panjangnya bergetar hebat memancarkan cahaya Qi tanah yang teramat tebal dan pekat. "Hari ini, bahkan jika Paviliun Lelang Logam Mulia berdiri di belakangmu, kau dan wanitamu harus mati dengan cara yang paling mengenaskan di kota ini!"
Ethan tidak berbalik, melainkan perlahan menonaktifkan bilah plasma birunya, membiarkan gagang pedang siber itu tersampir otomatis di punggung besinya melalui magnetic lock. Visor emas sibernya berkedip sekali, menatap tiga monster Pondasi Spiritual di hadapannya dengan pandangan yang penuh dengan kecerdasan strategis yang menuntut dominasi absolut.
"Melanggar batas?" Suara mekanis Ethan berbunyi melalui pengeras suara helmnya, terdengar sangat santai dan dingin. "Kalianlah yang membuat aturan Battle Royale ini karena mengira perwakilan kalian bisa membunuhku dengan mudah. Sekarang, setelah kalkulasi kalian meleset total... kalian menyebutku melanggar batas?"
Di area tunggu, Mu Rong melangkah maju hingga berdiri di tepi batas arena. Tangannya yang lentik memegang erat belati rohani siber-nya, sepasang mata indahnya menatap punggung Ethan dengan binar keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia tahu tiga ahli di depan Ethan sangat kuat, namun ia juga tahu bahwa pria yang dicintainya telah berhasil memicu sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari dalam sistem baju besinya.
"Huo Yan, Penatua Sanca, jangan buang waktu lagi dengan kata-kata! Bunuh dia sekarang juga!" Mo Tianchuan berteriak.
Tiga ahli Ranah Pondasi Spiritual Tahap Akhir melesat maju bersamaan, melepaskan jurus terkuat mereka. Badai api raksasa berbentuk serigala, proyeksi sanca hijau beracun raksasa, dan tebasan gunung bumi membelah ruang udara menuju titik tempat Ethan berdiri, siap meratakan seluruh arena beserta isinya menjadi abu.
Namun, di dalam kompartemen pelindung jiwanya, sebuah pemberitahuan emas menyala dengan terang di depan mata kelam Ethan.
[ Upgrade Toko Sistem Tingkat 3 Selesai. ]
[ Membuka Persenjataan Berat Kelas Penghancur Bintang: "Meriam Partikel Heavy-Gauge Quantum V3" (Tersedia untuk Protokol Uji Coba). ]
[ Mengonsumsi 3.000 Poin Sistem untuk Manifestasi Material Instan... Sukses. ]
Bzzzt—KLIK!
Lempengan logam hitam-emas pada bahu kanan dan lengan kanan Ethan mendadak bergeser dan memanjang secara mekanis dengan bunyi struktural yang sangat solid. Komponen fraktal canggih menyatu dengan cepat, membentuk sebuah laras meriam berukuran besar sepanjang dua meter yang terintegrasi langsung dengan lengan armornya.
Sirkuit di sepanjang meriam tersebut berpendar dalam warna emas siber yang teramat terang, mengeluarkan suara dengungan energi kuantum bertekanan tinggi yang memekakkan telinga.
Udara di seluruh Kota Logam Hitam mendadak bergetar hebat saat meriam tersebut mulai menyerap partikel energi Qi lingkungan dan mengompresinya ke dalam bentuk energi plasma kuantum murni.
"Target terkunci. Pengisian daya: seratus persen," Ethan berbisik dingin di balik topeng emasnya.
Tepat saat serangan gabungan tiga penguasa kota berjarak hanya lima meter dari dadanya, Ethan mengangkat lengan kanannya, mengarahkan moncong meriam partikel kuantum raksasa itu lurus ke arah mereka. Jarinya menarik pemicu digital di telapak tangannya.
"Selamat tinggal, para dewa fana," ucap Ethan.
BOOOOOOMMMM!!!
Seberkas pilar cahaya emas raksasa berdiameter tiga meter melesat keluar dari laras meriam Ethan dengan kecepatan cahaya murni. Serangan gabungan dari badai api, racun sanca, dan tebasan gunung bumi milik tiga ahli Pondasi Spiritual seketika menguap habis tak bersisa saat bersentuhan dengan pilar cahaya kuantum tersebut.
"T-TIDAK MUNGKIN—!" Mo Tianchuan hanya sempat mengeluarkan satu teriakan horor terakhir sebelum tubuhnya, bersama dengan Huo Yan dan Penatua Agung Sekte Sanca Hijau, sepenuhnya ditelan oleh pilar cahaya emas yang mematikan itu.
Pilar energi kuantum tersebut terus melesat lurus, menembus dinding pertahanan arena, membelah bukit batu di belakang alun-alun kota hingga hancur menjadi abu, dan menyisakan sebuah parit raksasa sepanjang satu mil yang menyala dalam pendaran emas siber di bawah langit fajar.
Ketika cahaya emas itu perlahan meredup dan menghilang, tiga pemimpin sekte terbesar Kota Logam Hitam telah lenyap secara mutlak dari muka bumi—bahkan setetes abu dari jasad mereka pun tidak tersisa di atas lantai arena yang kini telah meleleh menjadi lava cair.
Ethan perlahan menurunkan lengan kanannya, membiarkan komponen meriam kuantum tersebut melipat kembali ke dalam zhirah bahunya dengan suara klik mekanis yang keren.
Visor emasnya menatap ke arah parit raksasa yang ia ciptakan, sebelum akhirnya beralih ke arah tribun penonton yang kini dipenuhi oleh puluhan ribu orang yang bersujud gemetar karena ketakutan yang teramat murni.