"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
"Nyonya, nanti gaun pengantinnya akan langsung kami antarkan ke alamat Anda," ucap staf butik dengan ramah.
"Iya..." jawab Amira, masih setengah linglung.
"Jangan bengong terus, kenapa sih?" pangkas Luki seraya menepuk pelan bahu Amira.
"Aku cuma masih nggak percaya kalau gaun mahal semewah itu harganya bisa cuma tiga ratus ribu..."
"Ya karena kamu lagi beruntung."
"Beruntung?" gumam Amira pelan. Ia menarik napas panjang. Sejak ayahnya meninggal, orang-orang di sekitarnya seolah sepakat menjulukinya pembawa sial. Dan kini, seorang pria asing yang baru semalam masuk ke hidupnya tiba-tiba menyebutnya beruntung.
"Sekarang kita mau ke mana lagi?" tanya Luki.
"Pulang. Kita istirahat dulu di rumah."
"Oh, MUA-nya sudah stanby di rumah, ya?"
Amira tertawa hambar. "MUA dari mana? Mana mau Mamah menyediakan MUA buatku... Paling nanti kita harus dandan sendiri."
"What?!" Luki tersentak kaget. "Masa mau nikah dandannya apa adanya?!"
"Ya terus mau gimana lagi? Harus perawatan di salon mahal, gitu?"
"Nah! Bener! Kita harus ke salon dulu!"
"Nggak usah buang-buang uang! Tadi itu aku cuma lagi beruntung, nggak mungkin kan aku mengandalkan keberuntungan terus?"
"Kita harus ke salon, Istriku."
"Nggak usah, pulang aja!"
"Ke salon, dong. Kamu dan aku harus kinclong dan glowing malam ini."
"Ya udah, ke salon deh..." desah Amira pasrah. "Temanku ada yang punya salon di pinggiran kota."
"Ngapain jauh-jauh?" potong Luki. Tanpa menunggu persetujuan, ia meraih pergelangan tangan Amira, menyeretnya halus menuju sebuah gedung megah bertuliskan Mahkota Beauty.
"Ngapain kita ke sini?!" Amira menahan langkahnya di depan pintu kaca.
"Perawatan, lah."
"Ih, nggak mau! Aku pernah mengantar Mamah dan Risma perawatan di sini, habisnya lima puluh juta lebih!"
"Kamu waktu itu ikut perawatan juga?"
"Nggak..." lirih Amira.
"Kenapa? Malas, atau emang nggak boleh sama Mamah kamu?"
Amira terdiam. Tepat sasaran. Ibunya memang melarangnya ikut dengan alasan paket yang dibeli hanya untuk dua orang. Sejak hari itu, Amira enggan diajak pergi ke mana pun oleh ibunya.
"Jangan melamun terus, ayo masuk," ajak Luki.
"Jangan di sini! Di sini mahal banget!"
"Udah, di sini aja. Ngapain cari yang jauh-jauh?"
"Tapi mahal, Luki!"
"Mahal dan murah itu cuma soal angka," sahut Luki santai seraya melangkah masuk.
Di dalam salon mewah itu, lampu kristal menggantung anggun, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengkilap. Aroma parfum mahal menyeruak di udara, disambut beberapa staf yang sedang sibuk melayani pelanggan kelas atas.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" panggil seorang pekerja salon, menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Tolong lakukan facial express, perawatan rambut, sama body polishing. Pokoknya buat Nyonya ini makin kinclong," perintah Luki tegas.
"Ba-baik, Tuan..." jawab pegawai itu sigap. Ada nada getar dan rasa segan yang sangat jelas dari intonasinya.
"Tunggu dulu! Aku harus tahu harganya berapa!" potong Amira panik.
Seorang wanita berpakaian sangat elegan—sepertinya manajer salon—berjalan mendekat. Ia sempat mengedipkan sebelah matanya secara terselubung ke arah Luki sebelum tersenyum manis pada Amira. "Hari ini adalah hari keberuntungan Anda, Nyonya. Khusus hari ini, semua paket perawatan eksklusif untuk Anda kami berikan gratis."
Amira kembali terperangah. "Gratis?!" gumamnya tak percaya. "Dalam rangka apa?"
"Dalam rangka kamu mau menikah denganku," jawab Luki enteng.
"Masa sih...?" Amira makin curiga.
"Udah, jangan banyak pikiran. Masuk sana, masuk," Luki mendorong pelan bahu Amira.
Beberapa staf wanita langsung membimbing Amira menuju ruangan perawatan khusus VIP.
Begitu Amira menghilang di balik pintu, ponsel di saku Luki berdering nyaring. Nama Andi—tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya—tertera di layar.
"Bos! Sudah dong main-mainnya! Aku capek nih menggantikan posisi Bos terus di kantor!" seru Andi langsung mengeluh.
"Rewel banget sih kamu. Aku masih senang cosplay jadi ojol, tahu."
"Ya terus ini gimana?! Perusahaan mau dibawa ke mana kalau Bos kabur terus?!"
"Ya terserah kamu, bawa ke mana aja."
"Bos!" suara Andi terdengar makin frustrasi. "Ayolah, Bos! Aku juga mau liburan!"
"Tenang saja. Beri aku waktu seminggu lagi. Aku mau nikah."
"WHAT?! Jadi Bos akhirnya memilih Lisa? Atau Lusi?"
"Bukan keduanya."
"Terus siapa?!"
"Ada deh. Rahasia."
"Wah, main rahasia-rahasiaan sekarang ya..." gerutu Andi.
"Nanti kamu juga tahu. Malam ini, sediakan mobil dan sopir. Jemput aku di Mall Ibu," perintah Luki.
"Aku aja yang jemput, Bos! Masa Bos nikah aku nggak datang?"
"Boleh. Tapi kamu harus ubah penampilan wajahmu jadi lebih tua."
"Kenapa begitu?"
"Namamu itu sudah terlalu terkenal di kalangan atas. Nanti orang-orang kaget kalau melihat kamu datang ke pernikahan istriku."
"Memangnya calon istri Bos bukan dari kalangan atas?"
"Bukan."
"Baguslah..." sahut Andi. "Ya sudah, nanti malam aku yang jemput."
Waktu bergulir cepat hingga jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam.
Di kediaman mewah milik keluarga Ratna, para kerabat dan tamu undangan terbatas sudah berkumpul. Pernikahan sengaja digelar tertutup, hanya menghadiri keluarga dekat dan beberapa kolega bisnis penting.
Ratna berjalan bolak-balik di teras depan dengan raut cemas. Sesekali ia meremas ponselnya, mencoba menghubungi nomor Amira yang lagi-lagi berada di luar jangkauan.
"Kemana sih Amira ini?! Kenapa dia belum sampai rumah?!" gerutu Ratna kesal.
"Iya, Mah... Jangan-jangan Kak Amira kabur," sahut Risma dengan raut penuh penyesalan buatan. "Ini semua salahku... Harusnya tadi aku menemani dia."
"Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, Sayang," ucap Ratna lembut sambil membelai rambut anak tirinya.
"Ratna! Di mana Amira?!" tegur Handoko yang baru keluar dari ruang tamu.
"Ya inilah Amira, Ayah. Selalu saja bikin ulah dan bikin malu keluarga!"
"Dia cucuku! Jangan sembarangan kamu bicara!" tegas Handoko tajam.
"Lihat sendiri kenyataannya, Ayah Mertua! Kenapa perusahaan yang dipegang Amira hampir bangkrut? Ya karena dia selalu bertindak seenaknya seperti ini!"
"Apanya yang bangkrut?! Amira selalu memberikan laporan keuntungan yang bagus padaku!"
"Ayah itu ditipu sama Amira!"
"Tidak mungkin!"
"Lihat saja sekarang! Bahkan Amira tidak bertanggung jawab dengan kekacauan yang dia buat sendiri! Para kolega sudah datang... Kalau Amira tidak muncul juga, mau ditaruh di mana muka keluarga kita?!"
"Amira pasti datang!" potong Handoko keras.
"Kalau tidak datang bagaimana?!" tantang Ratna.
Handoko menarik napas berat, matanya menatap lurus. "Kalau sampai dia tidak datang... aku serahkan perusahaan yang dipegang Amira kepadamu."
Ratna menahan napas, matanya berbinar. "Oke, Ayah Mertua. Jangan ingkar janji, ya."
"Kapan aku pernah ingkar janji?"
"Baiklah... Aku tetap berharap Amira datang. Bagaimanapun dia harus bertanggung jawab," ucap Ratna. Namun kali ini, harapannya bercabang—apakah Amira datang atau tidak, keduanya tetap akan memberi keuntungan besar baginya.
"Apa benar yang dikatakan Pak Handoko tadi, Mah?" bisik Angga mendekati istrinya begitu Handoko menjauh.
"Benar, Mas," bisik Ratna penuh kemenangan. "Kalau Amira tidak datang, perusahaan itu akan diserahkan padaku. Selanjutnya, aku akan mengangkat Risma jadi CEO, dan Amira cukup jadi wakilnya saja."
"Kalau begitu, aku akan kerahkan orang untuk mencari Amira agar dia bisa datang ke sini," ucap Angga mantap, yang tentu saja berbanding terbalik dengan niat busuk di kepalanya.
"Kenapa, Mas?" Ratna heran. "Bukankah bagus kalau nanti Risma yang jadi CEO? Lagipula kalau Amira enggak datang malam ini, pernikahan Risma dan Raka tetap bisa dilaksanakan besok."
"Enggak bisa begitu, Ratna," kata Angga memasang raut bijak. "Kita harus tetap adil pada Amira. Amira harus datang ke acara pernikahannya sendiri malam ini. Jangan sampai orang-orang menuduhku sengaja tidak berusaha mencari Amira hanya demi memuluskan jalan Risma menjadi CEO."
Ratna menarik nafas lega, matanya berbinar menatap sang suami dengan rasa bangga. "Terima kasih banyak ya, Mas... Hampir saja aku berlaku tidak adil pada anak sendiri. Kalau begitu, sekarang cepat kerahkan semua anak buahmu untuk mencari Amira."
"Iya, aku akan cari Amira dan pastikan dia sampai ke sini," ucap Angga tanpa ragu sedikit pun.
Angga melangkah menjauh menuju sudut halaman yang sepi, lalu merogoh ponselnya untuk mulai menghubungi orang-orang kepercayaannya. Tentu saja, perintahnya bukan untuk membawa Amira pulang, melainkan untuk mencegat dan menahan langkah kepulangannya. Bagaimanapun juga, jika ada kesempatan emas untuk menjadikan Risma sebagai CEO utama, kenapa harus disia-siakan?