Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlahan Menjadi Kebiasaan
Bab 15
Sudah hampir dua minggu berlalu sejak pihak kampus membatalkan surat peringatan dan keputusan pencabutan beasiswa Kai.
Sejak rekaman CCTV berhasil membuktikan apa yang sebenarnya terjadi, bisik-bisik di kampus perlahan mereda. Tidak semua orang langsung percaya pada Kai, tetapi setidaknya mereka tidak lagi memandangnya seperti seorang pembuat masalah.
Bagi Kai sendiri, semuanya terasa biasa saja.
Ia tetap datang paling pagi.
Kuliah, lalu bekerja sampai malam. Seolah tidak ada yang berubah.
Namun, ada satu hal kecil yang tanpa sadar berubah dalam rutinitasnya.
"Kamu pagi sekali."
Suara Karin terdengar dari belakang.
Kai menghentikan langkahnya.
"Pagi."
"Pagi."
Entah sejak kapan, mereka mulai sering bertemu di gerbang kampus.
Kadang benar-benar kebetulan. Kadang masing-masing datang beberapa menit lebih awal tanpa mengakui bahwa mereka sedang menunggu.
"Ayo."
Kai berjalan lebih dulu. Karin tersenyum kecil sebelum menyusul.
Di belakang mereka Nia memperhatikan kedua orang itu sambil menyenggol lengan Raka.
"Itu mereka janjian?"
Raka yang baru datang sambil menguap ikut melihat.
"Nggak."
"Kok yakin?"
"Soalnya muka Kai nggak cocok buat janjian."
Nia memutar bola mata.
"Itu alasan apa?"
"Kalau janjian pasti senyum."
"Emang kamu pernah lihat Kai senyum?"
"Nah itu dia."
Nia langsung tertawa.
"Logikamu aneh."
"Yang penting benar."
Sejak perkara Kai selesai, Raka memang mulai lebih sering masuk kuliah.
Meski masih terkenal sebagai mahasiswa yang sering bolos, sebenarnya ia cukup pintar. Hanya saja ia lebih suka mengikuti kegiatan kampus di luar kelas. Karena itulah hampir semua senior mengenalnya.
"Btw..." kata Nia. "Kamu sebenarnya rajin atau malas?"
Raka berpikir sejenak.
"Aku rajin malas."
"Itu apa lagi?"
"Rajin kalau ada yang menarik."
"Kalau kuliah?"
"Belum cukup menarik."
Nia langsung memukul pelan bahunya.
"Dasar."
Mereka kembali berjalan sambil saling berdebat.
Entah kenapa, hampir setiap kali bertemu, keduanya selalu menemukan alasan untuk saling menyindir.
-
-
-
Sore harinya...
Kai kembali menunggu di halte. Hal ini sudah mulai sering ia lakukan.
Bukan karena mereka berjanji. Melainkan karena ia tahu, Gio hampir selalu datang menjelang jam pulang kuliah.
Benar saja.
Sebuah mobil hitam perlahan berhenti di depan gerbang. Gio turun sambil membawa senyum yang sama seperti biasanya.
"Karin. Aku antar pulang."
Karin menggeleng.
"Nggak usah."
"Aku sengaja ke sini."
"Makasih. Tapi aku naik bus."
Gio tidak menyerah.
"Aku tunggu."
Belum sempat Karin menjawab, Kai datang menghampiri.
"Karin."
"Iya?"
"Busnya datang."
Kai berbicara biasa saja. Tidak ada nada menantang, namun cukup membuat Gio menoleh.
"Kamu lagi."
Kai menatapnya datar.
"Iya."
Gio tersenyum tipis.
"Kamu memang sering muncul di saat yang tepat."
"Aku memang pulang jam segini."
Jawaban Kai membuat Karin nyaris tersenyum.
Tidak berbohong. Tapi juga tidak memberi kesempatan kepada Gio.
Bus berhenti. Kai lebih dulu melangkah naik dan Karin mengikuti dari belakang.
Gio hanya bisa memperhatikan pintu bus yang perlahan tertutup. Mobilnya kembali menjadi satu-satunya kendaraan yang masih diam di depan kampus.
Di dalam bus...
"Kamu sebenarnya nggak perlu nungguin aku."
Kai tetap menatap ke luar jendela.
"Aku nggak nunggu."
"Bohong."
Kai menoleh.
"Aku memang pulang jam segini."
Karin tertawa pelan.
"Iya... iya."
Beberapa detik kemudian senyum Karin perlahan menghilang.
"Kai."
"Hm."
"Gio akhir-akhir ini sering datang."
"Aku tahu."
"Aku takut."
Kai terdiam cukup lama.
"Aku juga mulai tahu dia bukan orang baik."
Karin menoleh.
"Kamu percaya?"
Kai mengangguk.
"Waktu masalah kampus kemarin, aku yakin ada campur tangannya."
Karin terkejut.
"Kamu juga berpikir begitu?"
"Buktinya memang nggak ada. Tapi...,"
Kalimat Kai menggantung. Ia mengingat kembali seseorang yang datang ke bengkelnya. Lalu rekaman CCTV yang tiba-tiba hilang. Ditambah perlakuan Gio selama ini.
"Semuanya terlalu kebetulan," ujar Kai.
Karin menggenggam tasnya lebih erat.
Berarti, bukan hanya dirinya yang mulai melihat wajah asli Gio. Tetapi Kai juga.
Bus terus melaju membelah jalan sore yang mulai padat Tak ada lagi percakapan.
Namun untuk pertama kalinya, Karin merasa ada seseorang yang benar-benar memahami ketakutannya.
Dan bagi Kai, menunggu bus pulang kini bukan lagi sekadar perjalanan menuju tempat kerja.
Melainkan memastikan seorang gadis bisa pulang dengan aman.
-
-
-
Bersambung...