NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Azel baru saja selesai membersihkan diri. Rasa nyeri di perutnya memang masih terasa, tetapi pikirannya justru terus kembali pada kejadian di kampus sore tadi.

Pandangannya jatuh pada jas hitam milik Ibra yang kini sudah bersih dan tergantung rapi di balkon belakang.

Ia mengembuskan napas pelan. "Untung nodanya bisa hilang..."

Meski begitu, rasa tidak enak tetap menggelayuti hatinya.

Azel akhirnya mengambil ponselnya.

Beberapa detik ia berpikir, menghapus, lalu mengetik ulang kalimat yang ingin dikirim.

Tak lama kemudian, pesan itu pun terkirim.

"Assalamu'alaikum, Pak. Terima kasih banyak untuk jasnya tadi. Saya juga minta maaf karena jas Bapak jadi terkena noda. Alhamdulillah nodanya sudah hilang setelah saya cuci. Insya Allah besok akan saya kembalikan. Sekali lagi, terima kasih karena Bapak sudah membantu saya tadi."

Tak sampai satu menit, ponsel Azel bergetar.

"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah kalau kamu sudah sampai rumah dengan selamat. Tidak perlu minta maaf. Justru saya bersyukur jas itu bisa membantu kamu. Soal noda tidak usah dipikirkan."

Azel membaca balasan itu pelan. Lalu kembali mengetik. "Tetap saja saya merasa tidak enak, Pak. Terima kasih karena Bapak sudah menjaga saya tadi."

Beberapa saat kemudian, balasan kembali muncul.

"Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai dosen. Dan sebagai seorang laki-laki, sudah seharusnya saya menjaga kehormatan seorang perempuan, apalagi mahasiswi saya."

Jari Azel berhenti di atas layar. Entah mengapa kalimat itu membuat hatinya terasa hangat.nTanpa sadar, senyum kecil terukir di bibirnya.

Ia lalu membalas singkat. "Jazakumullahu khairan, Pak."

Tak lama kemudian, Ibra kembali membalas. "Wa iyyaki. Sekarang istirahat yang cukup. Wajahmu tadi sangat pucat. Besok kalau masih sakit, jangan dipaksakan ke kampus."

Azel tersenyum kecil sambil menggeleng. "Padahal biasanya ngajak debat terus. Giliran begini malah perhatian."

Ia segera menggelengkan kepalanya sendiri. "Astaghfirullah... Ngapain juga dipikirin."

Meski begitu sebelum meletakkan ponselnya, Azel kembali membaca percakapan mereka sekali lagi. Lalu, tanpa sadar senyumnya kembali mengembang.

***

Malam semakin larut. Rumah kembali sunyi setelah Arjun tertidur pulas di kamarnya.nIbra duduk seorang diri di ruang kerja kecilnya. Laptop di hadapannya masih menyala, tetapi sejak tadi tak satu pun pekerjaan berhasil ia selesaikan.

Pikirannya terus melayang. Bukan pada laporan. Bukan pada materi kuliah. Melainkan pada seorang gadis bernama Azel.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu mengusap wajah pelan.

"Ada apa denganku..."

Entah sudah berapa kali hari ini wajah Azel muncul di benaknya.

Senyumnya. Caranya berbicara. Caranya memperlakukan Arjun. Bahkan ucapan terima kasih yang baru saja dikirim melalui pesan masih terbayang jelas.

Namun ada satu hal lain yang terus mengganggunya. Bayangan Azel yang sedang tertawa bersama Fariz di kampus.

Fariz yang berdiri begitu dekat. Fariz yang selalu sigap memperhatikan Azel. Dan anehnya pemandangan itu membuat dadanya sesak. Ia mengembuskan napas panjang.

"Kenapa aku merasa tidak suka melihat mereka bersama?"

Padahal... Fariz tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka sama-sama mahasiswa. Sama-sama aktif di BEM. Wajar jika sering berdiskusi dan bercanda.

"Tapi kenapa aku merasa ingin menjauhkan Azel dari laki-laki itu?"

Ibra menundukkan kepala. Tangannya mengepal pelan. Baru kali ini ia berani mengakui sesuatu kepada dirinya sendiri.

"Jangan-jangan aku cemburu."

Kalimat itu terdengar begitu asing. Bahkan setelah bertahun-tahun hidup sendiri, setelah pernikahannya hancur, ia tidak pernah lagi merasakan perasaan seperti ini.

Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri. Tidak akan membuka hati lagi. Rasa percaya itu sudah hancur sejak pengkhianatan yang ia alami.

Namun, Azel datang tanpa ia duga. Bukan dengan kata-kata manis. Bukan dengan perhatian kepadanya. Melainkan melalui kepeduliannya kepada Arjun.

Ia mengingat kembali bagaimana Azel berlari ke rumah sakit tanpa banyak bertanya. Bagaimana gadis itu menenangkan Arjun. Menyuapi makan. Membujuk minum obat. Hingga rela menghabiskan waktunya hanya agar seorang anak kecil merasa aman.

Ibra memejamkan mata. Lalu tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

"Sepertinya aku benar-benar mulai menyukainya."

Bibirnya kembali mengucapkan kalimat yang selama ini enggan ia akui.

"Aku menyukai gadis kecil yang dulu kupanggil Acel."

Namun senyum itu perlahan memudar. Bayangan wajah Athar kembali terlintas di benaknya.

"Kalau memang suatu hari nanti kamu memiliki niat yang baik... pastikan itu berasal dari hatimu, bukan karena Arjun."

Ibra menatap langit-langit ruangan. "Ini karena hatiku atau karena Arjun?"

Ia belum memiliki jawabannya. Yang ia tau semakin ia berusaha mengabaikan perasaan itu. Semakin sering pula nama Azel memenuhi pikirannya.

Ibra masih memandangi layar ponselnya. Entah kenapa, ia kembali membuka ruang obrolannya dengan Azel.nPercakapan mereka sebenarnya sudah selesai. Namun jari-jarinya seolah bergerak sendiri.

Ia mengetik singkat. "Sudah jauh lebih baik?"

Tak disangka balasan datang hanya beberapa detik kemudian.

Azel: "Alhamdulillah sudah, Pak."

Senyum tipis terukir di bibir Ibra.

Ibra: "Baguslah."

Beberapa detik hening. Lalu muncul lagi balasan dari Azel. "Arjun sudah tidur, Pak?"

Ibra: "Sudah."

Azel": "Alhamdulillah."

Obrolan kembali terhenti.

Namun entah mengapa tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin menutup percakapan. Beberapa saat kemudian, Azel kembali mengirim pesan.

Azel: "Pak, saya boleh jujur?"

Ibra: "Silakan."

Azel: "Hari ini Bapak aneh."

Ibra mengernyit. "Aneh bagaimana?"

Azel: "Biasanya tiap ketemu saya diajak debat.

Sekarang malah baik."

Ibra tersenyum kecil. "Jadi kamu lebih suka diajak debat?"

Balasan Azel datang cepat. "Enggak juga. Tapi aneh aja. Bapak sakit?"

Ibra menggeleng pelan sambil tertawa lirih.

Ibra: "Alhamdulillah sehat."

Azel: "Terus kenapa berubah?"

Ibra: "Memangnya saya berubah?"

Azel: "Iya. Biasanya kaku. Sekarang... masih kaku sih. Tapi dikit."

Ibra terkekeh.

Ibra: "Berarti masih ada perkembangan."

Azel: "Hanya tipis."

Ibra: "Jadi menurut kamu saya tetap dosen kaku?"

Azel: "Iya. Peringkat satu."

Ibra menghela napas pura-pura pasrah.

Ibra: "Kalau begitu... Apa yang harus saya lakukan supaya tidak dibilang kaku?"

Azel berpikir beberapa saat. Lalu membalas.

"Belajar senyum mungkin, Pak."

Ibra: "Saya sering tersenyum."

Azel: "Enggak percaya."

Ibra: "Kalau begitu... Kamu mau lihat bagaimana saya tidak kaku?"

Azel yang sedang tiduran di kamarnya mengernyit heran.

Azel: "Bagaimana?"

Ibra menatap layar cukup lama. Ia tau kalimat berikutnya akan terdengar seperti candaan. Namun jemarinya tetap mengetik.

Ibra: "Jadi istri saya."

Pesan itu terkirim.

Dua detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada balasan. Statusnya hanya berubah menjadi dibaca.

Mata Ibra langsung membelalak. "Astaghfirullah... Apa yang aku kirim?"

Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan pesan itu. Hapus untuk semua orang. Untungnya pesan berhasil terhapus. Ibra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Aku benar-benar kehilangan akal."

Di sisi lain, Azel masih menatap tulisan kecil di layar ponselnya. Pesan ini telah dihapus. Ia mengedip beberapa kali. Lalu bergumam pelan.

"Tapi... Aku tadi sempat baca..."

Pipinya perlahan memanas. "Pak Ibra, itu bercanda atau serius?"

Ibra masih menatap layar ponselnya. Ia sempat mengira Azel tidak sempat membaca pesan yang tadi buru-buru ia hapus.

Namun dugaannya salah. Sebuah notifikasi kembali muncul.

Azel: Pak, saya tadi sempat baca sebelum Bapak hapus.

Ibra memijat pelipisnya. "Ya Allah..."

Ia menarik napas panjang, lalu mengetik pelan.

Ibra: "Kalau saya serius, kamu akan bagaimana? Dan Kalau saya bercanda, kamu akan bagaimana?"

Tak lama kemudian, balasan datang.

Azel: "Hahaha... Bapak serius? Mustahil."

Ibra menaikkan sebelah alisnya.

Ibra: Kenapa mustahil?"

Azel: "Ya... masa dosen tiba-tiba bilang begitu ke mahasiswanya. Saya yakin Bapak cuma ngeledekin saya."

Ibra tersenyum tipis. Entah kenapa, ia malah ikut terpancing.

Ibra: "Berarti kamu sedang menantang saya?"

Beberapa detik berlalu. Lalu muncul balasan.

Azel: "Enggak. Tapi saya yakin, Bapak tidak akan bisa mendapatkan kata "iya" dari empat laki-laki dalam hidup saya."

Ibra membaca kalimat itu dua kali. Lalu mengetik perlahan.

Ibra: "Kalau saya bisa... kamu mau?

Di kamar, Azel yang sedang tengkurap di atas kasur langsung membeku. Matanya membulat. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

"Eh...?"

Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali. Bukan karena tidak paham. Justru karena terlalu paham. Tangannya menggantung di atas layar.

Ingin membalas. Namun bingung harus menjawab apa.

Beberapa menit berlalu, statusnya masih mengetik... lalu hilang lagi.

Mengetik... Hilang lagi.

Di sisi lain, Ibra hanya memperhatikan layar dengan tenang. Ia bisa membayangkan ekspresi panik gadis itu.

Akhirnya sebuah balasan muncul.

Azel: "Pak... Bapak lagi ngerjain saya, ya?

Ibra tersenyum kecil. "Saya sedang bertanya."

Azel: "Pertanyaannya berat."

Ibra: "Tidak perlu dijawab sekarang. Anggap saja saya sedang menguji keberanian kamu berdiskusi.

Azel spontan mendengus pelan.

Azel: "Halah... ujung-ujungnya debat lagi."

Ibra: "Bukannya kamu suka berdebat dengan saya?"

Azel: "Siapa juga yang suka? Saya cuma membela pendapat saya."

Ibra: "Berarti sekarang kamu menghindari pertanyaan?"

Azel langsung cemberut. "Pak, Bapak curang. Dosen kok nyudutin mahasiswa.

Ibra terkekeh pelan. Tawanya terdengar begitu ringan. Sedangkan Azel hanya bisa menatap layar ponselnya dengan pipi yang kembali memerah.

"Ya Allah... Ini dosen kenapa sih. Kenapa malah jadi aku yang nggak bisa jawab?"

"Sudah malam. Istirahat. Besok kita kembali menjadi dosen dan mahasiswa di kampus."

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!